Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 62


__ADS_3

Sepasang suami istri itu pun masuk ke rumah dengan tangan yang saling merangkul. Andre merangkul bahu Dewi, sedangkan wanita itu melingkar di pinggang suaminya. Sepintas lalu, tampak keduanya seperti orang yang saling mencintai. Menjadi keluarga harmonis yang romantis tanpa pernah ada masalah sedikit pun. Ah, bukannya permasalahan dalam biduk rumah tangga itu untuk semakin mengeratkan keduanya? Tentu saja, jika sepasang suami istri tersebut mampu mengatasinya..


Sesampainya di kamar, Andre langsung melepaskan rangkulan tangannya. Kemudian menuju kasur, merebahkan diri. Tubuhnya terasa pegal. Ia tidur dengan posisi telentang, kedua tangannya dijadikan bantal. Kedua matanya terpejam dengan napas yang teratur.


“Kakak capek, ya? Mau makan?” tanya Dewi seraya duduk di pinggir kasur.


Andre menggeeng pelan, tetapi matanya tetap tertutup rapat. “Aku mau tidur sebentar.”


Dewi mengangguk, lalu kedua tangannya memijit kaki Andre dengan pelan. Awalnya lelaki itu berjingkat kaget dan menolak perlakuan istrinya. Namun, Dewi tetap memaksa. Akhirnya,Andre hanya bisa pasrah menerima pijitan Dewi di tubuhnya. Bisa dirasakannya, jika pijitan itu sangat nyaman dan melenakan membuat kedua mata lelaki itu terasa berat dan terlelap.


Entah berapa lama Andre tertidur dan saat bangun, tubuhnya terasa segar. Pegal-pegal di tubuhnya hilang menguap entah ke mana perginya. Seulas senyum tersungging di bibirnya, mengingat pijatan lembut Dewi yang tadi ia rasakan.


Andre bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, ia pun segera keluar dari kamar menuju dapur mencari keberadaan Dewi.


Benar saja, wanita itu tengah memandangi api di kompor. Dewi tengah memasak air.


“Kok melamun?” Andre melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewi, dengan lembut ia mengelus perut buncit itu.


“Eh. Udah bangun ya?”


“Hm.” Andre bergumam pelan, ia mencantelkan dagunya di pindak sang istri. Hidungnya bekerja menghidu aroma khas Dewi yang menguar dari leher wanita itu. Rambut hitam panjang Dewi dicepol asal, membuat Andre leluasa menikmati leher jenjang itu.


“Kak, ini di depan kompor. Jangan aneh-aneh, deh.” Dewi menggeliat pelan, berusaha melepaskan diri dari aksi Andre yang meresahkan, tetapi mengasyikkan. Ah, apa-apaan itu?


Akan tetapi, Andre malah semakin mengetatkan pelukan. Benar-benar tidak tahu tempat.


“Kak ....” Dewi mendesisi pelan, mencoba untuk mengingatkan Andre di mana posisi mereka. Kalau tiba-tiba Bik Inah pulang dari pasar, kan, bahaya.

__ADS_1


Tangan Andre bergerak cepat mematikan kompor. Lalu merenggangkan pelukan. Baru saja Dewi bisa bernapas lega saat Andre meraih pergelangan tangannya lalu berkata pelan, “Ayo!”


“Ayo ke mana? Aku lagi masak ini.” Dewi menarik pelan tangannya dari genggaman tangan Andre, tentu saja tidak berhasil karena lelaki itu semakin mencengkeramnya dan malah menarik istrinya itu pelan agar mengikuti dirinya.


“Katanya ini di dapur. Kita lakuin di kamar,” ujar Andre tampak santai.


Sontak saja, Dewi memukul lengan Andre menggunakan satu tangannya yang bebas. “Iiih, apa-apaan, sih. Kakak itu belum makan, lebih baik makan dulu,” tolak Dewi.


“Tapi aku mau makan kamu.”


Bibir Dewi mencebik. Apaan itu makan dirinya, yang ada malah semakin lapar bukannya kenyang?


“Tapi anak kita lapar, Kak. Udah minta makan.” Dewi masih berusaha menolak ajakan Andre. Ia benar-benar lapar sekarang.


“Beneran?” Andre merendahkan tubuh. Berdiri menggunakan lututnya, menyejajarkan wajah pada perut buncit itu. Kedua tangannya menangkup perut itu seakan merasakan keberadaan si abang bayi, melihatnya dengan jelas dalam perut sang istri.


Kedua tangan Dewi kontan mengelus pucuk kepala Dewi. Senyumnya terbit, merasakan kehangatan di hatinya. Ia membelai rambut lelaki yang fokus menatap perutnya itu.


“Belum tentu jagoan, Kak. Bisa aja cantik,” protes Dewi.


“Hai, Sayangnya Mama Papa.” Andre meralat sapaannya. “Kamu lapar ya. Makan yang banyak ya di dalam sana. Habiskan stok makananmu, sisakan sedikit untuk Mama,” lanjutnya pelan. Lantas mencium perut itu berulang kali.


“Iya, Pa. Dedek lapar.” Dewi membalas ucapan Andre dengan suara pelan.


“Ayo kita makan.” Andre berdiri, mengecup kening Dewi. Tangannya terulur menangkup pipi wanita di hadapannya, mengusap pelan dengan ibu jarinya. “Tunda dulu deh, makan kamu nya. Bisa nanti aja. Sekarang yang penting perut kamu terisi, kasihan anak kita kalau kelaparan.” Andre mengerling nakal.


Ya, ***** makan Dewi naik drastis. Jika sebelum hamil ia akan menahan diri demi menjaga pola makan dan berat badan, sekarang tidak lagi. Terlebih saat dokter tempatnya memeriksa kandungan berpesan jika wanita hamil itu sebaiknya jangan menahan diri untuk makan, kecuali jika sang bayi dalam perut telah cukup berat badannya. Alhasi, saat dirinya merasa lapar dan ingin memakan sesuatu Dewi akan langsung melaksanakannya. Apa lagi, memang perutnya tidak bisa diajak kompromi. Rasa laparnya tidak bisa ditunda untuk segera ditunaikan.

__ADS_1


Dewi makan dengan lahap, seperti orang yang beberapa hari tidakmenyentuh nasi. Sampai Andre dibuat tercengang melihatnya. Hari-hari sebelumnya lelaki itu memang melihat jika Dewi lahap memakan apa pun, tetapi sekarang rasanya lebih lahap dari biasanya.


“Kamu beneran lapar?” tanya Andre ingin tahu.


“Hm.” Dewi hanya menggumam pelan, tidak membalas tatapan Andre kepadanya. Ia terus menunduk dan menyuap nasi ke mulut.


“Kamu ingin makan sesuatu, enggak?” tanya Andre lagi. Sesekali ia akan menyuap ke mulutnya, tetapi lebih banyak menikmati pemandangan di hadapan. Melihat Dewi makan begitu sudah membuatnya kenyang.


“Hm.” Lagi-lagi Dewi hanya menggumam pelan lalu menggeleng tanpa berniat mengeluarkan suara.


Kegiatan Dewi terjeda saat mendengar sapaan Bik Inah yang baru pulang dari pasar.


“Bik, buah pesananku ada?” tanya Dewi antusias. Akhirnya ia mau berbicara juga dan menghentikan kunyahannya di mulut. Kedua matanya berbinar saat melihat Bik Inah berdiri tak jauh darinya.


“Ada, Non. Sebentar Bibik cuci dulu.”


Andre mengupas lalu memotong buah pir itu berbentuk potongan dadu kecil agar Dewi mudah memakannya. Setelah selesai, lelaki itu berniat menyuapi sang istri, tetapi malah ditolak.


“Kakak habiskan makanan Kakak saja. Aku makan buah sendiri enggak apa-apa, kok.” Dewi akan mengambil piring di tangan Andre.


“Aku suapin satu potong aja. Gemes lihat kamu makan begitu,” balas Andre terkekeh. Ia mengambil potongan buah di piring lalu menyuapkan kepada Dewi.


“Kenapa, Kakak enggak suka ya? Takut aku gemuk lagi?” sahut Dewi ketus.


“Ya enggak, Sayang. Justru aku senang melihatmu lahap makan. Berarti anak kita di dalam sana sehat. Aku ingin kamu dan bayi kita sehat.” Andre cepat-cepat menjelaskan khawatir kalau istrinya salah paham.


Beberapa bulan tinggal bersama, sedikit banyak membuat Andre paham bagaimana sifat Dewi yang sensitif dan mudah salah paham.

__ADS_1


“Kalau aku gemuk setelah melahirkan bagaimana?” tanya Dewi lagi. Ia menghentikan kunyahannya.


“Enggak apa-apa, kok. Kamu tetap cantik. Bagiku yang penting kalian sehat,” sahut Andre selembut mungkin.


__ADS_2