
"Mau ke mana, Bro?" tanya Robi pada Andre.
Pasalnya, baru sebentar mereka bertiga ngumpul bertiga setelah sekian lama tidak melakukan kebiasaan itu lagi.
Baru bertemu sebentar , ternyata Andre sudah tidak betah. Ingin cepat-cepat pulang.
"Gua mau balik, Bro. Kasian Dewi di rumah, sendirian," ujar Andre. Dia berdiri, meraih jaketnya lalu dengan gerakan cepat memakai jaket tersebut.
Arman berdehem, lalu mengulas senyum tipis. "Pulanglah, jaga istri Lo baik-baik. Lagipula, emang gak baik, sih ninggalin istri di rumah. Sedangkan suaminya enakan nongkrong," kekeh Arman. Dia membayangkan jika telah memiliki istri, lebih tentulah lebih baik di rumah saja.
"Thanks, Bro," lirih Andre sembari menepuk bahu Arman.
Arman hanya terkekeh geli menerima tepukan itu, sedangkan Robi tersenyum kecut melihat kedua temannya.
Setelah berpamitan, Andre segera menuju parkiran. Mengambil motor kesayangan di sana. Lalu melesat membelah jalanan malam.
Sesampainya di rumah, ternyata Dewi menunggunya. Dengan mata terkantuk-kantuk, istrinya itu duduk di ruang tamu kepala bersandar di dinding. Kepala Dewi bergoyang ke kanan lalu ke kiri.
Melihat pemandangan itu, senyum tipis terbit di wajah Andre. Dia mendekati Dewi, mengelus pipi istrinya. Kalau saja kuat , ingin rasanya menggendong Dewi ke kamar. Namun, sepertinya adegan itu hanya ada dalam bayangannya saja.
Kenyataan bahwa Andre tidak akan mampu membopong tubuh Dewi yang lebih besar darinya, membuat Andre geleng-geleng kepala.
"Kalau saja badanmu itu kurus, aku ingin sekali menggendongmu," keluh Andre.
Tanpa disadari Andre, jika ucapannya itu didengar oleh Dewi.
Sebenarnya, Dewi telah bangun saat merasakan usapan lembut di pipinya. Hanya saja, dia enggan membuka mata.
Lantas, Dewi mengerjapkan mata setelah merasakan tepukan Andre di lengannya.
"Kak Andre sudah pulang?"
"Hmmm."
"Sudah makan belum, Kak?"
"Sudah. Lain kali, jangan tidur di sini."
"Maaf, tadi ketiduran nungguin Kakak pulang," balas Dewi dengan wajah memerah.
"Kamu bisa menelpon aku," ucap Andre.
Merasa tidak percaya pada pendengarannya, Dewi mendongak. Memastikan jika ucapan Andre itu benar adanya.
"Ya?" tanya Dewi meyakinkan diri.
__ADS_1
"Kalau aku belum pulang, kamu bisa telepon aku."
"Ah, ya ... makasih," lirih Dewi dengan senyum terkulum.
"Makasih untuk apa?" Andre bingung, rasanya tidak ada sesuatu yang dia lakukan. Sehingga harus menerima ucapan terimakasih dari istrinya tersebut.
"Makasih karena Kakak mau aku telepon," ucap Dewi malu-malu.
"Ya udah, ayo pindah ke kamar." Andre berdiri. Meraih tangan Dewi agar ikut berdiri juga.
Dewi membalas uluran tangannya, lalu ikut beranjak dari lantai ruang tamu. Suami istri itu bergandengan tangan melangkah menuju kamar tidur.
"Tidurlah, aku mau mandi dulu. Gerah." Andre membuka jaket, lalu mencantolkannya di belakang pintu.
Dewi bangkit dari kasur. "Biar aku siapkan air hangat untuk Kakak mandi."
Dewi melangkah melewati Andre uang sedang membuka pakaian.
Andre meraih lengan Dewi. Merasa heran dengan istrinya itu, tadi mengantuk dan terlihat wajah lelahnya. Namun, malah semangat ingin menyiapkan air hangat.
"Enggak usah. Kamu tidur saja," cegah Andre.
"Airnya udah ada di termos kok. Tinggal nuang aja ke ember. Biar Kakak enggak kedinginan."
Sejenak, Andre melongo mendengar penjelasan istrinya itu. Ternyata, wanita memang memiliki stok kekuatan yang tersembunyi saat melayani suaminya.
Dewi mengembangkans senyum. Senyum yang membuat Andre lagi-lagi terpana pada pancaran cahaya dari manik mata istrinya itu.
Andre berdehem, lalu mengusap tengkuk. "Pergilah!"
Dewi menarik lengannya dari genggaman Andre, lalu berjalan cepat menuju ruang belakang.
Setelah menyiapkan air hangat, dia pun kembali ke kamar. Menyiapkan pakaian ganti Andre, sementara suaminya itu mandi.
Andre tampak segar setelah keramas. Dia hanya mengenakan handuk dengan bertelanjang dada, dengan tangan memegang handuk kecil mengeringkan rambutnya yang basah.
Wangi sabun bercampur wangi sampo menguat memenuhi ruangan 3x3 meter itu.
Dewi tidak berkedip memandang Andre. Lelaki itu tampak dua kali lipat lebih tampan sebelum mandi tadi.
'Dia sangat tampan,' batin Dewi.
"Kamu belum tidur?" Pertanyaan Andre seolah menangkap basah Dewi yang sedang memperhatikannya tanpa kedipan mata.
Dewi tampak kikuk, lalu buru-buru memutus kontak. Dia menatap lantai, demi mengurangi gugup yang mendera. Jantungnya seolah berlompatan ingin keluar. Ah, entah mengapa begini? Bahkan ini terjadi sekian tahun lamanya.
__ADS_1
Jantung Dewi akan berdegup lebih kencang saat menatap wajah Andre. Herannya , setelah beberapa bulan hidup bersama, pesona Andre semakin membuat jantungnya belingsatan.
Dewi mengatur napas, mencoba mengontrol degup jantung yang malah semakin menggila. Sebab, Andre seolah tengah menatapnya menggoda.
"Kok malah bengong, sih? Kamu kenapa belum tidur?" tanya Andre lagi.
Saat ini suaminya itu berdiri menjulang di hadapan. Dengan binar penuh minat pada Dewi.
Susah payah Dewi menelan ludahnya, rasanya suaranya itu tercekat di tenggorokan tanpa mampu dikeluarkannya.
Dewi berdehem pelan. "A-aku nungguin Kak Andre," lirihnya kaku.
"Nungguin aku? Kenapa?" goda Andre.
Andre membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Dewi yang sedang duduk. Akhir-akhir ini dia sangat menikmati rona wajah yang menghiasai wajah istrinya saat gugup begini.
"Ka-karena ... karena ... untuk ...."
Merasa gemas, Andre mengecup bibir Dewi singkat. Lalu mengulum senyum, melihat wajah Dewi yang telah memerah seperti kepiting rebus.
Mata Dewi membulat sempurna menerima serangan dadakan dari suaminya tersebut.
Bukannya berhenti menggoda. Andre malah melakukan aksinya lagi. Kali ini lebih lama dan dalam.
Dewi memejamkan mata, menikmati sentuhan benda kenyal itu di bibirnya. Lembut dan menuntut.
Andre menarik wajahnya, saat merasakan dirinya telah kehabisan napas. Lalu mengusap bibir merah yang bengkak milik Dewi dengan ibu jarinya.
"Kalau kamu menggemaskan begini, aku tidak bisa menahan diriku sendiri. Kamu harus tanggungjawab," bisik Andre tepat di telinga Dewi.
Dewi tertunduk dalam. Dia tidak berniat menggoda suaminya. Namun, ternyata sikapnya yang polos memberi artis sendiri bagi Andre.
Tanpa pikir panjang, tanpa berganti pakaian. Andre melancarkan aksinya. Mengajak Dewi terbang tinggi.
Dewi hanya pasrah, menikmati setiap kebahagian yang Andre berikan padanya. Nyatanya, dia menjadi wanita yang merasa sangat beruntung karena bisa bersentuhan langsung dengan lelaki pujaan.
***
Pagi ini, jadwal Andre maupun Dewi sepertinya akan lebih padat dari hari sebelumnya.
Pasalnya, hari ini adalah hari pertama Andre bekerja di kantor ayah mertuanya. Walaupun sebagai staf karyawan biasa, Andre sudah sangat beruntung. Setidaknya, dia bisa menghidupi kebutuhan mereka sehari-hari dengan keringatnya sendiri.
Justru, jika langsung menerima tawaran ayahnya Dewi dengan bekerja sebagai atasan. Akan membuat Andre terbebani. Mengingat, ini adalah pengalaman pertamanya di dunia kerja.
Sedangkan Dewi, hari ini akan memulai kembali kegiatan olahraganya. Mengingat ucapan Andre semalam, membuatnya semakin bersemangat melakukan olahraga agar tubuhnya kembali langsing
__ADS_1
Saat ini, kebahagiaan Andre adalah tujuan utama bagi kehidupannya.