
Malam terus memberikan kedinginan serta kesunyian. Seperti apa yang dirasakan Dewi sekarang, meringkuk di atas ranjang, memejamkan mata dalam sepi. Ia membiarkan jendela kamarnya terbuka, sehingga hembusan angin malam masuk begitu saja tanpa penghalang. Mengirimkan rasa ngilu sampai ke tulang dan rasa nyeri sampai ke hati.
Dewi terlalu sibuk dengan urusannya, sehingga ia pun mengabaikan keluarganya. Ia tahu bahwa dirinya bersalah, tetapi juga bisa apa jika keadaan memaksanya demikian.
Berulang kali mulutnya menguap sampai air mata mengalir dari kedua ujung matanya. Dewi mengusap matanya secara kasar, menepis rasa kantuk yang mulai menyerang. Namun, tubuhnya begitu lelah sampai tak sadar jika telah terlelap.
Lama kelamaan hangat itu mendekap tubuh. Embusan napas begitu terasa di ceruk lehernya. Dewi tersentak kala menyadari bahwa ia tengah menunggu kabar dari suaminya.
Kedua mata Dewi mengerjap terbuka lalu terbelalak kaget, kala mendapati seseorang yang sedang ditunggu, ternyata sudah berada di depan mata. Wajah lelah itu begitu nyata terpampang di hadapannya. Gurat - gurat lelah itu begitu bisa dilihat.
Apakah suaminya itu sangat bekerja keras? Sampai lupa mengabarinya.
Bahkan, lelaki itu tertidur masih dengan pakaian lengkap.
Dewi mendekat, menghirup aroma parfum di pakaian sang suami. Tidak ada yang aneh. Apakah ada rambut atau lipstik yang tertinggal di kemeja lelaki itu?
Ya Tuhan! Apakah sekarang Dewi sedang mencurigai Andre?
Rupanya sikap baik Andre selama ini, sepertinya belum cukup mampu untuk menghapus jejak kelam lelaki itu di masa lalu.
Buktinya, Dewi menaruh curiga pada Andre malam ini dan detik ini juga. Setelah sekian tahun kehidupan rumah tangga mereka aman nan tentram.
Dewi meraba wajah rupawan di hadapannya itu. Manyusuri setiap pahatan menggunakan jari telunjuk. Gerakan seringan kapasnya ternyata masih bisa mengusik ketenangan Andre yang terlelap. Ketika telunjuk Dewi berada di atas bibir Andre, lelaki itu membuka mata.
"Aww!" Dewi terpekik kaget, tetapi Andre seolah tak merespons apa pun.
Secepat kilat, Andre mengulum jari Dewi yang berada dalam mulutnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Kakak, bikin kaget tauk," keluh Dewi. Namun, tak urung perlakuan yang dilakukan Andre barusan berhasil memercikkan kebahagiaan di hatinya. Ya, ia rindu dengan segala tingkah
polah yang dilakukan Andre. Rindu akan hal - hal kecil yang dilakukan lelaki itu dan terkesan sangat romantis di mata Dewi.
"Hei!" sapa Andre dengan suara serak khas orang bangun tidur. Kedua matanya masih terpejam erat, enggan dibuka.
__ADS_1
"Hei!" balas Dewi sembari tersenyum merekah. "Tidurlah kalau masih ngantuk," ujarnya lembut. Kali ini ia menangkup pipi lelakinya dengan satu tangan yang dibalas kecupan lembut oleh Andre di telapak tangannya.
Ah, andai Andre tahu, jantung Dewi sudah berdentam tak karuan menerima perlakuan kecil barusan.
"Capek," balas Andre manja.
"Hm," sahut Dewi dengan gumaman pelan.
"Aku kangen banget sama kamu, Sayang ...." Andre menarik tengkuk Dewi untuk merapat ke arahnya, lalu membabat jarak di antar mereka.
Sentuhan lembut itu mampu mengalirkan gelenyar gelenyar yang sangat ia rindukan. Entah berapa malam mereka tidak seperti ini. Saling bercakap dengan obrolan ringan dan gombalan. Saling berpandangan penuh cinta yang terpancar dari kedua mata.
Saling merangkul sebagai bentuk kepemilikan, dan saling menyelami rasa masing - masing berbagi napas dan keringat.
***
Andai saja bisa, Dewi ingin agar waktu berhenti berputar. Membiarkan ia beristirahat sejenak, terlena sejenak pada hari yang telah membuatnya merana sekaligus bahagia.
Dewi mengerjapkan mata, seperti mimpi kala melihat raut wajah rupawan itu ada di hadapan mata. Hembus napas lelaki itu juga terasa menerpa wajahnya. Tangan lelaki itu masih merangkul di atas pinggangnya. Ia mengulum senyum, mengingat moment indah yang mungkin tiada pernah akan terlupakan.
"Sudah bangun, ya?" tanya Dewi lembut.
Andre menggeleng lemah. Senyum manis itu masih terbit di wajahnya.
Dewi mencoba untuk menurunkan tangan Andre dari pinggangnya. Namun, bukannya terlepas, Andre malah semakin mengetatkan pelukan. Merapatkan tubuhnya, sampai mereka kembali mengulang keindahan yang baru beberapa jam lalu terlewati.
"Kak, bangun. Udah siang, lho!" Dewi menepuk pundak Andre. "Kak, kerja!" ulang Dewi mengingatkan.
Andre seperti enggan membuka mata. Ia begitu lelah, begitu letih. Namun, seakan waktu untuk beristirahat itu tak lagi mau mengenalnya. Keinginannya agar bisa memberikan kehidupan yang layak kepada keluarga nya, ternyata berpengaruh pada waktu yang seakan terkikis habis. Tidak ada waktu untuk terpejam sebentar saja. Pergi pagi, pulang pagi, begitu terus menerus selama bermalam malam lalu.
Pembukaan cabang baru membuatnya kualahan karena banyak terjadi masalah di tempat kerja. Belum lagi, masalah keuangan yang tiba-tiba membengkak. Ternyata, karyawannya ada yang melakukan kecurangan.
"Andai saja bisa, aku ingin sekali beristirahat hari ini," gumam Andre. "Tapi, banyak sekali masalah di kantor," lanjutnya.
__ADS_1
Andre menarik tengkuk Dewi lalu mengecup kening wanita itu berkali-kali.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu saat dalam kesulitan, ya ..," ujar Andre penuh penyesalan.
"Hm, tidak masalah. Asal Kakak sehat dan baik-baik saja. Aku tidak apa-apa," balas Dewi lirih.
Keinginannya bertanya ke mana lelaki itu semalam, menguap begitu saja. Mungkin belum saatnya mendiskusikan hubungan dan komunikasi mereka. Mendengar keluhan Andre cukup membuatnya berpikir bahwa lelaki itu benar benar sedang dalam masalah yang berat. Seharusnya dirinya menguatkan serta menenangkan keadaan suaminya. Bukan malah bertanya ini itu dan terkesan tidak mempercayai Andre.
Dewi mendesah panjang. Merasa bersalah kepada Andre.
"Ada apa?"
Seperti mengetahui apa yang dipikirkan Dewi, Andre bertanya hati-hati.
"Tidak ada. Hp Kakak mati ya?" tanya Dewi lirih.
"Oh iya. Ke mana hp aku ya. Lupa di mana? Mungkin di dalam tas. Hampir seharian aku tidak memegang hp. Maafkan aku," ujar Andre panik.
"Tidak perlu minta maaf begitu. Tidak masalah." Dewi berungsut duduk. Menarik selimut sampai menutupi dada, lalu bergeser pelan untuk mengambil pakaian.
"Iya, aku lupa mengabarimu. Hari ini juga enggak sempat menjenguk Papa. Gimana keadaannya?" tanya Andre menatap lekat Dewi yang sedang berpakaian.
"Papa baik, seperti itulah keadaannya. Belum ada perubahan. " Raut sedih langsung tergambar di wajah Dewi.
"Maafkan aku. Kemarin benar benar tidak sempat ke mana pun," ujar Andre menyesal.
"Hei. Bukankah sudah kubilang kalau tidak masalah. Yang penting selanjutnya jangan diulangi, Kak. Aku juga mengkhawatirkan keadaan suamiku," terang Dewi lalu duduk di pinggir ranjang. Lantas ia pun berdiri lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Mandi bersama!" seru Andre seraya melompat turun dari ranjang.
Kegiatan mandi mereka berlangsung lebih lama. Membuat Dewi menggerutu kesal. Namun, ia tetap menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Andre hanya cengengesan mendengar omelan Dewi.
__ADS_1
"Aku usahakan hari ini pulang cepat," ujarnya memberi janji.
Dewi hanya mengangguk.