Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 85 (Tamat)


__ADS_3

Dewi tak sabar. Menunggu sang putra ditemukan dengan cara berdiam diri begini. Sunggu mustahil. Terlebih, hatinya itu merasa tak tenang. Maka, ia pun bergegas berdiri untuk kembali mencari keberadaan Adrian.


Cari ke mana?


Entahlah. Yang jelas, tubuhnya harus segera bergerak sebelum jiwanya berteriak. Tersiksa sekali rasanya menunggu sesuatu yang tak pasti begini.


"Kamu mau ke mana? Wajahmu sudah pucat begini, Dew." Andre mencoba untuk mencegah pergerakan sang istri.


"Lepaskan aku!" bantah Dewi dengan sorot tajam. "Kalau Kakak mau di sini aja menunggu Adrian ditemukan, silahkan! Aku yang akan mencari keberadaan putraku," katanya lalu berkelit melepaskan cengkraman tangan Andre di lengannya.


"Sayang, Adrian itu juga anak aku. Kita malah akan semakin kacau kalau mencari dalam keadaan begini," kata Andre mencoba membujuk sang istri.


"Aku mau nyari Adrian. Dia pasti enggak akan pergi jauh dari sini. Kecuali kalau diculik," sahut Dewi lagi.


Mengingat kata terakhir yang diucapkan membuat hati Dewi tercubit keras sekali. Sakit sekali. Dan ia tak akan sanggup membayangkan jika ada hal buruk yang menimpa Adrian.


"Diculik? Enggak enggak, enggak akan mungkin." Andre menggeleng keras. "Ayo kita cari lagi!" ajaknya kemudian mengikuti kemauan sang istri.


Lantas, keduanya pun kembali keluar dari gedung mall mencari keberadaan Adrian di luar. Sampai ketika mata Dewi menangkap seseorang yang ia kenal. Seorang bocah yang umurnya tak jauh dari umur sang putra.

__ADS_1


"David," cicit Dewi. Kemudian berlari mendekati David yang tampak menangis di sebuah taman yang jaraknya cukup jauh dari mall.


"David," panggil Dewi lalu mendekat. Tangannya segera memegang bahu anak lelaki itu. "David sama siapa?" tanyanya lagi. Ingin sekali ia bertanya ini dan itu kepada bocah kecil itu.


"Mama!"


Seruan dari suara seseorang yang sangat dikenalnya membuat Dewi berbalik. Berpaling sebentar dari bocah yang masih menangis.


"Adrian? Kamu kok bisa di sini, Nak," katanya lalu berlari mendekati sang putra. Perasaan lega langsung menghangatkan hatinya. Ia memeluk erat tubuh Adrian. Air matanya pun menitik tak mampu lagi ditahan.


"Maaf, Mama. Tadi, Adrian lihat David sendirian mencari Tante Amika dan Om Arman. Enggak merasa malah sampai sini," jelas Adrian dengan raut rasa bersalah.


"Lho, David di sini?" Andre ngos-ngosan. Akhirnya ia bersuara melihat David lalu kepalanya menoleh saat melihat kedua orang tua anak itu.


"David di sini." Amika mendekat dan langsung memeluk David.


"Mama, Avid Cali Mama," rengek bocah itu dalam gendongan sang mama.


"Aiya, Sayang ... iya. Maaf ya."

__ADS_1


Selanjutnya, dua keluarga itu pun memilih untuk makan bersama sembari bercerita. Banyak hal yang mereka ceritakan, tentang usaha, rumah tangga dan anak-anak.


"Aku rasa, anak-anak kita akan saling menjaga sampai dewasa," kata Andre sembari menatap interaksi Adrian dan David.


Kedua bocah itu tampak akrab dan saling menyayangi satu sama lain.


"Ya, aku juga berharap agar mereka bisa saling menyayangi sampai dewasa. Menjaga satu sama lain dan bisa meneruskan usaha kita," sahut Arman sembari mengangguk setuju.


"Iya. Aku setuju. David dan Adrian yang akan meneruskan usaha kita bersama," kata Andre lagi.


"Ah, kalian ini. Mereka bahkan belum masuk sekolah dasar. Sudah harus mengemban pekerjaan kalian," seloroh Dewi yang disambut gelak tawa oleh Amika.


"Jangan sampai mereka berebut wanita," kata Amika.


"Hahahah. David pasti akan kalah dari Adrian karena anakku akan mewarisi sifat dan sikapku dalam memperlakukan wanita. Dia akan menjadi idola nanti," balas Andre sombong.


"Ya, lelaki bodoh yang selalu menjadi permainan wanita."


Lagi. Mereka tertawa bersama membayangkan kehidupan dewasa dua bocah lelaki yang tengah makan bersama dengan tenang

__ADS_1


__ADS_2