Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 31. Terkejut


__ADS_3

Jawaban dari Dewi membuat Andre terkesiap. Rasanya bercampur menjadi satu, antara terkejut, bahagia dan perasaan tidak percaya. Ah ya, satu lagi rasa yang paling mendominasi dalam hatinya. Apa yang bisa dia maknai ketika daging dalam dada seakan teremas kuat? Pun dalam satu waktu seperti teriris pisau tajam?


Andre tak mampu memberi makna pada hatinya. Sebab dia terlalu sibuk memikirkan kata "tidak" yang terucap dari lisan istrinya.


Menyadari satu hal, Andre bertanya dengan ragu. Walaupun sebenarnya dia khawatir tidak bisa mengontrol diri saat mendengar jawaban Dewi nanti. Bagaimana seorang Andre menjadi lelaki brengsek yang selalu menyakiti hati Dewi.


"A-apa aku juga yang menjadi alasanmu kuliah di kampus itu?" tanya Andre dengan mata yang menatap lekat pada wanita di hadapan yang tertunduk dalam.


Dewi mengangguk lemah.


Jawaban Dewi berhasil melucuti hati Andre dari kenyataan yang terpampang jelas di depan mata.


'Seberapa dalam kamu mencintaiku, Dewi?' tanya Andre frustrasi.


"Lalu, apakah kamu telah menyadarinya dari awal jika pernikahan ini hanya sebagai ajang taruhan?"


Sebenarnya, tidak perlulah Andre menanyakan ulang pertanyaan itu. Sebab dia telah tahu jawabannya.


Dewi mengangguk lagi. Namun, kali ini diiringi buliran bening yang mengalir di kedua pipi.


"Lalu, apakah kamu juga tahu jika aku menjalin hubungan dengan Anggita. Mencintai wanita itu?"


'Ah, bodoh!' Andre merutuki dirinya sendiri. Betapa pertanyaan itu sangat menyakitkan untuk didengar oleh seorang istri, apalagi jika istri tersebut sangatlah mencintai suaminya.


Di mana hatimu, Andre?


"Lupakan pertanyaan itu."


Dewi mengangguk berulang kali. Dengan cepat mengusap matanya yang basah sampai tak berbekas.


Kemudian Dewi mendongak membalas tatapan Andre dengan rasa penuh ketegaran. Bukankah dia harus menerima setiap konsekuensi dari keputusan yang sudah dipilih?


Dewi telah memilih Andre. Dia sangat tahu akan rasa sakit yang kelak diterimanya. Namun, tetap bertahan pada kondisi itu. Bahkan masih mencintai lelaki di hadapan dengan segenap ketulusan yang dia miliki.


"Iya, Kak. Dan, Kakak tidak perlu merasa bersalah pada setiap keputusan yang aku ambil. Ini adalah hidupku sendiri," ucap Dewi meyakinkan lebih pada diri sendiri.


"Bagiku, bisa mencurahkan rasa cinta yang aku punya pada lelaki itu adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggan. Dulu, aku pernah bertekad akan membalas pertolongannya padaku. Mungkin inilah caranya, sampai batas pernikahan kita berakhir," lanjut Dewi.

__ADS_1


Perkataan Dewi bagaikan sembilu bagi Andre. Entah untuk alasan apa kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu untuk pertama kalinya Andre menyangkalnya.


Entah sejak kapan pula Andre ingin hidup lebih lama bersama Dewi, karena alasan nyamankah, atau hanya sebuah kebiasaan. Andre telah terbiasa dengan kebiasaan Dewi dengannya. Setiap pagi, saat matanya terbuka untuk pertama kali, pemandangan wajah istrinya yang menjadi hal pertama dirindukannya.


Andre bergerak merubah posisi agar tubuhnya lebih mendekat pada tubuh wanita di hadapan. Meraih kepala Dewi untuk mendekat padanya. Lalu, menempelkan kening keduanya.


"Entah sejak kapan aku terbiasa hidup denganmu. Rasanya, setiap hari menjadi awal yang baru bagi hidupku. Kamu telah berhasil masuk dan merubah kebiasaan pagiku," aku Andre.


Tubuh Dewi menegang, selalu seperti ini saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Andre. Dia berubah menjadi gadis remaja yang baru pertama merasakan jatuh cinta.


Walaupun sebenarnya, Dewi menyadari bagaimana hidupnya kedepan bersama Andre. Jika mereka tidak akan baik-baik saja nantinya. Namun, saat seperti ini menjadi saat yang membahagiakan baginya.


Seringkali Dewi menepis prasangka buruk yang mendadak hinggap di pikiran. Jika sampai saat ini, Andre masih memandangnya sebagai istri hasil taruhan saja. Namun, lagi-lagi perasaan bahagia yang berkembang hebat di hati mampu melumatkan prasangka buruk itu.


Dewi lagi-lagi tersentak kaget, saat Andre meraih tengkuknya. Membabat jarak bagi keduanya, sampai kesulitan bernapas.


Andre memberi kesempatan untuk paru-parunya meraup udara di sekitar. Saat ini, pasokan oksigen di sini seakan semakin menipis. Tentu saja dia membutuhkan napas bantuan.


Andre tersenyum, melihat kedua bibir Dewi yang membengkak. Membuatnya ingin memakannya tanpa sisa.


"Apa perutmu masih sakit?" Di tengah ciuman mereka, Andre mengingat sesuatu bahwa Dewi sedang tidak dalam kondisi baik.


Andre menghela napas kecewa. "Baiklah. Aku akan menahannya sampai besok," ucapnya kemudian yang membuat wajah Dewi berubah merah seperti kepiting rebus.


"Istirahatlah." Andre berujar pelan seraya melepaskan tangannya dari kepala Dewi.


Siapa sangka, jika Dewi malah menahan tangan Andre dengan ciuman panjang.


"Apa ini sebagai isyarat jika kamu baik-baiks saja," ucap Andre dengan napas tersengal.


Dewi mengangguk, lalu mengulum senyum. "Lakukan apa yang menjadi keinginanmu. Sepertinya aku akan baik-baik saja."


"Apa kamu yakin?" tanya Andre khawatir.


"Ya." Jawaban singkat dari Dewi mampu membuat pikiran Andre buntu.


Tanpa pikir panjang lagi, dia menerkam Dewi penuh kelembutan. Menumpahkan segenap rasa yang dia miliki, dalam kegamangan ada satu hal yang Andre yakini bahwa saat ini dia sangat menginginkan Dewi seutuhnya.

__ADS_1


Ya, Dewi adalah miliknya.


***


Tampaknya, setelah beberapa hari berlalu. Kesehatan Dewi bukannya membaik, malah semakin menurun. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya?


Rasa pusing disertai lelah akut membuatnya kesulitan bergerak bebas. Padahal, Dewi harus mempersiapkan diri menjalani magang di kantor sang papa.


Namun, rasanya tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Apalagi, selain kuliah dan magang, Dewi harus mengurus toko pakaiannya.


"Mungkin karena aku kelelahan saja," gumamnya meyakinkan diri.


Saat ini, Dewi tengah memeriksa stok pakaian yang masuk. Lalu mengawasi mengawasi kerja pegawai sembari memasang iklan di media sosial. Tak bisa dipungkiri jika penjualan online mengalami peningkatan drastis.


Para pelanggan sekarang lebih suka pesan via online daripada harus datang langsung ke toko.


Walaupun masih ada yang datang langsung demi memeriksa ukuran baju yang mereka sukai, dengan alasan kurang puas jika tidak melihat barang secara langsung.


"Lu tampak pucat, Wi." Teguran Amika menghentikan kelincahan jari Dewi pada layar ponsel.


Dewi mendongak, dengan ekspresi penuh tanya.


"Lu, tampak pucat. Lagi gak sehat, ya? Mau periksa?" tanya Amika lagi.


"Oh itu, kelelahan aja kayaknya."


"Begadang terus, sih ...."


"Eh, itu ... gua sibuk urus kampus, tuh."


"Iya-iya, gua percaya. Tenang aja."


Dewi menunduk, pura-pura menekuri ponsel demi menyembunyikan malu karena godaan Amika.


"Eh gimana hubungan lu sama Kak Arman?" tanya Dewi mengalihkan pembicaraan.


"Kita mah, baik-baik aja. Kalian tuh, yang harus ditanyakan. Gimana kabar suami lu sama wanita simpanannya?"

__ADS_1


"Enggak tahu. Aku enggak lagi lihat mereka berdua, Kak Andre juga kayaknya udah lama enggak nerima telepon dari Anggita. Dia ke mana, ya?"


Amika mengedikkan kedua bahu. "Bagus dong, moga aja wanita itu enggak bakalan balik lagi."


__ADS_2