
Setelah dari kampus, Dewi bergegas menuju toko memeriksa pekerjaan di sana.
Seperti biasa, dia akan sangat sibuk. Membagi waktu dalam sehari terasa kurang baginya saat ini. Dewi sering kelimpungan, seakan pekerjaan tiada pernah ada habisnya untuk diselesaikan. Tentu saja ini sudah menjadi resiko yang harus ditanggung.
Memiliki tiga peran dalam satu waktu tentu bukanlah hal yang mudah. Saat dia menjadi mahasiswa, karyawan di toko sendiri, pun tak bisa melepaskan status pernikahan yang telah melekat dalam dirinya. Sebagai istri, Dewi termasuk perempuan yang mumpuni di bidang itu. Bangun pagi sebelum suaminya bangun, lalu membereskan rumah, membuat sarapan dan bekal makan siang. Walaupun Andre sering menolak karena itu merepotkannya, tetepi tetap saja Dewi membawakan bekal makan siang untuk suaminya.
Di waktu yang lain, dia harus berkejaran dengan waktu magang yang haruss segera dilaksanakan. Tak mungkin pula kan, Dewi melakukan tugas menjadi mahasiswa. Sedangkan dirinya tentu tidak akan mau menjadi mahasiswa abadi di kampus?
Seperti hari ini, niat hati ingin mengantarkan bekal makan siang untuk Andre di kantor. Mengingat, suaminya itu lupa membawa bekal yang telah disiapkan di meja makan. Ah, salahnya juga sih karena tidak langsung memasukkan wadah bekalnya dalam tas Andre. Padahal, memang biasanya seperti itu.
Dewilah yang memasukkan wadah bekal makan siang ke dalam tas suaminya.
Sebab pagi ini Dewi mendapatkan telepon dari Amika, alhasil dirinya terlupakan dengan wadah bekal yang masih tergelatak di meja.
Siapa sangka, ternyata sampai siang hari saat jadwal makan siang. Ternyata pekerjaan Dewi tak ada habisnya. Niat hati mengantarkan bekal ke kantor terlewat begitu saja.
Hingga, sore saat waktunya pulang. Barulah Dewi menyusul Andre ke kantor.
Sampai di kantor, Dewi langsung menuju ruangan Andre. Sepertinya telah pulang.
"Maaf, Kak. Kak Andre udah pulang, ya?" tanya Dewi pada Angga.
"Iya, udah. Barusan aja, palingan masih di parkiran. Samperin aja."
Dewi bergegas kembali turun ke lantai bawah. Tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Cantik bener," gumam Angga yang tiada disadarinya terdengar Dewi yang berlari meninggalkan ruangan.
Sesampainya di parkiran, Dewi celingukan mencari keberadaan Andre.
Namun, penampakan Anggita di sana mengurungkan niatnya.
Entah karena alasan apa, Dewi malah bersembunyi. Bukannya malah menghampiri suaminya.
Atas rasa penasaran yang mendera hatinya, Dewi melongok. Betapa kagetnya dia, melihat pemandangan di hadapan.
Anggita memeluk erat Andre. Yang lebih menyakitkan hatinya ialah Andre membalas pelukan Anggita.
Rasanya, tulang belulang Dewi lemah seketika. Tak mampu lagi menopang tubuhnya.
Dewi berjalan gontai dengan berpegangan apa saja yang bisa dijadikan penyanggah tubuhnya, dia pun meninggalkan area parkiran tanpa sepatah kata.
Tiada lagi air mata yang mengalir. Tiada pula kesedihan yang dirasakan hatinya. Padahal, jiwanya bagai terajam kesakitan. Hanya kehampaan yang dia rasakan saat ini. Tatapannya kosong.
__ADS_1
Merasa tak sanggup lagi melangkah sekadar mencari kendaraan. Dewi memutuskan menelpon papanya menanyakan apakah masih berada di kantor atau tidak.
Dewi langsung menuju lantai di mana ruangan pak Bambang berada.
"Lho, kok tumben ke sini?" tanya Bambang bingung melihat putrinya yang tampak tak bersemangat.
"Iya, Pa. Baru sempat kemari. Mau membicarakan masalah magang. Kayaknya Dewi coba ke perusahaan lain aja, ya, Pa."
"Lho, kok gitu?" sela Bambang tak setuju.
"Iya, biar ada pengalaman gitu. Nanti kalau pas aku kerja di sini jadi ada pengalaman di luar aja," jelas Dewi memberi alasan.
"Eh, Andre tahu kamu ke sini. Biar Papa telepon dia."
"Eh, enggak usah, Pa. Mungkin Kak Andre sibuk juga. Aku tadi enggak sengaja ke sini, kok. Mikirnya, karena padat terus jadwalnya, jadi pas ada waktu langsung ke sini," jelas Dewi panjang lebar agar Bambang tak curiga.
Bambang meletakkan kembali ponselnya ke meja, lalu menuju sofa tempat Dewi duduk.
"Wajah kamu kok tampak pucat sekali. Jangan kebanyakan aktivitas, kerjaan toko kasih ke karyawan saja. Jangan di handel semuanya, Sayang. Kamu juga butuh istirahat." Bambang mengelus kepala Dewi, ada rasa iba untuk anaknya tersebut.
Selalu begitu, Dewi terlalu mandiri dan sering memporsir tenaga untuk pekerjaannya. Dari dulu, dia tak pernah mau merepotkan orangtuanya. Terlebih, saat cita-citanya menjadi atlit dilarang oleh sang mama. Membuat Dewi semakin menutup diri dari mereka.
Sebenarnya, ada rasa menyesal dan sangat disayangkan dengan sikap Dewi. Andai waktu bisa diputar kembali, sudah tentulah Bambang akan menuruti semua kemauan sang anak. Untuk apa punya uang banyak jika hati Dewi tidak bahagia. Bukankah kebahagiaan Dewi adalah yang utama dalam hidupnya?
Namun, sekarang Bambang hanya bisa pasrah dan mencoba memperbaiki sebisanya. Sudah senang hatinya mendengar kabar jika Dewi akan magang di kantornya. Malah, putri sewayangnya itu datang membawa kabar tidak akan jadi magang di sini. Tentu saja itu membuatnya kecewa.
"Gimana kalau di rumah ada art untuk membantu pekerjaanmu. Sekadar mencuci atau menyapu saja di rumah. Selebihnya, kerjakan sendiri," usul Bambang. Dia sangat berhati-hati saat berbicara dengan Dewi.
Bambang tentu saja sangat paham jika Dewi sangat mudah tersinggung dan tak enakan hati.
Dewi adalah tipe yang memiliki hati sangat sensitif. Perasaanya mudah sekali disentuh. Sedari kecil, sangat mudah merayunya ketika merajuk.
Dewi juga mudah menolong orang lain. Tak ayal, kebaikan hatinya itu sering dimanfaatkan oleh teman-temannya.
"Iya, Pa. Udah aku pertimbangkan. Pa ...," Dewi menggelayut manja di lengan Bambang. Tidak biasanya dia seperti ini. "Nanti tolong carikan art nya ya. Yang agak tuaan aja, biar bisa diajak ngobrol dan berbagi pengalaman. Kalau masih muda, suka repot pas kerja."
"Siap, Tuan Putri."
Dewi dan Bambang tertawa bersama.
"Oh iya, Pa. Nanti anterin pulang, ya. Pakai sopir aja."
"Kenapa pakai sopir, sama Papa aja, ya ...."
__ADS_1
"Enggak, ah. Mau sama sopir aja. Nanti mama marah lagi, Papa pulang kemalaman. Lagian mau belanja dulu ke swalayan, mau beli-beli."
"Yah, kalau mau belanja dulu Papa enggak bisa antar dong. Oke nanti diantar sopir, yaa."
Setelah keluar dari kantor Bambang, Dewi tidak langsung pergi belanja. Dia meminta sopir untuk mengantarnya makan terlebih dahulu. Padahal, tadi sudah makan tetapi sudah lapar lagi.
Dewi suka heran merasakan kondisinya yang suka lapar sekarang, tetapi tidak mau memakan nasi. Akhirnya, donat besarlah yang menjadi pilihannya.
Dewi makan di mobil, tak lupa memberikan juga kepada sopir yang mengantarkannya.
Kemudian, mobil pun melaju sampai ke swalayan. Dewi meminta sang sopir untuk mengantarkannya belanja karena bakalan banyak yang akan dibawa.
Setelah berkeliling belanja, Dewi pun kembali pulang ke rumah.
Mengabaikan suara dering telepon yang berulang kali berbunyi.
Ya, Dewis sedang tidak ingin berbicara kepada siapa pun termasuk kepada Andre.
Sesampainya di rumah, Dewi menolak sopirnya yang akan membantu membawakan belanjaannya. Dia pun menyuruh sang sopir agar segera pulang.
Dewi terperanjat kaget, saat mendapati Andre tengah berdiri di teras dengan mata menatap tajam ke arahnya.
Berusaha tidak peduli dengan ekspresi yang ditampilkan suaminya, Dewi pun melenggang masuk ke rumah. Mengabaikan seruan Andre yang memanggil namanya.
"Dewi, apa begini seorang istri saat dipanggil suaminya?!" hardik Andre dengan mata memerah.
Dewi berbalik, membalas tatapan Andre tak kalah tajam. Menyadari jika kemarahan ini adalah kesia-siaan. Tatapan Dewi pun melunak.
"Ada apa, Kak? Aku capek, mau tidur. Ini belanjaannya di susun besok pagi saja. Kakak sudah makan 'kan?"
"Bagaimana aku bisa makan kalau kamu tidak pulang-pulang?" ketus Andre. Tampaknya kemarahan lelaki itu belumlah mereda.
"Ya udah, kalau gitu aku siapkan dulu makan malamnya untuk Kakak. Aku tadi udah makan." Dewi melenggang meninggalkan Andre sendirian dalam kebingungan sekaligus kemarahan.
"Dew ... aku belum selesai bicara."
"Apa lagi, Kak?"
"Lain kali kalau keluar sampai malam begini harus menghubungi aku. Mengerti?"
"Ya."
Andre bingung, tidak biasanya Dewi bersikap tidak acuh padanya.
__ADS_1
Dewi berusaha mengabaikan dirinya untuk tidak menampakkan kekecewaan. Lantas, dia pun segera ke dapur lalu menyiapkan makan malam Andre.
Tanpa menemani Andre menyantap makan, Dewi segera masuk ke kamar. Tidur. Dia cukup lelah hari ini.