Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 26. Jangan Pergi


__ADS_3

Setelah pergulatan yang terjadi, Dewi terjaga, tak mampu memejamkan mata. Padahal rasa lelah dan kantuk sangat menguasai dirinya.


Sedangkan di sampingnya, Andre tidur dengan nyenyak. Tampaknya lelaki itu sangat nyaman sekarang.


Dewi menghela napas panjang. Tiba-tiba merasa malu juga merasa bodoh. Dia selalu terperdaya oleh belaian lembut Andre. Sehingga melupakan kekesalan pada lelaki itu. Apakah cinta telah membutakannya? Atau, cinta telah membuatnya begitu bodoh?


Dewi memukul kepalanya sendiri, kalau saja otaknya bisa kembali normal. Nyatanya, tetap saja pada kecerdasan di bawah rata-rata saat berhadapan dengan Andre.


Tidak ingin berlarut dalam kebodohannya, Dewi pun bangkit. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lihatlah, bahkan saat mandi begini pun kelembutan Andre masih terbayang jelas di matanya.


Dewi menerka-nerka, apa yang mendasari Andre melakukan itu kepadanya. Karena keinginan lelaki itu, atau karena tidak sengaja?


Apakah Andre membayangkan wanita lain saat mereka berhubungan?


Merasa pikirannya yang semakin kacau, Dewi segera membilas diri. Mencuci rambutnya dengan banyak sampo, kalau saja sekaligus bisa mencuci isi kepalanya. Agar otaknya bisa berpikir jernih.


Bagaimanapun juga, hubungannya dengan Andre bukan lagi sekadar status di atas kertas. Lebih dari itu, karena mereka sudah ... ah ....


"Kenapa jadi kacau begini, sih? Apa aku siap kalau Andre meninggalkanku?" Dewi menggerutu.


Hawa dingin menyusup tubuhnya, segera dia membilas badan. Berlama-lama di kamar mandi membuatnya nyaris menggigil.


Setelah mengeringkan rambut dengan hairdryer, Dewi segera menuju lemari pakaian, memilih pakaian santai.


Usai dirasa cukup, Dewi pun segera menuju dapur memasak menu makan siang. Tubuhnya terasa lebih segar dari pagi tadi saat baru pulang dari rumah sakit.


Andre menggeliat pelan, matanya mengerjap-ngerjap ingin membuka. Badannya terasa ringan, seakan seluruh bebannya telah rontok tak bersisa. Dia tersenyum membayangkan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Dewi.


Andre sendiri bingung, karena bisa lepas kendali saat berhadapan dengan Dewi. Wanita itu mampu menghipnotisnya.


Andre meraba dada, detaknya masih sama. Tidak ada yang berbeda. Debaran itu hadir saat dia bersama Anggita, begitulah yang disadarinya. Namun, mengapa dia menolak kekasihnya itu, dan malah menumpahkannya pada istrinya.


Atau, karena Andre memang tidak ingin melakukan hubungan di luar pernikahan? Dia tidak ingin mengotori ikatan suci yang terjalin saat ini. Benarkah dia sesuci itu? Bukankah dengannya menjalin hubungan dengan Anggita, berarti dia telah merusak ikatan itu?


"Arrghh." Andre mengacak rambut frustrasi. Nyatanya memikirkan hubungannya dengan dua wanita itu membuat hidupnya kacau.


Padahal, Andre masih sangat yakin jika Anggita lah wanita yang dicintainya. Namun, mengapa begitu tega merenggut kesucian Dewi.


"Dewi." Andre menoleh ke samping kanan, betapa kagetnya dia tidak mendapati Dewi di sana.

__ADS_1


Lantas dia pun bergegas berdiri untuk mencari keberadaan Dewi, saat menyadari sesuatu. Matanya melihat ke bawah.


"Sial." Andre memukul kepalanya, kencang. Otaknya benar-benar kacau.


Andre kembali ke kasur, mencari celana yang entah di mana. Tidak menemukan apa yang di cari, dia pun membuka lemari mengacak-ngacak di sana. Beberapa baju dan celana bertebaran di lantai.


"Ya Tuhan! Kamu di mana, Dew?" Andre menarik rambutnya. Sebegitu takutnya kah dia kehilangan Dewi?


"Kak Andre, apa yang terjadi? Kenapa kamu?" Dewi kaget saat masuk kamar ingin membangunkan Andre untuk makan, malah mendapati kekacauan itu. "Aarrgh!"


"Sial!" Andre menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Pakai dulu celananya, Kak!" Dewi memekik. Kedua tangannya menutup wajah agar tidak melihat Andre.


"Kamu dari mana?" Mengabaikan perintah Dewi, Andre berjalan mendekati wanita itu dengan menutupi tubuhnya memakai selimut.


Andre memeluk erat, seakan Dewi hanya miliknya seorang.


"Kamu dari mana?" tanyanya lagi.


"Lepas dulu, aku sesak napas." Dewi mengurai pelukan Andre yang menyesakkan dada, sangking eratnya.


Ditatap sedemikian rupa, membuat Dewi salah tingkah. Wajahnya memerah menahan malu.


"Aku sedang khawatir, Dew. Kamu dari mana? Aku ingin saat bangun, kamu ada di sampingku," ucap Andre frustrasi.


Kedua mata Dewi membola. Tampak binar harap di sana. 'Benarkah? Apakah kamu telah melupakan Anggita dan menerima pernikahan kita seutuhnya?' tanya Dewi dalam hatinya. Dia tidak berani mengatakan langsung pertanyaan itu. Tak ingin mendengar jawaban yang mengecewakan, sebab dia belum kuat menerimanya.


"Aku, memasak untuk makan siang kita. Kakak, mandilah, biar ku siapkan baju gantinya." Dewi berkata lembut.


Sejujurnya, getaran di dadanya semakin menggila. Dari dulu sampai detik ini, begitulah yang selalu dirasakannya. Dia akan berdebar-debar tak keruan kala bersama Andre.


Ah, andai Dewi mampu menggerakkan hati sesuai yang diingini, sudah tentulah menggerakkan hati Andre untuk mencintainya yang lebih dulu dia lakukan.


Namun, kenyataannya tentulah sangat berbeda dari khayalan. Hati lelaki itu begitu sulit di genggam. Bahkan, saat Dewi merasa telah memberi seluruh hidupnya pada lelaki di hadapan.


"Mandiin ...." Andre berujar manja.


Tanpa sadar, ucapan Andre malah menyentak Dewi dari lamunan. Wajah wanita itu bersemu merah.


"Dew, mandiin." Binar di mata begitu sulit diartikan. Apa sebenarnya yang dinginkan Andre pada Dewi.

__ADS_1


"Ta- tapi ...."


Belum sempat Dewi menolak, Andre telah menariknya ke kamar mandi.


Bukankah sudah dikatakan sebelumnya, jika Andre selalu mampu membuat Dewi bertekuk lutut? Bahkan hanya dengan kerlingan mata saja, yang lelaki itu berikan.


Mungkin, genderang perang yang ditabuh telah berpindah haluan dalam dada Dewi. Jantungnya berpacu kencang, napasnya ngos-ngosan seperti habis lari seratus kilo meter.


Jika lari sejauh itu, tak ada yang mampu melakukannya. Biarkan Dewi yang mencoba, dia ingin menurunkan berat badan.


"Kamu, gugup?" Andre bertanya menggoda.


Sial, dalam keadaan seperti ini pun. Andre semakin melancarkan serangannya. Tanpa bisa dielak kenikmatan dunia itu kembali terulang di kamar mandi.


"Sebenarnya, apa yang Kak Andre inginkan dari ku? Bukankah aku seperti wanita murahan tak bernilai di matamu?" tanya Dewi lirih, dengan tangan gemetar dan tubuh yang lemas, dia berusaha bangun.


Tanpa menunggu jawaban Andre yang masih bergeming di tempat. Sepertinya, pertanyaan Dewi sangat sulit dijawab oleh lelaki itu.


Lantas, Dewi segera membilas diri, memakai smapo kemudian memakai sabun, membersihkan tubuhnya, menggosoknya kuat.


'Dia mencintai wanita lain, tapi bersetubuh denganku? Cih.' gerutunya dalam tangis.


Air mata Dewi mengucur deras, bersamaan dengan air yang mengguyur seluruh tubuhnya.


"Dew ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu." Andre berkata lirih. Kemudian lelaki itu bangkit, memeluk tubuh Dewi dari belakang.


Dewi meronta, lalu menjerit. "Apa artinya aku untukmu? Jawab!"


Andre tercengang mendapatkan pertanyaan Dewi yang histeris.


"Aku ... aku ...." Entah mengapa, mulutnya seperti terkunci. Otaknya kosong, tak mampu berpikir apa pun. Apa yang harus dikatakannya?


"Aku tahu, aku tahu," desis Dewi tajam.


"Dew, aku ... aku."


'Ah, sial!' Andre menjambak rambutnya.


"Aku tidak mau kehilangan kamu, Dew."


"Tapi kamu mencintai wanita lain," ketus Dewi. Kemudian meninggalkan Andre yang masih mematung.

__ADS_1


__ADS_2