
Andre bernapas lega melihat Dewi menyukai design rumah pilihannya. Awalnya ia memang berniat jika bulan depan baru membeli rumah itu. Akan tetapi, desakan dan dorongan Arman-lah yang mengubah keputusannya hingga ia mempercepat proses tersebut.
Mungkin Dewi belum menyadari jika kendaraan roda dua Andre telah berganti, atau wanita itu memang belum sadar tidak melihat motor iti tadi pagi. Entahlah. Ya, kendaraan tersebut di tukar dengan yang lebih terjangkau dan terkesan butut. Toh, Andre juga tidak akan membawa istri dan calon anaknya mengendarai motor, kan? Ia biasa memesan taksi online jika pergi bersama. Selain karena alasana tidak nyaman, Andre juga khawatir jika Dewi kelelahan duduk di belakangnya.
Dewi tidak banyak bertanya tentang bagaimana Andre bisa mendapatkan rumah tersebut. Rumah minimalis di kawasan perumahan yang tentu saja tidak elit,cenderung sederhana. Namun, ia tahu bahwa ada kenyamanan dan ketulusan yang ada di dalam sini. Ah, satu lagi kerja keras suaminya.
“Aku suka,” ungkap Dewi memutus hening keduanya yang tengah berdiri di salah satu ruangan yang akan menjadi kamar mereka.
“Terima kasih. Maaf, jika masih jauh dari kata layak untukmu,” balas Andre dengan tatapan lekat. Lelaki itu mengunci pandangan mereka, membuat Dewi tak berkutik.
Tiba-tiba, Dewi merasa gugup. Rupanya, sesuatu yang diberikan dengan usaha yang berat sangat berarti di hatinya. Ia tahu, bagaimana seorang Andre bekerja keras untuk memiliki rumah itu.
Dewi tersenyum lalu mengangguk pelan. “Ini sangat istimewa bagiku.” Matanya kini tampak berkaca-kaca.
Andre melangkah lebar mendekati istrinya tersebut. Kedua tangan besarnya menangkup kedua pipi Dewi, ibu jarinya bergerak lembut menyeka air mata yang menitik ke pipi. Andre menggeleng pelan lalu berata lirih, “Jangan menangis.”
“Aku bahagia.” Dewi berkata dengan suara parau.
Andre pun mencium kening Dewi dengan penuh rasa sayang dan waktu hingga beberapa detik lamanya.
“Kita ke rumah sakit.” Dewi menggamit lengan Andre.
Andre pasrah saja kali ini, ia telah berusaha menolak untuk tidak menjenguk sang mantan. Namun, istrinya itu tetap bersikukuh ingin melihat bayi Anggita. Bahkan, pagi tadi pun Dewi telah bersiap dari saat matahari masih bersembunyia.
Andre bukannya tidak tahu dengan tingkah polah wanita hamil satu itu. Hanya saja, ia benar-benar enggan untuk ke rumah sakit. Selain karena tubuhnya lelah, Andre juga merasa tidak ada gunanya melihat kondisi Anggita dan bayinya, toh, Anggita juga sudah ada yang mengurusi. Namun, bujuk rayu Dewi membuatnya tak berkutik.
“Tidak apa-apa. Aku ingin melihat keadaannya dan juga bayi mereka.” Dan entah apalagi alasan yang diberikan Dewi agar mereka bisa menjenguk Anggita di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah berulang kali Andre berusaha untuk menolak, kali ini ia pasrah dengan keinginan wanitanya tersebut.
“Kita cari makan dulu, ya.” Sepertinya Andre masih berusaha mengulur waktu agar Dewi melupakan niatnya menjenguk Anggita.
“Tadi kan udah makan. Nanti sepulang dari rumah sakit kita saja kita makan ya.” Dewi telah memasang wajah manja yang membuat Andre luluh. Sepertinya usaha lelaki itu sia-sia.
Andre mengembuskan napas berat, lalu mengangguk lemah. Apalagi melihat Dewi yang sangat bersemangat keluar dari rumah baru mereka. Tidak lupa Dewi membeli buah-buah untuk dibawa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dan setelah bertanya di mana tempat Anggita dirawat. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang yang dituju. Satu tangan Andre membawa buah tangan yang dibawa mereka, satu tangan yang lain merengkuh bahu Dewi. Dewi pun melingkarkan tangannya di pinggang suaminya tersebut.
Setelah mengetuk pelan pintu ruangan yang tertutup itu. Andre dan Dewi saling bertatapan dan melempar senyum. Andre mengecup pelan kening istrinya, lalu mengedikkan dagu agar Dewi membuka pintu di hadapan mereka.
Di dalam ruangan itu, Andre dan Dewi disambut oleh Robi dan Anggita. Mereka saling melempar senyum. Entah mengapa, segala rasa yang bercokol di dada tiba-tiba melebur entah ke mana. Mungkin karena ada malaikat kecil di dalam ruangan tersebut.
Dewi langsung melepaskan diri dan berjalan cepat menuju box bayi.
“Hai!” Robi membalas dengan suara yang agak canggung.
“Gimana kondisi istri lu. Udah sehat?” tanya Andre kepada Robi.
Tubuh Robi tampak tegang, tetapi perlahan lelaki itu mengubah ekspresinya menjadi santai melihat Andre yang tersenyum.
Dewi tersenyum menyapa Anggita. Tidak ada suara di antara keduanya. Dewi terlihat tenang dan santai, sedangkan Anggita tampak menampilkan ekspresi serius dan terlihat gugup.
“Bisa kita keluar saja. Biarkan kedua wanita ini yang menunggu anak kami.” Robi berkata pelan membalas pertanyaan Andre.
“Sayang, sebentar ya, aku keluar dulu sama Robi.” Andre meraih tangan Dewi, menarik pelan agar mendekat kepadanya, lalu mencium pucuk kepala wanitanya itu.
__ADS_1
Dewi mengangguk, satu tangan Andre terasa mengelus pelan di perutnya.
“Gimana kabar lu?” tanya Andre memecah kebisuan di antara mereka. Keduanya kini tengah duduk di kantin rumah sakit.
Andre dan Robi sama-sama memesan kopi.
“Sorri atas semua yang pernah gue lakuin ke elu.”
Andre mengerutkan dahi mendengar pengakuan Robi. Ada yang berbeda dengan lelaki itu, dia tampak lebih tenang.
“hm. Sama-sama.” Andre membalas pelan lalu menyesap kopinya. “Kemarin lu ke mana sampai Anggita menghubungi gue?” tanyanya kemudian.
“Gua lagi ada urusan pekerjaan di luar kota. Hp mati dan begitulah ... sayangnya pas lu nelpon gua langsung emosi. Sekarang setelah bayi itu lahir, gua semakin ngerasa kalau mereka sangat berarti dan masalah kita harus selesai. Gua ingin keluarga gua tenang enggak lagi ngeributin hal yang enggak penting lagi. Ada anak yang harus dijaga perasaannya sekarang,” ungkap Robi.
“Wah, gua salut sama lu. Lu udah menjadi bapak yang dewasa,” kelakar Andre.
“Sialan lu. Gua serius.” Robi meninju ke udara.
“Eh, Bro. Gua mau kasih tahu, kalau motor itu gua jual untuk nambahin bayar rumah,” ujar Andre seraya terkekeh.
“Serah lu. Motor-motor lu. Enggak nyesel kan menang taruhan.”
“Kalau hadiahnya kayak Dewi siapa yang bakal nyesel. Disayang terus.” Kedua lelaki itu tertawa bersama. “Selama ini gua hanya melihat seseorang secara fisik doang. Padahal fisik tidak menjamin apa yang ada di dalam hatinya. Yang jelas, Dewi itu wanita istimewa—
“Yang bisa menggeser nama mantan,” goda Robi.
“iya. Dan mantan gua sudah jadi bini orang.” Lagi-lagi keduanya kembali tertawa, seperti tidak pernah ada masalah yang pernah terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Ya, kenangan memang tidak bisa dilupakan dengan mudah. Namun, Andre tahu ia bisa mengukir kenangan baru bersama keluarga kecilnya. Dewi selalu setia berada di sampingnya dengan perasaan tulus, dan ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu lagi.