
Jika waktu terasa begitu cepat bagi Andre, tetapi tidak bagi Dewi. Hari berganti seakan kian melambat. Beban di perutnya terasa semakin berat saja, kadangkala ia ingin meletakkan sejenak perut tersebut tentu saja tidak akan bisa.
“Kamu wanita kuat dan hebat.” Begitu pujian yang diberikan Andre saat Dewi merasa kelelahan. Apalagi suhu tubuhnya yang mudah kepanasan, gerah. Sehari wanita hamil itu bisa mandi sampai lima kali.
“Sabar ya, nanti ada uang lagi kita beli AC.” Andre terus mencoba menenagkan Dewi yang gelisah. Setiap malam, ia akan membantu mengipasi Dewi, walaupun telah ada kipas angin di kamar mereka.
Setelah kepindahan mereka ke rumah baru, Andre semakin giat bekerja dan tak jarang ia mengambil lemburan. Katanya, sih, anak membawa rezekinya sendiri. Begitulah yang dirasakan Andre saat dirinya diangkat menjadi supervisor timnya di penjualan.
“Rezeki Dewi dan calon bayi beli AC,” ujarnya dengan rasa membuncah bahagia. Ia pun pulang denga perasaan yang tidak bisa digambarkan, betapa jantungnya berdetak kuat sampai menyesakkan dada. Namun juga menciptakan banyak bintang di sana.
Seperti sebelum-sebelumnya, Andre selalu menolak bantuan dari ayah mertuanya. Ia beranggapan bahwa Dewi adalah tanggung jawabnya. Pernah suatu ketika Pak bambang merasa sangat kesal saat mendapati rumah yang ditempati putri semata wayangnya belum memiliki pendingin ruangan.
“Bagaimana Dewi bisa tidak tersiksa tinggal di sini? Dia sedang hamil besar, tapi rumah ini sangat panas.” Lelaki paruh baya itu sepertinya sudah tidak memiliki kesabaran yang cukup menerima perlakuan Andre kepada Dewi.
“Dewi tidak pernah kekurangan sekali pun. Tapi, setelah hidup denganmu. Lihatlah! Kebahagiaan seperti apa yang telah kau berikan kepadanya.” Lelaki itu berang.
Di seberang Pak Bambang, Andre duduk dengan menundukkan kepala. Tubuhnya kaku. Tidak mengerti harus melakukan apa lagi. Ia telah berusaha semaksimal mungkin, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menciptakan senyum di wajah Dewi.
Andre tidak pernah berfikir jika apa yang telah ia lakukan sebenrnya belum bisa dikatakan membahagiakan Dewi.
Apa selama ini Dewi menderita bersamanya? Kalau memang begitu adanya, berarti ia telah gagal menjadi suami.
“Pa ....” Dewi berdiri, mengelus perutnya sejenak lalu melangkah mendekati sang ayah. Di samping Pak Bambang, istrinya hanya menangis saja, tidak mengucapkan apa-apa.
__ADS_1
Dewi duduk bersimpuh di hadapan Pak Bambang, menggenggam kedua tangan sang ayah lalu menciumnya penuh sayang.
“Pa, aku tidak apa-apa. Kak Andre sudah melakukan banyak hal untukku. Papa jangan khawatir,” ujar Dewi mencoba untuk memberi pengertian. Ia berharap dengan begitu Pak Bambang akan mengerti dan tidak marah lagi. Ah, lebih tepatnya tidak lagi kecewa kepada suaminya.
“Setiap malam, Kak Andre akan mengipasiku. Dia sangat sabar menghadapi emosiku yang berubah-ubah. Dan ... aku sangat bahagia sekarang, Pa,” lanjut Dewi seraya tersenyum tulus.
“Tapi ....”
“Ma,” panggil Dewi kepada wanita yang terus saja menangis. Ia meminta dukungan, meyakinkan orang tuanya bahwa ia bahagia. Sangat bahagia.
Dewi berpindah, kini berdiri di depan sang mama. Wanita yang telah melahirkannya itu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta sang putri untuk duduk di dekatnya.
Dewi menurut, lantas entah siapa yang memulai duluan. Kedua wanita satu generasi itu pun saling berpelukan dengan erat. Mereka saling menumpahkan tangis, entah untuk alasan apa. Yang pasti, Dewi turut meneteskan air mata kala melihat mamanya menangis. Sampai beberapa menit kemudian, keduanya saling melonggarkan dekapan.
“Iya, Oma. Oma enggak usah sedih, Dedek bahagia dan sebentar lagi akan keluar.” Dewi berbicara menggunakan logat khas suara anak kecil.
Syukurlah, tidak menunggu waktu lama setelah hari yang mengharukan itu. Andre sudah membelikan pendingin ruangan, juga membelikan box bayi untuk calon buah hati mereka di bantu dengan sopir keluarga yang sengaja dihubungi untuk membantunya belanja. Awalnya, Bik Inah juga ingin membantu. Namun, Andre melarang karena tidak tega meninggalkan Dewi sendirian di rumah. Ia juga tidak tega jika wanita hamil itu harus ikut berbelanja dengan perut yang semakin membesar itu.
Malam itu, sepasang suami istri tersebut telah merebahkan diri di atas peraduan mereka. Seperti malam-malam yang telah lewat, Andre akan mengelus perut buncit Dewi mengajak berbicara calon bayi mereka di sana.
Andre akan tertawa girang kala menerima gerakan dari alam rahim, sebagai respon yang diberikan makhluk kecil dari dalam sana atas apa yang dilakukan sang calon ayah. Andre bahkan akan menyingkap baju yang dikenakan Dewi agar ia bisa leluasa melihat pergerakan yang terjadi. Lantas, mencium perut itu menciptakan sensasi geli di perut Dewi.
Herannya, bukan hanya perut Dewi yang teras geli melainkan sekujur tubuhnya merasakan desiran halus yang menghangatkan hati.
__ADS_1
Setelah melakukan ritual itu barulah mereka akan terpejam bersama. Tidak lupa, Andre akan mengecup kening Dewi lama, seraya mengucapkan mantra, “Kamu sehat. Kamu kuat. Kamu wanita hebat. Aku cinta kamu. Sangat. Selamat malam, Sayang.”
Setelah beberapa menit terpejam, sepertinya ada yang mengganjal di fikiran Andre membuatnya kembali terjaga.
“Sayang, apa kamu sudah tidur?” Andre bertanya pelan seraya mengelus surai hitam Dewi.
“Hm.” Dewi membalas dengan gumaman pelan.
“Kalau aku bertanya sesuatu, apa kamu bisa menjawabnya dengan jujur?” tanya Andre dengan suara lembut.
“Hm. Apa itu?” Dewi membuka matanya. Seketika itu pula, matanya terkunci dalam tatapan Andre yang dalam dan menghanyutkan.
“Apa kamu bahagia hdiup bersamaku? Hm ... maksudku, dengan keadaan kita yang sederhana ini. Aku tidak mau kamu menyiksa diri sendiri. Katakan padaku jika kamu merasa tidak nyaman atau ada sesuatu yang mengganjal hatimu.” Entah sejak kapan perasaan rendah diri itu muncul. Namun, semakin hari Andre marasa jika dewi tidak pernah mengeluhkan sesuatu. Ia tidak ingin wanita yang dicintainya itu menyiksa diri.
“Aku sangat mencintaimu dan calon anak kita. Aku enggak mau kalau kalian tidak nyaman bersamaku ... aku ....” Tiba-tiba lidah Andre tarasa kelu. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Aku bahagia. Jika itu yang ingin kamu tahu, Kak. Aku bahagia hidup bersamamu, tidak peduli di mana pun kita tinggal asal bersamamu aku bahagia.”
Andre tidak mengerti, seharusnya ia merasa teranjung atas kalimat Dewi. Namun, kali ini justru sebaliknya. Ia merasa jika perkataan itu malah semakin membuatnya rendah diri.
Andre menghela napas frustrasi, ia benar-benar putus asa dengan semua ini.
“A-apa aku harus kembali ke perusahan ayahmu?” tanya Andre ragu yang langsung mendapat respons terkejut oleh Dewi.
__ADS_1
Kedua bola mata Dewi terbelalak mendengar pertanyaan Andre barusan.