
Tiba-tiba, sekelebat bayangan wajah Dewi yang tampak sendu itu berkelebatan di pelupuk mata. Andre menurunkan kecepatannya, sampai bertemu di lampu merah, kendaraan roda dua itu pun berhenti.
Sudah tepat kah apa yang dilakukannya saat ini?
Alasan rasa kemanusian haruskah menyakiti hati istrinya lagi?
Apa seharusnya sekarang ia berbalik arah, mengatakan yang sebenarnya?
Lalu bagaimana jika terjadi apa-apa dengan wanita itu?
Andre gusar, ia bingung dalam mengambil keputusan.
Andre memejamkan kedua mata, lampu merah kali ini terasa lebih lama padahal waktu yang ditunjukkan sama saja. Ia pun mengembuskan napas kasar. Hatinya baru semalam saja merasakan kebahagiaan dan ketenangan, lantas harus berubah gusar seperti ini hanya karena panggilan itu.
Lampu merah telah berganti menjadi hijau. Namun, Andre masih bergeming di tempatnya hingga suara klakson bersahut-sahutan karena ia menghalangi jalan.
Andre berjingkat kaget, lalu buru-buru melajukan kendaraannya. Sampai di belokan, ia pun memutar arah menuju jalan pulang. Ya, ia tahu apa yang menjadi prioritasnya sekarang yaitu istrinya.
Hatinya yakin untuk menuju rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, Andre segera memarkirkan motornya lalu berlari ke dalam tanpa melepaskan helm.
“Dewi!”
“Dewi!”
Andre terus memanggil-manggil istriya itu. Berjalan menuju dapur. Ah, padahal rumah ini tidak terlalu luas, tetapi kenapa jarak antara ruang depan dengan ruang tamu terasa sangat jauh sekali. Andre sampai ngos-ngosan dibuatnya.
Sampai di dapur, tampak Dewi yang tengah mengadon kue bersama Bik Inah. Suara mixer menyamarkan panggilan Andre.
Tanpa ingin membuang-buang waktu, Andre langsung memeluk tubuh wanita yang sedang mengadon kue itu.
Dewi berjingkat kaget. seketika Dewi mematikan mixer di tangannya. Ia membalikkan badan menatap Andre dengan bingung.
“Lho, bukannya Kakak pergi dan buru-buru ya?” tanya Dewi bingung.
“Kamu ke mana aja, sih?” Bukannya menjawab, Andre malah mengajukan tanya dan mengeratkan pelukannya di pinggang Dewi. Walaupun sedikit terhalang oleh perut buncit itu, tidak masalah baginya.
“Ada yang ketinggalan ya?” Dewi tidak menjawab pertanyaan Andre.
__ADS_1
“Ada,” jawab Andre singkat.
“Apa yang ketinggalan? Sini aku siapin.” Dewi mencoba menepis kedua tangan Andre yang masih memeluk erat pinggangnya. Bukannya terlepas, pelukan itu malah semakin erat.
“Helm nya buka dulu. Ngenain kepala aku, Kak,” keluh Dewi melihat tingkah Andre yang tidak biasa.
“Oh iya.” Andre melepaskan helm nya lalu meletakkannya di atas meja dapur.
“Ini tepungnya mau digimanain lagi, Non?” Pertanyaan Bik Inah mengalihkan perhatian Dewi yang sedang menatap suaminya.
“Dimasukkan cetakan lalu dipanggang ya, Bik. Nanti—“ Ucapan Dewi terjeda oleh tarikan Andre di lengannya yang mengajaknya masuk ke kamar. “Lho, sebentar aku lagi ngomong sama Bik Inah,” protes Dewi.
“Udah biarkan saja Bik Inah yang melanjutkan. Dia pasti bisa kok,” sahut Andre seraya merangkul bahu Dewi agar mengajaknya segera masuk ke kamar mereka.
Setelah melewati pintu kamar, Andre segera menutup dan menguncinya. Lalu mengajak Dewi duduk di kasur.
“Sebentar ya, aku mau nelpon dulu.” Andre melepaskan tangannya di bahu Dewi berganti memegang ponsel mencari-cari nama kontak di sana. Sayangnya tidak ketemu. Mungkin juga sudah dihapus. Lantas, ia pun menghubungi Arman meminta nomor Robi pada lelaki itu. Tanpa berniat menjelaskan duduk persoalannya, Andre langsung menutup sambungan setelah mendapatkan nomor kontak Robi.
Andre segera menghubungi Robi. Namun, hingga panggilan ketiga lelaki itu tak jua menjawab panggilannya. Ia mendengkus kasar, lalu meletakkan ponsel di atas nakas.
Andre duduk menghadap ke arah Dewi yang sedari tadi hanya diam memperhatikan apa yang dilakukannya.
“Jadi, apa yang ketinggalan sebenarnya? Kenapa Kakak pergi terburu-buru dan pulang juga terburu-buru?”
Mata Dewi mengerjap-ngerjap. “Apa?” tanyanya pelan.
Andre tidak langsung menjawab pertanyaan itu. ia memilih mendekatkan wajah sampai nafas hangatnya menerpa wajah dewi dan membuat desiran halus menguasai dada wanita itu.
“Hatiku tertinggal di sini,” bisik Andre tepat di hadapan Dewi. Lalu menggerakkan ujung hidungnya ke hidung Dewi.
Wajah Dewi memerah seketika. “Iih, dasar tukang gombal,” rajuk wanita hamil itu seraya memukul dada Andre pelan.
“Ah, sakit, Dew.” Andre melenguh kesakitan.
“Serius. Aku pelan tadi.” Dewi meraba dada Andre lalu mengelusnya, tampak sekali wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
Andre mengulum senyum. Merasa puas telah berhasil mengerjai Dewi.
“Enggak, Sayang.” Andre menarik tubuh Dewi agar masuk dalam rengkuhannya.
__ADS_1
“Ih, suka banget jahilin aku.” Dewi menyurukkan kepalanya dalam dada bidang itu.tempat yang berhasil menciptakan rasa aman dan merasa terlindungi.
“Dew, kalau kamu ingin mencegahku mengerjakan sesuatu langsung katakan ya. Jangan dipendam-pendam.” Andre berkata pelan tepat di pucuk kepala Dewi. Ia mengelus rambut hitam itu dengan lembut.
Dewi mendongak. “Kenapa?”
“Ya, kalau kamu ingin aku agar jangan pergi. Katakan saja aku akan menurutinya,” jawab Andre dengan suara lembut tetapi terdengar penuh penegasan.
Dewi mengangguk dua kali. Ada yang menghangat di hatinya. “Apakah jika aku melarang Kakak berhubungan dengan Anggita akan dituruti?” tanyanya ragu.
“Tentu saja. Aku bahkan telah menghapus nomornya telah lama.”
“Kalau aku minta agar Kakak tidak memikirkan Anggita lagi, apakah Kakak akan melakukannya?”
“Ngomong-ngomong mengenai Anggita. Dia tadi menghubungiku lalu menjerit dengan kata darah. Apa maksudnya? Apa dia akan melahirkan lalu pendarahan. Aku sudah berusaha menghubungi Robi, tetapi lelaki itu tidak juga mengangkatnya.” Andre mengoveh dengan wajah gusar.
Sedikit banyak hal itu membuat Dewi kecewa. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaannya yang terakhir, bisakah Dewi menyimpulkan jikasuaminya itu masih memikirkan Anggita, mantan kekasihnya itu? Tidak bisakah ia menggeser nama wanita itu sedikit saja dari hati lelaki yang melepaskan rengkuhannya tersebut?
Dewi tersenyum tipis. Begini saja sudah cukup, setidaknya Andre masih mencoba untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Menggunakan kesempatan yang Dewi berikan sebaik-baiknya.
Kesempatan terakhir mereka.
“Apa nanti saat kamu lahiran akan sesakit itu? Aku mendengar Anggita merintih kesakitan.” Andre masih saja melanjutkan perkataannya.
“Kita harus segera melihat keadaannya, Kak. Bagaimana kalau Kak Robi tidak ada di rumah dan Anggita sendirian. Itu akan berbahaya. Kata Bik Inah, melahirkan itu memrtaruhkan nyawa.” Dewi bangkit berdiri, lalu menggandeng tangan Andre agar ikut berdiri.
Wajah lelaki itu tidak bisa menutupi kekhawatirannya.
“Ayo!”
Andre mangambil ponsel di nakas. Lalu melangkah mengikuti ajakan Dewi.
“Tapi kita tidak bisa berboncengan dengan motor itu. aku takut terjadi apa-apa denganmu, Dew.” Andre menghentikan langkah. “Kita naik taksi online saja,” putusnya kemudian.
“Kalau begitu, Kakak pergi sendirian saja. Aku menunggu kabarnya dari rumah.”
“Ta-tapi—“ Andre tampak ragu.
“Aku percaya padamu. Setelah memastikan kondisi Anggita, segera hubungi aku.” Dewi mengulas senyum.
__ADS_1
“Aku akan memeriksa rumahnya. Kalau dia sudah dibawa ke rumah sakit, aku akan segera pulang.”
“Ya. Nanti kita menjenguknya sama-sama.” Dewi mengangguk.