
Dewi kembali meletakkan ponsel Andre dengan tangan gemetar. Ia terus berusaha berpikir positif di tengah kegalauan hatinya.
Dewi duduk di pinggiran ranjang, mengatur napas yang terasa sesak. Menghirup udara sebanyak-banyaknya guna melonggarkan dada yang terasa sesak. Setelah dirasa tenang, Dewi pun menghubungi nomor kantor suaminya itu. Menanyakan keberadaan Andre sekarang.
Rupanya, kabar dari orang kantor Andre mengatakan bahwa lelaki itu sedang ada rapat.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dewi pun menutup panggilan dan bisa bernapas lega. Setidaknya, dadanya sedikit longgar.
Kemudian, Dewi pun membawa berkas yang tadi dibutuhkan lalu beranjak keluar agar segera sampai ke kantornya.
Rapat pemegang saham sangat ricuh. Banyak dari mereka meminta Dewi agar mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan. Berbagai alasan diluncurkan, mulai dari kinerja Dewi yang kurang maksimal, keuntungan yang diperoleh tidak memuaskan sampai yang paling manusiawi adalah bahwa seharusnya Dewi fokus pada kesembuhan sang ayah.
Ingin rasanya Dewi berteriak dan mengamuk. Ini adalah perusahaan sang ayah yang dirintis dari bawah. Dari nol sampai sekarang.
Saat seharusnya sang ayah menuai hasil dari jerih payahnya selama ini, justru banyak sekali orang yang ingin merebut perusahaan tersebut.
Terlebih lagi, ada kasus yang membuat Dewi tak habis pikir tentang penyelundupan dana di sana. Banyak sekali pengeluaran yang tidak jelas sehingga Dewi harus menutupi keuangan itu. Padahal, ia sendiri sedang membutuhkan banyak dana.
Berbagai pihak memojokkan jika dana keluar yang tidak jelas itu digunakan untuk pengobatan. Jahat sekali mereka.
Banyaknya kemelut yang terjadi membuat Dewi mengambil keputusan untuk menjual saham yang dimiliki. Walaupun tidak dijual sepenuhnya, tetapi berdampak pada hak kepemilikan. Akibatnya, apa yang Dewi takutkan terjadi sekarang.
"Baiklah, apa yang kalian inginkan sekarang akan aku turuti," ujar Dewi tegas.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi Dewi pun pergi meninggalkan ruangan rapat itu lalu mengendarai mobil sendiri menuju rumah sakit.
Sebelum menuju lantai di mana ruangan sang papa dirawat, Dewi lebih dulu memilih duduk di bangku taman. Menenangkan diri sebelum bertemu sang papa akan lebih baik. Ia tak sanggup jika harus menunjukkan kekalutan hatinya di depan lelaki yang terbaring sakit di sana.
Hingga satu jam lamanya, Dewi hanya duduk termenung melihat pemandangan sekitar. Orang-orang berlalu lalang. Ada pasien yang sedang diajak jalan-jalan, ada juga pengunjung yang mengistirahatkan diri mungkin seperti dirinya.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, barulah Dewi melangkah menuju lantai di mana sang papa di rawat. Sebelum sampai di ruangan, Dewi ingat jika sekarang adalah jam Adrian pulang sekolah.
Dewi menghubungi bunda guru untuk mengabarkan jika dirinya tidak bisa menjemput, sebab harus ke rumah sakit melihat kondisi kakeknya Adrian. Bunda guru menguatkan dan berjanji akan menyampaikan pesannya kepada Adrian.
Usai menghubungi bunda gurunya Adrian, Dewi memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kemudian, barulah ia melangkah menuju ruangan di mana sang papa dirawat.
Dengan gerakan pelan sekaligus hati-hati, Dewi memutar pegangan pintu itu membuka pintu tersebut dengan perlahan. Matanya membulat, saat melihat seseorang yang tengah mengajak ngobrol sang papa.
"Maaf ya, Pa. Aku belum bisa bahagiain Dewi, selalu buat dia sedih. Tapi, aku akan terus berusaha untuk membahagiakan Dewi, Pa. Aku janji."
Perasaan haru membuncah di hati Dewi. Ia menyeka air matanya dengan cepat, lalu melangkah masuk menemui kedua orang lelaki yang sangat berarti di hidupnya itu.
"Sayang ...," ucap Andre begitu tatapan keduanya bertemu. Lantas, lelaki itu pun melangkah menghampiri Dewi. "Kamu di sini?" tanya Andre seraya menatap lekat manik indah di hadapannya.
"Iya," balas Dewi seraya mengangguk pelan disertai senyuman tipis.
"Kakak sudah dari tadi di sini?" tanya Dewi saat keduanya berjalan mendekati ranjang.
Andre tidak melepaskan genggaman tangan mereka, seakan tidak ingin terlepas dari tautan itu barang sedetik pun.
"Baru aja, tadi habis dari rapat langsung ke sini." Andre mengelus kepala Dewi dengan sayang
Dewi tersenyum lalu menyapa sang papa.
"Halo, Pa. Papa apa kabar? Maaf ya, kemarin Dewi enggak ke sini nemenin papa. Tapi mulai sekarang Dewi akan sering ke sini, kok. Hm, gimana kalau tiap hari. Setelah jemput Adrian pulang sekolah, aku akan menemani Papa sampai sore." Dewi terus berbicara tanpa peduli dengan tatapan aneh Andre kepadanya.
Setelah dirasa puas, barulah Dewi menepis genggaman tangannya dari tangan Andre lalu mencium kening sang papa.
Tatapan Dewi beralih kepada Andre yang sedang menatapnya lekat penuh kekhwatiran. Seakan lelaki itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Dewi.
__ADS_1
Dewi tersenyum lalu duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Andre mengikutinya dengan langkah lebar. Lantas, lelaki itu pun duduk di samping sang istri. Meraih tangan Dewi lalu menggenggamnya.
Dewi berusaha menepis genggaman Andre di tangannya, tetapi tenaga lelaki itu lebih kuat darinya. Akhirnya, ia pun hanya pasrah saja. Dan berharap tidak akan terjadi keributan di antara mereka di dalam ruangan ini.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Andre penasaran. Ia sudah tidak sabar menunggu untuk menanyakan hal yang terjadi pada istrinya itu. "Kenapa kamu berkata seolah kamu tidak akan bekerja di kantor lagi?" tanyanya lagi dengan tatapan lekat.
"Aku ingin istirahat, Kak. capek sekali rasanya," balas Dewi. Ia tida berbohong, rasanya memang sangat melelahkan dan sangat menguras tenaga serta pikirannya.
Selama ini, Dewi telah berusaha agar bisa bertahan, tetapi jika dirinya tidak mampu harus bagaimana.
"Jadi, kamu enggak akan pegang perusahaan lagi?" tanya Andre lagi.
Dewi mengangguk lemah.
"Jadi, siapa sekarang yang pegang perusahaan?" tanya Andre lagi.
Dewi hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya malas.
"Kamu punya masalah sebesar ini tapi enggak cerita sama aku?" tanya Andre frustrasi.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, Kak. Lebih baik sekarang, kalau Kakak masih ada urusan di kantor atau ada urusan lain di luar sana segera selesaikan. Kasian, kan, mungkin ditunggu atau dibutuhkan," sindir Dewi.
"Kenapa malah aku, Dew. Pekerjaan aku udah selesai, terus aku ke sini. Kalau pun balik lagi ke kantor mungkin setelah makan siang untuk memeriksa berkas. Baru pulang. Rencananya aku pulang sore hari ini, capek banget tadi ada rapat," jelas Andre yang tampak serius dengan ucapannya.
Dewi menyandar kan kepalanya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Ingin sekali ia bertanya tentang chat yang ia baca di ponsel Andre. Namun, ia urungkan.
"Apa kamu ada chat dan telepon ke hp ku?" tanya Andre hati-hati. "Aku enggak bawa hp. Lupa tadi, malas juga mau balik lagi ke rumah untuk ambil hp. Mana enggak sempat."
Sepertinya Andre memang tidak terlalu peduli dengan ponselnya. Ah, kenapa pikiran Dewi malah ke mana mana. Sebenarnya siapa yang telah merusak pikirannya itu?
__ADS_1