Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 79


__ADS_3

Rumah besar nan mewah itu berduka. Sang pemilik telah dipanggil Sang Pencipta. Tidak bisa disembunyikan gurau kesedihan di wajah Dewi. Air matanya pun terus mengalir membawahi pipi tanpa mampu dibendung lagi. Para tamu datang silih berganti mengucapkan bela sungkawa. Papan bunga pun berjejer turut serta mengucapkan kedukaan.


Andre sibuk menerima tamu dan menyiapkan pemakaman, beruntunglah Arman selalu setia mendampinginya. Sedangkan Amika, sibuk menenangkan Dewi.


"Aku merasa belum bisa membahagiakan Papa. Aku bukan anak yang berbakti," gumam Dewi terisak. Di sampingnya, Amika terus mengelus punggungnya. Menyalurkan kekuatan kepadanya.


"Kenapa Papa pergi secepat ini? Aku bahkan masih berduka atas perginya Mama," desis Dewi pelan.


"Semua sudah ada jalannya, Dewi. Kita tidak bisa menahan atau mempercepat kematian ...."


"Tapi ... rasanya sakit sekali." Dewi menepuk nepuk dadanya dengan isak tangis yang terdengar sangat memilukan.


"Gue tahu." Amika mengangguk angguk. Air matanya pun ikut mengalir. Ia pun ikut bersedih, bisa dirasakannya dan masih sangat melekat di ingatan bagaimana orang tua sahabatnya itu memperlakukannya dengan sangat baik. Keluarga Dewi memang sangat dermawan dan baik hati. Walaupun keluarga kaya raya, mereka tidak pernah membanggakan diri, apalagi sampai menyombongkan diri dan merendahkan orang lain.


Amika telah lama bersahabat dengan Dewi. Selama itu pula ia begitu dekat dengan kedua orang tua Dewi. Bisa jadi, orang tua sahabatnya itulah yang berusaha dekat dengan teman teman anaknya.


Pernah suatu hari, saat Amika kesulitan uang. Orang tua Dewi tak segan segan membantunya, memberi pertolongan tanpa balasan apa pun. Mereka sangat tulus dan apa adanya. Tidak pernah memberi lalu meminta kembali. Mungkin itu juga yang menjadi alasan orang berbondong bondong datang untuk melihat Bambang yang terakhir kalinya.


Dewi mulai tak bisa mengendalikan diri saat jenazah Bambang akan dibawa ke pemakaman. Ia meraung raung meminta agar yang membawa jenazah itu berhenti. Bahkan Dewi pun marah dan memukul mukul Andre.


"Hentikan! Jangan bawa Papa. Kakak, bilang ke mereka jangan bawa Papa."


Andre memeluk Dewi dengan erat. Air matanya pun ikut mengalir tanpa bisa dibendung.


"Sayang, kamu kuat. Kamu kuat. Papa sudah tenang." Andre berkata lembut dengan suara sejak khas orang menangis. Ia mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang. Mengalirkan segenap perasaan untuk menenangkan gejolak jiwa yang tengah dirundung duka.

__ADS_1


"Aku mau ikut Papa," gumam Dewi.


"Sssttt. Kamu masih punya Adrian. Dia membutuhkan kamu, Sayang. Aku membutuhkan kamu." Andre menggeleng berulang kali, tetapi pelukannya semakin erat menahan Dewi yang memberontak. "Kamu kuat. Kita ikhlaskan Papa, ya ... jangan beratkan Papa. Kasihan Papa, Sayang," ujar Andre putus asa.


Andre sangat tahu jika Dewi sangat terpukul dengan kepergian sang papa. Namun, ia juga paham jika ratapan dan raungan membuat yang pergi menjadi sedih dan berat.


"Kamu kuat ya ... please. Biarkan Papa istirahat dengan tenang di sana."


"Tapi aku mau ikut Papa, Kak." Dewi masih tak terima.


"Kita semua akan menyusul. Cepat atau lambat." Mendengar itu, Dewi pun mendongak.


"Benarkah?" tanyanya bingung. Tatapan matanya kosong.


"Iya. Kita semua akan menyusul," balas Andre lirih.


Dibantu Amika, Dewi berjalan gontai masuk ke rumah. Lantas mencari keberadaan Adrian. Setelah menemukan anak semata wayangnya itu, Dewi memeluk Adrian dengan erat.


"Maafkan Mama, Sayang," gumam Dewi. Adrian menangis dalam pelukan sang mama.


Seminggu berlalu, suasana duka masih begitu kental terasa. Beberapa hari itu pun, Dewi masih kehilangan nafsu makannya. Ia berdiam diri di kamar. Lebih tepatnya, mengurangi diri. Sebab ia tidak akan keluar kamar bahkan tidak pula mengantarkan Adrian ke sekolah.


Andre mulai kebingungan. Di sisi lain, ia harus tetap bertahan karena usaha yang baru dikembangkanny masih membutuhkan dirinya. Di sisi lain, ada Adrian yang beberapa hari ini kerap diabaikan. Terlebih, saat masuk ke kamar ia harus mendapati istrinya hanya berdiam diri seraya memeluk foto kedua orang tua yang telah tiada.


Seperti malam ini, saat Andre sampai di kamar dengan keletihan yang luar biasa. Di toko, ada beberapa barang yang mengalami keterlambatan sampai gudang, sedangkan para costumer telah sibuk menunggu pesanan. Andre telah menjelaskan duduk permasalahannya. Namun, namanya manusia ada yang faham dan ada pula yang tak ingin faham. Alhasil, ada beberapa costumer yang membatalkan transaksinya.

__ADS_1


Saat berada di rumah seperti ini, Andre ingin rasa letih itu sejenak menguap. Setidaknya bisa sedikit berkurang kala melihat wajah istri yang menyambutnya dengan senyuman. Namun yang Andre dapatkan hanyalah patung hidup yang tak memiliki daya juang. Raga itu bernapas, tetapi tatapannya kosong dengan air mata yang terus meleleh.


Terkikis sudah kesabaran Andre menghadapi istrinya. Ini sudah seminggu, setidaknya jangan sampai istrinya itu lupa segala galanya. Andre sangat tahu bagaimana perasaan Dewi. Hanya saja, ayolah! Bahkan Dewi adalah seorang istri sekaligus seorang ibu. Sampai kapan wanita itu akan terus seperti ini?


Andre menjambak rambutnya frustrasi. Kalau begini, aku duluan yang akan jadi gila, fikirnya lalu berjalan ke kamar mandi.


Andre keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Setelah berganti pakaian, ia pun duduk di pinggiran ranjang. Matanya melirik ke atas nakas, nasi makan malam yang disediakan untuk Dewi masih utuh dan tampak dingin.


Andre menghela napas dalam, lantas ia menguulurkan tangan untuk membeli rambut Dewi yang tergerai tak bersisir.


"Sayang, " panggilnya lirih. Dewi merespons, wanita itu menoleh padanya. "Temeni aku makan, yuk! Dari siang belum sempat makan," lanjutnya pelan.


"Kakak makan sendiri saja, aku enggak nafsu makan," sahut Dewi tak kalah lirih.


"Apa kamu akan membiarkan suamimu ini kelaparan?" tanya Andre.


"Kakak bisa makan sendiri. Kakak punya tangan dan kaki. Aku sedang tidak bernafsu makan atau ke mana pun," balas Dewi tajam.


Seperti ada yang meremas dada Andre. Namun, ia memilih diam dengan wajah memerah menahan amarah. Bukan waktunya dirinya membalas perkataan tajam Dewi.


"Baiklah kalau begitu." Andre naik ke ranjang lalu berbaring memunggungi istrinya.


Tidak lama kemudian ponsel Dewi berdering. Bisa terdengar jelas percakapan Dewi dengan seseorang, tetapi Amdre tidak tahu dengan siapa istrinya itu berbicara.


"Iya, terima kasih. Tidak apa apa, aku bisa ngerti, kok."

__ADS_1


Andre melirik sebentar, tampak Dewi tersenyum tipis. Kemudian ia memilih untuk memejamkan mata. Berharap kantuk itu segera menghampiri lelah nya. Andre mengabaikan suara suara yang berasal dari dalam perutnya. Ia tidak berbohong jika sedari siang perutnya itu belum diisi apa apa karena sibuk mengurusi permasalahan yang ada.


__ADS_2