
Dewi meminta Adrian tidur di kamarnya. Awalnya, bocah laki laki itu menolak. Namun, Dewi memberinya pengertian jika sang papa telah bangun dan akan segera sehat. Adrian menangis melihat tubuh sang papa terlihat lemah.
"Kasian papa sakit , Ma. biarkan Adrian menemaninya," rengek Adrian.
"Sayang ... Adrian juga harus istirahat. Sudah dari tadi Adrian jagain papa," bujuk Dewi dengan sabar.
"Tapi papa janji enggak akan marahin papa lagi, " kata Adrian dengan tatapan tegas. Khas seorang anak yang melindungi barang berharganya.
"Kenapa bicara begitu, Nak?" Andre tidak bisa menahan diri dengan hanya melihat percakapan ibu dan anak itu. Ia bertanya dengan suara lemah.
"Iya, Pa. Dari kemarin Mama cuekin Papa. Sampai papa sakit begini. Adrian sedih...." Adrian menunduk dalam. Matanya berkaca kaca.
Sedangkan keduanya saling bertatapan bingung. Tubuh Dewi menegang kaku, tidak menyangka jika sikapnya beberapa hari ini tak luput dari perhatian sang anak.
Dewi lupa jika anak anak adalah pemerhati yang baik. Selama ini, Adrian hanya tidak mengatakan apa pun. Namun, bukan berarti bahwa anak sekecil Adrian tidak mengerti apa yang dilakukan orang dewasa. Hanya saja, pikirannya yang polos belum bisa menerjemahkan masalah kompleks yang terjadi pada orang dewasa.
Andre berusaha duduk. Dewi yang mengetahui pergerakan itu langsung membantunya.
Andre tersenyum tulus kepada Adrian yang masih memperlihatkan wajah murung. Kedua mata anak itu pun tampak berkaca kaca. Terlihat sekali jika Adrian menahan diri agar tidak menangis lagi di hadapan kedua orang tuanya.
Andre menggeser duduknya lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. "Sini," ujarnya masih dengan suara lemah. "duduk di samping Papa," lanjutnya dengan seulas senyum di bibir.
Adrian mendongak, melongo sejenak lalu menoleh ke arah sang mama untuk meminta persetujuan. Setelah mendapatkan anggukan dari wanita yang telah melahirkannya, Adrian pun beranjak dan duduk di samping sang papa.
"Anak papa sudah besar dan semakin pintar." Adrian mengelus pucuk kepala Adrian, memgecupnya lalu menyandarkan kepala kecil itu dalam rangkulan.
Andre selalu merasa jika anak lelakinya itu masih bayi dan tidak mengerti apa pun. Rupanya ia salah. Adrian tumbuh dengan cepat, mewarisi kecerdasan sang kakek, menjadi pengamat yang baik seperti dirinya dan memiliki kelembutan hati seperti ibunya.
Andre merasa jika mulai sekarang, dirinya harus berhati hati dalam bertindak. Sebab Adrian akan mengerti begitu saja apa yang tengah terjadi di lingkungan sekitarnya.
"Mama enggak marahin papa yang aneh aneh, kok." Andre melirik ke arah Dewi yang menatap mereka dalam diam. Tampak raut kesedihan di wajah wanita yang dicintainya itu. Namun, kesedihan ini tentu saja berbeda dengan kesedihan karena kedukaan. Ini jenis kesedihan yang diliputi penyesalan. Andre tahu itu. Ia paham jika Dewi menyesal telah mengabaikan dirinya berhari hari.
__ADS_1
"Tapi ... Mama marah karena lihat papa yang kerjanya enggak tahu waktu." Andre menjeda kalimatnya lalu tersenyum lembut kepada Adrian. "Inget enggak waktu Mama marah kalau kamu mainnya enggak tahu waktu. Atau saat mengabaikan ucapan Mama yang menyuruh untuk segera makan?" Adrian mengangguk. Lantas, Andre pun tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya. "Nah, begitu juga saat papa kerjanya enggak tahu waktu dan mengabaikan jam makan. Mama akan marah ...."
"Beneran, Ma?" tanya Adrian dengan wajah polos kepada sang mama.
Dewi terdiam. Bingung harus menjawab apa. Nyatanya, dirinya malah mengabaikan Andre yang meminta ditemani makan.
"Maafkan Mama," lirih Dewi dengan wajah tertunduk malu. Tangannya cekatan menghapus air matanya yang lagi lagi menetes membasahi pipinya.
"Mama kok minta maaf? Adrian minta maaf sama Mama. oke deh, Adrian akan tidur sekarang. " AdriN bangkit berdiri mendekat kepadanya Dewi dan mencium pipi wanita itu. Kemudian tatapannya beralih menghadap Andre. "Besok, kita main ya, Pa," ujarnya semangat.
"Siap, Bos!" seru Andre lalu adu tos dengan Adrian.
Adrian melambaikan tangan, lantas berjalan cepat menuju kamarnya sendiri.
Selepas kepergian Adrian, perasaan canggih menyelimuti Andre dan Dewi. Sejujurnya, Andre merasa lapar, namun enggan untuk mengatakannya kepada Dewi.
Syukurlah, lima menit kemudian pelayan datang membawakan makan malam untuk Andre berupa bubur.
"Tapi kamu belum makan. Lebih baik aku makan sendiri, Dewi." Ucapan Andre barusan diartikan sebagai penolakan dari lelaki itu.
Dewi meletakkan sendok yang menggantung di udara itu kembali ke mangkuk.
"Aku benar benar minta maaf atas sikapku yang tak sopan kepadamu, Kak. Tidak seharusnya aku mengabaikan suamiku begitu sampai berhari hari. Bahkan sampai Kakak sakit begini. Maafkan aku." Sepertinya, stok air mata Dewi sangat banyak. Seharian ini, ia terus saja menangis.
"Aku sudah memaafkan kamu," balas Andre. Ia meraih tangan Dewi untuk digenggamnya. "Aku minta maaf jika perkataanku barusan menyinggungmu."
Dewi mendongak, membalas tatapan sayu Andre lalu menggeleng pelan.
"Aku tidak bermaksud menolak suapanmu. Hanya saja, aku khawatir jika istriku ini belum makan dan hanya memikirkanku saja," lanjut Andre.
Dewi tersenyum tipis dengan pipi merona. Keduanya pun hanya saling memandang dan saling berbahasa senyum.
__ADS_1
"Hmm, bagaimana kalau ... satu suapan untukku dam satu suapan untukmu. Kita berdua akan menghabiskan semangkuk bubur itu bersama sama ...."
"Ta-"
"Rasanya, perutku juga belum sanggup menghabiskan bubur sebanyak itu. Atau ... nanti juga kurang kita bisa menambahnya lagi."
Dewi akhirnya mengangguk patuh, lalu suapan pertama diberikannya kepada Andre dan suapan kedua ia makan sendiri. Begitu seterusnya, sampai bubur dalam mangkuk itu habis. Kemudian, keduanya pun minum dalam satu gelas secara bergantian.
Setelah meletakkan peralatan makan itu ke atas nakas, Dewi mengambilkan obat dan membantu Andre untuk meminumnya. Setelah itu, barulah ia membantu Andre berbaring dan membenahi selimut lelaki itu.
Saat Dewi akan mengantarkan nampan ke dapur. Andre memanggilnya, memintanya agar tidur di sisinya.
"Aku akan meletakkan ini ke dapur, Kak. Setelah itu kita tidur," ujar Dewi lembut.
Amdre menggeleng dan tetap meminta Dewi agar segera tidur di sampingnya. Mau tak mau, wanita itu pun menurutnya.
Andre merentangkan tangan agar Dewi bisa masuk ke dalam pelukannya.
Andre memajamkan mata, menghirup aroma wangi Dewi yang telah menjadi candunya. Betapa tersiksanya ia beberapa hari ini tidak bisa mencium aroma itu.
"Oh iya. Katakan kepadaku siapa yang meneleponmu malam itu."
Dewi mendongak membalas tatapan Andre yang menatap lewat ke arahnya. Tatapan itu begitu menuntut meminta jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
"Kapan?" tanya Dewi. Ia tidak ingat kapan mendapatkan telepon di malam hari dan dari siapa.
"Malam itu. Malam di mana kamu mengabaikan aku," jelas Andre.
"Oh, itu ... Bima yang telepon. Dia bilang enggak bisa datang untuk bertakziah langsung jadi bisanya lewat telepon."
Seketika, tatapan Andre berubah gelap.
__ADS_1