
Andre kelimpungan. Bingung, khawatir sekaligus takut bercampur menjadi satu di dalam dirinya.
Gimana kalau?
Tidak.
Ia menggelengkan kepala berulang kali. Mengusir pikiran buruk yang mulai berkelebatan di kepalanya. Sebagai seorang lelaki, ia seharusnya bisa berpikir jernih. Memikirkan cara untuk bisa menemukan anaknya bukan?
Bukan malah kalut begini.
Andre menghirup udara sebanyak mungkin. Memasukkan ke dalam dadanya. Sesaat tadi, ia kesulitan bernapas. Raungan di sekitarnya seakan terus bergerak menyempit sampai menghimpit tubuhnya itu. Kemudian, ia mengembuskan napas secara perlahan. Setelah dirasa lebih tenang barulah Andre mengelilingi toko sampai ke bagian terujung.
Ia terus mencari sampai matanya mengawasi ke atas lemari.
Hah. Andre, tak mungkin jika Adrian sampai manjat ke lemari pajangan mainan, 'kan?
__ADS_1
Memang. Saat mencari sesuatu pikiran cenderung berpikir yang tak masuk akal. Satu lagi, ia berulang kali mencari ke tempat yang sama. Hingga, pada akhirnya ....
"Kak, Adrian mana? Ini aku pilihkan mainan kesukaan dia?" Dewi datang dengan wajah ceria. Di tangan wanita itu ada sebuah kotak bergambar robot. Belum sempat Andre menjawab saat Dewi kembali berkata, "Ini robotnya bisa bongkar pasang. Dia pasti suka deh." Lantas, kepala Dewi melongok. Matanya mencari keberadaan sang putra yang dari tadi tak juga memunculkan diri.
"Sayang!" panggil Dewi.
Dewi mengerjap bingung dengan tatapan penuh tanya, ketika tak melihat sosok yang dicarinya itu. Tak juga mendengar suara yang ditunggunya.
"Kak, Adrian mana?" tanya Dewi pada lelaki di hadapan yang kini terlihat salah tingkah. "Kak Adrian mana?" tanyanya lagi saat tak juga mendapatkan jawaban.
Perlahan, Andre melangkah mendekati Dewi. Tangannya bergerak untuk menggenggam tangan wanitanya itu.
"Adrian hilang?" tebak Dewi dengan wajah panik. Dan, anggukan kepala suaminya itu membuatnya semakin panik. Ia memekik tertahan, "Ya Tuhan!" Kemudian segera melepaskan tangan Andre.
Dewi berbalik berlari menuju kasir. Ia bertanya tentang keberadaan anak semata wayangnya itu. Tidak hanya pada kasir, ia juga bertanya pada orang-orang yang dijumpainya.
__ADS_1
Tak ingin berpangku tangan, Andre pun segera mencari keberadaan sang anak. Ia menuju meja informasi meminta bantuan kepada petugas untuk membuat pengumuman atas kehilangannya. Ia juga meminta bantuan kepada petugas setempat agar mencari Adrian.
Secepat kilat, Andre berlari mendekati sang istri yang masih saja berjalan ke sana kemari menanyakan keberadaan Adrian. Menunjukkan foto anaknya itu dari ponsel. Sesekali tangannya bergerak mengusap air mata yang terus saja mengalir. Pikiran buruk tak bisa ditepis begitu saja dari kepalanya.
Entah berapa lama Dewi berjalan ke sana kemari. Ia juga mencari di luar gedung mall. Menanyakan keberadaan sang putra kepada orang orang sekitar.
"Sayang, istirahat sebentar ya," pinta Andre memohon.
Dewi membalas dengan gelengan kepala. Ia terus bergerak berjalan.
"Sayang, istirahat sebentar saja. Wajahmu memerah sekali," pinta Andre lagi.
"Kakak cari Adrian di dalam saja. Aku mau cari di sini," kata Dewi lagi dengan suara lemah.
"Aku sudah mencari ke toilet. Tidak ada juga," jawab Andre lesu. Ia meraih bahu Dewi, meminta wanita itu agar mau menghadap padanya. "Kita tunggu sebentar di tempat petugas ya," katanya.
__ADS_1
Kali ini, Dewi menurut. Ia mengikuti ke mana Andre mengajaknya melangkah.
Sesampainya di ruangan petugas, Andre segera membelikan Dewi air mineral. Lalu membantu istrinya itu minum.