Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 23. Awal yang Baru


__ADS_3

Dewi terbangun, matanya mengerjap berkali-kali. Mengumpulkan kesadaran yang sempat terserak.


Dia ingat, tadi pingsan di lapangan saat berlari. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, dan terhenti di langit-langit. Semuanya berwarna putih.


'Apa aku di rumah sakit? Siapa yang membawaku?' Pertanyaan dalam benak terjawab saat Amika masuk.


"Lu, udah bangun? Syukurlah. Aku khawatir banget, lihat lu pingsan di lapangan. Tadi gua nyariin, untuk ngajak pulang. Enggak tahunya ... Ah, sudahlah. Lupakan," cicit Amika tanpa jeda.


"Makasih, gua enggak apa-apa, kok." Dewi tersenyum lega.


"Beneran, lu enggak kenapa-kenapa?" Amika berdiri di samping ranjang, menatap sahabatnya dalam.


"Enggak. Gua gak kenapa-kenapa." Dewi berusaha duduk, tubuhnya memang tidak selemas tadi saat lari.


Sepertinya, cairan infus bekerja dengan sangat baik. Karena mampu mengembalikan kekuatannya.


"Gua kelelahan aja pasti. Karena emang banyak kerjaan juga, kan?" Dewi masih berusaha meyakinkan Amika yang tampak menelisik keadaannya.


Amika mengangguk, mengerti. "Gua paham, lu emang butuh diet. Tapi, jangan sampai melupakan kesehatan, Wi."


Amika menggenggam tangan Dewi menyalurkan kekuatan. "Gua tadi nelpon kak Andre, enggak diangkat," lanjutnya.


"Enggak usah dihubungi, jangan sampai dia tahu gua di sini." Dewi berujar pelan.


"Lho, kenapa?" Amika mengernyit heran.


"Enggak kenapa-kenapa, sih. Gua enggak mau dia khawatir aja," ucap Dewi.


"Cieee, yang enggak mau suaminya khawatir." Amika meledek Dewi.


Mendengar godaan Amika, tak urung pipi Dewi merona merah. Dia berharap jika hal itu benar-benar terjadi. Andre mengkhawatirkan dirinya. Namun, rasanya itu hanya khayalan Dewi semata. Karena nyatanya, hubungan mereka tidak seindah demikian.


Dewi menunduk, wajahnya kini tampak lesu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia sadar, jika terlalu tinggi mengharapkan hubungan yang terjalin dalam pernikahannya.


Sebab yang terjadi, Dewi adalah batu sandungan bagi hubungan Andre dan Anggita. Rasanya, dia tidak ingin memiliki perasaan ini. Rasa sesak saat menyadari hubungan suami dan kekasihnya.


"Lu kenapa? Lagi ada masalah, ya?" tanya Amika bingung melihat perubahan wajah Dewi.


"Enggak, makasih yaa ... lu kalau capek, pulang aja. Aku enggak kenapa-kenapa ditinggal. Lagian, pasti besok udah bisa pulang."


"Nanti aja, tunggu dokter datang ...."


Tidak berselang lama, dokter datang memeriksa kondisi Dewi.


"Dewi hanya kelelahan, tidak perlu khawatir. Boleh diet, asal tetap dijaga kebutuhan kalori dan energinya, ya ... jangan sampai kekurangan tenaga lagi. Olahraga yang cukup. Jangan dipaksakan, badan akan terkejut. Perlahan tapi pasti itu lebih baik. Yang penting konsisten."


Penjelasan sang dokter di dengarkan dengan seksama oleh Dewi dan Amika tanpa sela. Mereka menganggukkan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


"Kapan saya boleh pulang, Dok?" tanya Dewi tampak tak sabar. Baru sebentar dirawat di rumah sakit saja, dia sudah tidak tahan untuk segera pulang.


"Besok udah bisa pulang." sang dokter menjawab singkat.


"Terimakasih, Dok." Dewi dan Amika menjawab bersamaan.


Kemudian dokter keluar ruangan.


"Tuh, gua enggak kenapa-kenapa, kan? Jadi, lu bisa pulang."


"Benarkan, gua pulang. Gua telpon Kak Andre dulu ya." Amika mengeluarkan ponselnya dari tas, langsung tersentak kaget saat mendapati tangannya telah dicekal oleh Dewi. Sahabatnya itu menggeleng pelan dengan senyum yang sulit diartikan.


"Gua yakin, lu pasti ada masalah sama Kak Andre." Amika berkata yakin.


"Gua emang nunggu dia yang telpon, kira-kira dia bakalan nyariin enggak kalau gua gak pulang." Dewi menjawab pelan.


"Kenapa begit?" tanya Amika bingung.


"Gua pingin tahu aja, sih. Penasaran aja. " Dewi menyengir kuda. Sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Oke kalau gitu. Gua tutup mulut." Amika menutup rapat bibirnya. "Entar kalau ada apa-apa, langsung kabarin gua," pintanya kemudian.


"Oke." Dewi mengacungkan jempol.


Lantas kedua sahabat itu pun tertawa bersama.


Kadang, dia merasa tak lagi mampu menahan beban ini. Namun, cinta dalam hati seringkali menguatkannya. Seakan ada yang berbisik dan menguatkan dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja.


Semua akan berubah arah. Andre akan mencintainya sebesar dia mencintai laki-laki itu. Namun, sampai kini semua kemungkinan itu tampaknya belumlah terjadi. Entah sampai kapan Dewi harus bertahan pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bertahun-tahun lamanya.


Mungkin, rasanya tak akan sesakit ini. Jika saja, mereka belum memiliki hubungan berstatus menikah. Akan lebih baik jika dia tidak menerima lamaran lelaki itu. Namun, kini nasi pun telah menjadi bubur. Berharap agar bubur itu tetap bisa dinikmati.


Bayangan Andre dengan Anggita yang saling berbagi napas. Membuat air matanya terus mengalir deras. Dewi benci pada dirinya yang selalu saja terlihat lemah, selalu saja tidak tega dan akan mengalah kepada siapa saja.


Ah, kenapa hatinya tak bisa egois. Andre adalah suaminya, mereka memiliki status yang jelas.


Kenapa Dewi harus menahan diri menyaksikan perbuatan Andre dan Anggita, yang jelas-jelas sebagai bentuk pengkhianatan pada pernikahan yang dia jalani.


Kenapa dia tidak langsung memberi peringatan kepada Andre akan sikap tak senonohnya dengan Anggita. Bagaimana mungkin, dua makhluk itu saling berciuman di tempat umum seperti itu.


Sudah sejauh mana hubungan mereka berdua?


Memikirkan itu, membuat kepala Dewi terasa pening dan mau pecah.


Andre begitu tega padanya, saat Dewi telah memberikan segalanya pada lelaki itu. Segalanya. tidak ada yang bersisa sedikit pun di diri Dewi. Tidak ada.


Dewi meraih ponsel, berniat ingin menghubungi Andre. Memberitahukan kondisinya. Namun, dia urungkan.

__ADS_1


Lantas, membuka percakapan di aplikasi berwarna hijau. Melihat kapan terkahir kali Andre aktif. Lelaki itu aktif dia jam yang lalu.


"Apa yang sekarang dia lakukan? Tidakkah kamu memikirkanku sebentar saja?" gumam Dewi lirih. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangan.


Lalu melihat ke rentetan status, matanya fokus melihat status yang ditampilkan oleh kontak bernama Anggita.


"Bahagianya hari ini bisa bersamamu. Semoga kita selalu bersama selamanya."


di status berikutnya tertulis.


"Dia hanya batu sandungan untuk hubungan kita."


"Aku mencintaimu. Selamanya."


Dewi meremas ponsel di tangan. Menahan segala gejolak emosi yang tertahan dalam dada.


Setelahnya, Dewi menutup aplikasi itu. Mematikan ponselnya, lalu meletakkannya di nakas.


Walaupun Dewi sangat berharap Andre menghubunginya malam ini. Namun, dalam hatinya terbesit keyakinan jika tidak mungkin lelaki itu menghubunginya terlebih dahulu.


Lantas, Dewi pun mengambil kembali ponsel nya lali mengetik pesan untuk Andre.


'Kak, lagi di mana?'


Dewi ragu untuk mengirimkan pesan tersebut, dia memilih menghapusnya.


Lalu mengetik lagi.


'Kak, aku malam ini enggak pulang'


Hapus lagi.


'Kak, udah makan belum?'


Hapus lagi.


'Kak, aku membutuhkanmu.'


Hapus lagi. Kemudian Dewi menangis pilu.


Malam ini, dia tak mampu memejamkan mata. Menunggu Andre menghubunginya. Dia juga khawatir memikirkan keadaan Andre. Lelaki itu sudah makan atau belum? Tidur di kontrakan atau tidak?


Hingga pagi menjelang, tidak ada satu pesan pun yang berhasil Dewi kirimkan kepada Andre. Pun demikian, dia tidak menerima satu pesan pun dari lelaki itu.


Amika datang bersama Arman. Menjemput Dewi untuk mengantarkan nya pulang ke kontrakan.


Sebenarnya, Dewi ingin bertanya tentang Andre. Namun, dia urungkan. Dia tidak mau dua kekasih itu menyadari keretakan hubungan pernikahan nya. Akhirnya, dia memilih diam sampai mereka tiba di kontrakan.

__ADS_1


__ADS_2