
Kini, hari - hari dilalui Andre dengan semangat. Setiap hari, ia akan terus memancarkan senyum kepada siapa saja yang ditemui. Ternyata hal itu memberikan efek positif pada penjualan yang ia lakukan, sangat berbeda dengan beberapa bulan terakhir saat ia harus memasang wajah cemberut karena banyak pikiran.
Sepulang kerja, Andre akan langsung menemui Dewi di rumah kedua orang tuanya. Untunglah, orang tua Dewi tidak mempermasalahkan hubungan mereka yang terbilang aneh.
Status masih menikah, tetapi memilih hidup dengan terpisah.
"Permisi, Pa ...," sapa Andre kepada Bambang yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ke sini lagi, kamu?" tanya papa mertua si Andre.
Andre berjingkat kaget mendapat pertanyaan yang terdengar seperti serangan di telinganya. Lelaki itu berpikir sejenak, kalimat apa yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan sang papa mertua tersebut.
Selagi Andre berpikir, Bambang berdeham keras karena merasa bahwa Andre tidak mengacuhkan pertanyaan darinya.
"Eh, iya, Pa," jawab Andre gugup. Sejenak, ia memperhatikan ekspresi sang papa mertua. Adakah raut tak suka di sana, tidak ada.
Bambang terlalu pandai mengatur ekspresi wajah yang ingin ditampilkan. Andre kebingungan bagaimana harus bersikap selanjutnya, sebab lelaki di hadapannya itu bahkan tidak memberikan tanda persetujuan maupun perintah kepadanya untuk segara menemui wanita yang ingin ditemuinya.
"Papa apa kabar?" Seketika itu juga, ingin rasanya Andre memukul kepalanya sendiri lalu menyumpal mulutnya dengan sandal. Kenapa baru sekarang menanyakan kabar lelaki itu. Harusnya dari awal bertemu tadi.
Walaupun dengan berat hati, Andre mengakui jika ia tidak ingin bertemu siapa - siapa, apalagi bertemu mertuanya. Ia tidak ingin sang mertua bertanya hal yang aneh - aneh.
"Kabar Papa sehat. Jadi bagaimana dengan hubungan kalian sekarang?"
Tuh, 'kan? Pak Bambang tanya yang aneh - aneh.
Andre mengeluh dalam hati sekaligus merutuki diri sendiri karena belum juga mampu membujuk Dewi agar mau tinggal bersama.
Sebenarnya, Andre tidak masalah jika sang istri memintanya untuk tinggal di sini. Di rumah keluarga Bambang. Lagi - lagi, semuanya terhambat karena Dewi belum mau mereka tinggal bersama, dan itulah yang paling disesali Andre.
"Hub-bungan kami baik, Pa," ucap Andre gugup.
Bambang berdesis, lalu berdiri melangkah mendekati Andre. Kedua tangannya terkepal di saku celana.
__ADS_1
"Baik gimana?" tanyanya dengan suara tajam. "Kalian tinggal terpisah, status enggak jelas," lanjutnya sinis.
Andre menelan ludah dengan susah payah. Ingin rasanya ia memaki, atau melakukan apa saja agar lelaki di hadapan tidak perlu mengurusi rumah tangganya. Namun, ia juga sadar. Tidak akan ada Dewi di dunia ini tanpa lelaki itu.
Andre juga sadar, jika belum bisa membahagiakan Dewi seperti yang lelaki itu lakukan.
Mungkin saja, jika Andre berada pada posisi lelaki tersebut. Sudah tentulah memaksa putri semata wayangnya untuk meminta cerai dari lelaki bejat sepertinya.
'Tidak-tidak, aku sedang berusaha membahagiakan Dewi,' tegas Andre dalam hati.
Andre menghela napas panjang, lalu berucap pelan, "Andre sedang berusaha membahagiakannya, Pa."
Bambang berdecak kesal, merasa tidak puas dengan jawaban menantunya itu. Berusaha membahagiakan, buktinya hanya tangisan Dewi yang selalu terdengar. Lelaki miskin itu bukan memberikan kebahagiaan melainkan kesedihan yang tiada habisnya.
Jika tidak ingat bahwa Dewi sedang mengandung anak Andre, sudah tentu ia akan menghajar atau bahkan membunuh lelaki tak berperasaan di hadapannya itu. Namun, lagi - lagi tangisan Dewi yang memohon kepadanya agar tidak melakukan hal buruk kepada Andre - lah yang menghentikan segala niat buruk yang telah disusunnya.
Akhirnya, Bambang hanya bisa menghela napas panjang. Semakin lama melihat Andre, maka semakin kesal rasa yang ditimbulkannya.
Tidak ingin membuang - buang waktu, dan tidak ingin terlalu lama berhadapan dengan papa mertua. Andre segera mengangguk hormat lalu buru - buru melangkah cepat meninggalkan Bambang yang masih berdiri memperhatikannya.
Andre ingin cepat - cepat sampai ke kamar atas tempat Dewi istirahat. Ia merasa jika waktunya kini semakin sedikit saja.
Seperti hari - hari sebelumnya, jantung Andre akan semakin berpacu kencang saat telah berada di hadapan pintu kamar Dewi. Ia harus mengatur napas guna meredakan kegugupan yang semakin membuatnya gila. Andai bisa, ingin rasanya Andre mendobrak pintu itu atau langsung saja menyelonong masuk tanpa perlu mengetuknya, menunggu Dewi membukakannya. Semakin mengurang waktu temunya saja.
Andre mulai gusar, sebab hingga sekian menit lamanya pintu itu belum jua terbuka. Kakinya bergoyang - goyang gelisah. Tangannya telah sibuk menjambak rambut. Pening sekali rasanya menunggu tanpa kepastian seperti ini.
Hingga entah di menit ke berapa, akhirnya pintu di hadapan Andre terbuka lebar menampilkan sosok wanita dengan perut buncit yang sangat dirindukannya.
Andre melangkah maju, mendekati tubuh yang bergeming di tempatnya.
"Kak Andre," lirih Dewi.
"Aku - aku kangen kamu, Dew," ujar Andre sembari mendekat lalu memeluk Dewi.
__ADS_1
Masih di ambang pintu, Andre berjongkok lalu mencium perut buncit Dewi. Seolah - olah, bayi di dalam perut itu mampu dilihatnya secara kasat mata.
Lama Andre mencium perut itu, lalu tangannya mengelus - elus si perut buncit dengan lembut.
"Apa kabar, Sayang. Papa datang untuk jenguk kamu," ucap Andre dengan suara bergetar.
Rasa - rasanya, Andre akan selalu merasa terharu saat mengelus perut buncit itu. Betapa banyak hari yang telah terlewatkan olehnya, sampai - sampai ia merasa jika hari - hari yang akan datang tidak akan mampu membayar yang telah lewat.
"Dedek baik, Pa," sahut Dewi dengan suara serak karena menahan tangis. Kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangisan haru.
Andre mendongak hatinya terenyuh mendapati Dewi yang menangis. Lantas, ia pun segera bangkit lalu dengan sangat pelan kedua tangannya terulur menghapus jejak basah yang mengalir di pipi istrinya.
"Jangan menangis, " ucap Andre lirih.
Bukannya berhenti, Dewi malah semakin tergugu dalam tangkupan kedua tangan Andre.
Andre semakin berani mendekat, tidak hanya tangannya. Kini lelaki itu telah mencium kening Dewi dengan sangat lama. Kemudian memeluk tubuh wanita di hadapannya itu.
Sepertinya, hari ini adalah hari keberuntungan Andre. Sebab biasanya, Dewi tidak mau dipeluk saat ia berkunjung.
Hari ini Andre merasa sangat bahagia, ia tidak ingin kebahagiaan ini segera berakhir. Jika saja , dirinya mampu menghentikan watu agar pelukannya pada Dewi tidak pernah berakhir.
Nyatanya, Dewi - lah yang lebih dulu mengurai pelukan mereka. Seakan, wanita itu tersadar jika telah melakukan kesalahan.
Dewi mendorong tubuh Andre agar menjauh. Lalu segera ia mengusap pipinya yang basah.
"Ayo masuk, Kak," ucap Dewi pelan. Lantas berjalan lebih dahulu masuk ke kamar yang disusul Andre dengan perasaan gamang.
"Dewi, apa kamu belum ada rencana untuk kita tinggal bersama?" tanya Andre tak sabar.
Dewi menghentikan langkah, lalu membalikkan tubuh.
Kini Andre merasa telah melakukan kesalahan fatal karena wanita di hadapannya ini sekarang tengah menatapnya dengan tatapan nanar.
__ADS_1