Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 38. Bertemu Dia


__ADS_3

Cinta, seringkali membuat jiwa menjadi tak waras. Itulah yang sering pula Dewi rasakan. Mencintai lelaki yang sama selama bertahun-tahun. Merasakan sakit berulangkali pula. Namun, ia tetap bertahan pada rasa itu.


Memaafkan berulangkali. Entahlah. Ia sendiri heran. Kapankah hatinya akan terus bertahan seperti sekarang?


Mungkinkah, kelak ada suatu masa yang membuat dirinya begitu menyesali keputusannya saat ini?


Memaafkan Andre kesekian kalinya.


Nyatanya, tidur dalam dekapan sang suami sungguh sangat menenangkan. Begitu nyaman sehingga membuatnya enggan untuk beranjak. Padahal, sudah sedari tadi ia terbangun dari buaian alam mimpinya. Namun, masih bertahan pada posisinya yang meringkuk dalam pelukan yang begitu melenakan.


"Hai, kamu sudah bangun ...." Sapaan Andre menyentak Dewi.


Seketika Dewi mengerjapkan mata, mengatur deru napas yang tidak teratur. Sayangnya, debar jantung yang seolah memburu bekerjaran tidak mampu dikontrol.


"Jantungku berdebar hebat," lirih Andre yang mampu menciptakan rona merah di kedua pipi Dewi.


Dewi hendak beringsut mundur, mengurai dekapan tangan Andre pada tubuhnya. Namun, lelaki itu malah semakin mempererat pelukannya.


"Aku harus bangun," ucap Dewi gugup.


"Sebentar lagi. Biarkan seperti ini sebentar lagi. Aku sangat merindukanmu," lirih Andre.


"Kakak harus bekerja 'kan?" Dewi masih mencoba menyadarkan kesadaran Andre.


"Iya, tapi nanti mau izin telat. Kita harus ke rumah sakit memeriksa kondisimu."


"Aku baik-baik saja." Dewi mendongak. Mengeja setiap inci wajah rupawan di hadapan.


Mata Andre terbuka. Menatap Dewi tanpa berkedip. "Aku mau memastikan kondisi kesehatanmu, Dew," tegas Andre tak mau dibantah.


"Baiklah." Akhirnya Dewi pasrah pada keinginan sang suami.


Setelah sarapan, mereka berdua menuju rumah sakit menggunakan taksi.

__ADS_1


Menunggu di ruang tunggu, karena dokter datang jams sepuluh.


"Kakak terlalu bersemangat. Kita sampai datang kepagian," keluh Dewi.


Pasalnya Dewi meminta agar mereka berangkat siang saja, tetapi Andre bersikeras untuk berangkat pagi. Agar tidak terlalu panjang menunggu antrean..


Benar saja, mereka menjadi pasien pertama yang datang pagi ini.


Waktu menunggu mereka gunakan untuk berbincang apa saja, dari hal remeh remeh sampai mengomentari jalanan dan rumah sakit. Sesekali Dewi tertawa mendengar ocehan Andre.


"Kamu mual gak? Rasanya aku deh yang mual bau obat-obatan. Apa kita pindah tempat saja." Andre menutup hidung dengan kedua jarinya. Kepalanya menoleh ke kiri ke kanan mencari tempat yang mungkin saja bisa aman dari bau obat-obatan.


Dewi tersenyum, lalu berujar pelan. "Namanya juga rumah sakit. Gimana kalau besok kita periksa di bidan saja yang dekat. 'Kan ada yang praktik tuh. Mungkin baunya tidak terlalu menyengat," usul Dewi.


"Enggak-enggak. Aku enggak mau. Kita ke sini saja, cari dokter kandungan langsung. Aku mau memberikan pelayanan terbaik buat kamu dan anak kita."


Mendengar kata "kamu dan anak kita", ada yang menghangat di hati Dewi. Tentu saja ia bahagia mendapatkan perhatian dari Andre.


Akhirnya, waktu yang ditunggu datang juga. Sepasang suami istri itu masuk ke ruangan dengan tangan yang saling menggenggam. Andre membantu Dewi berbaring di ranjang.


Tangan Andre terus menggenggam erat tangan Dewi dengan mata menatap lekat pada layar di hadapan.


"Nah, ini sudah ada ya ...." Ucapan sang dokter masih belum dipahami Andre.


"Ada apanya ya, Dok?" tanya Andre spontan.


"Ini, ada janin yang tumbuh di rahim istrinya. Tapi, belum terlalu jelas. Karena masih kecil. Nanti dua pekan lagi datang kesini. Umurnya enam Minggu." Sang dokter menunjuk lingkaran putih di layar tersebut. "Kelihatan 'kan ada lingkaran putih ini?"


Andre mengangguk antusias. Matanya tak lepas dari pandangannya. Menatap takjub apa yang ada di layar tersebut. Benar-benar tidak menyangka jika ada kehidupan yang hidup dalam perut Dewi.


Dokter menghentikan penjelasannya, lalu kembali duduk di kursi kerjanya.


Sedangkan perawat mengelap cairan di perut Dewi dengan handuk kering. Kemudian, setelah sang perawat menurunkan baju Dewi untuk menutupi perutnya kembali. Andre pun membantu Dewi turun dari ranjang dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Saat ini, mereka tengah duduk berhadapan dengan sang dokter. Menunggu penjelasan selanjutnya.


"Jadi, Dok. Bagaimana dengan kondisi istri saya yang muntah-muntah terus? Enggak bisa masuk makanan sedikit pun, semuanya dikeluarkan termasuk air putih."


Dewi menatap Andre dan dokter secara bergantian. Sejujurnya, jika saja tidak malu ingin rasanya ia menangis terharu di sini. Menangis karena ternyata ada benih yang tumbuh dalam perutnya, juga menangis haru karena perhatian-perhatian yang Andre berikan padanya.


"Itu wajar. Saya juga mengalami muntah dan mual saat hamil di bulan-bulan pertama. Biasanya akan hilang mual dan muntahnya saat kandungan menginjak usia empat bulan. Polanya akan terus berubah. Nanti kita lihat saat cek rutin, ya ... Jadi, tidak perlu khawatir."


Andre mengangguk mengerti.


"Yang penting, tetap jaga kondisinya. Makan apa saja yang bisa dimakan, enggak usah dicegah. Saya berikan vitamin juga. Muntah makan, muntah lagi makan lagi ... jangan pernah bosan mencari makanan dan minuman yang tidak mual di perut," lanjut sang dokter.


"Lalu, Dok ... hmmm." Andre ragu melanjutkan pertanyaan yang ada di kepala. "Kalau ... hmmm berhubungan, boleh tidak?"


Wajah Dewi merah padam mendengar pertanyaan sensitif dari Andre. Ia tidak menyangka, lelaki di sampingnya ini menanyakan hal demikian.


"Tentu saja boleh. Tapi jangan terlalu agresif. Buat senyaman mungkin. Terutama, tanyakan kesiapan sang istri. Sekarang kalian tidak hanya berdua, tapi sudah bertiga. Dan bayi di dalam perut menjadi prioritas utama. Jangan kelelahan dan jangan stress. Jadi, sebagai suami harus menjaga kondisi fisik dan psikis calon ibu yaa."


Lantas pikiran Andre teringat pada ingatan-ingatan kemarin. Bagaimana ia telah membuat Dewi banyak pikiran. Bagaimana jadinya kondisi janinnya jika ia tidak bisa menjaga hati Dewi?


Tanpa sadar, Andre merutuki kebodohannya. Betapa ia selama ini terlalu abai pada kesehatan Dewi.


Nyatanya, kehadiran buah hati adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada mereka. Dengan hadirnya calon bayi di tengah-tengah mereka, membuat Andre sadar betapa ia sangat tidak bertanggung jawab selama ini.


Andre berjanji akan memperbaiki semuanya. Ya ... semuanya. Baik itu perasaannya, maupun menjaga perasaan Dewi saat ini.


Bahkan Andre berjanji akan menyelesaikan masalahnya dengan Anggita secepatnya.


Siapa sangka, Andre malah melihat Anggita bersama Robi yang sedang antre ke poli kandungan yang sama.


Tampak Robi mengelus perut Anggita. Andre bisa paham bagaimana tatapan Robi untuk Anggita menunjukkan betapa lelaki itu mencintai wanita yang tengah mengandung tersebut.


'Apakah Anggita hamil anak Robi?' tanya Andre dalam hati.

__ADS_1


"Kak, ayo!" Tepukan di bahunya menyadarkan Andre dari pikirannya. Lantas ia pun langsung memalingkan wajah, tidak ingin Anggita dan Robi melihatnya saat ini. Ya setidaknya saat ini.


Biarlah pertemuan mereka saat ini cukup dirinya saja yang tahu. Nanti, akan ada saatnya Andre akan menemui dua orang itu secara langsung.


__ADS_2