
'Bagaimana Dewi menjaga cintanya selama ini?' Pertanyaan itu tiba-tiba hadir dalam benak Andre.
Menyadari jika selama itu pula, dia tidak terlalu mengenal Dewi kala itu.
'Bagaimana bisa?'
Andre mengacak rambut frustrasi, lalu menjambaknya kuat. Berharap agar otaknya yang tumpul mampu menjahit kenangan yang mungkin saja telah terkoyak di antara mereka.
Menyadari jika sedari tadi belum keluar dari kamar mandi, Andre segera bergegas menuju pintu. Mengetuknya pelan.
"Dew! Kamu masih di dalam?" Tidak ada sahutan dari dalam, membuat hati Andre kebat-kebit. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istrinya tersebut.
Dengan tidak sabar, Andre kembali mengetuk pintu kamar mandi lebih kuat.
"Dew!" gusar Andre.
"Hmmm." Hanya gumaman yang terdengar dari dalam.
"Apa yang terjadi?" Saat Andre bersiap akan mendobrak pintu, saat itu pula pintu tersebut terbuka lebar. Menampilkan sosok yang tengah dikhawatirkan.
Tanpa aba-aba, Andre langsung menarik tubuh Dewi dalam dekapan erat.
"Kamu membuatku khawatir?" Dapat dirasakannya dengan jelas, jika saat ini tubuh Dewi menegang kaku dalam dekapannya.
Mengabaikan keterkejutan istrinya, Andre menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Dewi.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lirih.
"Sepertinya, aku ada salah makan. Perutku sakit, dan ... rasanya ingin muntah," jelas Dewi.
Andre mengurai pelukan mereka. Lalu memindai wajah pucat Dewi.
"Jadi, di dalam lama ngapain aja?" tanyanya penuh selidik.
"Mau buang air, tapi enggak mau keluar. Setiap berdiri, perutnya mulas, pinggang juga sakit banget. Kecapekan duduk kayaknya," kekeh Dewi.
Andre mengacak gemas rambut Dewi. Entah sejak kapan, wajah wanita di hadapan ini tampak lebih cantik dari biasanya.
Apa karena wanita itu tidak segemuk biasanya? Atau, cinta itu kini mulai tumbuh di hati Andre?
Entahlah, Andre sendiri bingung memaknai perasaannya bagaimana.
Kalau soal berat badan, lelaki itu memang awalnya tidak menyukai Dewi. Namun, lambat laun nyatanya dia tak lagi mempermasalahkan. Bahkan, penyatuan mereka untuk pertama kali pun bukan karena postur tubuh.
Andre merasa terpesona oleh senyuman Dewi yang menggemaskan. Betapa wanita itu menjadi cantik berkali lipat saat berada dalam mode senyum.
Rasanya, Andre ingin selalu memandang Dewi dalam senyuman yang indah. Ah, jika saja waktunya bisa terhenti sehari saja untuk memandang senyum manis itu, tentu lelaki itu mau melakukannya.
__ADS_1
"Kak." Desisan Dewi membuyarkan lamunan Andre.
Andre tampak salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kak," ulang Dewi karena tidak mendapat respon dari Andre.
"Ya?" tanya Andre kikuk.
"Sampai kapan kita akan bertahan pada posisi ini?"
"Hah? Oh ...." Andre melepaskan pelukannya, lalu berjalan menggandeng tangan Dewi ke ranjang.
Andre telah lebih dulu naik ke ranjang dan bersandar di kepala ranjang. Lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelah kanannya.
Dengan malu-malu, Dewi menuruti keinginan Andre.
Lihatlah, wajah cantik itu. Kini bersemu merah hanya karena dipandang lekat oleh sang lelaki pujaan.
Oh Tuhan! Betapa Dewi mendadak berubah menjadi gadis remaja yang pertama kali merasakan jatuh cinta.
Ah ya, bahkan rasa cinta itu berulang kali Dewi rasakan kepada lelaki yang sama sekian tahun lamanya.
"Kenapa?" tanya Dewi lirih, setelah duduk di samping Andre.
Andre menarik kepala istrinya agar bersandar di dada bidangnya. Tanpa disadari perlakuan dianggapnya sepele itu mampu membuat jantung kelojotan. Meronta-ronta ingin lompat keluar dari sarang.
"Kamu gugup?" goda Andre.
Dewi meringis malu. Lalu menghela napas pendek-pendek demi menetralkan degup jantungnya. Nyatanya, deru itu semakin menggila seiring mengetatnya rengkuhan tangan Andre di bahunya.
'Bolehkah jika aku terbangs sekarang dan tak kembali lagi? Biarkan aku damai dalam perasaan bahagia ini,' pikir Dewi.
"Dew, boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Andre ragu.
Dewi mendongak, menatap keseriusan di wajah Andre.
"Apa itu, Kak?" tanyanya bingung. Dewi menerka-nerka, adakah sesuatu yang disembunyikan Andre padanya? Atau, ini ada hubungannya dengan Anggita?
Mendadak hati Dewi seolah ada yang meremasnya kuat, sampai berdarah yang sayangnya tak terlihat oleh kasat mata. Wajahnya berubah muram, segelap malam tanpa cahaya sedikit pun. Bahkan bintang gemintang pun sedang enggan memunculkan diri, sebab mendung tengah bergerilya menguasai kegelapan langit. Bersiap menurunkan hujan badai.
Namun, mendung itu tampaknya langsung terlerai oleh hembusan angin.
"Jangan berpikir macam-macam," ucap Andre seperti tahu apa yang Dewi pikirkan. "Aku ingin bertanya tentang kisah kita. Maukah?"
"Kisah kita, apa itu?" tanya Dewi semakin penasaran.
"Sejak kapan, kamu mengenalku?"
__ADS_1
Pertanyaan Andre seketika menciptakan rona merah di wajah Dewi. Mendung di wajah itu kini pun berubah cerah.
"Ke-kenapa menanyakan hal itu?"
"Aku penasaran saja. Ayo katakan padaku," desak Andre.
"Sa-saat Kakak menjuarai kejuaraan atlit kala itu."
"Lalu?" tanya Andre antusias.
Sejenak Dewi tercengang, mendapatkan respons antusias dari Andre. Dia mengira, jika Andre hanya mengujinya atau malah lelaki itu akan menertawakan cinta monyetnya.
"Aku mengagumi Kakak. Apa Kak Andre ingat, perempuan berseragam olahraga yang Kakak bantu karena di goda laki-laki, di gang sempit?"
Andre mengingat-ingat kejadian beberapa tahun silam. Saat dia pulang sekolah, lalu mendengar jeritan di jalan sepi.
Tanpa pikir panjang, Andre mencari sumber suara. Ternyata ada seorang gadis tengah berusaha melepaskan diri dari tindakan tak senonoh yang dilakukan beberapa orang lelaki.
Dengan keahlian yang dimiliki. Andre berhasil melumpuhkan lawan dan menolong gadis itu. Kemudian mengantarkannya pulang dengan selamat.
"Apa itu kamu? Tapi, kenapa pulangnya tidak ke rumah ini justru ke rumah yang berbeda?" tanya Andre penasaran. Saat ini dia telah duduk bersila menghadap Dewi.
"Iya, itu aku." Dewi menunduk, menyembunyikan malu kepada Andre.
Tidak puas dengan jawaban yang diberikan. Andre menuntut mencari tahu.
"Lalu, tentang rumah itu?"
"Aku minta diantar ke rumah teman."
"Ah, pantas."
"Sejak saat itu, aku berlatih mengikuti kejuaraan seperti Kakak. Tapi mama tidak mengizinkan, membuatku frustrasi dan menghentikan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan atlit. Merasa marah dengan keadaan yang ada, aku makan apapun agar tubuhku penuh dengan lemak sampai tak mampu berlari kencang lagi."
"Terbukti itu berhasil, Dew," sela Andre.
"Ya, itu berhasil." Dewi mengangguk.
"Lalu, hmmm ... apakah sejak saat itu juga kamu telah jatuh cinta padaku?"
Pertanyaan Andre membuat Dewi terbelalak. Merasa dikuliti, bisa-bisanya lelaki itu ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaanya. Bagaimanapun dia adalah wanita yang pemalu.
Dewi menunduk dalam lalu mengangguk lemah.
"Ah, telah selama itu rupanya? Apakah kamu tidak pernah mencintai lelaki lain selain ... aku?"
Dewi mendongak, menatap mata Andre yang tengah menatapnya penuh harap.
__ADS_1
Entah ada apa di manik mata itu. Seperti rasa rindu, cinta, tak percaya semua bercampur menjadi satu.
Dewi menggeleng lemah. "Tidak," jawabnya berbisik.