
Di hari hari berikutnya, semua berjalan baik baik saja. Dewi yang mengantarkan Adrian ke sekolah ditemani Andre yang tidak ingin ketinggalan momen itu. Andre juga telah berjanji akan memperbaiki semuanya.
Betapa bahagianya Adrian saat ia bisa pamer kepada guru dan teman temannya. Bagaimana kedua orang tuanya yang sibuk tapi bisa mengantarkan dirinya ke sekolah. Adrian girang bukan kepalang. Bahkan bersorak sorai memperkenalkan kedu orang tua ny itu kepada siapa pun yang dijumpainya. Ini telah hampir seminggu Adrian kecil begitu, seperti tidak pernah puas dengan apa yang ia lakukan.
Setelah mengantarkan Adrian dan memastikan anak semata wayangnya itu masuk kelas. Barulah Dewi dan Andre pergi dari lingkungan sekolah. Keduanya pun berjanji akan menjemput Adrian. Jika sang papa tidak sempat, maka Dewi lah yang bertugas menjemput Adrian.
Andre terlebih dahulu mengantarkan Dewi ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang papa. Setelah itu, Andre berangkat ke kantor menggunakan taksi online.
"Wah, kayaknya ada yang lagi bahagia ini?" komentar Arman begitu melihat Andre masuk ke ruangan nya.
"Apaan lu?" protes Andre begitu saja. Lantas ia pun teringat dengan rencana yang telah ia susun satu bulan ini. Andre pun mendekati Arman, merangkul lelaki itu.
"Apaan lu? gue udah punya istri dan anak yaa. jangan macam-macam," gerutu Arman disertai ancaman.
"Apaan, sih? lebay banget." Andre mengepalkan tangan ke udara. Menunjukkannya kepada Arman sebagai peringatan. Lelaki di sebelahnya itu meringis tanpa berniat membalas. "Entar jam istirahat ada yang mau gue obrolin sama lu. Serius," ujar Andre dengan tatapan tajam.
"Ngobrol Apaan?" Arman masih belum mengerti. Singkatnya tidak ada sesuatu yang penting di antara mereka. Urusan pekerjaan pun bisa dikerjakan dengan baik.
"Ngobrol tentang kita." Andre menjelaskan seraya menunjuk kepada dirinya sendiri dan Arman secara bergantian.
"Idih." Arman bergidik ngeri dengan respons yang tidak dibuat buat.
"Gue serius mau ngobrolin tentang apa yang gue pikirin. Untuk perkembangan kita ke depan. Dah lah, kuy, kita kerja lagi. cepet kelar nih kerjaan cepet kita bahas masalah lain," ujar Andre kemudian yang dibalas anggukan oleh Arman.
Setelah pekerjaan dan target hari ini telah selesai. Sesuai janji, Andre pun segera menghampiri Arman. Lelaki itu tampak telah kembali ke kantor setelah menyelesaikan pekerjaan memeriksa keadaan lapangan.
"Iya, Sayang ... iya. ini udah sampai di kantor. bentar lagi bakalan makan kok bareng Andre." Terdengar suara Arman yang sedang melakukan panggilan membuat Andre teringat akan Dewi. Lantas, ia pun langsung menghubungi istrinya itu.
Panggilan Andre dijawab Dewi pada durung ketiga. "Iya, Kak," sapa Dewi dari seberang sana.
__ADS_1
"Sayang, udah makan belum?"
Entah karena alasan apa, Dewi malah terbaru batuk setelah mendengar pertanyaan Andre itu.
"Ada apa? Kamu sakit atau ada sesuatu?" tanya Andre khawatir.
"Oh ... itu, enggak ada kok." Dewi menjawab pertanyaan Andre begitu suaranya telah kembali normal.
"Kamu beneran enggak kenapa napa? Jangan membuatku khawatir," balas Andre tulus.
"Iya, ini sudah makan sama Adrian. Dia tadi pulang sekolah ngajak langsung main dan makan di luar. Maaf ya, aku enggak izin dulu. Soalnya enggak sempat pegang handphone," jelas Dewi.
"Iya. Aku seneng kalau kalian udah makan. Ini aku juga mau ngajakin Arman makan bareng sekalian mau ngobrolin rencana kita itu."
"Ah. Semoga berhasil, Kak. Semangat."
Andre tersenyum lebar mendengar semangat Dewi yang ditujukan kepadanya. Ia tidak pernah menyangka jika berteleponan dengan pasangan di sela waktu kerja malah menambah semangatnya. Selama ini Andre pikir kegiatan itu hany membuang waktu belaka. Berterima kasihlah kepada Arman.
"Me too."
Andre masih tersenyum bahkan setelah panggilan benar benar sudah diputuskan dan suara Dewi telah menghilang.
"Heh. Abis ngapain lu, senyum senyum begitu?" Suara Arman membuat Andre tergagap. "Abis sayang sayangan ya. Hahahaha." Arman pun tertawa terbahak melihat wajah Andre yang memerah. "Dasar aneh. nikah udah lama kelakuan kayak Abg. makanya, punya hubungan ntu dijaga. jangan berantem mulu bawaan kayak cewek PMS aja. Hahahah."
"Sialan, lu. Ini juga lagi diperbaiki hubungan yang hambar ini," aku Andre apa adanya. Memang tidak ada lagi yang perlu ditutupi di hadapan Arman. lelaki itu tahu betul bagaimana kondisi rumah tangga nya selama ini.
satu lagi. Hubungan Arman dengan istrinya sudah tentulah menjadi panutan Andre. Diam diam, Andre kagum dengan rumah tangga sahabatnya itu. Padahal usianya jauh di bawah usia pernikahannya dengan Dewi.
"Gue senang lu sudah menunjukkan banyak perubahan, Ndre." Arman menepuk pundak Andre dua kali lalu tersenyum tulus. "Ayok makan, sebelum istri gue nelpon lagi."
__ADS_1
"Udah bapak bapak masih kayak anak kecil lu. Makan aja kudu ditelponin berkali-kali," gerutu Andre.
"Namanya juga perhatian, Ndre. Gue juga gitu ke istri. lu juga harus gitu, Ndre."
"Iya iya."
Andre berjalan lebih dulu keluar kantor tempat mereka bekerja menuju restoran sederhana yang berada di seberang gedung itu.
Setelah memesan menu makan, barulah Andre memulai obrolan.
"Lu tahu kan, gimana kondisi keluarga Dewi sekarang. Dia yang diremehkan dan dinyatakan tidak mumupuni mengelola perusahaan pasca bokap masuk rumah sakit dan entah kapan akan keluar dari sana. Keadaan ini bisa dibilang sedang dalam kondisi kacau." Andre menghela napas panjang sekelebat bayangan Dewi membuat wajahnya sendu. "Jadi gue berencana ngajakin lu membangun perusahaan sendiri untuk masa depan anak anak kit kelak."
"Ha? gimana maksud lu?"
"Sebenarnya ini tawaran Dewi. menggunakan tabungan yang tersisa, dia ingin kita membangun perusahaan sendiri. Setelah Adrian dan David dewasa biarkan keduanya yang meneruskan."
"Tapi Dewi dan Amika bahkan sudah punya usaha, Ndre." Andre mengangguk mantap.
"Gue tahu. dan untuk usaha para nyonya nyonya itu bakalan akan kita ambil alih juga. kasian udah ngurusin bocah, harus ngurus usaha juga. sudah saatnya kita para lelaki yang ambil alih."
"Gue yakin ini adalah usulan Dewi. lu beruntung kan punya istri pintar begitu," sendiri Arman kemudian.
"Heh, lu. bukannya ngasih tanggapan gimana gitu dengan rencana ini. Malah terang terangan nyindir gue."
Arman tidak menanggapi protes itu. Ia lebih memilih untuk menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapan, dari pada semakin dingin karena tidak tersentuh dari tadi.
Pembicaraan keduanya pun berlanjut tentang usaha yang akan dirintis dan rencana resign dari perusahaan tempat mereka mengais rezeki.
"Iya, enggak mungkin kita keluar secara barengan. otomatis satu persatu, dong."
__ADS_1
Andre mengangguk mendengar pendapat Arman barusan. Lantas keduanya pun membuat janji untuk membicarakan masalah ini bertempat bersama para istri mereka.