Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 43. Keputusan (2)


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti keduanya. Entah karena alasan apa, sepasang suami istri itu sama-sama memilih diam. Padahal, saat sebelum bertemu banyak sekali kata yang ingin diucapkan sang suami. Akan tetapi, tampaknya lidahnya mendadak kelu ketika harus berhadapan langsung dengan sang wanita.


lihatlah di sana, sang istri masih menunduk dalam. Padahal, sedari tadi Andre telah berusaha mencairkan suasana. Menanyakan kabar, mengomentari hal remeh temeh. Sayangnya, Dewi sepertinya enggan untuk menangapi.


Wanita itu hanya menggeleng, mengangguk sebagai jawaban sebagai tanggapan akan setiap tanya dan ucapan yang Andre lontarkan.


Hingga, suasana berubah canggung. Seakan mereka dua orang asing yang baru saja bertemu. Ah, tidak. Tentu saja tidak. Mereka lebih seperti dua orang yang saling berjauhan, baik berjauhan hati maupun fisik. Dan Andre, sangat membenci kenyataan itu.


"Dewi ...." Cukup sudah, Andre tidak lagi dapat menahan diri. Ia pun beringsut mendekati Dewi yang masih terduduk kaku di ujung kursi.


Kepala wanita itu menunduk dalam dengan kedua tangan yang saling meremas kuat di atas pangkuan.


Merasa diabaikan, Andre pun berdiri. Kemudian berjongkok di hadapan Dewi. Menggenggam erat kedua tangannya yang dingin.


"Dew, maafkan aku," bisik Andre lalu mencium punggung tangan itu.


Sayangnya, Dewi tetap bergeming di tempat.


"Dew, bicaralah. Jangan seperti ini. Kamu membuatku gila!" erang Andre. Tangannya lalu menjambak rambutnya frustrasi.


Dewi mendongak, menatap pada manik legam lelaki itu. Tangannya mengusap jejak basah di pipi. Sepertinya, ia harus berhenti menangis dan harus secepatnya mengambil keputusan.


"Kak ...," lirihnya. Matanya masih menatap lurus ke depan.


Andre merasakan aura yang berbeda dari Dewi. Ia sampai menahan napas menunggu kalimat yang akan wanita itu utarakan.


"Sepertinya, kita harus melepaskan ikatan ini," lanjut Dewi lirih.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


"Aku ingin kita berpisah," tegas Dewi.


"Ber-pisah? Apa maksud kamu dengan berpisah?" tanya Andre bingung. Ia benar-benar bingung ke mana arah pembicaraan Dewi saat ini.


"Aku lelah menunggu balasan cintamu. Akus sanggup mencintaimu dalam diam selama bertahun-tahun, tapi aku enggak sanggup menahan cemburu pada suamiku. Kakak telah menjadi suamiku, dan ... ternyata ikatan pernikahan ini sangat menyiksaku. Aku enggak tahan lagi. Aku menyerah ... menyerah pada rasaku ... menyerah pada cemburuku, menyerah pada pernikahan ini," jelas Dewi dengan suara mantab.


Ya, wanita itu telah yakin dengan perasaannya. Yakin dengan keputusannya. Perasaan ini tentu tidak akan baik bagi kondisi janin dalam kandungannya.


Mulut Andre menganga, tidak percaya dengan apa yang Dewi ucapkan. Ia juga tidak percaya pada kenyataan yang harus dihadapi.


"Ke-kenapa harus begini, Dew ... kamu marah padaku? Marah Dewi ... marah!" Andre meraih tangan Dewi memukulkannya ke wajahnya yang tampak frustrasi. "Pukul aku, Dew ... pukul. Sepuas kamu." Kini air mata Andre mengalir tidak tertahankan. Ia tidak peduli jika menangis di hadapan wanita itu, wanita yang berstatus sebagai istrinya.


"Aku capek, Kak. Aku ingin kita cerai. Mungkin itu jalan yang terbaik untuk semua ini. Untukku, untukmu dan untuk anak kita," ucap Dewi dengan tangan yang masih berada di pipi Andre.


Dewi menatap dalam pada manik mata hitam legam itu. Menatap jika ada dirinya di sana, hanya saja ... hatinya berkata jika itu hanya saat mereka bersama. Entah mengapa, Dewi sangat yakin jika di hati Andre nama Anggita masih bersemayam memenuhi setiap sudutnya. Entah di bagian mana nama Dewi berada, bisa jadi ada di sudut yang lain dengan porsi Yangs sangat kecil. Bahkan harus dilihat menggunakan kaca pembesar.


"Enggak ... enggak ... aku enggak mau kita cerai. Aku enggak mau kita pisah. Aku--"


"Keputusanku sudah bulat, Kak," sela Dewi memutus perkataan Andre.


"Kamu silakan ambil waktu sebanyak yang kamu mau, Dewi. Tapi kamu harus ingat, aku enggak akan melepaskanmu." Andre berdiri menatap tajam pada Dewi.


Sesaat suasana kembali hening, mereka hanya saling memandang dengan mulut terkatup rapat.


"Aku akan pulang, aku akan pergi. Aku juga akan keluar dari perusahaan Papa sekarang. Tapi, aku enggak akan keluar dari kehidupan kamu. Kamu itu di sini ...." Andre menunjuk dada kirinya. "Di hati aku. Ada anak kita di dalam perut kamu."

__ADS_1


"Ini enggak ada gunanya, Kak. Dia hanya hadir sebagai kesalahan, dia hadir tidak diharapkan."


"Enggak ... enggak, aku sangat bahagia menerima kehadirannya. Jangan pernah berpikiran begitu." Andre menunjuk Dewi. Kini matanya penuh dengan kekecewaan.


Andre kecewa mengapa Dewi berpikir jika dirinya tidak bahagia menerima kehadiran buah hati mereka.


"Aku bahagia menerima kehadiran anak kita di rahim kamu. Kamu tahu itu 'kan? Tapi kenapa malah mengatakan hal yang sangat menyakitkan begitu?"


"Jika seorang ayah menerima kehadiran anaknya, dia tidak akan pernah berpikir untuk mengabaikan ibunya. Bagaimana kamu berpikir bahagia sedangkan selama ini selalu mengabaikan aku?" ketus Dewi.


Andre tercengang. Mendengar perkataand Dewi yang tidak lagi menggunakan kata Kakak. Wanita itu malah menggunakan kata kamu. Dan itu semakin menyakitkan untuk didengar.


"A-apa maksud kamu, Dewi?" Kali ini Andre benar-benar melihat sisi laind dari seorang Dewi. Jika selama ini ia hanya melihat kelembutan dari sikap istrinya , hari ini semuanya berubah.


Entah ke mana perginya kelemah lembutan yang selama ini Dewi tampilkan. Entah ke mana perginya senyum yang selalu terkembang. Semuanya benar-benar tidak lagi sama.


Andre merasa sangat kewalahan menghadapi Dewi.


"Apa maksud aku? Apa kamu selama ini tidak sadar, tidak introepkai diri rupanya?" Dewi tersenyum sinis.


"Kamu membela Anggita di depanku, di depan umum. Padahal jelas-jelas kamu sadar aku berdiri di sampingmu seperti kambing congek yang tidak dianggap. Diabaikan bahkan tidak dipandangs sedikit pun. Kamu tahu? Rasa sakit yang selama ini aku rasakan tidak ada yang sebanding sesikit pun dengan pengabaianmu pada anakku. Tidaka ada. Kamu telah melakukan kesalahan besar yang enggak bisa aku maafkan. Maka pergilah dari sini!" Dewi menunjuk pintu keluar. "Sebelum anakku merasakan kesakitan yang sebenarnya," lanjut Dewi dengan tatapan tajam.


Andre seakan tidak berpijak ke bumi. Tubuhnya melayang tinggi pada kejadian saat di cafe, lalu teehempaskan ke lantai meremukkan tulang belulangnya.


"Aku ... tidak bermaksud begitu, Dew. Aku hanya ...."


"Stop!" Dewi mengangkat satu tangannya ke atas memberi isyarat pada Andre agar berhenti bicara. Ia benar-benar lelah saat ini.

__ADS_1


"Aku capek. Aku mau istirahat. Pulanglah," ucapnya lelah.


"Ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi tolong, jangan minta. cerai. Aku enggak bisa. Tolong kasih aku kesempatan sekali saja. Sekali saja. Oke. Akua akan pergi dari sini. Tapi ... status kamu masih istri aku." Andre pun meninggalkan Dewi.


__ADS_2