Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 35. Keputusan


__ADS_3

Saat hening menyelimuti diri. Rasanya, waktu berjalan begitu lambat. Begitulah yang dialami Dewi.


Entah sebab oleh apa, kini jiwanya mulai gelisah.


Menunggu apa yang akan dikatakan Anggita? Atau, malah tidak siap mendengarkan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dewi pada akhirnya dengan tak sabar.


"Oh, itu ...." Anggita gugup. Berupaya menyusun kalimat yang telah dipikirkannya sedari tadi. "Aku ingin meminta tolong padamu. Agar bisa melepaskan Andre," ucapnya kemudian.


Dewi mengerutkan dahi. Bingung.


"Apa maksudnya?"


"Aku ingin kalian mempercepat perceraian seperti yang telah Andre rencanakan?"


Mendengar apa yang diucapkan Anggita, lutut Dewi seketika melemas. Tidak mampu menopang tubuh.


Sekuat tenaga Dewi mencoba bertahan untuk tetap bisa duduk dengan punggung ditegakkan. Ia tidak ingin wanita di hadapannya ini tahu kegundahan hatinya.


"Kenapa?" Secepat kilat Dewi berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar tak tampak menyedihkan di hadapan Anggita.


"Aku hamil. Dan ... bayi ini butuh ayah."


"Bicarakan sendiri dengan Andre," ucap Dewi datar.


"Bukankah kamu yang selama ini menahannya untuk tetap berada di sisimu?" ketus Anggita.


"Bicarakan langsung pada Andre. Permisi." Dewi tidak ingin dibantah. Tidak ingin pula berlama-lama berada di sini bersama Anggita.


Kepalanya penuh oleh pertanyaan-pertanyaan serta banyak kemungkinan.


Tiba-tiba saja, tangannya terarah pada perut. Mengelusnya perlahan.


'Sudah adakah kamu di sini?' tanyanya penuh kepedihan.


Kemudian Dewi berjalan meninggalkan cafe itu, lalu menaiki taksi.


***


"Lho, lu di sini?" tanya Amika bingung. Melihat Dewi telah berdiri di depan pagar rumahnya.


Dewi tampak pucat dan tak bersemangat. "Ayo, masuk!"


Amika menarik tangan Dewi membantunya masuk.


Dewi menurut tanpa bantahan.


"Langsung di kamar aja ya. Istirahat di sana."


Sesampainya di kamar, Dewi langsung merebahkan diri. Memejamkan mata.


Dewi merasa telah kehabisan tenaga, sulit untuk sekadar berucap kata.


Tidak membutuhkan waktu lama. Dewi pun tertidur.


Dewi terbangun saat merasakan tepukan pelan di lengannya. Saat membuka mata, ia mendapati Amika tengah menyiapkan makanan untuknya.


"Makan dulu, ya. Udah sore. Ngantuk berat ya, sampai tidurnya lama banget." Amika tersenyum.


Dewi menyambut mangkuk dari tangan Amika, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


Baru satu suapan yang masuk, perutnya sudah bergejolak minta dikeluarkan isinya.

__ADS_1


"Aku ke apotek dulu," ujar Amika setelah membantu Dewi kembali ke ranjang.


Dewi memeriksa ponsel. Betapa terkejutnya saat mendapati banyak panggilan dari Andre untuknya.


Lantas, Dewi membuka aplikasi hijau. Di sana, berjejer pesan dari suaminya tersebut.


'Dewi, angkat teleponnya. Kamu di mana?'


'Dew, angkat ....'


'Dewi, kami di mana? Aku khawatir banget. Kenapa teleponnya enggak diangkat.'


'Dewi, please. Ada yang perlu kita bicarakan. Kamu di mana?'


'Dewi, kamu enggak ada di rumah. Di rumah mama juga enggak ada. Kamu di mana sekarang?'


Dewi menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan. Mungkin saja bisa melonggarkan dadanya yang terasa sempit.


Saat akan meletakkan kembali ponselnya di nakas, Andre memanggil.


Dewi mendesah lelah. Bimbang, harus dijawab atau tidak panggilan itu.


Sampai dua kali berbunyi. Akhirnya Dewi memutuskan untuk menjawabnya.


"Akhirnya kamu angkat teleponnya. Kamu di mana sekarang? Aku jemput ya?"


Terdengar suara Andre dengan nada khawatir dari seberang sana.


Dewi menahan napas, gugup itu tidak bisa ditepisnya. Dadanya berdebar kencang, mulutnya terkatup rapat tak mampu berucap.


"Dew ...."


"Enggak usah. Aku masih mau di sini dulu," balas Dewi pada akhirnya.


"Kamu di mana. Aku khawatir banget sama kamus sekarang. Tolong, kamu di mana, Dew?"


"Dewi coba kamu tes dulu di kamar mandi," ucap Amika.


Dewi mengangkat tangan meminta Amika berhenti, jangan mendekat.


"Udah ya. Aku mau istirahat," putus Dewi sepihak. Lalu mematikan ponselnya tanpa memberikan kesempatan kepada Andre untuk bicara.


"Ada apa?" tanya Amika tak sabar.


"Enggak apa-apa. Aku mau di sini dulu. Kalau Kak Andre ke sini gak usah kasih tahu dia ya."


"Kalian bertengkar?"


"Enggak. Mungkin salah paham aja. Aku masih ingin istirahat. Kalau ketemu dia malah enggak bisa istirahat "


"Tapi, kan ...."


"Please."


"Oke. Sekarang ayo ke kamar mandi. Periksa."


"Apaan ini?"


"Aku curiga kamu hamil. Makanya beli alat ini. Buruan!!!"


Dewi bergegas masuk ke kamar mandi, tak lupa menyambar bungkusan yang dibawa Amika untuknya.


Menunggu beberapa saat dengan debar jantung tak karuan, Dewi menunggu hasilnya.

__ADS_1


Entah bagaimana perasaannya sekarang? Sangat sulit digambarkan.


Dewi keluar dengan langkah gontai. Tangannya menggenggam erat alat tes kehamilan tersebut.


"Gimana hasilnya? Garis dua 'kan?" tanya Amika tidak sabar.


Dewi menyerahkan alat tersebut, agar Amika melihat sendiri hasil garisnya.


"Akhirnya ... selamat ya. Nanti gua temeni periksa ke dokter kandungan. oke?"


Amika memeluk erat Dewi yang menitikkan air mata.


Dewi bingung harus melakukan apa setelah ini.


***


Gedoran di pintu depan mengalihkan perhatian dua sahabat yang tengah asyik bercengkrama di kamar.


Sejak tahu jika Dewi hamil. Amika tidak membiarkan Dewi bergerak, semuanya dilayani. Tidak peduli jika Dewi mengajukan protes.


"Istirahat aja, jangan banyak gerak, jangan banyak berpikir. Sebelum periksa ke dokter kandungan. Oke?"


"Kok jadi kayak pasien gini, sih," protes Amika.


"Kita enggak tahu seberapa kuat janin dalam perut lu itu, Wi. Masih rawan lho itu."


Akhirnya, Dewi hanya pasrah menuruti keinginan sahabatnya.


Di depan, tampak Andre menggedor pintu dengan wajah kusut dan tampak sangat kacau.


Andre benar-benar bingung sekaligus khawatir memikirkan keberadaan istrinya. Apalagi setelah tahu jika Dewi ke kantor mencari keberadaannya yang saat itu bertepatan dengan kedatangan Anggita.


Mengingat dirinya yang berpelukan dengan Anggita. Andre memukul-mukul kepalanya, lalu meremas rambut frustrasi.


"Bodoh. Bodoh."


Pintu terbuka. Andre menunggu dengan tidak sabar.


Andre sedikit kecewa saat mendapati Amika yang keluar. Ia berharap jika Dewi yang menyambutnya.


"Amika. Gue ... gue ... gue mau ketemu Dewi," ujar Andre gugup.


"Lu pulang aja," ketus Amika.


"Please! Gue mohon." Andre memohon dengan sungguh-sungguh. Matanya menyiratkan penyesalan.


Amika bingung. Di sisi lain, ia ingat jika Dewi sedang ingin sendiri. Namun, mengingat kondisi Dewi sekarang, ia yakin sahabatnya itu sedang membutuhkan suaminya.


"Sebenarnya, ada apa dengan kalian? Bukan maksudku ikut campur, hanya saja melihat kondisi Dewi yang memprihatinkan. Aku juga khawatir. Dia ingin sendiri," ucap Amika pada akhirnya.


"Ada sedikit masalah sebenarnya. Tapi, gue belum bisa cerita."


"Kalau gitu, Kak Andre pulang aja. Nanti ke sini lagi. Biarkan Dewi tenang dulu. Kasian dia."


"Gue ... gue ...." Andre menjambak rambutnya frustrasi. "Please. Ini cuma salah paham aja."


"Oke. Sebentar saja. Apapun keputusan Dewi tolong jangan paksa dia. Emosinya lagi enggak stabil."


"Oke." Tanpa banyak kata, Andre langsung masuk menuju kamar. Mencari keberadaan Dewi.


Di kamar, tampak Dewi tengah berbaring. Wajahnya pucat dengan tubuh yang lemas. Berulang kali memuntahkan isi perutnya.


Andre melangkah perlahan. Kemudian duduk di pinggir ranjang. Meraih tangan Dewi, menggenggamnya.

__ADS_1


"Dewi ... aku ...."


"Tolong selesaikan masalah kalian, baru temui aku. Aku ingin sendiri," ucap Dewi tanpa membuka mata.


__ADS_2