
"Kak ... Kak ...." Dewi menggoyang - goyang tubuh Andre, tetapi lelaki itu tetap bergeming.
"Kak, bangun." Dewi tak menyerah, ia terus menggoyangkan tubuh Andre agar segera bangun.
"Hmm," gumam Andre pada akhirnya dengan kedua mata yang masih terpejam sempurna.
Dewi mendengkus sebal mendapati sang suami yang susah sekali untuk dibangunkan. Padahal, hari telah semakin siang. Sudah saatnya lelaki itu bangun lalu berangkat bekerja.
"Kak Andre, bangun. Udah siang ini," gerutu Dewi kesal.
Andre membuka kelopak matanya walaupun masih terasa amat berat.
"Jam berapa sekarang?" tanya Andre dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Jam delapan," jawab Dewi asal dengan bibir mengerucut. Wanita dengan perut buncit itu benar - benar kesal karena telah sedari tadi membangunkan Andre, tetapi lelaki itu tidak bergerak sama sekali.
"Hei, kenapa cemberut begitu? Nanti anak kita sedih," sahut Andre.
"Cepat bangun, sudah siang ini. Apa Kakak tidak bekerja," protes Dewi.
Andre meraih tangan Dewi lalu menariknya agar duduk di tepi ranjang. Sedangkan ia sendiri beringsut duduk bersandar kepala ranjang.
Dewi menarik tangannya dalam genggaman tangan Andre secara kasar. Barulah mereka tinggal sehari bersama, Andre telah membuatnya kesal pagi - pagi begini. Padahal, belumlah mereka pindah dari rumah orang tuanya Dewi.
"Kita bawa pakaianmu agak siangan aja, ya. Atau, kamu sudah tidak sabar untuk pindah ke rumah kita?" tanya Andre dengan tatapan lekat.
Dewi mendengkus, bisa - bisanya Andre menggodanya begini.
"Terserah saja," ketus Dewi menanggapi.
Andre tersenyum lalu bergerak memeluk Dewi dari samping.
"Kenapa pagi - pagi cemberut begini? Ini tanggal merah, Sayang. Aku enggak ada jadwal buka stand hari ini," terang Andre.
Dewi mengulum senyum merasa bodoh karena pagi - pagi sudah marah - marah pada sang suami, apalagi jika hari ini ternyata tanggal merah.
"Udah, enggak usah malu. Nanti aku gemes lho. Apa kamu mau kita mengulang yang tadi malam?" goda Andre yang membuat wajah Dewi semakin merah karena menahan malu.
"Dasar mesum!" gerutu Dewi.
Andre tergelak lalu tertawa terbahak mendapati istrinya yang terlihat semakin menggemaskan dengan wajah merah padam.
"Papa sama Mama ke mana?" tanya Andre kemudian.
"Mereka udah jogging pagi - pagi. Bukannya Kakak, masih tiduran," protes Dewi.
__ADS_1
"Iya, baru malam ini rasanya aku bisa tidur nyenyak banget," jujur Andre.
Kedua mata Dewi membeliak kaget, lantas tangannya terulur mengelus pipi lelaki di hadapannya. Kedua mata itu menyiratkan luka.
'Apakah aku sekejam ini sekarang? Melukai suamiku sebegitu dahsyatnya,' ucap Dewi dalam hati.
Rasa penyesalan itu pun kini menyusup dalam hati tanpa bisa dicegah lagi. Sekuat apa pun Dewi menghindari, penyesalan tetaplah menjadi penyesalan.
"Maaf," lirih Dewi kemudian dengan mata panas. Bening - bening kristal itu telah bergumul dalam kelopaknya, siap tumpah kapan saja.
Andre menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres sekarang. Mendapati Dewi yang menatapnya dengan mata berkaca - kaca.
"Sssttt," desis Andre dengan telunjuk di bibir Dewi sebagai isyarat agar istrinya tersebut tidak mengatakan apa pun.
Andre kembali merengkuh tubuh Dewi. Menghidu wangi sabun yang menguat dari tubuh sang istri memberi kedamaian tersendiri dalam hatinya.
Ah, betapa Andre telah melewatkan banyak hari melakukan hal - hal menyenangkan seperti sekarang.
"Begini aja sudah cukup," bisik Andre di telinga Dewi yang sukses membuat tubuh Dewi meremang dengan debar jantung tak menentu.
"Ayo! Aku mau bangun, mau mandi terus sarapan," seru Andre mengalihkan perhatian jiwa kelakuannya yang mulai berontak.
"Ya?" Dewi mengerjapkan mata. Mendadak otaknya kosong mendapatkan perlakuan dari Andre yang mendadak. Bayangkan saja, lelaki itu tiba - tiba memeluknya, menghirup aroma tubuhnya.
"Jangan gemesin gitu, nanti aku malah sarapan kamu aja. Enggak jadi mandi - mandi," kekeh Andre pada akhirnya.
Kemudian Dewi pun segera berdiri dari ranjang dan meninggalkan Andre yang masih tertawa terbahak di atas ranjang.
***
Suasana sarapan pagi yang kesiangan hari ini terasa hangat, mungkin karena matahari telah bersinar terang dengan kehangatannya atau karena sepasang suami - istri itu tengah saling salah tingkah. Entahlah.
Dewi yang tengah menyiapkan hidangan sarapan untuk Andre sekuat tenaga menahan diri agar tidak segera lari dari sini. Sebab sang suami malah sibuk menatapnya lekat dengan senyuman terkulum yang tak jua lepas dari bibirnya tentu saja membuat Dewi salah tingkah.
"Makan, Kak," ucap Dewi dengans sedikit keras.
"Ah, iya." Andre menoleh ke samping tempat di mana Dewi duduk, di meja di hadapannya tidak ada piring yang berisi nasi sepertinya.
Jangan katakan jika wanita hamil itu sedang melakukan diet.
"Kamu enggak makan?" tanya Andre ingin tahu.
"Tadi, 'kan sudah, Kak. Aku sarapan duluan habisnya bangunin Kakak gak bangun - bangun. Dasar tidur kebo," omel Dewi.
Eh.
__ADS_1
"Kakak kok dibilangin kayak kebo, sih. Kasihan banget itu si kerbau, mungkin dia sedang membajak sawah pagi - pagi begini," sahut Andre terlekh sembari menggeleng - geleng.
Dewi menatap Andre dengan mata mendelik. Tidak setuju dengan candaan lelaki itu.
Bukannya diam dan menikmati sarapannya, Andre malah mencium pipi Dewi. Walaupun hanya sentuhan sekilas, tetapi dampaknya sampai ke jantung.
Jangan - jangan Andre tidak tahu jika sentuhannya itu mampu membuat Dewi jantungan. Apa lelaki itu sedang menguji Dewi? Atau malah sengaja agar Dewi mati mendadak.
Di tengah kesibukan otak Dewi yang berpikir ke sana kemari, Andre dengan santainya menyodorkan sendok yang penuh berisi nasi beserta lauknya ke hadapan mulut Dewi yang terkatup rapat.
"Aaaa," ucap Andre.
"Sudah kubilang ka ...." Ucapan Dewi terputus oleh nasi yang telah masuk ke mulutnya.
Merasa belum puas karena masih ingin berbicara, Dewi pun melanjutkan ucapannya dengan mulut yang penuh.
"Akhu sudhah makhaan," ucap Dewi tidak jelas.
"Nanti aja ngomongnya, sekarang makan dulu," cegah Andre.
Kemudian Andre pun menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri.
Pada akhirnya, begitulah yang terjadi sampai sepiring nasi itu pun habis. Sedangkan Dewi tak kuasa menolak keinginan Andre yang terus saja menyuapinya.
Setelah selesai sarapan, Dewi membereskan meja makan yang dibantu oleh para asisten rumah tangga di rumah besar ini.
Tidak lama kemudian, kedua orang tua Dewi pun pulang ke rumah.
Sebelum mereka masuk ke kamar, Pak Bambang berpesan agar Andre dan Dewi menunggu mereka di ruang keluarga sebab ada yang ingin dibicarakannya.
Andre dan Dewi pun mengangguk menuruti perintah sang papa.
Dengan hati berdebar - debar sepasang suami istri itu menunggu Pak Bambang keluar menemui mereka.
Setelah Pak Bambang hadir di tengah - tengah mereka, ia pun langsung berbicara tanpa basa basi.
"Kalian jadi pindah hari ini? Bawa pembantu satu dari rumah. Papa dan Mama enggak mau Dewi kerepotan mengurusi pekerjaan rumah dengan perutnya yang membuncit itu. Enggak ada bantahan, kalau kalian menolak, Papa juga akan menolak dengan tegas keputusan kalian," terang Bambang dengan nada tegas tidak bisa dibantah.
"Baik, Pa," ucap Andre lemah.
"Pa, jangan lupa jika Andre itu suami Dewi,"balas Dewi mencoba membela.
"Jangan lupa juga, kalian telah lama hidup terpisah," sahut Bambang.
"Pa ...."
__ADS_1
"Maaf, Pa."