
Mobil melaju lamban membelah jalanan. Dalam hati Dewi, ingin sekali agar lekas sampai rumah. Rasanya, kendaraan ini begitu lambat berjalan.
Duduk berdua dalam ruangan sempit ini, membuat Dewi seringkali menahan napas. Pasalnya, Andre menggenggam erat tangannya seakan enggan untuk melepaskan.
Jika tidak ingat bahwa ada janin yang dikandungnya, ingin sekali rasanya Dewi membuang jantungnya ke jalanan. Sebab debarannya begitu menggila, membuat Dewi sampai kesulitan napas.
Ah, apa hubungannya debaran jantung dengan kesulitan bernapas?
Yang jelas, duduk berdua di dalam mobil membuat Dewi tidak nyaman.
"Hei! Perut kamu keras sekali?" Andre memegang perut Dewi dan merasakan perut buncit itu keras. "Apa anak kita rewel?" tanyanya khawatir.
Matanya menatap perut Dewi lalu beralih pada wajah wanita itu.
Dewi menggeleng, ditatap sebegitu intens jelas saja membuatnya kalang kabut.
"Katakan sesuatu? Apa dia baik - baik saja? Apa mamanya juga baik - baik saja?" tanya Andre beruntun.
"Dia baik. Ibunya juga baik. Kakak enggak usah khawatir," jawab Dewi pelan.
"Tapi kenapa keras sekali perutmu?" tanya Andre tidak puas.
"Itu karena aku kecapean tadi. Jalan - jalan sama mama. Cari baju, tapi enggak ketemu," jelas Dewi sembari terkekeh.
"Kenapa enggak ketemu? Kenapa tadi kamu enggak bilang, harusnya kita belanja dulu baru pulang."
"Enggak apa - apa, mungkin karena belanjanya enggak sama suami ya, jadi enggak ada yang cocok," kekeh Dewi sembari menutup mulut dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangan yang lain, masih dalam genggaman Andre.
"Besok kita ke sana, aku ingin kita belanja bersama. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, bilang padaku."
"Terimakasih."
__ADS_1
Suara dehaman dari kursi depan mengalihkan pandangan Andre dan Dewi.
Lantas, Andre mengernyit bingung. Apa ada yang salah dengan lelaki paruh baya yang mengemudikan taksi ini.
"Ada apa, Pak?" tanya Andre curiga.
"Eh, enggak kenapa - kenapa, Nak. Bapak cuma merasa senang melihat ada suami istri itu akur, akrab, bercengkerama begitu. Apalagi istrinya tengah hamil," jelas sang pengemudi. Tatapannya masih fokus pada jalanan.
"Kenapa, begitu?" tanya Andre menuntut.
"Iya, kalau lagi hamil, kan, hormonnya sedang tidak stabil. Emosinya itu sering labil, Nak. Jadi butuh perhatian banget. Kasihan dia, perut besarnya enggak bisa diturunkan barang sebentar. Sedetik pun enggak bisa di letakkan. Bayangkan saja, sembilan bulan bawain bayi ke mana - mana, kesusahan yang semakin akan kepayahan saat usia kandungannya mencapai umur sembilan bulan," jelas bapak itu berapi - api.
"Saya, pas istri saya hamil. Behh, sebentar pergi saja udah dicariin. Masuk ke kamar mandi saja kadang di gedor - gedor. Apalagi kalau bayinya ternyata perempuan, duh ... nyariin terus emaknya. Sampai nangis - nangis."
Andre dan Dewi saling berpandangan.
Dewi memang merasa ingin terus berdekatan dengan Andre, karena alasan itu juga, 'kan, membuatnya dengan mudah memaafkan lelaki itu.
Sedangkan Andre, memikirkan jika apa yang dikatakan bapak itu benar membuat sesak dadanya. Bagaimana bisa dirinya seceroboh itu. Membiarkan istrinya mengalami kesusahan seorang diri. Terlebih, ia pernah berada pada titik mengabaikan Dewi.
'Ya Tuhan! Apa yang telah aku lakukan pada keluargaku?' erengnya dalam hati.
Lantas, Andre pun mencium punggung tangan Dewi. Setitik bening mengalir membasahi pipinya.
"Aku benar - benar minta maaf, Dew."
***
Hari ini Andre bekerja dengan penuh semangat. Tidak seperti kemarin yang masih sering terlihat murung. Kali ini wajahnya berseri - seri. Membayangkan dirinya akan menjadi ayah, membuat semangatnya berlipat - lipat ganda membakar jiwanya.
"Kenapa, lu? Kemarin aja, murung, lemah, lesu, lunglai," ucap Arman.
__ADS_1
"Emang iklan, minum penambah darah," kekeh Andre menanggapi ucapan Adrian.
"Ya kali aja, lu abis minum obat penambah darah makanya jadi semangat gini. Atau ditambah obat kuat gitu," selidik Arman.
"Ini tuh, sekadar obat penambah darah, Bro. Ini tuh, asupan yang tiada pernah akan ada habisnya untuk hidup gua," ujar Andre berapi - api.
"Apa dong?" tanya Arman dengan kening berkerut.
"Dewi udah maafin gua. Ya Tuhan! Rasanya gua gak percaya. Andai saja nyawa gua diambil kemarin, gua ikhlas beneran ... gua ikhlas."
"Weee, nyawa lu bawa - bawa. Dewi beneran udah maafin kelakuan buruk lu itu, atau karena terpaksa?" ejek Arman.
"Terpaksa? Maksudnya terpaksa? Jangan buat gara - gara lu ya, gua patahin juga tuh batang leher," ketus Andre. Wajahnya berubah merah dengan tatapan siap membunuh.
"Yaelah, lagi semangat aja mau patahin leher orang. Kemarin ke mana aja, lu. Ya ... kali aja, lihat tampang lu yang ngenes kayak orang sakit itu, dia terpaksa maafin lu. Daripada lu mati," tukas Arman.
"Sialan, lu. Lu ngejek gue," balas Andre tidak terima. Ia pun maju selangkah memiting tangan Arman. Seperti ucapannya tadi, Andre ingin memberi pelajaran kepada sahabatnya ini karena telah meremehkan dirinya.
"Aw, sakit ,Ndre." Arman mengaduh kesakitan.
"Lagian, lu sih. Gua udah lama ya enggak sesemangat ini menjalani hari - hari."
"Ya ... ya ... gua tahu. Dewi emang orang baik, mau lu datang dengan segudang salah, dia bakalan maafin lu kok," balas Arman lemah.
Andre mengangguk mengiakan perkataan Arman. Lantas ia pun melepaskan cekalan tangannya.
"Gua harus semangat cari duit yang banyak, setelah itu mengajak Dewi ke rumah yang baru dengan hasil keringat usaha gua sendiri."
Arman menepuk - nepuk punggung Andre lalu berlalu pergi. "Ya kerja yang bener."
Andre merasa hari ini adalah hari yang baru untuknya.
__ADS_1