
Acara tasyakuran itu berlangsung sangat meriah. Awalnya Pak Bambang ingin mengadakan pesta tersebut di hotel berbintang. Namun, Dewi menolak dengan alasan jika pesta di rumah sudah lebih dari cukup.
Setelah keluar dari rumah sakit, Pak Bambang meminta secara spesial kepada Andre agar Dewi dibawa pulang ke rumah. Selain agar bisa dipantau secara langsung, lelaki paruh baya itu berpikir agar Dewi bisa mendapatkan fasilitas yang memadai. Setelah melahirkan wanita akan sangat rapuh dan rentan stress. Pak Bambang tidak ingin saat Andre bekerja, anak semata wayangnya hanya ditemani pembantu di rumah. Berbeda jika di rumah keluarga mereka, mamanya Dewi tentu akan dua puluh empat jam berada di sekitar anak dan cucunya.
Mau tidak mau Andre menerima permintaan itu. Kali ini tentu saja dirinya tidak bisa menolak. terlebih saat mertuanya itu mengungkapkan penyesalan karena tidak bisa mendampingi istrinya lahiran karena masih berada di luar kota.
Andre bisa memaklumi kecemasankedua orang tua istrinya tersebut. Selain karena dewi adalah anak satu-satunya, ini juga merupakan kelahiran cucu pertama mereka. Lagi pula, jarak tempuh tempat kerja Andre dengan kediaman Bambang tidak terlalu jauh. Andre juga tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk bisa terus bersama anak dan istrinya itu. untuk itulah, ia ikut serta tinggal di rumah mertuanya.
Andre pasrah saja saat Pak Bambang mengadakan pesta besar-besaran di kediamannya. Mertuanya itu juga tidak ingin Andre mengeluarkan uang sepeser pun untuk pesta tersebut. Bagi lelaki yang baru menyandang status seorang kakek itu, cukuplah Andre membiayai persalinan Dewi di rumah sakit. Selebihnya biarkan ia yangmembiayai semuanya. Pak Bambang bisa bernapas lega saat Andre tidak membantah permintaanya.
Akan tetapi, Pak Bambang harus rela menerima permintaan Dewi jika pesta hanya dilakukan di rumah. Berbagai alasan diungkapkan Dewi agar papanya itu setuju. Ia masih merasa belum kuat untuk berkendara jauh ke hotel, atau kasihan si bayi yang umurnya belumlah genap satu bulan. Akhirnya, Pak Bambang pun setuju dan mereka menikmati pesta itu dengan suka cita.
Banyaknya kenalan yang diundang membuat rumah dengan halaman luas itu pun penuh juga.mobil-mobil berjejer di sepanjang jalan dengan papan bunga yang entah berapa banyak jumlahnya menghiasi di sepenjang jalan menuju kediaman Bambang. Tidak tanggung-tanggung, undangan dari berbagai provinsi pun turut hadir menikmati pesta tersebut. Betapa Pak Bambang tidak main-main dalam penghamburan uang.
Sesuai perintah mertuanya, Andre pun mengundang rekan kerja seklaigus atasannya ke pesta itu. Semua orang berkumpul menikmati pesat dengan perasaan bahagia. Banyak kado dan ucapan selamat yang diterima pasangan orang tua baru itu. Pak Bambang pun dengan bahagia memperkenalkan cucu pertamanya.
“Adrian Pratama Putra namanya.” Begitu kata Pak Bambang.
Robi dan Anggita beserta anak mereka pun datang memberi ucapan selamat.
“Terima kasih, Bro,” ujar Andre dengan wajah semringah.
__ADS_1
“Gila lu, pesta bocah bayi enggak tanggung-tanggung,” ungkap Robi. “Kenapa enggak di hotel aja sekalian.” Robi tergelak melihat raut wajah masam Andre.
“Maunya di hotel, tetapi kasihan Adrian kan kalau dibawa jauh-jauh. Ini aja dia udah capek banget. Kasihan juga mamanya, masih harus banyak istirahat. Namanya juga baru bongkar mesin,” jelas Andre yang mendapatkan gelak tawa dari Robi disusul tawa dari Arman.
Rupanya Arman dan Amika pun telah bergabung bersama mereka. Sekarang tampak mereka seakan sedang reuni dadakan.
“Gua datang sekalian mau ngasih undangan. Bulan depan kita nikah.” Arman menyodorkan undangan kepada Robi dan Andre.
“Wah, jadi juga lu nikah.” Robi nyeletuk asal.
“Sialan lu. Ya jadilah, dikira gua main-main apa sama Amika.” Arman tidak terima dan langsung memukul kepala Robi.
“Dunia emang sempit amat ya. kita nikah sama orang-orang di sekitaran sini doang, enggak jauh-jauh,” celetuk Arman.
“Jadi, Kakak mau nikah sama yang jauh-jauh aja. Kalau gitu, kita batalin aja rencana kita,” sungut Amika kesal.
“Ya ... ya .... ya jangan dong, Sayang. Aku kan maunya sama kamu aja enggak mau yang lain.” Wajah Arman seketika pucat pasi mendapatkan protes dari sang kekasih. Tidak menyangka jika omongan asalnya malah ditanggapi serius oleh Amika.
“Bodo.” Kedua tangan Amika bersedekap di depan dada. Ia membuang pandangan ke samping tidak ingin melihat wajah Arman. Sejujurnya dalam hati Amika terkikik geli melihat wajah masam itu.
Teman-teman di sekeliling keduanya malah tertawa terbahak melihat kelakuan si calon pengantin itu. tidak ada yang merasa simpati melihat ekspresi cemas Arman jika Amika benar-benar membatalkan rencana pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung hari itu.
__ADS_1
“Sayang ... Sayang, aku tadi Cuma bercanda lho. Jangan gitu dong. Nanti kalau acara kita batal beneran gimana? Aku bisa mati beridiri, Yang. Jangan gitu ya, aku janji enggak akan pernah ngomong asal lagi. Tadi beneran Cuma bercanda doang.” Arman masih mencoba menjelaskan. Sedangkan teman-temannya tidak ada yang berniat membantu sedikit pun. Benar-benar sial “Soalnya kan, aku mau nikah sama sahabtnya istri sahabatnya aku. Terus si Robi itu nikah sama mantannya sahabatnya aku. Nah kamu nikah sama sahabatnya suami sahabat kamu, kan. Jadi kita itu Cuma muter-muter doang sekitaran sini.”
“Ya kalau emang jodoh mau gimana. Kecuali kalau kak Arman emang enggak mau berjodoh sama aku.”
“Aku sangat mau berjodoh sama kamu. Mau sekarang ita nikahnya juga ayo. Ayo ke KUA sekarang!” Arman meraih tangan Amika, mengajak calon sitrinya itu keluar. Robi danAndre tergelak menyaksikan keuwuan sahabatnya itu.
Tidak berapa lama kemudian, Robi dan Anggita pun berpamitan.
“Eh, anak kita bisa dijodohkan nih,” usul Robi yang langsung mendapatkan cibiran dari Andre.
“dih, ogah. Kayak enggak ada yang lebih muda aja. Tuaan anak lu, Bro,” tolak Andre.
“Sialan.awas aja kalau Adrian itu jatuh cinta sama anak gue,” ancam Robi seraya terkekeh lalu pamitan pulang.
“Dih, ogah ya!” seru Andre yang langsung mendapatkan cubitan dari Dewi.
“jangan sembarangan ngomong, dulu juga kamu enggak cinta sama aku sekarang udah punya anak aja. Kita enggak tahu gimana masa depan mereka kelak.” Kalimat Dewi benar juga. Andre pun langsung mengambil Adrian dari gendongan Dewi dan meletakkannya di box.
Tanpa aba-aba Andre langsung menyambar pinggang Dewi dan mendaratkan kecupan dalam di bibir wanita yang sudah langsing itu. Andre tahu bahwa cintanya akan terus tumbuh seiring waktu dan ia percaya itu. biarkan kisah kelam itu mereka sendiri yang mengalami jangan sampai turun ke anak-anak mereka.
Andre juga berharap jika Adrian bisa mendapatkan pasangan yang tepat. Lupakan jika Adrian masih bayi. Ah iya,bahkan jodoh Adrian entah kapan akan bertemunya pasti masih lama dan Andre tidak sabar untuk menyaksikan itu.
__ADS_1