
“Aku percayakan semuanya kepada Kak Andre.” Kalimat yang disampaikan Dewi tadi malam terus terngiang di telinga Andre.
“Kerja juga, kan, harus nyaman. Kalaupun bukan aku dan Kakak yang bekerja di kantor papa, bisa jadi anak kita kelak yang akan meneruskan perusahaan itu. Sekarang yang terpenting, kita perbaiki kehidupan kita saja, Kak. Tapi ...kalau Kakak nyaman dan tenang untuk kembali bekerja di sana, aku ikut.” Dewi tersenyum lembut. Senyum yang memberikan kekuatan serta kepercayaan penuh kepada Andre.
“Jangan melakukan apa pun karena orang lain. Aku tidak mau menjadi alasan itu. Aku akan sepenuhnya mendukung keputusan suamiku.” Kalimat terakhir yang diucapkan Dewi.
Dewi adalah sosokseorang istri yang penuh pengertian. Setiap kalimat yang diucapkan begitu hangat dan memberi kenyamanan. Tidak jarang, di kala Andre mengalami stress karena beban kerja yang bertambah, Dewi selalu memberikan kekuatan.
Seperti sekarang. Saat Andre bimbang memilih yang terbaik, Dewi sepenuhnya percaya bahwa ia mampu melakukannya. Terlebih, wanita itu memasrahkan semua keputusan itu kepadanya sebagai penghargaan betapa tinggi harga dirinya sebagai seorang lelaki yang menyandang status sebagai suami dan calon ayah.
Andre akui, bekerja di bawah pengaruh mertuanya tentu membuatnya tidak nyaman. Ia lebih nyaman dan puas di sini. Bukan tidak ingin menerima fasilitas kemewahan dari orang tua sang istri. Atau merasa ingin menyombongkan diri bahwa dirinya mampu menghidup sang putri kesayangan keluarga Bambang. Hanya saja, Andre merasa leluasa kala ia bekreja pada perusahaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan harta keluarga.
Maka, ia pun memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasanya. Tanpa memikirkan kembali hal-hal yang tidak penting. Prioritasnya sekarang adalah kelahiran dan kesehatan dua orang terkasihnya dan dirinya sudah tak sabar menunggu moment tersebut.
Pekerjaan yang banyak membuat Andre harus lembur. Selain karena ia harus meninjau aktivitas jualan di setiap stand yang menjadi tanggung jawabnya. Setelah itu berlanjut dengan membuat laporan sebagai bahan evaluasi di akhir bulan, untuk melihat perkembangan dan apa saja yang dibutuhkan di bulan berikutnya.
Andre sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam. Padahal, di hari biasa dirinya akan pulang sebelum waktu Maghrib.
Andre membuka pintu secara perlahan, melangkah dengan pelan menuju kamar. Rupanya Dewi masih terjaga menunggunya pulang. Wanita itu duduk di tepi ranjang, begitu pintu terbuka tatapan keduanya saling mengunci di udara. Hening. Tidak ada yang memulai kata hanya langkah kaki yang sama-sama saling mendekat.
“Belum tidur, Sayang?” tanya Andre kemudian saat kedua tangannya telah melingkar di perut buncit itu.
Dewi menggeleng pelan seraya tersenyum lembut. Seperti sebelumnya, wanita itu selalu berusaha memberi kenyamanan kepada Andre.
“Kamu menungguku?” tanya Andre lagi.
Lagi-lagi, Dewi tidak mengeluarkan kata. Kini gerakan kepalanya mengangguk berulang kali.
“Apa aku melewatkan sesuatu?” Melihat Dewi yang tidak juga bersuara menyelipkan rasa khawatir di hati Andre. “Apa kamu tadi memesan sesuatu yang tidak aku tahu?” Andre mengingat-ingat. Ah, iya ia lupa jika tidak membuka ponselnya dari sore tadi. Setelah mengabarkan keterlambatannya pulang, Andre menyimpan ponsel dan tidak membuka-buka benda pipih itu.
Benar saja, ekspresi Dewi berubah masam.
__ADS_1
“Sebentar, aku buka ponsel dulu ya. Maaf ya ....” Andre mengecup singkat kening Dewi lalu merogoh ponsel di saku celananya. Memeriksa pesan dari Dewi.
[Kak, aku lapar. Bisakah membawakan aku gado-gado?]
[Kak, sibuk banget ya? kalau enggak bisa aku minta buatin bibik, deh.]
[Kak, gado-gado buatan bibik kurang sreg di lidahku. Nanti Kakak bawain yang di tempat dekat kampus ya.]
“Ya Tuhan!” geram Andre dengan suara tertahan.
Pandangannya kini tertuju kepada Dewi yang tertunduk dengan wajah sendu.
“Mau keluar sekarang?” Andre meraih tangan Dewi, menggenggamnya lalu mengelus pelan dengan ibu jarinya.
Seketika raut sendu itu berubah semringah. Dewi mengangguk dengan semangat, lalu menyambar sweater di gantungan.
“Pelan-pelan, Sayang. Ingat kamu sedang bawa beban dalam perutmu.” Andre mengingatkan dengan suara lembut. Tangannya terulur mengelus pucuk kepala Dewi dengan perasaan sayang, tidak lupa menyunggingkan senyum tulus yang disambut dengan senyum manis Dewi.
“Aku lagi pingin naik motor.”
“Ha? Bahaya, Dew. Naik mobil aja ya.” Andre menolak keinginan Dewi yang terkesan berbahaya itu. Bagaimana mungkin mereka pergi malam-malam begini dengan keadaan Dewi yang seperti itu menggunakan motor?
“Enggak mau. Aku mau naik motor, Kak.” Dewi masih bersikeras pada keinginannya.
Andre heran tidak biasanya Dewi bersikeras seperti ini. Apa ini yang disebut ngidam? Padahal biasanya, Dewi meminta sesuatu yang cenderung tidak aneh-aneh. Namun, sekarang. Ini tentu saja membahayakan.
“Bahaya, Sayang. Kampus jauh dari sini. Malam, dingin.” Andre masih mencoba menjelaskan dengan suara pelan, ia tidak ingin menyakiti hati Dewi.
“Enggak mau. Aku mau naik motor ke sana. Udah pakai sweater, kok.” Dewi terus bersikeras. Kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.
Andre frustrasi. Ia mengembuskan napas kasar lalu menjambak rambutnya.
__ADS_1
“Aku enggak akan kenapa-kenapa. Beneran lagi pingin naik motor malam-malam sama Kakak.”
“Jadi kamu mau makan gado-gado atau naik motor malam-malam, sih?”
“Dua-duanya. Aku ingin makan gado-gadi di dekat kampus, ke sananya naik motor berdua sama Kakak sekarang,” tegas Dewi.
Andre pasrah, ia pun menuruti keinginan Dewi malam ini. Akhirnya dengan berat hati Andre membonceng Dewi dengan perut buncitnya naik motor menuju tempat yang diinginkan wanitanya tersebut.
Sesampainya di tujuan, Dewi antusias turun dan langsung duduk. Tempat itu telah sepi, bahkan nyaris tutup. Tinggal sisa-sisa sedikit gado-gado itu.
“Rejeki ibu hamil,” ujar Andre seraya menyuapkan sesendok lontong ke mulut Dewi.
Dewi menerima suapan itu dengan hati bahagia, mengabaikan rasa sakit di pinggang dan perutnya. Setelah habis gado-gado di piring, mereka pun menuju pulang.
Saat kendaraan roda dua itu melintasi klinik bersalin, Dewi menepuk-nepuk pundak Andre meminta berhenti.
Walaupun heran, Andre menghentikan laju kendaraan dan memutar balik menuju klinik bersalin tersebut. Tanpa kata, setelah motor itu terparkir sempurna di area parkir, Dewi segera turun.
“Ada apa?” tanya Andre bingung.
“Aku mau periksa, dari tadi perut dan pinggangku sakit. Sepertinya gejala kontraksi,” jawab Dewi lemah, ia merangkul Andre berjalan pelan menuju pintu masuk.
“Maksudnya kontraksi?” Andre menghentikan langkah, menoleh kepada Dewi. Keningnya berkerut memikirkan maksud kontraksi yang dikatakan Dewi.
“Mau melahirkan, Kak,” sahut Dewi dengan ringisan menahan sakit.
“Apa? Kamu mau melahirkan? Bagaimana ini?” Seketika Andre panik.
Andre melepaskan genggaman tangan Dewi di lengannya, tanpa pikir panjang ia pun berlari ke arah masuk meninggalkan Dewi sendirian.
“Itulah kenapa aku tidak bilang dari tadi, Kak. Kamu panik banget,” gumam Dewi.
__ADS_1