
Sesampainya di rumah, Andre langsung mencari keberadaan Dewi dan Adrian.
Tidak biasanya Dewi tidak menyambut kepulangan Andre. Padahal, istrinya itu bisa dikatakan tidak pernah absen menunggu dirinya di depan pintu. Tidak jarang pula, Dewi akan membukakan pintu utama rumah mereka saat mendengar suara mesin roda empat itu. Namun sekarang, suara Dewi saja tidak terdengar di mana pun.
Andre mulai kesal ketika mendapati kamar mereka pun kosong dari wujud sang Dewi. Andre melemparkan tas kerjanya di kasur lalu melangkah lebar menuju kamar Adrian. Nuhil. Dua orang yang sangat dirindukannya itu tak ada di sana.
"Jangan jangan Dewi masih di rumah sakit," gumam Andre penuh sesal. Lantas, lelaki itu pun buru buru merogoh saku celana nya, mengambil ponsel di sana. Tidak ingin membuang waktu, Andre pun segera menghubungi kontak sang istri.
Suara dering ponsel Terdengar nyaring dari dalam kamar seiring sambungan teleponnya yang belum mendapatkan jawaban. Rupanya, ponsel Dewi tergeletak begitu saja di meja rias. Merasa bahwa ia melakukan hal yang sia sia. Andre pun dengan cepat memutus panggilan tersebut.
"Enggak mungkin Dewi pergi jauh tanpa ponsel," gumamnya lagi. Lantas berjalan cepat meninggalkan kamar. "Mbok, Non Dewi mana?" tanya Andre begitu bertemu dengan asisten rumah tangga di rumah besar itu.
"Eh, Tuan Andre. Sudah pulang?" Wanita paruh baya itu tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab pertanyaan Andre membuat lidahnya berdecak.
"Istri dan anak saya ke mana, Mbok?" tanya Andre lagi dengan kesabaran yang dipaksakan.
"Oh, Non Dewi sama Aden di taman belakang. Mau saya panggil ... kan?"
Andre melesat begitu saja tanpa berniat mendengarkan ucapan wanita paruh baya itu sampai selesai.
Di taman belakang tampak dua orang yang sangat berarti bagi Andre itu tengah bermain kejar kejaran. lebih tepatnya, Adrian yang tengah mengejar sang mama sampai napas keduanya ngos ngosan.
Sepertinya, Andre yang melihat keasyikan itu tidak berniat mengusik mereka. Andre menatap keduanya dengan senyum yang terkembang di wajah.
Hingga menit menit pun berlalu. Andre masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan yang tersimpan dalam saku celana. Dewi dan Adrian masih berlarian sampai saat Dewi berjongkok karena kelelahan. kedua tangan wanita itu pun terangkat ke udara sebagai tanda menyerah.
"Ampun, Mama kalah," ujar Dewi yang ditanggapi dengan tawa lebar kemudian pelukan dari Adrian.
"Aku sayang Mama!" seru Adrian.
"Sama Papa, Sayang Juga enggak?" tanya Andre seraya berjalan mendekat ke arah dua orang yang tengah berpelukan itu.
__ADS_1
"Papa!"
"Kak!"
Adrian dan Dewi berseru secara bersamaan. Adrian pun langsung melepaskan pelukan pada sang mama lalu berlari kencang ke arah sang papa dengan wajah berseri seri. Andre menghentikan langkah lalu berdiri dengan lutut di atas rerumputan di taman itu, lantas merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Adrian ke dalam pelukan.
"Sayang Papa!" seru Adrian riang.
"Papa juga sayang sama Adrian dan mama," balas Andre lalu mengedipkan sebelah mata ke arah Dewi.
Dewi yang ditatap sedemikian rupa pun merona. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis dengan wajah yang memerah karena malu.
"Kalian dari tadi ya main di sini? Papa sampai urang uringan nyariin Mama lho," ujar Andre lalu berdiri dan berjalan mendekati Dewi dengan Adrian dalam gendongannya.
"Ah iya, maaf. Aku enggak tahu kalau Kakak akan pulang cepat. Tadi Adrian ngajak main sampai lupa waktu," jelas Dewi tak enak hati.
"Ya jelas saja enggak tahu. HP kamu di kamar, Sayang," balas Andre lalu menarik Dewi agar mendekat kepadanya.
Andre mengecup kepala Dewi begitu tubuh mereka tak berjarak. Merangkul tubuh wanita itu agar semakin merapat lalu memeluk keduanya dalam perasaan hangat nan menenangkan.
"Maaf," lirih Dewi tak enak hati.
"Tidak apa apa, Sayang. Aku cuma khawatir tadi, ku pikir kamu masih di rumah sakit ...."
"Aku di rumah saja setelah mengajak Adrian jalan jalan tadi. setelah tidur siang, Adrian mengajak main di taman sini," jelas Dewi pelan.
"Gimana keadaan Papa?" tanya Andre kemudian.
Mendengar itu, wajah Dewi langsung berubah murung. Ia menggeleng pelan dengan kepala tertunduk dalam.
"Sayang, kamu mandi dulu sama Mbak ya ... Papa mau bicara sebentar dengan Mama. oke jagoan." Andre mengacungkan ibu jadinya kepada Adrian.
__ADS_1
Tampaknya bocah balita itu mengerti. Terbukti Adrian langsung menyentuh ibu jari Andre menggunakan ibu jadinya sebagai tanda persetujuan. Adrian pun mengangguk antusias, lalu turun dari gendongan sang papa.
"Siap, Papa." Adrian berlari menuju pintu masuk ke rumah. Sedetik kemudian, tampak sang pengasuh menyambut anak lelaki itu. Keduanya pun langsung berjalan bergandengan tangan.
"Sini," ajak Andre sembari merangkul bahu istrinya. Mengajaknya duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Kakak enggak mau makan dulu atau minum teh dulu, gitu?" tanya Dewi begitu mereka telah duduk.
"Nanti aja. Ini juga belum masuk jam makan malam. Siang tadi udah makan sama Arman di rumah makan seberang kantor." Setelah mengatakan kalimat yang lumayan panjang itu, Andre pun mengeratkan rangkulannya.
Sejenak, pikiran Andre berkelana pada percakapannya bersama Arman.
"Lu harus sering sering melakukan kontak fisik sama pasangan, Ndre. Pelukan bisa meruntuhkan rasa lelah dan stress. Apalagi kalau sampai dielus elus kepala kita. beuh, langsung rontok deh tuh segala macam perkara yang buat kepala mendidih."
"Tapi di sini masalahnya adalah ... Dewi yang punya beban tanggung jawab lebih besar ketimbang gue."
"Percayalah. Wanita itu seberat apa pun beban yang dipikulnya bakalan seneng kalau menerima lelakinya bermanja manja sama dia. Semakin wanita mencintai pasangannya, semakin dia ingin memanjakan. Berbanding terbalik dengan kita. Kalau kita mah, bawaannya pingin manja manja mulu."
Dan sekarang terbukti, Dewi tidak mengeluh sedikit pun saat Andre merebahkan kepalanya di pundak sang istri.
"Berat enggak?" tanya Andre ragu.
Dewi menggeleng pelan. Lantas tangannya pun mengelus kepala Andre dengan perasaan sayang.
"Tapi kita juga harus ingat. Nih ...." Arman menepuk dadanya berulang kali, "ini harus siap menjadi sandaran bagi istri seberat apa pun masalah yang dihadapi bersama."
Andre mengangkat kepalanya. Keduanya saling bertatapan. Andre menatap dengan tatapan memuja, sedangkan Dewi dengan rasa bingungnya.
"Kalau aku cium, boleh?" tanya Andre lirih.
Belumlah si Dewi membalas pertanyaan yang diajukan. Andre telah lebih dulu membungkam bibir itu. Dahlah. Kalau mau bicara seharusnya Andre memang langsung bicara saja. Ia memang bukan tipe yang bisa mengobrol seraya bersentuhan fisik begitu, bisa bisa seperti sekarang ... apa yang ada di kepalanya mendadak berubah haluan seperti ini.
__ADS_1
Entah kapan semua rasa ini bermula? Yang jelas, Andre merasakannya saat dirinya ingin memperbaiki hubungannya dengan Dewi. Dan kali ini, ia sangat bersungguh sungguh.