Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 71


__ADS_3

Pagi itu, Dewi menyempatkan diri untuk mengantarkan Adrian ke sekolah. Meninggalkan sejenak pekerjaannya di kantor yang tiada pernah ada habisnya juga masalah yang seakan tidak pernah mendapatkan solusinya.


Sedangkan Andre, setelah sarapan, lelaki itu langsung berangkat ke kantornya dengan terburu-buru. Sampai lupa membawa ponselnya yang masih tersambung dengan daya.


Dewi telah memanggil, tetapi lelaki itu sepertinya tidak mendengarkan panggilannya.


"Ma, kapan Papa bisa anter Adrian sekolah?" tanya Adrian polos. Matanya berbinar terang khas anak kecil. Sebagai seorang ibu, Dewi tahu jika ada pengharapan sekaligus rasa kecewa dalam binar itu.


"Nanti kita tanya Papa yaa ... soalnya, Papa kan lagi sibuk banget, Sayang. Nanti kalau enggak sibuk banget pasti nyempetin buat anter jagoan ini deh." Dewi menjawil hidung Adrian. Hidung yang sama persis seperti sang papa. Wajah yang banyak mirip dengan sang papa, tetapi matanya mewarisi manik mata miliknya.


Adrian tersenyum. Walau rasa - rasanya ada ketidak puasan dalam hatinya itu. Ia sering melihat bagaimana teman-temannya akan tertawa riang saat dijemput papa mereka. Baginya, sesekali saja sudah cukup. Ia hanya ingin memperkenalkan sang papa kepada guru dan teman-teman nya.


Seperti merasakan kegundahan hati sang anak, Dewi menggelitik pinggang dan perut Adrian menciptakan senyum, tawa dan jeritan dari anak lelakinya itu. Walaupun mungkin hanya sesaat, ia ingin agar Adrian bahagia kala bersamanya. Dewi tak ingin jagoan kecilnya merasa bersedih atau pun kesepian saat mereka tengah bersama sama.


Sesampainya di sekolah, Dewi menggandeng tangan Adrian menuju kelas. Ia sengaja melakukannya agar Adrian tidak merasa berkecil hati. Biarkan dirinya menjadi wanita yang egois sekarang. Seorang wanita yang sedang menjalankan perannya sebagai seorang ibu.


seorang ibu yang akan berusaha keras untuk membahagiakan buah hatinya. Tinggalkan sejenak segala aktivitas di luar sana. Dewi sengaja mengabaikan panggilan telepon yang terus berdering sedari tadi. Ia tahu, telepon itu berasal dari asistennya di kantor. Dewi juga ingat jika jam delapan ini memiliki rapat penting dengan pemegang saham.


Mungkin, posisinya sebagai pemimpin di kantor akan terancam dan tergantikan oleh yang lain. Namun, Dewi tidak ingin jika posisinya sebagai ibu tergantikan. Ah, begitu banyak pengandaian yang ada di kepalanya. Andai saja Andre mau menolongnya memimpin perusahaan, tentulah ia tidak akan susah hati begini. Tidak akan sebingung ini.


"Mama, itu Bunda Guru Tania." Suara Adrian membuyarkan kepingan pikiran kusut di kepala Dewi.


"Oh, i-ya, Sayang." Dewi tergagap.


"Bunda, ini mamanya Adrian." Adrian memperkenalkan Dewi kepada guru Tania. "Cantik kan, Bunda?" tanya Adrian lebih kepada pujian. "Mama juga sangat baik. Masakan Mama sangat enak sekali. Adrian suka sama semua masakan Mama," lanjut Adrian penuh semangat


Dewi tersenyum malu mendengar pujian yang dilontarkan Adria. Ia tidak menyangka akan menerima kejutan seindah ini. Sedangkan Bunda Tania tersenyum menanggapi perkataan anak didiknya.


Setelah Adrian masuk ke kelas, Dewi pun segera berpamitan kepada Bunda Guru. Kemudian melangkah cepat dan tergasa-gesa menuju mobilnya yang menunggu di pinggir jalan. Hari ini ia memang tidak mengendarai sendiri kendaraan itu. Meminta sopir untuk mengantarkannya ke mana pun.


Belumlah sampai dirinya di gerbang sekolah, Dewi menabrak seseorang yang sedang berjalan ke arah berlawanan darinya. Salahnya juga yang tidak hati-hati. Dewi yang jalan dengan terburu-buru membuatnya tidak memperhatikan sekitar.

__ADS_1


"Maaf ... maaf. Saya tidak sengaja," ujar Dewi merasa bersalah. Ia mengangguk hormat berulang kali.


"Tidak apa-apa," balas seseorang itu.


"Saya sedang buru-buru, jadi tidak lihat sekitar." Dewi mendongak malu mendelik kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya itu.


Lelaki itu mengulas senyum lalu membalas lembut, "Tidak apa-apa, Dewi."


"Bi-ma?" tanya Dewi tak percaya dengan sosok lelaki di hadapannya.


"Iya, aku Bima. Aku senang kamu masih mengingatku," balas lelaki itu tanpa bisa menyembunyikan binar senang di manik matanya.


"Kamu juga mengenaliku, Bim," sahut Dewi.


"Aku mengingat wajahmu dan mengingat suaramu. Bukan pada tubuhmu, Dew."


Perkataan Bima barusan menohok hati Dewi. Ia tidak siap mendengar perkataan itu keluar dari lisan lelaki itu. Rasanya sangat aneh dan .... membuatnya tidak nyaman mengingat masa lalu mereka.


"Kamu ada perlu apa di sini?"


"Kamu ada perlu apa di sini?"


"Kamu duluan," ujar Bima kemudian.


"Gimana maksudnya?" tanya Dewi.


"Kamu duluan yang jawab, Dew," sahut Bima masih dengan nada yang lembut.


"Ah, itu ... aku mengantarkan anakku sekolah di sini. Kamu sendiri?"


"Oh." Bima tampak salah tingkah. "Aku mengantarkan keponakan ke sini. Kebetulan orang tuanya lagi sibuk ...."

__ADS_1


"Om yang baik," sahut Dewi jujur dengan tulus. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Tanpa disadarinya jika Bima menatapnya lekat.


Ah, andai Dewi tahu. Senyum itulah yang sampai sekarang tidak bisa Bima lupakan. Lelaki itu sangat hapal dengan senyum itu dan sangat terpesona dengan senyuman itu dari dulu hingga ... sekarang.


"Terima kasih," gumam Bima gugup.


"Kalau gitu, aku duluan ya. Karena masih ada pekerjaan ...." Dewi berpamitan dan tanpa menunggu balasan dari Bima, ia langsung melangkah. Namun, langkahnya harus terhenti karena Bima meraih tangannya.


Dewi menoleh dengan raut terkejut, ia menatap Bima dan tangan lelaki itu secara bergantian.


"Oh itu, maaf. Boleh minta nomormu?" tanya Bima seraya melepaskan cekalan tangannya di lengan Dewi.


"Baiklah." Dewi pun menyebutkan deretan angka yang sudah dihafalnya di luar kepala. Sedangkan Bima segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mendengarkan dengan seksama angka angka tersebut dan langsung menyimpannya di ponsel.


"Terima kasih. Kalau ada acara reuni aku akan menghubungimu." Bima berujar seraya menggoyang goyangkan ponsel di tangannya.


"Oke," balas Dewi singkat.


Bima memandang kepergian wanita itu dengan senyum terkulum. Tidak menyangka akan bertemu dengan Dewi di sini.


Di dalam mobil, Dewi langsung menerima panggilan telepon dari Marina -asistennya- wanita itu mengatakan jika rapat sudah diundurkan ke jam sembilan. Dewi sangat beruntung memiliki asisten seperti Marina yang cekatan.


Dewi memasukkan ponsel ke dalam tas, saat itu juga ia menyadari jika ada berkas yang tertinggal di rumah. Maka, ia pun meminta sopir memutar arah untuk pulang terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, Dewi bergegas menuju ruang kerjanya. Mengambil berkas yang ketinggalan. Kemudian masuk ke dalam kamar memeriksa adakah sesuatu yang tertinggal di sana. Dewi tidak ingin nanti jika harus bolak balik lagi seperti sekarang.


Fokusnya teralihkan melihat ponsel Andre yang tertinggal. Ia mendekati benda pipih itu lalu menghidupkan ponsel itu.


Banyak pesan masuk serta panggilan di ponsel tersebut. Mata Dewi memicing saat membaca pesan dari nomor yang tidak tersimpan di kontak itu.


(Terima kasih ya, untuk yang kemarin. Aku sangat terbantu sekali. Kamu tidak ada kamu entah apa jadinya. Sekali lagi terima kasih.)

__ADS_1


__ADS_2