
Lima tahun berlalu. Si kecil Adrian kini telah menginjak usia sekolah taman kanak-kanak. Ia sangat lincah dan aktif di sekolahnya. Selain itu, kecerdasannya pun melebihi anak di usianya. Tak ayal, Adrian sering menjadi sorotan di kelas. Selain karena telah pintar baca tulis, Adrian juga telah bisa berhitung dan tambahan serta pengurangan. Benar-benar menjadi anak idaman para orang tua.
Seiring pertumbuhan Adrian, maka bertumbuh pula karier Andre dan Dewi.
Dewi memutuskan untuk bekerja di perusahaan sang papa, sekaligus belajar untuk mengambil alih perusahaan tersebut. Mengingat sang papa yang semakin menua dan sakit-sakitan. Hingga pada akhirnya, Dewi lah yang memimpin sepenuhnya.
Tidak banyak kemajuan memang saat perusahaan itu berada di tangannya. Terlebih, saat pikirannya bercabang untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk sang papa.
Sang Mama telah meninggal dua tahun lalu karena sakitnya. Sakit yang telah dirasakan dua tahun lamanya.
Sejak saat kepergian sang istri, Pak Bambang mulai merasa tidak memiliki semangat hidup. Mulai mengabaikan kesehatan dan tidak nafsu makan.
Benarlah kata orang bahwa kehilangan separuh jiwa membuat jiwa yang lain tiada memiliki gairah. Semangat hidup menguap entah ke mana, menciptakan kesakitan yang dalam baik secara batin maupun fisik. Terbukti begitulah yang terjadi dengan Pak Bambang.
Dewi tidak mampu lagi memberikan yang terbaik kepada sang papa. Mau bagaimana pun ia berusaha agar lelaki tua itu kembali sehat, rasanya semuanya sia-sia sebab niat hidup sudah tidak lagi ada. Akhirnya, Dewi pun pasrah pada keinginan Pak Bambang dan membawa lelaki itu ke rumah sakit untuk perawatan.
Sekarang, rumah sakit sudah menjadi rumah bagi Pak Bambang. Hanya di sana lah lelaki itu bisa memiliki sedikit tenaga dari vitamin yang disuntikkan melalui jarum infus di lengannya.
Setiap hari, Dewi akan menjenguk sang papa sepulang dari kantor atau saat makan siang. Yang jelas, wanita itu selalu menyempatkan diri mengontrol keadaan Pak Bambang di sela kesibukannya. Walaupun hanya sebentar saja.
Hari itu, Dewi sangat lelah sekali. Di kantor sedang ada masalah. Entah bagaimana asal muasalnya saat beberapa pemegang saham menarik saham mereka di perusahan yang ia pegang.
__ADS_1
Dewi harus bekerja keras untuk menyelidiki kasus tersebut. Memang, selama perusahan ia pegang. Keuntungan yang diraihnya tidaklah terlalu mencolok, tidak seperti sebelumnya saat dipegang Pak Bambang. Namun, apakah mereka tahu bagaimana upaya Dewi dalam menjalankan bisnis itu?
Dini hari, Dewi baru sampai rumah dan masuk ke kamar. Tanpa memperhatikan sekitar, ia langsung membuka pakaian dan ke kamar mandi. Berendam sebentar di bathtub untuk merilekskan diri. Oh, Ya Tuhan! Dirinya bahkan tidak sempat untuk makan hari ini. Perutnya hanya diganjal roti saja sedari pagi sampai sekarang.
Setelah mengenakan pakaian sekadarnya, Dewi menuju dapur untuk mencari makanan. Atau, paling tidak ia akan memasak masakan yang sederhana demi mengganjal perutnya.
Betapa Dewi rindu peralatan dapur itu. Beberapa waktu tak sempat memegang alat-alat yang ia senangi. Padahal dulu, sebelum pindah ke rumah besar ini, Dewi masih bisa leluasa melakukan aktivitas yang ia senangi.
Dewi memasak sembari menangis. Keinginannya untuk membuka toko roti atau cafe, pokoknya ada saja yang berhubungan dengan masakan telah menguap entah ke mana. Dewi pikir, impian itu telah hilang dari dalam hatinya. Ternyata masih tersimpan rapi di sana dan akan muncul kapan saja tanpa bisa diprediksi atau dicegah.
Akhirnya, Dewi pun makan masih dengan perasaan sedih. Tanpa berniat menghabiskan makanan di piringnya, ia pun beranjak meninggalkan ruang makan lalu menuju kamar Adrian. Di sana, si kecil telah terlelap seraya memeluk guling.
Dewi duduk di pinggir ranjang, mengelus puncak kepala Adrian lalu mengecup kening anak lelaki itu dengan lama. Banyak waktu yang terbuang begitu saja, tanpa sadar Adrian sudah sebesar ini.
"Mama ...." Adrian memanggil lirih dengan suara serak. Sepertinya ia terusik dengan pergerakan sang mama di kepalanya, membuatnya terbangun dan mengerjapkan mata.
"Iya, Sayang ...," sahut Dewi tak kalah lirih. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tak ingin lelaki kecil seusia Adrian melihat kesedihan sang mama.
"Mama sudah pulang?" tanya Adrian lagi dengan mata yang telah terbuka lebar. Ia mengetatkan pelukan di pinggang sang mama, seakan tidak ingin kehilangan sosok wanita yang telah dicintainya sejak lahir itu.
"Iya, Mama udah pulang ...." Lagi-lagi, air mata itu sudah bersiap ingin mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Adrian kangen Mama," bisik Adrian terdengar sangat memilukan.
"Mama juga sangat kangen kamu, Sayang. Sangat ...." Dewi mencium seluruh wajah Adrian. Menyalurkan segenap rasa sayang dan juga rasa penyesalan dari dalam hatinya. Ia ingin, suatu saat Adrian mengerti jika apa yang dilakukannya saat ini semata-mata demi sebuah tanggung jawab.
Setelah berpelukan lama dan Adrian kecil telah kembali terlelap, barulah Dewi beranjak meninggalkan kamar anaknya untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Dewi berpikir jika Andre telah terlelap di atas ranjang. Sudah berhari-hari mereka jarang komunikasi yang sesungguhnya. Maksudnya, berbincang ringan layaknya suami istri seperti sebelumnya.
Andre akhir-akhir ini juga tergolong sibuk. Setelah pengangkatannya menjadi kepala cabang, lelaki itu sering pulang larut malam. Terlebih, saat ini ia sedang membuka cabang baru di lokasi yang agak jauh dari kantornya. Semakin hari, Dewi merasa hubungan mereka terasa hambar. Keduanya tidak ada yang memulai mendekat. Ia yang sibuk dan suaminya yang sibuk semakin membuat jarak untuk bertemu dan berbicara.
Sesekali, ada waktunya Dewi mencoba menghubungi nomor Andre. Namun, pembicaraan mereka hanya beberapa detik saja karena Andre harus sibuk ini itu. Malah sering kali, panggilannya tidak ditanggapi laki laki itu. Saat di rumah, Dewi ingin bertanya kesibukan suaminya hari itu. Akan tetapi, lelah fisiknya segera menuntut agar tubuhnya istirahat. Hingga beberapa waktu kemudian, mereka tidak ada yang saling sapa. Dewi juga merasa jika Andre tidak berupaya untuk mendekatinya.
Dewi melangkah lebar menuju kamar lalu membuka pintu itu dengan tergesa. Ia sudah bertekad ingin memandangi wajah Andre malam ini. Tidak apa-apa walaupun hanya sekadar memandang wajah yang beberapa hari ini tidak ia sapa.
Namun, betapa terkejutnya Dewi saat menyadari bahwa ranjang itu kosong.
Dewi berjalan dengan napas memburu, tangannya bergerak di atas ranjang untuk memastikan apa yang telah dilihatnya. Benar, ranjang itu kosong.
Dewi menajamkan telinga, kalau kalau Andre sedang berada di kamar mandi. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi. Tidak ada suara apa pun. Lantas, dengan gerakan cepat dibukanya pintu kamar mandi itu. Kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
Dewi melangkah setengah berlari, mengambil ponsel dalam tas lalu menghubungi nomor suaminya. Tidak aktif.
__ADS_1
Ke mana perginya Andre malam ini?