Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 46


__ADS_3

Pikiran Dewi tiba - tiba kosong. Keadaan sekitar mendadak menjadi kabur oleh air mata yang menggenang di pelupuk.


Dewi melangkah cepat meninggalkan Andre yang masih terpaku di tempat. Ia lupa, jika ke sana tadi bersama sang mama.


Dewi begitu saja pergi. Mengabaikan tatapan heran dari beberapa pasang mata padanya.


Andre kembali melayani pembeli. Namun, tiba - tiba saja matanya terpaku pada pengunjung yang tampak seperti sepasang suami istri.


Di sana lelaki itu mengelus perut buncit suaminya, sedangkan si istri mengelap keringat yang membasahi dahinya.


Ada yang terusik di hati Andre bernama nurani. Melihat keharmonisan keluarga itu, pikirannya langsung tertuju pada Dewi yang entah ke mana ia sekarang.


Logikanya memerintahkan Andre untuk bertahan, tetapi hatinya memerintahkannya untuk mengejar Dewi. Memeluknya walau sebentar saja.


Sejenak, antara logika dan rasa terus berperang seakan ingin menang untuk dituruti.


Siapa yang mampu membendung rindu. Bukankah cinta bermuara pada rasa rindu yang menggelora dalam dada. Membara. Membakar habis seluruh harga diri dan ke - egoan diri. Membabat habis kemarahan dan meruntuhkan benteng pertahanan bernama keangkuhan.


Andre berlari, menghalau siapa saja yang menghalangi jalannya. Matanya menatap lurus ke depan, kepalanya sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu ke belakang memeriksa adakah Dewi di antara kerumahnya pengunjung itu.

__ADS_1


Sampai di lantai bawah, Andre berhenti sejenak. Memejamkan mata, bertanya kepada hatinya. Di mana sang kekasih berada?


Lantas, Andre pun melangkah cepat mengikuti suara hatinya.


Kata orang, saat dunia ini berdusta padamu. Maka tanyakanlah kepada hati. Hanya dia yang berkata jujur. Ah, ya. Satu lagi, bertanyalah kepada cermin. Benda satu itu memang tidak akan pernah mampu berbohong.


Seperti harapannya, Andre menemukan Dewi yang berjalan menunduk menuju pintu keluar.


Dengan langkah setengah berlari, Andre mengejar langkah Dewi. Tidak ingin membuang - buang waktu, begitu tubuh mereka hanya berjarak beberapa jengkal saja. Andre segera meraih Dewi dari belakang. Memeluk wanita yang amat dirindukannya dengan erat. Erat sekali. Seolah tak ingin dipisahkan lagi.


"Kumohon, jangan pergi. Jangan ... jangan tinggalkan aku. Tolong ... Dewi. Tolong jangan tinggalkan aku," rintih Andre. Kepalanya tenggelam di ceruk leher wanita dalam pelukan.


Andre menahan Dewi yang terasa ingin memutar badan. Tangan wanita itu pun berusaha melepas rengkuhan tangan Andre di pinggangnya.


"Lepaskan aku," protes Dewi.


Andre menggeleng, tangannya semakin mengeratkan pelukan. "Jangan," mohon Andre.


"Kakak bisa melukai anak kita," kesal Dewi.

__ADS_1


Dewi meringis menahan sakit oleh perutnya yang terasa kaku.


Andre menyusuri lengan Dewi, lalu memegang kedua bahu wanitanya. Memutarnya pelan, sampai dua raga itu saling berhadapan dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh orang - orang yang kasmaran.


Sesaat, kebisuan mematikan aktivitas mereka. Mengunci rapat kedua bibir sampai tak kuasa mengucap kata.


"A-aku ... ka-kamu jangan tinggalkan aku," ujar Andre dengan tergagap.


Dewi tak mampu membalas, ia hanya mampu mengangguk dengan deraian air mata yang membasahi pipi.


Kemudian, Andre merendahkan diri. Menyejajarkan kepalanya dengan perut Dewi. Menciumi calon bayinya seakan bayi itu bisa dilihatnya.


"Maafkan, Papa, Sayang," ujar Andre dengan suara bergetar.


Dewi tergugu. Tangannya sibuk menyeka air matanya.


Andre mendongak menatap wajah sendu Dewi. "Maafkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku. Biarkan aku menjaga kalian," ucap Andre masih dengan tangis.


Dewi mengangguk sebagai jawaban setuju. Ya, dirinya telah lelah menahan kesedihan ini sendirian. Ia ingin mencoba memberikan kesempatan itu sekali lagi. Cukup, 'kan?

__ADS_1


Tanpa disadari, tidak jauh dari mereka. Sepasang mata menatap sepasang suami istri yang tengah melepas rindu.


__ADS_2