Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 53


__ADS_3

Sepasang suami istri tampak bahagia. Sang suami merangkul pinggang sang istri dengan sangat posesif. Sang istri merangkul lengan sang suami dengan perasaan senang.


Seakan - akan mereka tengah menunjukkan kepada dunia jika keduanya saling memiliki satu sama lain. Mengabaikan berpasang - pasang mata yang menatap dengan pandangaan iri. Bahkan, orang - orang itu juga menyunggingkan senyum, turut bahagia melihat pemandangan di hadapan mata.


Setelah melihat pergerakan bayi sehat di dalam perut istrinya, rasa sayang itu semakin dalam. Begitulah yang Andre rasakan sekarang.


Banyak janji yang lelaki itu ucapkan dalam hati guna memberikan kebahagiaan kepada wanita hebat yang kini mengandung calon bayinya.


Entahlah, Dewi mendengar suara hatinya atau tidak. Namun, Andre merasa jika gestur yang ditampilkan wanita di sampingnya ini seolah - olah bisa membaca apa yang tengah ia rencanakan.


Andre mencium puncak kepala Dewi, tangannya pun kini telah berpindah ke bahu sang istri memberikan usapan lembut di sana.


Usapan penuh cinta dan sayang, jua penuh perlindungan.


Dewi menggeliat pelan, sedikit memberi jarak pada posisi mereka. Lantas mendesis pelan, "Malu ah, dilihatin orang, tuh."


Bukannya menghentikan aksinya, Andre malah semakin mengetatkan pelukan dan menyerang Dewi dengan banyak ciuman yang tidak hanya di puncak kepala, tetapi ke seluruh wajah.


"Kak, iihh," kesal Dewi sembari mengusap - usap jejak basah di wajahnya.


Andre terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan sang istri.


Mereka masih berada di klinik bersalin berjalan menuju parkiran.


Saat beberapa langkah lagi kaki keduanya sampai di parkiran, tiba - tiba Andre berhenti melangkah.


Dewi bisa merasakan dengan jelas bagaimana tubuh di sampingnya itu menegang dengan wajah kaku.


Dewi pun mengikuti arah pandang suaminya, barulah ia mengerti mengapa ekspresi itu yang Andre berikan.


Di depan sana, tampak seorang perempuan tengah menggendong sang bayi. Di belakang nya seorang lelaki mengiring langkah nya.


Seperti nya mereka tidak melihat keberadaan Andre dan Dewi yang tengah menatapnya. Buktinya, lelaki dan perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya dengan langkah tergesa - gesa.


Ada yang menusuk di sudut hatinya. Namun, Dewi tetap berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Kak, mau tetap di sini atau pulang?" tanya Dewi pelan.


Dengan gerakan pelan, Dewi melepaskan tangan Andre yang masih bertengger di bahunya. Lantas berjalan lebih dulu meninggalkan Andre yang masih berdiri mengikuti langkah lelaki dan perempuan itu sampai tak lagi terlihat.


Andre kaget begitu menyadari bahwa Dewi telah jauh di depan. Ia pun melangkah lebar dengan sedikit berlari mengejar Dewi.


"Kok, aku ditinggal?" tanya Andre mencoba bersikap santai.


Sesekali ia menoleh ke belakang melihat orang yang tadi dilihatnya. Kini tak lagi tampak


"Iya," jawab Dewi jutek.


"Mau langsung pulang atau mampir dulu cari makanan," tawar Andre dengan suara pelan.


"Langsung pulang," sahut Dewi dengan suara ketus.


"Enggak ingin makan pizza dulu. Tadi ingin makan itu," goda Andre. Tangannya meraih lengan Dewi yang langsung mendapatkan tepisan.


"Kamu marah?" tanya Andre bingung.


Siapa pun akan tahu jika Dewi tengah marah. Bisa dilihat dari raut wajahnya yang cemberut.


"Kok, ngomongnya gitu?" Andre meraih bahu Dewi meminta wanita itu agar menghadap ke arahnya.


"Kalau Kakak mau tetap di sini ya terserah, aku mau pulang."


"Aku mau pulang juga kok. kayak kamu," timpal Andre lembut.


Tatapannya kini berubah teduh. Biasanya Dewi akan mudah luluh menerima tatapan meneduhkan itu ditambah senyum Andre yang menawan semakin menambah pesonanya.


Namun kali ini tampaknya berbeda. Sebab sang Dewi tetap menunjukkan ekspresi masam.


"Kali aja mau kangen - kangenan sama man - tan pa - car." Dewi sengaja menekankan suaranya pada kalimat 'man - tan pa - car.'


"Oh, jadi cemburu nih ceritanya." Andre semakin menggoda Dewi.

__ADS_1


"Enak aja cemburu," elak Dewi dengan bibir mengerucut lucu.


"Terus itu apa namanya dong?" Andre mengulum senyum, senang.


"Kalau Kakak mau balikan sama dia juga enggak masalah kok. Aku bisa mengurus anakku sendiri." Dewi tak mau kalah.


"Kok gitu ngomongnya?" Andre memicingkan mata dengan kening berkerut. Ia mulai tak suka dengan apa yang dikatakan Dewi kepadanya.


"Iya kali. Siapa juga yang mau terus bertahan sama orang yang enggak ngarepin kita. Aku sih ogah. udah lelah juga. Lagian ini kan kesempatan terakhir untuk hubungan kita. Kalau kakak mau kita pisah, aku bisa apa?" ujar Dewi panjang lebar dengan suara tegas.


Tidak terdengar keraguan sedikit pun dari nada suaranya. Padahal di dalam sana, rasanya ingin meledak karena menahan gemuruh dada yang memanas.


"Aku tadi cuma lihat aja. Itu Anggita sama Robi. Awalnya mau menyapa, tapi enggak jadi karena mereka tampaknya sedang buru - buru. Enggak ada maksud lain kok." Andre mencoba menjelaskan duduk persoalannya.


"Ya terserah aja. Bukan urusanku juga. Terserah kalian mau ngapain," sahut Dewi sembari memalingkan wajah.


"Lho, aku kan suami kamu, Dew. di dalam sini juga ada anak kit-"


"Ya udahlah ya. Aku mau pulang. Kalau kakak masih mau di sini silakan aja. Aku bisa naik taksi, kok," putus Dewi menyela perkataan suaminya.


Ia sedang tidak ingin berdebat lagi, rasanya tenaganya sudah habis. Dewi ingin segera sampai rumah lalu berbaring. Keinginannya yang tadi ingin makan ini makan itu pun seketika lenyap terbawa angin bersama kepergian Anggita dan Robi tadi.


Dewi benar - benar sudah muak jika harus berhadapan dengan masalah itu - itu lagi.


"Oke - oke. Kita pulang ya Tuan Putri," ujar Andre pada akhirnya.


Ia ingat perkataan dokter tadi jika emosi ibu hamil memang naik turun sering tidak terkendali. Untuk itu lah ia diminta untuk menjaga kestabilan emosi wanita itu agar tidak menimbulkan stress. Karena akan berpengaruh pada kesehatan sang bayi.


Andre menghela napas panjang, lantas meraih bahu Dewi agar segera berjalan menuju mobil yang dipinjam dari Arman.


Awalnya tentu saja Dewi menolak rengkuhan tangan itu. Berulang kali ditepisnya tangan Andre di bahunya, berulang kali pula Andre tatap merangkul bahunya.


"Biarkan aku menjagamu. Memastikan bahwa kalian baik - baik saja," tegasnya.


Tidak ingin berdebat lagi. Dewi pun diam saja mengikuti apa yang dikatakan Andre kepadanya.

__ADS_1


Sampai di mobil, saat Andre membukakan pintu untuknya. Dewi pun hanya bisa diam dan pasrah.


Ia benci dengan perasaannya sendiri karena mudah terbuai oleh bujuk rayu lelaki itu. Namun, untuk kali ini saja. Dewi akan berusaha meneguhkan hati untuk meninggikan ego yang ia miliki. Setidaknya untuk membuktikan sedikit saja, benarkah lelaki itu telah peduli padanya. perhatian kepadanya dan memiliki rasa sayang layaknya seorang suami kepada istrinya. Atau, hanya sebatas kewajiban saja karena ada janin yang tengah di kandungnya


__ADS_2