
Sejak saat itu, Dewi berubah. Sifat hangat yang biasa dia tampilkan kini membeku bak gunung salju.
Luka itu telah mengoyak pertahanannya. Meruntuhkan ego yang dia miliki. Dewi kecewa, sangat kecewa.
Pagi ini, tubuh itu semakin terasa ringkih. Entah berapa kali perutnya memuntahkan semua isi di dalamnya. Berulang kali bolak-balik keluar masuk kamar mandi. Mulutnya terasa pahit, membuatnya tak berselera memasukkan apa pun ke dalam mulutnya.
Andre kebingungan melihat kondisi Dewi. Berulang kali menanyakan keadaan istrinya, berulang kali pula menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya.
Andre benar-benar bingung dibuatnya.
Pikirannya terus mengembara, mencari tahu kesalahan apa yang telah dia lakukan. Sayangnya nihil, otaknya terlalu lelah untuk berpikir. Banyaknya pekerjaan berhasil menumpulkan pemikirannya tentang hal yang telah terlewat.
"Dew, please! Jangan begini, aku sungguh-sungguh sangat khawatir dengan keadaanmu," ucap Andre putus asa.
Lelaki itu mencoba meraih lengan Dewi untuk membantunya berjalan menuju kamar. Namun, Dewi selalu menepis pertolongannya.
Ditolak oleh seorang yang dikhawatirkan tentulah membuatnya kecewa sekaligus frustrasi.
"Kita periksa ke dokter ya ... badanmu panas begini?" Andre kembali berusaha mendekati Dewi. Tangannya terulur memegang bahu Dewi.
Dewi kembali memberontak, walaupun tubuhnya semakin lemah. Namun, dia tetao berusaha agar tak disentuh Andre.
Dewi sedang tidak ingin bersentuhan dengan lelaki itu.
"Aku enggak tahu salahku di mana sama kamu, Dew. Bicaralah. Kalau mau marah, marah saja padaku. Jangan begini. Jangan mengabaikanku seperti ini. Aku suamimu, bertanggung jawab penuh atas kesehatanmu," ucap Andre panjang lebar.
Dewi bergeming, tak lagi berusaha menepis rengkuhan tangan Andre di bahunya. Tubuhnya sudah sangat lemah, tak memiliki kekuatan lagi untuk memberontak.
Rasanya, hatinya juga mulai lelah. Selalu berperang melawan suaminya.
Andre memapah Dewi menuju ranjang. Lalu membantunya berbaring di sana.
Kemudian, Andre meninggalkan Dewi setelah menyelimuti tubuhnya. Tidak lupa meninggalkan kecupan di kening sang istri.
Di dapur, Andre sedang berusaha keras membuatkan bubur untuk Dewi.
Mengingat-ingat bahan dan proses yang pernah dia lihat saat Dewi memasak. Merasa putus asa karena tidak pandai dalam hal memasak, akhirnya Andre membuka ponsel melihat video pembuatan bubur. Ya ... setidaknya dia telah berusaha keras bukan?
Sedangkan di kamar, air mata Dewi kembali meleleh membasahi pipi. Rasa sakit di pinggang dan perut bercampur menjadi satu dengan rasa sakit di hatinya. Membuatnya tak henti menitikkan air mata. Betapa hidupnya selalu nelangsa dalam masalah cinta.
__ADS_1
Tampaknya, takdir baik belum mau menghampiri kehidupan percintaannya saat ini.
Dewi memejamkan mata, mungkin saja dengan begitu dukanya akan berkurang.
Akhirnya, bubur yang dibuat dengan susah payah jadi juga. Jangan tanyakan rasanya, karena Andre sendiri sangsi jika sesuai selera Dewi.
Namun, lelaki itu tetap optimis. Jika Dewi bakalan melihat kesungguhannya tidak menilai pada rasa yang sebenarnya.
Setelah meletakkan semangkuk bubur di nampan, Andre masuk ke kamar dan mendapati mata Dewi yang terpejam.
Sebenarnya, dia tak tega membangunkan Dewi. Namun, mengingat Dewi yang beberapa kali muntah. Andre pun memberanikan diri mengguncang pelan tubuh Dewi.
"Makan dulu yaa," bisik Andre tepat di telinga Dewi.
Dewi melenguh, kemudian mengerjapkan mata perlahan sebelum membukanya.
Andre membantu Dewi duduk bersandar kepala ranjang, tak lupa Andre memasangkan bantal di belakang punggung Dewi agar duduk dengan nyaman.
"Aku suapin ya," ucap Andre sembari mengambil mangkuk.
"Makan sendiri aja," tolak Dewi dengan suara lemah.
"Kakak harus kerja 'kan? Biar aku makan sendiri." Tampaknya, Dewi masih berusaha untuk menolak kebaikan Andre.
Andre berdecak kesal. "Aku enggak mungkin bisa ninggalin kamu sendirian begini. Sekarang kamu makan, aku suapin."
Andre mengulurkan sendok yang berisi nasi ke mulut Dewi. Namun, Dewi masih bergeming. Mulut istrinya itu masih terkatup rapat, tak berniat sedikit pun untuk dibuka.
"Dewi, please!" iba Andre. "Aaaa ...."
Terpaksa, Dewi membuka mulut. Menerima suapan bubur dari tangan Andre. Tidak ada ekspresi yang aneh yang diperlihatkan Dewi pada Andre. Semua seperti biasa saja.
Dewi tampak menikmati bubur yang dibuat Andre untuknya.
Dalam hati, Andre sorak sorai. Merasa bangga sekaligus senang karena Dewi melahap habis bubur di mangkuknya.
Setelah mangkuk kosong, Andre pun segera kembali ke dapur. Berniat membereskan dapur yang berantakan akibat ulahnya.
Penasaran dengan respons Dewi memakan bubur buatannya dengan lahap. Andre pun mencicipi sisa bubur di panci.
__ADS_1
Dengan semangat empat lima dia menyendok bubur menyuapkan ke mulutnya. Namun, spontan Andre menyemburkan semua bubur dalam mulutnya. Lalu menjulurkan lidah.
"Asin," ucapnya. "Bagaimana bisa Dewi menghabiskan semangkuk Bubur dengan rasa seperti ini? Apa karena lidahnya pahit, jadi dia membutuhkan penguat rasa untuk menyecap rasanya," ujar Andre menerka-nerka.
Mengabaikan rasa penasaran. Andre segera membersihkan dapur sesuai niatnya di awal.
***
Untunglah, hanya butuh sehari waktu Dewi untuk beristirahat. Hari ini, wajahnya tak sepucat kemarin. Namun, tetap saja dia menolak memeriksakan diri sekaligus menolak minum obat.
Satu lagi, Dewi mencegah Andre mengabarkan kesehatannya kepada kedua orangtuanya. Bisa-bisa mereka sangat khawatir lalu langsung memasukkannya ke rumah sakit. Dewi tidak menginginkan itu.
Hari ini Andre kembali ke kantor. Setelah kemarin bolos kerja. Sebenarnya dia kebingungan harus beralasan apa jika ditanya ketidak hadirannya kemarin ke kantor. Pasalnya, tanpa pemberitahuan dan mengabaikan panggilan telepon Andre tidak masuk kantor. Beruntung ayah mertuanya tidak mencari keberadaannya kemarin.
Sesampainya di kantor, sesuai prediksi banyak pekerjaan menumpuk. Akibatnya sedari pagi Andre berkutat dengan tugas-tugas yang tiada habisnya untuk diselesaikan.
Sementara di rumah, Dewi mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal. Mengajaknya bertemu hari ini di cafe dekat rumahnya.
Walaupun dengan perasaan ragu-ragu, Dewi tetap memenuhi permintaan sang pengirim pesan. Dia segera bersiap setelah membaca pesan tersebut.
Betapa terkejutnya melihat seorang wanita hamil tengah duduk di bangku menunggunya.
'Apakah Anggita yang meminta padaku untuk bertemu hari ini?' pikir Dewi dalam hati.
Menghalau rasa canggung, Dewi pun segera duduk. Benar saja, Anggitalah yang meminta Dewi bertemu.
"Terimakasih, Dewi karena mau memenuhi undanganku bertemu di sini," ucap Anggita basa-basi. Sesekali satu tangan wanita itu mengelus perutnya yang buncit, seolah memberitahukan tentang kehamilan yang dialaminya. "Apa kabarmu?"
"Sama-sama. Aku baik," jawab Dewi singkat padat jelas. Dia sedang tak ingin bertele-tele apalagi berlama-lama menghadapi Anggita.
Sekelabat bayangan pelukan wanita di hadapannya ini dengan suaminya terbayang di mata.
Di kantor, Andre dibuat terkejut oleh informasi yang nari didengarnya. Bahwa Dewi pernah ke sini, mencarinya sampai ke ruangan.
Hal itu diperkuat oleh pertanyaan papa mertua yang menanyakan perihal kesehatan Dewi. Sebab saat ke kantor, wajah Dewi sudah tampak pucat.
***
Maaf gak panjang yaa ... doakan lancar, sehat dan semua urusan dapat terselesaikan dengan baik. Sehingga bisa segera up lagi.
__ADS_1
❤️❤️❤️