
Andre memaksa Dewi untuk makan siang bersama. Sekuat tenaga Dewi menolak ajakan lelaki itu, sekuat tenaga pula Andre akan memaksanya untuk ikut. Memang tidak ada kekerasan yang dilakukan lelaki itu. Akan tetapi, tetap saja Dewi tidak lagi mampu menolak.
"Makan di dekat sini pun tidak masalah, Dew ... aku hanya ingin makan siang bersama kamu, istriku. Apa itu salah?"
"Kamu tahu, Kak. Laki laki yang sering menebar rayuan itu mencurigakan," cibir Dewi.
"Kamu mencurigaiku, Dew?" Andre memicingkan kedua matanya. Merasa penasaran dengan apa yang baru saja didengarnya.
Bibir Dewi terkatup rapat, merasa sudah keceplosan bicara.
"Tanyakan langsung padaku. Aku pasti akan menjawab apa pun yang kamu tanyakan," ujar Andre sungguh-sungguh.
Dewi berdecak, ada rasa tak percaya dalam dirinya atas apa yang baru saja didengarnya. Apakah mungkin seseorang akan dengan mudah membongkar rahasia dirinya?
"Ada apa denganmu, Dew? Kita makan dulu, setelah makan kita bicara." Andre merangkul bahu Dewi.
Dewi berusaha memberontak, tetapi tidak kuasa melawan tenaganya Andre.
Andre mengajak Dewi masuk ke lift. Untung saja kotak besi itu kosong, membuatnya leluasa melakukan sesuatu kepada istrinya itu.
"Lepaskan aku!" seru Dewi jengkel.
"Ada apa denganmu, Sayang?" Andre masih berusaha sabar menanggapi kekesalan sang istri.
Andre kembali membabat jarak mereka. Hingga keduanya kehabisan napas, barulah lelaki itu merentang jarak.
Dewi menunduk, merasa kesal sekaligus malu secara bersamaan. Saat marah begini, bisa bisanya ia diperdaya oleh lelaki itu.
Andre terlalu lihai meluluhkan hati Dewi, atau mungkin lelaki itu memang sangat lihai dalam meluluhkan hati wanita.
Andre menangkup kedua pipi Dewi, mendongakkan kepala wanita itu agar membalas tatapannya.
"Di sini bukan tempat yang tepat untuk kita bicara. Sebaiknya kita makan dulu, atau kamu mau kita ke hotel?" tanya Andre sungguh-sungguh.
Dewi kembali menundukkan wajah, tetapi Andre juga kembali mendongakkan wajahnya agar membalas tatapan lelaki itu.
"Aku sedang berbicara. Balas tatapanku, jangan menunduk." Andre menghela napas kasar lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Sekarang aku tanya, kita mau bicara di mana?"
Dewi menggeleng pelan, ia enggan mengatakan apa pun.
"Apa kamu sudah tidak menganggap ku sebagai suami?" tanya Andre penuh penekanan.
Dewi tersentak lalu mendongak menatap lelaki di hadapan.
__ADS_1
"Kenapa bertanya begitu?" tanya Dewi tak enak hati.
"Kamu sering memendam perasaanmu sendiri, Dew. Aku ...." Perkataan Andre terhenti saat pintu besi terbuka. Lantas, lelaki itu pun menggenggam erat tangan Dewi dan menarik perempuan itu untuk segera keluar.
Sesampainya di parkiran, Andre mengajak Dewi ke mobilnya.
"Aku bawa mobil sendiri," gumam Dewi menolak ajakan Andre.
"Apa kamu terus akan mendebatku, Sayang?" tanya Andre penuh penekanan. Sebenarnya, itu bukanlah pertanyaan melainkan sindiran.
Dewi cemberut, lantas mengikuti langkah suaminya itu menuju mobil lelaki tersebut.
Setelah memasang sabuk pengaman untuk istrinya, Andre melajukan mobilnya dengan tenang.
"Apa ada restoran yang ingin kamu kunjungi?" tanya Andre seraya menoleh sebentar ke arah Dewi.
"Enggak," balas Dewi tanpa minat.
"Baiklah, kalau begitu kita makan di kamar hotel saja." Andre berujar pelan sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Terserah," balas Dewi ketus. Lantas, ia memalingkan wajah menghadap jendela kaca samping. Pemandangan di jalanan lebih menarik hatinya.
Andre memilih hotel yang terdekat dari rumah sakit. Ia memesan kamar lalu mengajak Dewi masuk.
Setelah memesan makanan, Andre masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah pelayan itu pergi, Andre menyiapkan piring dan sendok untuk istrinya tersebut. Mengajak wanita yang masih duduk di pinggir ranjang itu agar segera makan.
"Ayolah! Setelah ini kita bicara." Andre mendesah melihat Dewi tidak memberikan respons atas ucapannya. "Apa mau aku gendong, hm?" tanya Andre kemudian.
Dewi berdecak kesal, ia mengentakkan kaki menuju sofa di ruangan itu. Hanya ada satu sofa panjang dengan satu meja di sana, membuat Dewi tidak bisa menolak untuk duduk di samping lelaki itu.
"Kamu tidak ingin mengambilkan nasi untukku, Sayang?" tanya Andre lagi.
Dewi pun mengambilkan nasi untuk suaminya itu, tidak lupa beserta lauknya.
Dewi heran sendiri, ada apa dengannya? Kenapa dirinya bisa sekesal ini kepada Andre. Padahal, dari tadi lelaki itu sudah berusaha untuk berdamai dengannya.
Andre tampak tenang menikmati makanannya. sedangkan Dewi merasa gelisah dan tidak bernafsu untuk menghabiskan makanannya.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Dewi lalu meletakkan sendoknya di piring yang masih penuh.
"Ada apa? Makananmu saja belum kesentuh." Andre khawatir melihat keadaan istrinya itu.
__ADS_1
Setelah Dewi masuk ke kamar mandi, Andre pun berencana untuk menyusul wanita itu. Akan tetapi, suara nada dering dari ponsel istrinya mengurungkan niat Andre.
Andre berjalan menghampiri ranjang, mengambil tas lalu merogoh di bagian dalam. Sebuah benda pipih tengah menyala layarnya menampilkan nama kontak asing bagi Andre.
Kening Andre berkerut kerut, dengan pikiran bertanya tanya. Siapa Bima itu?
Andre menjawab panggilan tersebut saat dering kedua berbunyi. Ia tidak langsung besuara melainkan mendengarkan lebih dulu suara dari seberang sana.
"Dew, maafkan aku karena menghubungi kamu lebih dulu. Sebenarnya, ingin nanti-nanti saja, tapi aku enggak bisa menahannya."
Hening sejenak. Lantas, Bima melanjutkan kata katanya, "Apakah kita bisa bertemu lagi?"
Andre mengepalkan tangannya sampai tampak buku-buku di kulitnya itu.
"Anda siapa?" tanya Andre tajam.
"Ha? Oh. Apakah benar ini nomor Dewi? Apakah saya salah sambung?" tanya Bima gelagapan.
"Saya tanya Anda siapa?" tanya Andre lagi.
"Saya teman Dewi. Kebetulan baru saja bertemu, dan kami bertukar nomor. Dan ...."
"Ada perlu apa ingin bertemu lagi dengan istri saya?" Andre menekan suaranya pada kata terakhirnya.
"Saya hanya ingin bertemu saja. Hm, kalau begitu ... terima kasih, Pak. Sampaikan salam saya kepada Dewi."
Andre baru saja ingin mengumpat, tetapi Bima sudah lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya.
Dewi keluar dengan perasaan bingung melihat raut tegang di wajah Andre.
"Ada apa?" tanya Dewi mendekati suaminya itu.
"Siapa Bima?" tanya Andre. Tampak sekali jika lelaki sedang menahan marah.
"Bima?" gumam Dewi pelan
"Iya, Bima. Dia tadi menelepon untuk bertanya kapan kalian akan bertemu lagi?" Andre menjawab frustrasi
"Dia temanku. Kami sudah lama tidak ketemu ...."
"Tapi dia bilang kalau kalian baru saja bertemu. Dan dia tidak tahan untuk segera bertemu denganmu lagi."
"Dia bilang begitu?"
__ADS_1
"Iya. Jadi siapa Bima sebenarnya? Kenapa dia sampai tidak bisa menahan diri untuk bertemu denganmu?"
Dewi mengerjapkan mata. Merasakan jika lelaki di hadapannya ini tengah cemburu.