Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 40. Kejujuran


__ADS_3

Suasana cafe yang rame tidak sedikit pun mengusik keheningan ketiga orang itu. Sebab di kepala mereka penuh oleh pemikiran masinh-masing.


Kepala Dewi penuh oleh kemungkinan kejujuran atau malah kebohongan yang akan Anggita utarakan.


Di kepala Andre penuh oleh ingatan-ingatan kepingan masa lalu. Saat kebersamaan indah yang ia habiskan dengan Anggita. Saat menjalin hubungan, tidak pernah terjadi percekcokan di antara mereka. Kalaupun berdebat itu hanya pertengkaran sepele. Tidak pernah sampai berlarut-larut.


Namun, kali ini entah mengapa semua masalah itu seolah menjadi benang kusut di kepalanya. Tak bisa ditampik, perasaan sayang di hatinya untuk Anggita tidak bisa ditepis begitu saja. Masih ada secuil rasa itu di sudut hatinya.


Ada perasaan tidak rela sekaligus kecewa dengan apa yang telah terjadi pada hubungan mereka. Nyatanya, Andre tetap ingin mengakhiri hubungan ini secara baik-baik, bukan malah dengan kesalahpahaman seperti ini. Terlalu banyak hati yang tersakiti jika begini.


Namun, Andre harus tetaplah realistis. Ada wanita yang tengah mengandung benhinya. Benih yang dengan kesadaran penuh ia tanam di rahim istrinya. Bukankah sudah menjadi kewajibannya menjaga Dewi dan calon bayi mereka.


Sedangkan Anggita, kejadian malam itu berputar-putar di kepala. Kenyataan bahwa dirinya dan Robi pernah lepas kontrol sampai menghasilkan janin yang tidak diharapkan, membuatnya gila.


Ah, lebih pahit lagi saat dirinya sadar. Perbuatan menjijikkan itu bukan hanya dilakukannya sekali, tetapi berkali-kali. Nahasnya, dirinya melakukannya dalam keadaan sadar.


Okelah. Di hari pertama Anggita melakukan itu sebab keadaan mabuk yang membuat akal sehatnya tidak bisa berpikir.


Anggita mengutuk keras minuman beralkohol yang mampu menghilangkan akal sehatnya.


Namun, sialnya. Di hari berikutnya, dirinya terbujuk rayu oleh gombalan Robi. Yang membuatnya Sudi melakukan perbuatan itu berulangkali.


"Anggita ...." Panggilan Andre membuyarkan kepingan-kepingan ingatan di kepalanya.


Rasanya, Anggita tidak ingin mengingat lagi kejadian yang pernah ia lakukan bersama Robi. Sayangnya , semakin ia ingin melupakan, semakin jelas pula ingatan itu berputar di kepala.


Mulut Anggita seolah terkunci rapat oleh gembok yang amat besar. Lidahnya kelu. Tidak mampu sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


Hanya air mata yang tak mampu dibendung, mengalir deras tanpa permisi. Seakan mewakili segenap perasaan yang ia miliki saat ini.

__ADS_1


Anggita terluka, hatinya kecewa, malu, seolah harga dirinya telah tercabik-cabik berserakan di jalanan. Entah bagaimana caranya ia menegakkan kepala di hadapan dua orang itu.


Anggita terus menangis, sesunggukan. Kepalanya tertunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang merah padam.


"Hei!" Andre memanggil pelan. Tidka bisa dicegah,. hatinya masih merasakan sakit saat melihat wanita itu bersedih. Entah karena perasaan empati, atau perasaan sayang yang masih tertinggal di hati. "Ada aku di sini, ada Dewi juga. Kami siap membantumu," ucapnya lirih.


Anggita melirik sebentar pada Andre yang menatanya dengan tatapan sendu. Ah, betapa ia meratapi diri. Tatapan itulah yang selalu bisa meluluhkan hatinya, sekaligus memberikan rasa aman dan perlindungan padanya. Sayangnya, tatapan itu saat ini berubah menjadi tatapan belas kasih.


Pandangan Anggita beralih pada wanita dis seberangnya. Sama. Dewi menatapnya dengan penuh rasa empati.


Anggita menghela napas dalam. Mencoba mengurai kesakitan yang terlalu merajai hatinya.


Lantas, ia pun mengangguk lemah. Sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan Andre benar adanya.


Anggita semakin menunduk dalam. Tidak berani menyaksikan ekspresi wajah Andre dan Dewi yang mereka tunjukkan atas pengakuannya.


Kemudian, Anggita segera menghapus jejak basah di pipinya. Tangisan itu harus segera dihentikan. Segera.


Anggita kembali duduk seperti posisi semula. Memeriksa siapa si pemanggil. Matanya membola sempurna kala melihat nama "Robi" di sana.


Dengan ragu-ragu ia pun menggeser ikon berwana hijau di layar ponselnya. Seketika rentetan pertanyaan memenuhi gendang telinganya.


"Anggita, kamu di mana? Kenapa enggak ada di rumah, pesanku tidak juga kamu balas. Sayang. Katakan kamu di mana? Aku jemput sekarang."


"A-aku ... aku sedang di cafe Mona. Ada Andre dan Dewi di sini."


"Ngapain kalian? Kamu enggak kenapa-kenapa, 'kan? Aku ke sana sekarang. Tunggu."


"Tapi ...."

__ADS_1


Belum sempat Anggita menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon itu telah diputuskan sepihak oleh Robi


Anggita mendesah pasrah. Entah apa yang akan terjadis setelah ini, ia tidak ingin memikirkannya lagi. Sudah cukup ruwet jalan hidupnya karena kehadiran janin di dalam perutnya itu. Ia tidak ingin memikirkan apa pun lagi, sebab bisa menjadikan kepalanya sakit.


"Siapa?" Pertanyaan Andre tidak langsung dijawab Anggita. Ia memilih meminum jus yang ada di hadapan, menyeruputnya sampai tinggal setengah. Kemudian mengulas senyum, memandang Dewi yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Robi. Dia mau ke sini menjemputku. Enggak apa-apa 'kan kita sekalian kumpul?" tanyanya basa-basi.


Sekuat tenaga Anggita meredakan gugup yang merajai hati. Ia tidak ingin dua orang di seberangnya tahu kegelisahannya.


"Enggak apa-apa, malah bagus dong," ucap Andre santai.


Di sebelahnya Dewi hanya tersenyum mengamati interaksi sepasang kekasih yang mendadak menjadi mantan itu.


Betapa hidup seringkali tidak sesuai rencana yang telah tersusun rapi di kepala. Nyatanya, takdir masih memiliki hak atas hidup seseorang.


Sebab itu pulalah, ia selalu berdoa. Agar hanya takdir baiklah yang selalu melingkupi kehidupannya. Kalaupun ada rintangan terjal yang seringkali menghadang, Dewi berharap bisa melaluinya dengan senyum keiklasan.


Sebab rasa itu pulalah yang membuatnya bertahan pada pernikahan yang bermula dari sebuah taruhan. Tampaknya, ia begitu rendah diri. Bagaimana seorang perempuan mau menerima pernikahan yang dijanjikan oleh karena kalah taruhan. Namun, akalnya begitu saja kalah oleh perasaan cinta yang telah terpatri lama dalam hatinya. Membuatnya menerima begitu saja tanpa memikirkan akibatnya.


Akhirnya, di sinilah dirinya. Duduk di antara dua manusia yang harus terputus hubungan kasihnya karena keadaan. Takdir pulalah yang memisahkan mereka. Karena, selama ini kedua manusia itu tetap berhubungan walaupun sang lelaki telah berstatus suami orang.


Takdir pulalah yang menentukan, menjadikan tumbuhnya janin dalam perutnya. Yang membuatnya bertahan dan mau memberikan satu kali lagi kesempatan kepada Andre. Ya, seorang lelaki yang telah mengambil separuh napasnya. Dan kini, lelaki itu pulalah yang menjadi ayah dari janin yang dikandungnya.


Dewi tidak sabar menunggu kedatangan Robi. Mendengar dengan telinganya sendiri pengakuan yang lelaki itu utarakan. Tidak akan mungkin 'kan seorang lelaki tidak mengakui janin akibat perbuatannya. Jika itu terjadi tentulah lelaki itu seorang pengecut ulung.


Di kejauhan tampak Robi tengah berjalan tergesa menghampiri meja mereka.


"Apa yang lu lakuin pada calon istri dan calon anak gue, ha?"

__ADS_1


Siapa sangka, justru pertanyaan itulah yang keluar pertama kali dari mulut Robi saat telah berdiri menjulang di samping meja yang ketiga orang itu tempati.


Semua mata tercengang menatap Robi.


__ADS_2