
Di sebuah ruang karaoke, sepasang kekasih tengah asyik menyanyikan lagu cinta.
Entah bagaimana awalnya, bisa jadi karena rasa rindu yang menumpuk membuat keduanya saling melupakan masalah yang terjadi.
Kini, yang ada hanyalah nyanyian-nyayian yang menggetarkan hati untuk saling memuja. Kedua tangan saling bertautan erat seolah tak ingin terpisahkan.
Padahal, Andre ingin sekali bertanya dengan siapa Anggita pergi kala itu.
Saat pertengkaran mereka terjadi.
Saat Andre mengunjungi Anggita.
Namun, lihatlah sekarang. Pertanyaan itu seolah menguap entah ke mana. Mereka saling menatap dalam, dengan jemari yang saling meremas lembut. Menghantarkan segenap rasa cinta yang menggebu.
Dua lagu telah usai dinyanyikan. Namun, seakan tiada habisnya rasa itu ingin diungkapkan lewat kantin melodi.
Lantas, mereka pun menyanyikan lagu yang lain lagi. Sampai, waktu menunjukkan tengah malam. Akhirnya mereka berhenti karena kelelahan.
"Aku, lelah," ucap Anggita manja.
Mereka kini duduk di sofa, setelah menghabiskan satu lagi berikutnya.
Anggita meletakkan kepala di bahu Andre. "Aku kangen banget suasana begini."
Andre diam, tangannya sesekali mengelus sayang rambut Anggita.
Rasa itu masih sama, berdebar kala bersama. Dunia seakan miliknya berdua saat bersama Anggita.
"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu. Aku sangat ... merindukan saat-saat kita hanya berdua saja." Anggita terus meracau. Tangannya semakin bergerak liar.
"Sayang, jangan pernah pergi dariku. Aku -- aku tidak sanggup, sungguh." Air mata Anggita mulai mengalir membasahi pipi.
"Aku sangat mencintaimu, rasanya lama sekali menunggu satu tahun itu. Apakah tidak bisa segera berakhir saja?" Tumpah sudah air mata Anggita. Wanita itu terisak-isak.
Andre merasa iba, rasanya sakit sekali saat melihat Anggita menangis begini. Rasa bersalah itu, kini menyelimuti hatinya.
Andre mengurai pelukan Anggita di pinggangnya, lalu mengarahkan kekasihnya untuk saling berhadapan.
Andre menatap Anggita dalam, dapat dirasakan kepiluan wanita itu yang sangat jelas terlihat di kedua mata.
Andre menghapus air mata Anggita dengan kedua ibu jarinya. Lalu mengecup kelopak mata yang terpejam itu, secara bergantian.
Andre memundurkan wajah, menatap Anggita. Air matanya kini tak lagi mengalir.
Tiba-tiba, tubuh Andre menegang saat mendapati Anggita yang mengecup bibirnya.
__ADS_1
Sesaat, daging itu hanya menempel saja. Namun, kemudian berubah menjadi nafsu yang tak terkendali.
"Malam ini, aku ingin bersamamu." Goyah sudah hati nurani, saat godaan lebih besar dari bisikan "jangan."
Tanpa bisa dicegah, kedua insan yang sedang dimabuk kepayang itu pun sampai di kamar hotel.
Mereka masih berbagi napas, sampai menutup pintu. Satu per satu pakaian telah tertanggalkan. Hingga semuanya akan menjadi nyata.
Namun, tiba-tiba berkelebat senyum Dewi di depan mata. Merusak semua moment indah yang mulai terajut.
Andre limbung, menjatuhkan diri di ranjang dengan napas tersengal.
Rasa itu kini berbeda, begitu menyiksa. Rasa bersalah itu bagaikan batu besar yang menghimpit relung jiwa.
Senyum Dewi begitu jelas tercipta.
Andre kehabisan akal menepis bayang wanita tambun itu.
Lantas, Andre pun segera beringsut dari ranjang, meraih pakaian yang terserak.
Sedangkan Anggita, merasa sesak karena gelora di dada belumlah tertunaikan. Dia merasa sangat frustrasi. Untuk pertama kalinya, sang primadona mendapat penolakan dari seorang lelaki.
Yang lebih menyakitkan, justru Andre lah yang telah menolak Anggita.
"Andre ... Andre ... tolong jangan seperti ini, Ndre." Anggita merintih, memohon belas kasih dari lelaki yang dicintai.
Kemudian, Andre memutuskan untuk meninggalkan Anggita yang bersimpuh di lantai tanpa busana. Dia tidak lagi menoleh ke belakang, tak mampu memandang kekasih yang tampak menyedihkan.
"Andre ... jangan tinggalkan aku Ndre." Pintu tertutup rapat, Andre telah menghilang.
Anggita menjerit histeris. Meneriakkan nama Andre berulang kali.
Di tengah keputusasaannya, Anggita meraih ponsel menghubungi seseorang yang diyakini akan peduli.
Sesampainya di luar hotel, Andre hilang arah. Dia duduk di pinggir jalan, pandangannya lurus ke depan dengan pikiran yang kosong.
Lama Andre duduk di sana. Setelah pikirannya dirasa tenang, dia mencoba mengubungi Anggita. Namun, tidak diangkat.
Berulang kali Andre menghubungi, tetap tidak diangkat. Sampai, hanya terdengar suara operator tanda ponsel wanita di seberang sana mati.
Andre menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Kemudian, melangkah kembali menuju kamar tempat mereka tadi.
Sesampainya di pintu kamar, Andre berdiri cukup lama. Bingung harus berbicara apa saat bertemu dengan Anggita. Lantas, dia pun mengurungkan niat untuk mengetuk pintu tinggi itu. Tangannya hanya menggantung di udara.
Kemudian, Andre pun kembali. Menuju parkiran, mengambil motor yang terparkir di sana. Lalu melesat membelah jalanan yang lengang, karena malam telah sangat larut.
__ADS_1
Sesampainya di kontrakan, Andre langsung merebahkan diri di kasur. Tidak memperhatikan sekeliling. Dia mengira jika Dewi tidur di luar, karena menunggunya pulang.
Andre memejamkan mata, ingin menghalau rasa bersalah kepada dua wanita yang kini hadir dalam kehidupannya.
Sebenarnya, Andre sendiri saat ini merasa belum siap untuk bertemu Dewi.
Mengabaikan rasa yang berkecamuk dalam dada, Andre terlelap hingga pagi menjelang.
"Dew, handuk aku di mana?"
Pagi menjelang, Andre merasakan tubuhnya terasa lengket. Dia ingin segara mandi, membersihkan diri.
Namun, mencari handuk tak jua ketemu.
"Dew, handuk aku di mana?" Merasa belum mendapatkan tanggapan dari Dewi, Andre mengulang pertanyaannya.
"Dewi!" Sialnya, Dewi tidak juga menyahut panggilannya.
Andre keluar kamar, mengecek ke ruang depan. Kalau saja Dewi masih terlelap. Walaupun dia sendiri tidak yakin, karena biasanya wanita itu telah bangun di jam segini.
Andre tercengang, saat mendapati ruangan itu kosong.
"Dewi!" Andre berjalan menuju dapur, Dewi tetap tidak ada.
Andre baru menyadari, jika rumah kecil ini sunyi. Tidak ada suara apapun. Melupakan keinginannya untuk mandi, lelaki itu berjalan ke depan. Kepalanya melongok, melihat ke depan kalau saja ada Dewi yang mungkin lewat.
Sampai lebih dari tiga puluh menit, sosok Dewi tidak juga muncul di hadapan.
Rasa khawatir menelusup di dada, menanti Dewi yang tak pulang-pulang. Lantas, Andre pun masuk ke dalam meraih ponsel di nakas. Mengubungi Dewi. Tidak ada jawaban.
Andre kehilangan akal, pikirannya seolah buntu tidak dapat mencari kemungkinan ke mana perginya Dewi sekarang.
Andre keluar rumah. Setelah mengunci pintu, dia pun berjalan menyusuri jalanan yang padat penduduk. Matanya menatap awas pada setiap warung yang ditemui. Menelisik ke dalam jika saja ada Dewi di sana, sayangnya sampai beberapa warung terlewati sosok tambun yang dicari tidak ditemukan.
Entah sejauh apa Andre berjalan, sampai lututnya mulai terasa pegal. Dia berhenti di warung yang menjual bubur ayam. Dia ingat, jika Dewi menyukai makanan lembek itu.
Perut Andre meminta jatah untuk diisi. Setelah menghabiskan semangkok bubur ayam di tambah satu bungkus untuk dibawa pulang. Andre pun kembali.
Sesampainya di kontrakan, sebuah mobil telah terparkir di halaman.
Andre bergegas masuk, di dalam dia mendapati Amika dan Arman tengah berbincang di ruang depan.
Tanpa menyapa keduanya, Andre segera masuk mencari Dewi yang ternyata tengah di dapur menyeduh teh. Wajahnya tampak pucat.
"Kamu dari mana saja, aku kebingungan mencarimu?!" Andre bertanya dengan suara tinggi.
__ADS_1
Dewi melongok mendapatkan pertanyaan Andre.