Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 80


__ADS_3

Keesokan harinya, Andre bangun dengan sakit di kepala. Suhu tubuhnya pun terasa hangat disertai mual di perutnya.


Andre berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Berendam di bathub dengan air hangat beberapa menit dipikirnya bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya. Setelah dirasa tubuhnya itu ringan, barulah Andre beranjak dari sana. Keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian. Diabaikannya Dewi yang masih terlelap. Ia ingin melakukan semua pekerjaannya itu sendiri.


Jika biasanya sang istri akan sigap menyiapkan pakaian dan keperluan lainnya. Beberapa hari ini, Andre mencoba untuk mengerti jika Dewi tengah berduka. Istrinya itu sedang menikmati masa masa sakitnya. Bukan Andre tidak memedulikan wanita itu. Hanya saja, ia sudah kehabisan akal bagaimana cara menghibur Dewi dengan cara yang benar dan bisa diterima. Semua yang dilakukan seakan tidak ada nilainya di mata Dewi.


Kemarin, Andre meminta pendapat kepada Arman cara menghibur wanita saat berduka. Dan, semua list yang diberikan sahabatnya itu telah dilakukan semuanya. Mungkin, hanya satu yang belum yaitu mendatangkan seseorang yang berarti bagi Dewi.


Apakah Andre bukan seseorang yang berarti itu?


Andre pusing memikirkannya. Siapakah seseorang yang harus didatangkannya hari ini? Bima kah? Tidak tidak. Andre menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia bisa dibakar cemburu jika Bima berhasil menghibur istrinya itu.


Andre terus berpikir sembari memasang kencing di kemejanya. Lantas, setelah selesai ia pun bergegas keluar rumah untuk berangkat bekerja. Saat langkahnya mencapai di ambang pintu utama, Andre berbalik. Ia kembali menuju kamar dengan langkah cepat.


Andre mengecup kening Dewi. "Aku mencintaimu," biasiknya. Kemudian melangkah menuju kamar Adrian, mencium kening anaknya dengan rasa sayang.


Setelah itu, barulah ia benar benar meninggalkan rumah. Hari ini, jadwalnya sangat padat.


Sesampainya di kantor, ia segera menghubungi Amika. Meminta bantuan sahabat istrinya sekaligus istri sahabatnya itu untuk menghibur Dewi yang masih tampak murung. Andre mengucapkan terima kasih dengan tulus mendengar kesediaan Amika datang ke rumah mereka.


Andre menghabiskan waktu dengan banyaknya pekerjaan. Melupakan sarapan dan makan siang. Perutnya hanya terisi teh hangat saja tadi pagi. Itu pun karena dibuatkan oleh salah seorang karyawan toko, yang memang setiap hari selalu menyiapkan minuman hangat itu.


Pandangan Andre mulai berkunang kunang. Suhu badannya pun terasa panas. Delta, salah satu staff nya telah menanyakan keadaannya tadi pagi. Sebab, wajah Andre memang tampak pucat. Namun, lelaki itu mengatakan jika tidak ada masalah apa apa, hanya faktor kecapean saja.


Sampai di jam tiga sore hari. Toko dikejutkan dengan pingsannya bos mereka. Delta yang seharian ini terus bersama Andre tampak sangat khawatir dan merasa bersalah. Ia menunggu Andre sadar dengan perasaan was was.


"Kita ke dokter saja, Pak," ujar Delta begitu Andre sadar.

__ADS_1


"Tidak perlu. Saya baik baik saja," elak Andre.


walaupun Andre hanya pingsan sebentar, tetap saja membuat gempar karyawan toko.


Akhirnya, Delta bersikeras untuk mengantar Andre pulang. Lelaki itu juga berjanji akan membereskan masalah yang ada dan akan menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu.


"Semua perkembangannya akan segera saya laporkan kepada Pak Andre," ujar Delta yakin.


"Apa tidak apa-apa kalau saya pulang sekarang dan kamu menyelesaikan semua pekerjaan sendirian?" tanya Andre ragu.


"Saya tidak sendirian, Pak. Pak Andre jangan khawatir. Semua karyawan siap membantu saya." Delta mengangguk hormat. Tidak ada sedikit pun keraguan dari setiap kata yang dilontarkannya.


"Baiklah, saya percaya kepada kalian, " balas Andre dengan suara yang mulai lemah.


Delta membantu Andre masuk ke mobil dengan sabar. Lantas mengantarkan Andre pulang.


"Nanti bawa saja mobilnya," ujar Andre.


"Saat saya kembali masuk, saya akan menghubungi mu untuk minta jemput."


"Oh, begitu. Baik, Pak."


Delta memang salah satu karyawan yang ikut mendirikan toko itu. Dengan kata lain, lelaki itu ikut merintis usaha itu. Mengetahui dengan pasti bagaimana bisnis itu mulai tumbuh dan berkembang sampai memiliki cabang.


Delta adalah orang kepercayaan dan menjadi asisten Andre yang selalu sedia membantunya dalam bekerja. Bagi lelaki itu, toko tersebut adalah rumah baginya.


Sepanjang perjalanan, Andre memejamkan kedua matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. Padahal AC mobil diatur agar tidak terlalu dingin.

__ADS_1


Sesampainya di kediaman bosnya, Delta meminta bantuan kepada pelayan yang ada agar membantunya memapah Andre masuk ke rumah.


"Badannya panas sekali," ujar pelayan itu yang tanpa sengaja bersentuhan kulit dengan Andre. "Tadi pagi memang Tuan sudah kelihatan pucat. Kasihan Tuan dan Nyonya," lanjutnya bergumam.


Delta yang mendengar hanya bisa diam. Tidak tahu harus menanggapi apa. Ia memang sadar jika setelah kematian mertuanya, Andre tampak tak terurus dan sering lembur di toko. Selain memang karena toko sedang banyak masalah akhir akhir ini.


Di depan pintu, para lelaki itu disambut pelayan yang lain dan meminta agar kedua lelaki yang memapah Andre agar membawa majikan mereka ke kamar.


Dewi yang tengah duduk di teras belakang pun langsung dikabari tentang kondisi Andre. Dengan perasaan khawatir, Dewi berlari menuju kamar.


Sesampainya di kamar, seperti tahu apa yang harus dilakukan. Para pelayan meninggalkan kamar majikan mereka.


Dewi tidak bisa membendung air matanya melihat keadaan Andre yang tampak sangat pucat. Ia menggenggam tangan Andre sembari mengumandangkan kata maaf berulang kali. Rasa bersalah sekaligus menyesal itu hadir kala mengingat perlakuannya semalam kepada suaminya itu.


Padahal, hari ini Dewi tahu jika Amika menyempatkan datang berkunjung untuk menghiburnya karena permintaan dari Andre. Seketus apa pun perlakuan Dewi kepada suaminya itu akhir akhir ini, ternyata Andre tetap memberikan yang terbaik untuk dirinya.


Beberapa menit kemudian, si mbok datang membawakan air hangat untuk mengompres. Kemudian mengabarkan jika dirinya telah menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Andre.


Dewi mengompres Andre dengan sabar. Seakan tengah melakukan penebusan dosa untuk beberapa hari lalu.


Satu jam kemudian, dokter datang memeriksa keadaan Andre. rupanya Andre terkena tipes. Makan dan istirahat yang tidak teratur menjadi pemicunya. Setelah memberikan resep dan saran agar Andre dirawat, dokter itu pun pulang.


Sore itu, Dewi menunggu dengan was was kapan suaminya akan membuka mata. Di sampingnya, Adrian pun ikut menunggu. Anak lelaki itu tidak mengeluh. Adrian tampak dengan sukarela merawat sang papa.


"Papa cepet sehat, ya, nanti kita main bersama lagi. Adrian dan mama sedih kalau papa sakit," ucap Adrian lalu mencium kening Andre.


"Terima kasih, Sayang," lirih Andre membalas ucapan sang anak.

__ADS_1


"Papa sudah bangun? Papa sudah sembuh?" tanya Adrian antusias.


"Kak, sudah bangun." Dewi membungkuk mendekatkan wajah ke arah Andre. Ia membiarkan air matanya mengalir. Air mata keharuan sekaligus penyesalan.


__ADS_2