
"Katakan! Apa yang udah lu lakuin pada Anggita dan calon anak kami," ujar Robi yang memberi penekanan pada kata anak kami.
Anggita berdiri, mencekal lengan Robi. "Kamu apa-apaan, sih? Jangan buat malu, deh."
Tubuh Robi menegang dengan wajah memerah. 'Kamu bahkan masih membela bajingan itu,' rutuknya dalam hati. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, menahan emosi yang telah sampai di ubun-ubun.
Cemburu. Itulah yang Robi rasakan saat ini. Ia tak habis pikir, sekuat apa pun usahanya mencoba meraih perhatian Anggita. Tampaknya hanya sia-sia.
Anggita tetap tidak bisa berpaling dari Andre.
Robi merasa telah kalah bahkan sebelum berperang.
Seolah , usahanya selama ini hanya sia-sia belaka.
Tidak. Ia telah berada di titik ini. Ada darah dagingnya yang tumbuh di rahim Anggita. Wanita yang telah lama dicintai yang malah memilih Andre ketimbang dirinya. Bahkan Robi telah menyusun rencana sedemikian rupa agar Andre dan Anggita bisa putus.
Robi membuang napas kasar. Mengabaikan sejenak tatapan sinis Anggita padanya.
Kini, tatapan nyalang Robi layangkan pada Andre yang berdiri tegap di hadapan.
"Lu ...." Robi menunjuk dengan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Andre yang langsung ditepis oleh lelaki itu. "Urusan lu sama gua. Jangan coba-coba lu nyakitin Anggita. Ngerti," ucapnya dengan nada datar yang penuh penekanan di setiap katanya.
Andre berdesis mengejek. Ia tidak terima dengan apa yang diucapkan Robi. Lantas ia pun membalas perkataan Robi dengan tak kalah sinis.
"Heh. Siapa lu? Anggita itu bukan siapa-siapa lu. Jangan kira karena benih lu ada dalam perutnya, bisa seenaknya ngatur-ngatur dia," sinis Andre.
"Lu, bajingan ya!" hardik Robi.
Robi maju selangkah, tangannya telah terkepal sempurna di udara. Siap melayangkan tinju ke wajah Andre jika saya tidak langsung ditahan oleh Anggita.
"Robi! Kamu apa-apaan, sih?" ketus Anggita. "Kita pulang, buat malu aja kamu ini. Ini tempat umum." Anggita menarik lengan Robi mengajak lelaki itu meninggalkan dua orang di hadapan mereka.
Robi bergeming. "Kamu masih belain dia?" tanya Robi dengan suara frustrasi. "Aku mencintai kamu selama ini. Tapi cintaku sama sekali enggak kamu hargai. Aku bahkan sudah berusaha memisahkan kalian lewat taruhan itu ...."
"Jadi, lu sengaja menyusun rencana lewat taruhan itu. Sialan, lu." Andre melantangkan tinju di wajah Robi, membuat bibir lelaki itu berdarah.
Tampaknya, Robi belum dalam keadaan siap menerima serangan Andre yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Aww!!!" pekik Anggita dan Dewi secara bersamaan.
Robi berdiri, siap membalas rasa sakit yang ia terima di wajah. Sayangnya, lagi-lagi gerakannya tertahan oleh tangan Anggita yang mencekalnya kuat.
Menahan tubuh Robi agar tidak menyakiti Andre. Anggita masih tidak terima jika ada yang menyakiti lelaki itu, siapa pun.
'Bahkan setelah apa yang kamu lakukan, aku tetap tidak ingin kamu tersakiti, Andre,' keluh Anggita dalam hati.
Dewi tidak banyak bicara. Ia hanya diam memerhatikan interaksi ketiga orang tersebut.
Melihat apa yang mereka lakukan, terbesit rasa iri dalam hatinya. Betapa Anggita telah menjadi wanita yang sangat beruntung. Dicintai dua orang lelaki itu.
Tampaknya cinta keduanya begitu besar, begitu tulus dan begitu dalam.
Lantas, seakan ada yang meremas di dalam dadanya. Sebongkah daging itu merasa amat tersakiti oleh kenyataan yang terpampang jelas di depan mata.
Andre, suaminya begitu mencintai wanita bernama Anggita itu. Dewi bukan wanita bodoh, sehingga tidak mampu melihat binar cinta yang masih berpendar di kedua mata Andre saat menatap Anggita.
Dewi menunduk, menatap perutnya yang masih rata. Lalu mengelus pelan perut itu, seakan memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.
Kemudian, pandangannya beralih pada perut Anggita yang tampak mulai membuncit. Di sana, sayangnya ada benih Robi. Lelaki yang bukan berstatus suaminya.
Takdir memberi belas kasih pada kesabaran yang selama ini Dewi perjuangkan. Untuk keutuhan cinta yang ia punya, untuk keutuhan rumah tangga yang ia jaga, dan untuk keutuhan hati dalam janin yang masih terkembang dalam perutnya.
Saat ini, waktu seolah berhenti bergerak. Bumi tempatnya berpijak seakan berhenti bergerak.
Dewi menatap bergantian ketiga orang yang masih berseteru di hadapan.
Lantas, ia pun meraih tangan Andre. Menggenggamnya, lalu meremas tangan itu pelan.
Andre menoleh, sorot matanya penuh tanya tidak mengerti apa yang dilakukan wanita di sampingnya.
Dewi menggeleng pelan. Mencegah dari apa saja yang ingin Andre lakukan.
"Kita pulang," desis Anggita pada akhirnya. Wanita itu segera berbalik, sembari menarik lengan Robi agar mengikuti langkah kakinya.
Dengan sangat terpaksa, Robi pun akhirnya mengikuti keinginan wanita yang dicintainya. Lantas, sedetik kemudian lelaki itu berbalik. Menatap tajam pada Andre.
__ADS_1
"Awas, lu," sinisnya dengan tatapan nyalang dan kepalan tinju yang dilayangkan ke udara.
Andre tidak membalas ucapan Robi. Ia hanya melotot tajam ke arah lelaki itu sampai mereka berdua menghilang dari pandangan mata.
Tanpa kata, Dewi bergegas mengambil tasnya di kursi. Kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Andre yang masih terpaku di tempatnya.
Tidak bisa dielak, rasa sedih dan sakit itu kini bergelayut di hati Dewi.
Entah ada apa gerangan dengan hatinya? Betapa ia merana dengan apa yang telah disaksikannya.
Pendar cinta itu. Ingin sekali dirinya yang mendapatkannya dari seorang Andre yang berstatus suaminya. Namun, tampaknya penantian panjangnya selama bertahun lamanya belumlah cukup untuk dirinya mendapatkan tatapan cinta dari sang suami.
Selama ini, Andre menatapnya dengan tatapan iba, rasa bersalah, malah kadang tatapan kosong yang lelaki itu berikan padanya.
"Dew, tunggu!"
Dewi tersentak kaget saat telinganya menangkap suara Andre yang berseru memanggilnya.
Namun, kali ini panggilan itu tidaklah mampu mengurungkan langkah Dewi meninggalkan tempat ini. Terlebih meninggalkan lelaki yang telah mencabik perasaanya.
Dewi terus berjalan menuju parkiran.
"Dew, tunggu! Apa kamu tidak mendengarku?" Andre berhasil mengejar langkah istrinya setelah sebelumnya ia membayar tagihan makanan mereka di kasir.
Tangan Andre sigap menghentikan langkah Dewi yang terburu-buru.
Dengan sekali sentakan, tubuh mereka kini saling berdiri berhadapan.
"Kamu nangis? Apa yang terjadi? Apakah perutku sakit?" tanya Andre khawatir.
Bukannya menjawab, Dewi malah semakin terisak. Tubuhnya meronta dengan tangan memukuli lengan Andre yang berusaha memeluk tubuhnya.
"Ssstt. Jangan menangis di sini. Maafkan aku. Aku tidak mau anak kita kenapa-kenapa. Kita pulang ya?"
Andre tentu saja berhasil memeluk tubuh Dewi. Membenamkan kepala istrinya itu ke dada bidangnya. Tangannya mengelus kepala Dewi pelan.
'Hanya anak ini yang ada di pikiran kamu, Kak. Sampai kapan aku harus menunggu agar kamu mau melihatku. Melihat ketulusanku mencintaimu. Sampai kapan aku bisa bertahan?' pilu Dewi dalam hati.
__ADS_1
Tubuhnya berada dalam rengkuhan Andre. Namun, pikiran Dewi berkelana memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.