Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 57


__ADS_3

Hari telah beranjak sore. Mengobrol dengan Amika membuat waktu Dewi seakan cepat bergerak. Siang pun terlewati begitu saja. Untung saja mereka masih ingat untuk makan siang, bagaimanapun perut tetap mengirim sinyalnya untuk meminta hak diisi makanan. Mungkin, jika cacing di perut diam saja kedua sejoli itu tidak akan mengindahkan rasa laparnya.


Amika masih asyik menceritakan kisah mereka saat masih kuliah. Sedangkan Dewi duduk dengan gelisah teringat Andre yang katanya ingin menjemput dirinya di toko. Namun, setelah jarum jam menunjuk di angka lama. Lelaki itu masih belum kelihatan batang hidungnya. Entah di mana gerangan lelaki itu berada? Dewi bingung memikirkannya.


"Lu mandi aja dulu." Melihat gerak - gerik Dewi yang tampak mulai tidak nyaman. Amika memberi saran agar wanita hamil itu mandi dan berganti pakaian.


"Tapi enggak bawa baju ganti. Gimana, dong?" Dewi bertanya ragu. Akan tetapi, tidak bisa dipungkirinya bahwa tubuhnya memang sudah terasa lengket.


Walaupun pendingin ruangan telah distell sedingin mungkin. Tetap saja membuat Dewi keringatan. Mungkin memang karena faktor perut yang semakin membesar, membuat tubuh cepat kepanasan.


"Ya elah. Untuk apa punya toko baju kalau baju sendiri kebingungan pakai yang mana." Amika beranjak dari kursi menuju rak penyimpanan pakaian. Memilih yang dirasa sesuai dengan badan sahabatnya tersebut.


"Nah, ini ketemu. Mandilah, biar seger. Pakai sendiri baju satu stell gini enggak akan buat rugi. Tenang aja," sindir Amika seraya memperlihatkan dress yang panjangnya kira - kira di bawah lutut Dewi.


Dewi mengambil baju tersebut, lalu segara menghilang di balik pintu kamar mandi. Benar kata Amika, mandi membuatnya lebih segar dan rileks.


Dress berwarna biru langit melekat sempurna di tubuh sintalnya. Longgar tetapi tidak kebesaran. Pas di badan tetapi juga tidak sempit dan membuat sesak.


Dewi tersenyum puas. Pilihan Amika memang selalu yang terbaik. Tidak sia - sia mereka bekerja sama mengembangkan toko pakaian itu. Walaupun belum sekelas butik, tetapi baju - baju yang dipilih tentu bukan barang murahan dan bisa dijangkau dengan harga yang lebih murah.


Istilah jaman sekarang, tidak membuat kantong bolong atau sampai ATM jebol.


"Gimana? Jadi segar dan nyaman kan sudah mandi. bajunya juga pas di badan lu." Amika mendekati Dewi yang sedang memperhatikan penampilannya di kaca besar yang tertempel di dinding sebagai tempat mencoba pakaian.


Toko mereka tutup sebelum jam lima. Jadi sudah tampak sepi pengunjung. Tinggal bersisa karyawan bagian packing untuk pengiriman paket yang akan diambil kurir besok hari berikutnya.


"Iya, makasih banyak. Lu memang sahabat terbaik gua." Dewi mengulas senyum tulus.


Ya. Amika bisa merasakan ketulusan itu terpancar dari tatapan kedua mata Dewi untuknya.


Matahari mulai terbenam sempurna. Memang, hiruk pikuknya kendaraan belumlah mereda. Di jam - jam inilah malah semakin padat karena waktunya orang - orang yang bekerja itu pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Dewi menghela nafas panjang. Tidak menyangka jika ketenangan hatinya hanya bertahan sebentar. Sejujurnya ia ingin pulang dan segera berbaring di ranjang.


Mengabaikan perasaan ragu dan was - was Dewi pun memutuskan untuk memesan taksi saja. Ia ingin pulang.


Amika tentu saja tidak bisa menolak. Akhirnya, ia pun pasrah pada keinginan Dewi untuk pulang.


Amika berjanji jika nanti bertemu Andre ia akan memarahi lelaki itu habis - habisan. Sebab telah dengan tega menelantarkan sahabatnya itu.


"Tidak menepati janji. Awas saja nanti kalau bertemu," geram Amika setelah mobil yang ditumpangi Dewi melesat meninggalkan gedung toko mereka.


Setelah kepergian Dewi, Amika pun masuk ke toko untuk membereskan pekerjaan nya lalu akan segera pulang.


Namun, belum sempat Amika masuk. Suara seseorang yang berseru menghentikan langkah nya.


"Dewi mana?" tanya Andre dengan nafas memburu.


Amika berbalik, saat mulutnya akan menjawab tiba tiba terkunci oleh kehadiran seseorang.


"Iya, suaminya sahabat kamu minta padaku untuk bisa temenin dia jemput istrinya yang lagi hamil. Yang bener aja, masak jemput wanita hamil pakai motor." Arman menjelaskan dengan sesekali terkekeh.


"Tapi, Dewi baru aja pulang." Amika berujar dengan perasaan cemas.


"Kak Andre juga sih. jemputnya lama banget. Kasihan Dewi tau. Capek banget dia." Amika mengeluh dengan menghadiahi Andre tatapan tajamnya.


"Ya gimana, macet soalnya." Andre menggaruk tengkuknya bingung.


"Ya sudah ayo buruan. entar malah gagal lagi kejutan yang udah disiapkan." Arman menepuk bahu Andre pelan. lalu berjalan cepat menuju mobil. mereka harus segera sampai.


Menyadari sesuatu, Arman berbalik arah. "Sayang, ayo!" serunya mengajak Amika yang masih bergeming di tempat nya berdiri.


"lho, aku ikut. entar ganggu lagi," elak Amika.

__ADS_1


"Iya. kita nikmati sama - sama kejutannya. spesial pakai telor lho."


"ih, kayak nasi goreng aja," desis Amika yang membuat Andre mencibir.


"sindir aja terus. gua enggak apa - apa. udah kebal juga." Andre melengos, lalu segera membuka pintu mobil bagian belakang duduk di jok penumpang dengan perasaan gelisah.


"biar sadar dan enggak lupa ingatan lagi kali udah punya istri dan calon anak," ketus Amika yang langsung disambut gelak tawa oleh Arman yang duduk di belakang kemudi.


Arman membantu Amika memasang sabuk pengaman, barulah ia menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya.


Kendaraan roda empat itu melaju kencang dan mencari jalan lain agar terhindar dari macet untuk segera sampai ke rumah Andre.


***


Setelah sampai rumah, Dewi langsung masuk ke kamar. Tanpa menyapa Bik Inah seperti biasanya tau menuju dapur untuk sekadar menghilangkan dahaga nya. Rasanya saat itu tubuhnya benar - benar ingin berbaring saja. Padahal selama di toko, ia hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol ke sana ke mari.


"Rasanya capek sekali. Padahal tidak melakukan pekerjaan apa pun," keluh Dewi seraya menggosok - gosok pinggang nya yang terasa pegal.


Saat mata Dewi mulai terpejam, saat kesadarannya mulai menghilang. saat itu pula Dewi merasakan elusan lembut di pinggangnya menggantikan posisi tangan yang sedari sibuk bekerja mengurangi rasa pegal.


"Maaf ya, Sayang." Andre mencium kepal Dewi berulang kali.


Andre sempat mengeluh, kenapa ingin memberikan kebahagiaan kepada Dewi kok rasanya sulit sekali? ada saja halangan yang menghambat. Namun ia tetap berusaha tersenyum, meminta maaf agar Dewi tidak tahu kegundahannya.


"Di depan ada Amika dan Arman. Keluar yuk!" ajak Andre pelan.


"Ngapain mereka ke sini. Seharian aku sudah sama Amika," sahut Dewi tidak percaya. Mungkinkah Amika menyusu karena khawatir dirinya pulang sendirian tadi.


"Ada sedikit kejutan untuk kamu dan calon anak kita. Ayo!" Andre mencoba membujuk Dewi lagi


Syukurlah Dewi menurut. merek berdua berjalan menuju meja makan. betapa terkejutnya Dewi melihat hidangan yang tersaji di atas meja makan itu.

__ADS_1


__ADS_2