Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 56


__ADS_3

Pagi ini semua berjalan seperti biasa. Andre dan Dewi menikmati sarapan dengan tenang.


Beruntungnya Andre, walaupun sang istri dalam mode ngambek. Wanita itu tetap mau melayani, menyiapkan semua kebutuhannya dan mengambilkan makan seperti sekarang ini.


Andre tersenyum hangat, tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan perasaan yang tulus. Ia yakin bahwa Dewi mengetahui ketulusannya.


Bukankah apa yang dilakukan dari hati akan sampai ke hati pula?


Begitu pun dengan senyum yang ia berikan. Pasti akan sampai ke hati wanitanya. Andre juga sangat tahu jika Dewi memiliki perasaan yang sangat lembut. Jika tidak, mana mungkin wanita itu mau memberinya kesempatan. Untuk itulah, Andre sangat was - was saat mendapati wanitanya bermuram durja seperti beberapa hari sebelumnya.


"Boleh nambah," ujarnya seraya mengangkat piring.


"Nambah?" tanya Dewi dengan wajah melongo.


"Hm." Andre mengangguk, sebisa mungkin tidak tersenyum apalagi tertawa melihat ekspresi lucu Dewi.


"Oh, iya. Aku ambilkan." Dewi mengambil piring di tangan Andre dengan canggung. Lalu segera mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Andre yang tengah menunggu dengan sabar.


"Terima kasih, istriku," ucap Andre saat menerima piringnya kembali. Tidak lupa ia menampilkan senyum hangat yang semakin membuat Dewi tersipu malu.


"Nanti jadi ke toko?" tanya Andre setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Apa boleh?" Dewi balik bertanya. Pasalnya saat dirinya meminta izin kala itu, Andre tidak mengizinkan. Lalu kenapa sekarang malah bertanya? pikirnya.


"Boleh, nanti naik taksi aja, ya. Jangan naik motor ke sananya," terang Andre dengan suara lembut. "Nanti pas pulang hubungi aku, biar aku jemput. Jangan pulang sendirian," lanjutnya pelan.


"Baiklah." Dewi mengangguk tanda mengerti. "Terima kasih," ujarnya kemudian.


Lantas, suasana kembali hening. Andre cepat - cepat menghabiskan teh di cangkirnya yang telah berubah dingin. Lalu bergegas menuju westafel guna mencuci piring.


"Lho, Den, kok malah nyuci piring. Biar saja yang mencucinya." Bik Inah yang baru pulang dari pasar tercengang bingung melihat Andre mencuci piring.


Tidak biasanya lelaki itu melakukan pekerjaan tersebut. Sebab biasanya pagi - pagi begini tentu saja Andre telah terburu - buru berangkat bekerja.


"Ah. Enggak papa kali, Bik. Sekali - kali juga, kan?" sahut Andre dengan tangan yang masih sibuk membilas.

__ADS_1


"Oh iya. Mau keseringan juga enggak kenapa - kenapa deh. Kalau Aden mau," balas Bik Inah dengan terkikik geli.


"Ketagihan, Bik," kelakar Andre pada akhirnya.


Suara tawa pun saling bersahutan terdengar dari arah dapur.


Dewi yang mendengar keriuhan di area dapur pun mengernyit bingung.


'Apa yang sedang Andre lakukan?' pikir Dewi. Lantas, ia pun bergegas memeriksa apa yang telah terjadi di sana.


Rupanya, Andre dan Bik Inah tengah bercanda bersama.


Dewi tersenyum lalu terkekeh pelan. "Ngobrolin apa, seru amat," ujarnya pelan.


"Ini, Non. Den Andre rajin sekali. Enggak apa - apa kan tiap hari juga dia nyuci piring," jelas Bik Inah seraya menyusun belanjaan sayur ke dalam lemari pendingin.


"Maunya," kekeh Dewi.


"Wah. Pada setuju aku membantu pekerjaan dapur ya. Baiklah. Apa lagi yang harus saya kerjakan, Nyonya Andre?" Andre membungkuk memberi hormat kepada wanita hamil itu.


Polah Andre sejenak membuat Dewi melupakan kemarahannya.


'Dia belum merayumu, Dewi,' tegas Dewi dalam hatinya.


Kemudian, Dewi pun melangkah meninggalkan dapur menuju kamar. Mengambil tas yang tersimpan dalam lemari. Setelah memasukkan beberapa barang yang dirasa penting untuk dibawa, barulah ia keluar kamar dan berpamitan kepada Andre dan Bik Inah.


Andre menyusul langkah Dewi ke depan.


"Dew, kamu marah lagi sama aku?" tanyanya gusar sembari mencekal lengan Dewi.


Dewi menghentikan langkah lalu berbalik menghadap Andre yang menunggunya dengan wajah kalut.


"Enggak. Aku enggak punya hak marah kan?" ketusnya.


"Punya, Dew. Kamu punya hak marah sama aku. Kamu istri aku, tanggung jawab aku. Wanita yang aku cintai. Kamu berhak melakukan apa pun," jelas Andre frustrasi.

__ADS_1


Sikap Dewi benar - benar sangat menguji kesabarannya. Andre sampai bingung bagaimana cara menghadapinya. Ia berharap agar rencananya nanti bisa berjalan dengan lancar tidak ada suatu kendala apa pun juga.


Andre benar - benar kehabisan akal jika Dewi tidak bisa dibujuk rayu.


"Udah ya, aku mau ke toko. Nanti kesiangan lagi," elak Dewi. Ia menepis tangan Andre di lengannya lalu berjalan menuju pagar depan.


Tidak beberapa lama, taksi yang dipesan pun datang menjemputnya.


Dewi menghela napas panjang berkali - kali. Bingung sendiri dengan sikapnya akhir - akhir ini. Bagaimana jika sikapnya itu malah membuat Andre pergi darinya? Pikiran Dewi berkelana ke mana - mana, ia benar - benar pusing sekarang.


Dewi memejamkan mata, menormalkan suasana hatinya. Tidak ingin jika karyawan toko dan juga Amika memergoki dirinya yang tengah dilanda gundah. Cukup mereka tahu bahwa ia sedang baik - baik saja. Itu lebih baik.


Setelah membayar taksi, Dewi memasang wajah seceria mungkin. Mengukir senyum di bibir agar menyamarkan wajah kusutnya, yang tentu saja tidak bisa disembunyikan dari Amika sahabat baiknya. Dewi terlalu tidak mahir untuk berpura - pura.


Benar saja. Sesampainya di toko, Amika langsung memberondong Dewi dengan banyak pertanyaan, terutama tentang wajah kusut yang ditampilkannya.


Dewi menggeleng pelan, mengulas senyum sebaik yang ia punya agar Amika tidak banyak bertanya. Sia - sia wanita itu semakin mencecarnya.


"Pasti ada masalah kan? Kemarin katanya Andre tidak mengizinkan lu untuk berkunjung ke toko. Sekarang kenapa tiba - tiba ada di sini? Lu enggak kabur dari rumah, kan?" Pertanyaan Amika semakin membuat Dewi pusing


Sejenak Dewi pun ragu, harus menceritakan masalah yang tengah dihadapinya atau tidak.


Akan tetapi, perkataan Amika selanjutnya meruntuhkan pertahanan Dewi untuk tetap menjaga rahasianya.


"Lu tahu gua akan selalu ada kan. Kita sudah bersahabat terlalu lama. Kalau pun tidak mendapatkan solusi, setidaknya beban pikiran lu bisa sedikit berkurang."


Akhirnya, Dewi pun menceritakan masalahnya. Tentang pertemuan mereka dengan mantan kekasih Andre saat diparkiran rumah sakit. Lalu bagaimana hatinya kebat kebit mendapati tatapan tajam penuh kerinduan dan minat yang diberikan Andre pada wanita itu. Walaupun Andre telah berulang kali menjelaskan, tetapi nalurinya sebagai istri belum bisa menerima penjelasan itu.


"Gua harus gimana?" tanya Dewi dengan wajah sendu.


"Seminggu ini kita lihat usaha Andre dalam merayu lu ya. Dia akan memberikan kejutan atau malah membiarkan masalah ini berlarut - larut." Amika menepuk bahu Dewi pelan.


"Kalau dia menunjukkan keseriusannya, lu harus percaya dan memaafkannya. Tapi kalau ternyata Andre masih menyimpan rasa kepada mantannya itu. Kita buang keduanya sama - Sama ke tempat yang selayaknya." Amika berujar yakin.


Dewi mengangguk lemah, mencoba mempercayai apa yang dikatakan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2