
Waktu berlalu. Entah dalam hitungan berapa hari tubuh Dewi telah kembali ideal. Dia sendiri tidak menyangka, kerja kerasnya membuahkan hasil yang memuaskan.
Namun, untuk menjaga keseimbangan berat badannya, Dewi harus tetap menjaga pola makan dan tetap rutin berolah raga. Begitulah uang dia dapatkan dari dokter tempat konsultasinya selama ini.
Tidak ada masalah yang berarti dengan kesehatannya. Semuanya baik. Maka, sempurna sudah sosok Dewi saat ini.
Ah, adakah yang lebih membahagiakannya saat ini? Saat suami telah mantap bekerja di perusahaan papanya dan tampak lebih bertanggung jawab dalam menjalankan perannya sebagai suami. Selama itu pula, Andre tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Anggita. Lebih tepatnya, wanita itu yang tidak bisa dihubungi.
Kadang, ada perasaan was-was sekaligus penasaran dengan apa yang dialami Anggita. Karena tiba-tiba wanita itu menghilang bagai tertelan bumi. Namun, Andre selalu berusaha untuk tetap berpikir waras. Sebab, di sampingnya telah ada Dewi, istrinya. Dia juga telah berjanji bukan, bahwa tidak akan menyakiti wanita berhati lembut itu?
Ah, apa jadinya jika Andre menyakiti Dewi. Sedangkan dia sendiri bekerja di perusahaan mertuanya alias papa Dewi. Bisa ditendang tanpa ampun dirinya dari bumi ini.
***
Setiap hari, Dewi tampak semakin cantik dan memesona. Entah apa yang dilakukan wanita itu pada Andre sehingga perlahan lelaki itu mampu melupakan masa lalunya?
Setiap hari pula, Dewi selalu menyiapkan keperluan Andre dengan paripurna. Membuat Andre tidak lagi hapal seluk beluk kebutuhannya saat ini.
Andai saja, Dewi tidak ada di tempat ini sejam saja. Sudah tentulah, Andre akan kelimpungan mencari pakaian dan lain-lain. Baru disadarinya, betapa dia sangat ketergantungan dengan sosok istrinya saat ini.
Lihatlah, saat Andre selesai mandi. Pakaiannya telah tersedia di ranjang, lengkap dengan boxernya. Tidak hanya itu, saat dia lupa membawa handuk, maka Dewilah yang menyiapkan handuknya di pintu kamar mandi. Ckckck.
Dewi juga tak segan-segan membantu Andre berpakaian. Seperti saat ini, Andre pulang larut malam. Sedangkan Dewi terlelap di sofa demi menunggunya.
Herannya, derap langkah Andre langsung membangunkan Dewi dari tidurnya. Padahal, Andre tidak berniat membangunkan istrinya tersebut.
Dengan langkah cepat, setelah menyambut tas kerja Andre dan mencium punggung tangan suaminya. Dewi langsung menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat, tak lupa menyiapkan handuk di gantungan kamar mandi.
Selesai mandi, Dewi langsung membantu Andre berpakaian. Barulah dia menyiapkan makan malam untuk suaminya.
"Dew ...," panggil Andre pelan saat Dewi hendak menuju dapur.
Dewi menghentikan langkah, berbalik menghadap Andre. "Ya?"
"Aku kadang merasa seperti bayi besar sekarang," kekeh Andre menyadari ucapannya yang terdengar konyol.
Bukannya membalas ucapan suaminya, Dewi malah melangkah mendekat lalu mengalungkan lengan di leher Andre.
"Aku senang melakukannya," ucap Dewi pelan. Lalu mengecup bibir Andre singkat.
Entah sejak kapan, Dewi menjadi lebih agresif terhadap Andre? Yang jelas, baginya kini Andre adalah hidupnya, miliknya. Hanya miliknya saja.
"Apa ... kamu tidak pernah merasa lelah?" tanya Andre, dengan tangan menangkup kedua pipi Dewi.
Dewi menggelang, merasakan hangat di sekujur tubuhnya. Nyatanya, dia selalu terlena pada perlakuan manis Andre padanya.
Sepasang suami istri itu saling bertatapan dalam. Menyelami setiap rasa yang mengalir lewat aliran darah ke sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Andre mendekatkan wajah, tetapi terhenti seketika saat terdengar suara riuh dari perutnya yang lapar.
Dewi tersenyum geli, melihat ekspresi kecewa Andre. Lantas dia pun segera menggandeng lengan suaminya mengajak lelaki itu ke ruang makan.
Rumah mungil ini baru dua pekan mereka tempati. Sebagai hadiah ulang tahun Dewi yang ke dua puluh empat dari sang papa.
Awalnya Dewi enggan menerimanya, merasa hadiahnya terlalu berlebihan. Namun, sang papa meyakinkan bahwa sudah cukup bagi mereka tinggal di kontrakan yang kecil. Atas bujukan sekaligus paksaan orangtuanya lah Dewi akhirnya menerima hadiah tersebut.
"Kapan kamu masaknya?" tanya Andre basa-basi disela makannya.
"Tadi sore. Sepulang dari toko."
"Gimana kuliahnya?"
"Baik, semester depan aku praktik kerja lapangan. Bolehkan kerja di perusahaan Papa, aja?"
"Boleh banget, nanti biar kita bisa pulang pergi bareng."
Dewi tersenyum mendengar jawaban Andre. Lalu mengangguk antusias.
"Oh iya, Kak. Mama minta kita menginap di sana. Semalam saja mau kah?" tanya Dewi ragu. Pasalnya, Andre selalu menolak jika Dewi mengajaknya menginap di sana. Seingatnya, baru satu kali selama mereka menikah Andre mau menginap di sana.
"Kapan?" tanya Andre santai. Dia tetap fokus pada makanan yang disantap.
"Pekan ini."
"Terimakasih, kamu memang suami terbaik," seru Dewi antusias.
***
Malam Minggu, akhirnya datang juga. Sesuai janjinya, Andre ikut menginap di rumah orangtua Dewi.
Walaupun hanya semalam, perasaan rikuh selalu mendominasi Andre saat ke sini. Entah apa yang mendasarinya? Padahal, keluarga Dewi begitu baik kepada nya.
Tidak mengacuhkan perasaan tidak nyamannya, Andre berusaha berbaur bersama keluarga Dewi. Mereka mengobrol selama menikmati makan malam.
"Gimana rumahnya, nyaman?" tanya Bambang disela obrolan basa-basi.
Dewi menoleh pada Andre, lalu menjawab pelan. "Nyaman, Pa. Makasih ...." Dewi tersenyum manis.
"Syukurlah, Papa senang mendengarnya. Kata Andre kamu akan magang di kantor?"
Dewi mengangguk, lalu tersenyum tipis.
"Bagus, dong, Pa. Jadi, mereka berdua bisa pulang dan pergi bareng. Lagian, di kantor bisa sama-sama, kan," timpal Mama.
"Iya, Ma. Kak Andre juga kepikiran begitu."
__ADS_1
"Oke. Papa tunggu di kantor, ya."
Selebihnya obrolan berlanjut seputar pekerjaan dan hal remeh temeh.
Malam mulai menjelang, Andre dan Dewi berpamitan masuk ke kamar.
"Kak, aku ke kamar mandi dulu ya ...."
"Kamu kenapa?" tanya Andre khawatir, melihat wajah Dewi yang tampak pucat.
"Enggak apa-apa, kayaknya sakit perut aja," jawab Dewi meringis.
Andre memandang menelisik. Lalu mengangguk.
Kemudian, Andre melihat-lihat sekeliling kamar. Sepertinya, baru kali ini dia menikmati pemandangan kamar milik Dewi di rumah ini.
Matanya tertumbuk pada sebuah kardus di sudut ruangan.
Andre mendekat, mengamati kardus yang terbungkus pita itu. Merabanya pelan, lalu membukanya.
Lembaran poto dan surat-surat usang tersimpan rapi di dalamnya.
"Cantik," gumam Andre melihat poto Dewi berseragam putih abu-abu.
Kemudian Andre mengamati poto yang lain, saat Dewi menjadi atlit beladiri di sekolahnya. Berbagai pose dengan memegang piala ada di sana. Senyum di wajah Andre tak pernah surut melihat pose Dewi yang terlihat lucu dan menggemaskan
Sampai matanya tertumbuk pada poto seorang lelaki yang membawa piala kemenangan "Juara Atlit Tingkat Nasional."
Entah dapat dorongan darimana, Andre membalik poto tersebut. Terdapat tulisan tangan di sana.
Selamat sukses Kakak. Cinta pertama dan terakhirku. Kuharap suatu saat kau bisa menyadari arti rasa tulus ini. I love you.
Degup jantung Andre bertalu-talu. Dia tidak menyangka jika Dewi telah mencintainya selama ini.
Lantas, pikirannya kembali pada masa awal pernikahan mereka.
Andre mengusap wajah kasar, bayangan masa lalunya berkelabatan di mata.
"Bagaimana mungkin?" tanyanya frustrasi.
Andre segera mengembalikan poto-poto tersebut, lalu menutup kardus seperti semula. Secepat kilat dirinya melangkah menuju ranjang.
Ruangan ber-AC ini tampaknya tak mampu menahan aliran keringat yang deras mengucur di balik pakaiannya. Jantungnya terus bertalu-talu.
"Inikah alasan Dewi mau menikah denganku bahkan setelah tahu alasan aku menikah dengannya?"
"Ka-karema cinta yang begitu lama terpendam. Ya Tuhan!" Andre mengacak rambutnya. Merasa bodoh karena baru menyadari perasaan Dewi yang sesungguhnya.
__ADS_1