
Hari ini, Arman dan Amika datang ke kediaman Dewi dan Andre. Tentu saja tamu tersebut disambut heboh oleh Adrian. Betapa senangny bocah balita itu bertemu dengan David.
"Yeee! Kita bisa main sepuasnya. Ayo kita ke tempat bermain!" seru Adrian begitu melihat David. Ajakannya tentu disambut tak kalah antusias oleh David. Ditemani pengasuh, kedua bocah itu pun segera meninggalkan ruang tamu menuju tempat yang menurut mereka lebih mengasyikkan.
Para orang tua melihat keakraban anak anak mereka dengan senyum terkembang.
"Tuh, anak anak kita udah jadi sahabat sejak kecil," celetuk Andre memberi komentar.
"Iya, semoga langgeng sampai tua," sahut Amika.
"Sayang ya, kita enggak ada yang punya anak perempuan. kalau ada, mau dong dijodohkan, " timpal Arman tak mau kalah untuk memberikan pendapat.
"Kalai jodoh menjodoh, kasihan anaknya kalau ternyata mereka tidak saling tertarik," sahut Andre.
"Satu saja cukup, ya, Kak," lanjut Dewi pelan.
"Setuju. Gue juga satu aja. Ogah mau nambah lagi," balas Amika semangat. Ia merasa memiliki teman dalam pilihannya.
"Kurang rame, Sayang, nanti rumah kita kalau cuma satu anaknya," gumam Arman tak setuju.
"Dikira melahirkan itu enak apa?" dengkus Amika.
"Yuk! Kita duduk di ruang keluarga saja sambil ngobrol Ngobrol dan makan camilan," ajak Dewi karena merasa jika suasana di ruang tamu mulai menegangkan membuatnya merasa tak nyaman.
Ketiganya pun mengangguk kompak lalu mengikuti langkah Dewi yang lebih dulu beranjak dari ruang tamu. Sesampainya di ruang keluarga Arman berbaring di kursi santai. Lantas, tangannya dengan cepat meraih remot control televisi yang terpasang di sana. Menghidupkan layar lebar itu, memencet tombol remot mencari acara yang dipikirkan bagus.
__ADS_1
"Kita ke sini mau ngobrolin usaha, Kak," tegur Amika, "bukannya mau nonton televisi. Kalau nonton bisa di rumah juga kali. Sama aja acaranya di rumah dengan di sini, cuma beda ukuran besar aja tv nya," lanjut Amika dengan suara ketus.
"Iya ... iya." Arman menurut. Ia mematikan layar lebar itu lalu meletakkan remot tersebut ke atas meja yang berada di sampingnya. Lantas bergerak mendekati sang istri, mencondongkan wajah dengan cepat untuk mencuri ciuman di pipi Amika.
"Apa, sih, Kak? Malu dilihat Kak Andre sama Dewi, tuh," protes Amika seraya menepuk lengan Arman.
Bukannya menghindar, Arman malah semakin merapatkan tubuhnya kepada Amika. Memeluk wanita itu dengan erat lalu mencium wajah istrinya tersebut dengan ciuman yang banyak.
"Buat gemes aja. Dari tadi bad mood terus. Lagi ngirim ya, Yang," goda Arman yang membuat Amika semakin kesal.
Di kursi yang lain Andre dan Dewi tergelak bersama melihat sepasang suami istri itu.
"Gemes banget sama Kak Arman." Dewi memberi komentar.
"Tauk ah." Dewi memalingkan wajah karena malu. Andre pun mencium pipi istrinya tersebut. Sontak saja Dewi menoleh terkejut. Andre mengedipkan mata genit.
"Jadi gimana dengan usaha yang akan kita jalankan?" tanya Dewi mengalihkan perhatian. Ia sengaja meninggikan suaranya agar terdengar jelas oleh ketiga orang itu.
Arman yang masih menggoda Amika, tiba tiba menghentikan aksinya dan keduanya kini tampak salah tingkah. Merasa malu karena Dewi telah mengingatkan tujuan mereka berkunjung ke rumah besar itu.
"Ya ... seperti yang sudah kita sepakat secara tersirat bahwa kita akan fokus ngembangin toko kalian dulu," jawab Arman berusaha santai. "Untuk selanjutnya, Andre yang akan lebih dulu mengajukan surat pengunduran diri karena gue emang lebih lama bekerja di sana. Pasti enggak mudah bagi gue mengajukan surat pengunduran diri di sana," jelas Arman yang dibalas anggukan oleh ketiga anggota yang lain.
"Oke. Senin gue masukin surat pengunduran dirinya," putus Andre kemudian. "Terus, lu, kapan?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Gue seminggu kemudian. Gimana?" tanya Arman meminta pendapat.
__ADS_1
"Oke. Setuju. " Andre mengangguk yakin lalu menatap Amika dan Dewi secara bergantian. Setelah mendapatkan persetujuan dari para istri barulah mereka membahas soal periklanan.
Dua jam merupakan waktu yang sangat singkat untuk membahas rencana mereka berempat. Dua jam yang dihabiskan dengan alot dan menegangkan.
Selanjutnya mereka pun berpindah lokasi diskusi di meja makan. Sudah waktunya makan siang. Rapat uang berlangsung itu juga berlangsung dengan banyak canda dan tawa di sana. Memang beginilah jika kedua sahabat itu bertemu. Sering bertengkar dan terkesan tidak akur. Namun, sedetik kemudian pun keduanya berdamai seolah tidak pernah terjadi apa apa.
Di hari Senin, Andre mengajukan surat pengunduran diri. Untung saja tidak banyak drama yang terjadi, ia beralasan akan fokus pada usaha yang telah dikembangkan istri sebelumnya dan fokus pada perawatan sang papa mertua.
Hari hari Andre diisi dengan kesibukan baru. Membuat iklan, memasarkan dan fokus pada usaha pakaian yang siap dikembangkan. Betapa senangnya dirinya saat mendapati penjualan semakin membeludak, baik secara online maupun offline.
Satu minggu kemudian, sesuai rencana Arman pun mengajukan surat pengunduran diri. Berbeda dengan Andre yang langsung disetujui, Arman lebih dahulu harus menyelesaikan tugas tugasnya uang ternyata belum terselesaikan dengan baik. Terutama saat itu bertepatan dengan adanya masalah dalam tim nya, membuat Armab harus menunda kemunduran dirinya satu bulan kemudian.
Setelah Arman bergabung, usaha tersebut semakin pesat melesat. Banyak penawaran yang diterima untuk menjual produknya dalam bentuk keamanan dan distributor ke luar kota dan provinsi. Andre dan Arman menyambut permintaan tersebut dengan suka cita. Beberapa distributor langsung bergabung dalam penjualan produk mereka.
Satu bulan kemudian, mereka berhasil membuka cabang di kota lain. Arman dan Andre pun semakin sibuk dan berbagi tugas dengan adil. Arman fokus pada cabang mereka, sedangkan Andre tetap fokus pada toko yang ada di Jakarta. Hingga beberapa bulan kemudian, mereka pun menambah karyawan karena pekerjaan semakin tidak bisa dihandel berdua saja.
Dewi dan Amika mengajukan diri untuk membantu. Akan tetapi, para suami sepertinya kompak agar para istri tetap fokus di rumah. Namun, mereka tidak melarang para istri untuk memasarkan produk secara online.
Dewi masih sibuk mengantar jemput Adrian ke sekolah, sesekali mereka mampir ke toko untuk mengajak Andre makan siang bersama. Dewi juga semakin intens menjaga sang papa di rumah sakit. Terlebih mengingat kondisi Bambang semakin memburuk.
Sampai pada suatu hari, saat Dewi sedang berada di sekolah. Kabar duka itu datang. Pihak rumah sakit mengabarkan jika tidak bisa lagi memberikan perlakuan kepada Bambang, sebab pasien telah menolak segala perlakuan itu.
Dewi menghubungi Andre sembari menangis. Andre pun langsung menjemput Dewi di sekolah, meninggalkan pekerjaannya di toko. Sedangkan Adrian dijemput sopir agar pulang ke rumah bersama pengasuh.
Nyawa manusia ada pemiliknya. Jika Sang Pemilik mengambil nyawa itu kembali, tiada satu pun makhluk yang dapat menghalaunya. Bambang menutup usia tepat saat Andre dan Dewi sampai di rumah sakit.
__ADS_1