Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 67


__ADS_3

Saat Andre masih mondar-mandir kebingungan mencari perawat jaga. Dewi berjalan menuju ruang tunggu, lalu mondar-mandir ke sana-kemari. Kata orang, saat merasakan kontraksi seperti itu harus lebih banyak berjalan dan sesekali jongkok. Dewi melakukan semua nasihat tersebut. Sesekali ia akan meringis menahan sakit yang semakin intens menyerang.


“Kuat-kuat ya, Nak.” Dewi mengelus perutnya memberi kekuatan kepada si calon bayi. Ya, ia tampak setenang itu. Melihat wajah Andre yang tiba-tiba pucat saat mengetahui bahwa dirinya akan lahiran tadi cukup memberikan kekuatan untuknya tidak terlalu panik.


Padahal, Dewi juga butuh sosok yang mampu menguatkan. Ia butuh suaminya menemani, tetapi tak kunjung kembali.


Hingga beberapa menit kemudian, Dewi bisa sedikit bernapas lega saat melihat Andre berlarian mendekatinya. Di belakang lelaki itu ada perawat yang membawa kursi roda.


“Ka-kamu kenapa berada di sini?” tanya Andre dengan perasaan cemas luar biasa.


“A-ku menunggu di luar. Kakak enggak balik-balik, jadi aku susul,” jawab Dewi dengan suara terbata-bata.


“Ah, maaf-maaf. Aku panik.” Andre membantu Dewi untuk duduk di kursi roda, tetapi ditolak oleh wanita hamil itu.


“Aku mau jalan saja. Kakak gandeng aku ya,” ujar Dewi seraya tersenyum.


“Ta-pi—“


“Tidak apa-apa, Pak.” Sang perawat menyela ucapan Andre yang terdengar ragu. Lantas, tatapannya beralih kepada Dewi untuk bertanya, “Ibu masih kuat?” Dewi mengangguk sebagai jawaban.


Dewi melangkah pelan, tangannya mengelus perut dengan satu tangan yang lain menggenggam tangan Andre. Di sampingnya, Andre menatap dengan khawatir, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.


“Andai rasa sakit itu bisa dipindahlan, aku mau menanggungnya,” ujar Andre dengan suara parau. Bibirnya bergetar menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk mata.


“Terima kasih, Kak. Begini saja sudah cukup,” sahut Dewi semakin mengeratkan genggaman. Jari jemari keduanya saling bertautan, saling mengisi dan terasa begitu pas.


Sesampainya di ruang bersalin, Dewi tidak langsung menuju ranjang melainkan mengajak Andre berjalan-jalan di dalam kamar. Sedangkan sang perawat menyiapkan keperluan persalinan.


Beberapa menit kemudian, sang dokter kandungan datang. Memeriksa keadaan si pasien. “Udah bukaan empat. Sabar ya ....”


Setelah wanita berseneli itu keluar, Dewi meminta Andre untuk menghubungi keluarganya di rumah. Andre menepuk kening, kenapa hal sepenting sampai terlupakan olehnya.

__ADS_1


Nyeri di perut dan pinggang Dewi semakin menjadi-jadi, ia pun meminta untuk berbaring di ranjang pasien.


Andre menghubungi Pak Bambang dengan perasaan cemas. Tangannya mengelus-elus kepala Dewi.


“Elus di pinggang, Kak,” rintih Dewi seraya merengek.


Sambungan telepon belum juga mendapatkan jawaban sampai panggilan kelima.akhirnya Andre memutuskan untuk menghubungi nomor rumah keluarga istrinya itu. Andre pun mengabarkan keadaan Dewi dengan suara terbata-bata dan menyampaikan pesan agar mertuanya segera datang ke klinik yang telah disebutkan alamatnya.


Satu jam kemudian,orang yang ditunggu-tunggu belum juga menampakkan wajahnya. Malah Bik Inah yang datang tergopoh-gopoh dengan perasaan menyesal. Rupanya, sang majikan menghubunginya selain untuk mengabarkan keadaan Dewi mereka juga memarahi Bik Inah yang dirasa tidak becus menjaga Dewi. Sedangkan sang majikan sedang berada di luar kota menghadiri undangan salah satu kolega.


“Maaf ya, Bik karena aku Bik Inah malah kena marah Papa dan Mama,” ujar Dewi penuh penyesalan.


“Duh, enggak kenapa-napa, Non. Tadi mau menghubungi Nona tapi Bibik larang, maaf ya.” Bik Inah menjelaskan dengan susah payah. Wanita cekatan menggosok punggung Dewi.


Wajah Andre tampak semakin pucat dengan keringat dingin yang semakin bercucuran. Perutnya pun terasa melilit dan mulas.


Semakin mendengar rintihan sakit sang istri, semakin terasa sakit pula sekujur tubuh Andre. Sebelumnya ia belum pernah merasakan sakit seperti ini.


Saat Dewi berjuang untuk melahirkan buah hatinya, di saat itu pula Andre berjuang melawan kunang-kunang yang mulai menyerang. Pandangan matanya mulai mengabur. Andre menggeleng-geleng agar kesadarannya terus bertahan. Berulang kali ia mencium Dewi yang tengah mempertaruhkan nyawa, hingga akhirnya kesadaran Andre pun menghilang. Tubuh tinggi itu luruh ke lantai diiringi jeritan dari Dewi dan seluruh orang yang berada dalam ruangan itu.


Mau bagaimana lagi, untuk sesaat Andre dibiarkan terbaring lemah di lantai. Untung saja, setelah itu sang jabang bayi yang dinantikan pun akhirnmya keluar. Setelah dewi dibersihkan, barulah sang perawat meminta bantuan para lelaki untuk memindahkan Andre ke ranjang lain.


Andre siuman karena mendengar suara tangis bayi yang meminta ASI. Sepertinya sang bayi ingin disapa oleh sang ayah.


“Adek bangunin Papa ya, Nak.” Dewi tersenyum melihat bayi itu menangis.


Andre terlonjak kaget lalu buru-buru mendekati ranjang Dewi.


“Hai, Papa,” sapa Dewi dengan nada yang dibuat seperti suara bayi.


Bik Inah ke kamar mandi membersihkan diri, barulah keluar lagi untuk mengabarkan kepada sang majikan jika Dewi telah melahirkan dengan normal.

__ADS_1


“Hai, Sayang. Maaf ya, aku ... aku ... aku malah tidak nemenin kamu.” Andre menghambur dalam pelukan Dewi lalu menangis dalam pelukan wanita itu. “Maaf.”


“Ternyata suamiku ini sangat menkhawatirkan istrinya, sampai-sampai enggak kuat melihat istrinya lahiran,” uajar Dewi seraya terkekeh pelan. Tangannya mengelus kepala Andre.


“Angkat bayinya, Kak. Kasihan nangis.” Dewi menyadarkan Andre agar segera mengangkat sang bayi yang menangis dalam box-nya.


“Ah, iya.” Dengan perasaan campur aduk, Andre menggendong bayi kecil itu lalu memberikannya kepada Dewi.


Tidak butuh mengulur waktu, Dewi langsung memberikan ASI kepada sang bayi. Kemar pun kembali sunyi.


Sepasang suami istri itu saling pandang dalam diam lalu tersenyum penuh arti. Andre pun mencium kening Dewi, matanya melirik ke arah sang bayi.


“Aku udah punya saingan berat ini,” bisik Andre pelan. “Sainnganku ganteng banget lagi,” lanjutnya seraya mengelus pipi si bayi.


Dewi tersenyum mendengar ucapan Andre.


“Cemburu?” godanya dengan suara tak kalah berbisik.


“Hm,” gumam Andre seraya mengangguk.


“Kak, aku lapar,” desis Dewi.


“Oh, astaga. Aku lupa titip makanan ke Bik Inah. Bentar telepon dulu.” Andre keluar ruangan lalu menghubungi Bik Inah untuk membelikan makanan. Setelah itu ia kembali masuk.


“Terima kasih telah menjadi wanita kuat, Sayang,” ungkap Andre.


“Sama-sama.”


Euforia kebahagiaan itu bisa dirasakan siapa saja. Bik Inah datang membawa makanan yang dipesan penghuni kamar.


Andre pun menyuapi Dewi yang makan dengan lahap. Sedangkan Bik Inah beserta sang sopir keluarga sibuk menikmati wajah tampan yang menenagkan tertidur dalam box bayinya. Sebenarnya sepasang orangtua itu telah meminta Andre untuk beristirahat, biarkan mereka yang menjaga. Namun, orang tua baru itu tidak mau. Akhirnya keduanya pun pamit pulang dan berjanji akan datang lagi besok pagi-pagi sekali.

__ADS_1


__ADS_2