
Jalanan terlihat sepi. Hujan deras sore itu membuat orang-orang malas untuk keluar. Hanya satu-dua orang yang melintasi. Mungkin karena sebuah urusan mendadak. Atau karena ingin cepat pulang dan kembali kerumah.
Sebuah mobil menepi dibahu jalan. Terlihat seorang gadis turun sambil memegang sebuah payung bermotif bunga-bunga kecil yang didominasi warna Lilac itu, seraya sesekali celingukan seperti ingin meminta tolong pada siapapun yang lewat. Dia adalah, Dhia Chantika Ayu.
"Sepi sekali."Dhia berdecak."Gimana mau pulang kalau mobilnya mogok begini. Mama pasti cemas."gumamnya sambil melirik jam yang sudah menunjukkan jam pukul 05:30 petang. Sepuluh menit berlalu. Tidak terlalu lama untuk menunggu hujan reda. Dhia sepertinya tak putus asa. Ia mencari tahu biang masalah yang menyebabkan mobilnya itu mogok ditengah waktu yang tidak tepat.
"Hai, nona cantik!"
Terdengar suara rombongan dari arah belakang. Membuat kepala Dhia terpentok kap mobil karena terkejut.
"Kalian mau apa?" Wajah Dhia cemas.
Empat orang pria yang bergaya bandit itu hanya tertawa serempak sambil memasang senyum menyeringai.
"Dia tanya kita mau apa."Salah seorang pria berpenampilan paling sangar berbicara dan kembali tertawa."Tentu saja menginginkan tubuhmu. Kamu pikir kami bodoh membiarkan wanita cantik sendirian disini tanpa mencicipinya?"
Lagi, pria itu tertawa. Diikuti teman-teman lainnya. Sangat menjijikkan.
"Jangan mendekat."Dhia perlahan mundur. "Tolong ... tolong!"Teriaknya sambil celingukan meminta pertolongan. Namun tak ada satupun orang yang lewat. Cuaca semakin gelap. Ia begitu ketakutan.
Salah seorang pria memakai kemeja kotak-kotak dengan kancing terbuka tiba-tiba saja membungkam mulut Dhia dan menyeret gadis itu ketengah semak belukar."Ayo kita selesaikan!"ajaknya pada teman yang lain.
"Tolong lepaskan aku.! Tolong ... !"Dhia terus meronta dengan segala upaya meski sulit berteriak karena dibungkam. Netranya berlinang. Ia semakin putus asa meminta pertolongan ketika blus yang ia pakai robek ditarik paksa oleh pria-pria bejat yang haus akan nafsu tersebut.
Bugh!!
Sebuah hantaman keras mendarat dipunggung dua orang pria yang sudah kesetanan itu. Refleks keduanya langsung tersungkur bersamaan.
"Lepaskan dia!" Seorang pria tampan yang baru saja datang bersama dengan rekannya bertubuh tegap namun rapih itu berteriak pada dua orang berandalan yang sedang mencengkeram Dhia. Namun kedua pria itu seperti tidak takut. Menentang dan justru melayangkan pukulan pada pria tampan itu.
Tapi sayang, dengan secepat kilat pria tampan itu berhasil menangkis. Dan melayangkan bogem mentah hingga kedua pria-pria jahat itu terjerembab ke semak-semak."Kabuuur!"teriak salah orang penjahat yang sudah ciut nyalinya. Disusul oleh teman-temannya yang lain. Yang juga ikut kabur dan lari terbirit-birit.
"Kamu nggak apa-apa?" Pria tampan, tinggi dan terkesan manis itu menghampiri Dhia dan bertanya dengan sangat sopan. Gadis itu masih menangis dengan posisi bersimpuh seraya memeluk diri dengan kedua tangan mungilnya.
"Mari kubantu."Pria itu menyentuh bahu Dhia dan perlahan membantunya berdiri. Dhia begitu lemas. Tenaganya sudah habis terkuras demi bersusah payah memberontak agar terlepas dari tangan-tangan pria biadab itu. Entahlah, jika bukan kehadiran pria yang berdiri dihadapannya ini. Ia sudah ngeri membayangkan bagaimana nasibnya setelah itu.
"Terima kasih."Dhia menatap pria itu dengan wajah sendu."Ini kali kedua kamu menolongku. Kamu sangat baik."
Dhia teringat kembali dengan kejadian seminggu yang lalu. Ketika ia baru saja keluar dari sebuah restoran hendak menyeberang menuju kampus tempat dirinya mengenyam pendidikan. Ia berjalan melamun. Seperti ada beban yang mengganjal difikirannya.
Tiiin!!
Tiiin!
"Awas!" seru pria itu seraya menarik tubuh mungil Dhia dan melingkupinya.
"Ya ampun."Dhia menyesali kebodohannya."Kamu nggak apa-apa?"tanyanya karena merasa tidak enak pada pria tegap yang berdiri dihadapannya.
"Harusnya aku yang tanya begitu. Kamu nggak apa-apa?"
Dhia tak menjawab. Ia malah terkesima menatap pahatan indah yang tergores disetiap lekuk diwajah pria itu. Tatapan mata elang, tajam, namun menghanyutkan. Rahangnya yang tegas, terlihat begitu berkharisma.
"Lain kali jalan itu harus fokus. Jangan melamun."Pria itu kembali bersuara. Saat itu juga Dhia tersadar.
"I-iya ... terimakasih karena sudah menyelamatkanku."Dhia tersenyum."Kalau nggak ... pasti mobil tadi sudah mematahkan tulang-tulangku."Dhia terkikik pelan.
"It's oke."Pria itu balas tersenyum. Terukir senyum mempesona yang membuat Dhia tersipu.
"Mau kemana? apa perlu aku antar?"
__ADS_1
Dhia cepat-cepat menggeleng. Dalam hati sebenarnya ia ingin sekali. Terpaksa ia menolak. Tidak sopan rasanya menyusahkan orang. Apalagi orang yang baru pertama kali bertemu.
"Nggak usah. Aku mau ke kampus."Dhia menunjuk sebuah kampus Universitas Binabangsa Indonesia. Yang berada sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdiri."Sekali lagi, terima kasih."
"Ok. Aku pergi dulu."Pria itu sempat tersenyum lalu berjalan menuju ke sebuah restoran. Tempat dimana Dhia baru saja keluar untuk mengisi perutnya yang sempat kosong.
"It's oke. Sekarang ikut aku. Aku akan mengantarmu pulang."
"T-tapi, bagaimana dengan mobilku?"
"Itu biar supirku yang mengurus. Sekarang kamu harus pulang. Ini sudah hampir malam."pria itu menyodorkan sebelah tangannya."Ayo."
Dhia bergeming seraya menelan ludah.
"Jangan takut."pria itu seperti mengerti kegelisahan Dhia."Aku akan mengantarkanmu pulang selamat sampai didepan rumah. Percayalah. Aku bukan orang jahat."
Sudut bibir Dhia tertarik tipis. Ia menyambut uluran tangan itu. Berjalan ditengah semak belukar yang cukup tinggi. Ia mengekori peria tegap yang berjalan menuntunnya.
...------...
"Astaga. Bodohnya aku!"Dhia menepuk jidatnya."Dari tadi saling ngobrol aku nggak tau namanya. Dasar o'on."
"Kenapa aku bisa nggak terfikir coba? Dasar aku!"Dhia terus berjalan masuk kedalam rumah sambil menggerutu setelah pria tampan yang mengantarnya sudah melesat beberapa saat lalu.
Pranggg ...!
Sebuah guci berukuran besar jatuh terlempar dilantai, berserakan dan hanya menyisakan serpihan-serpihan tajam. Akan sangat sakit jika terkena puingnya. Namun hati Dhia jauh lebih sakit melihat pertengkaran-pertengkaran yang terjadi setiap harinya. Pertengkaran kedua orang tuanya yang hampir tak pernah usai. Suara gaduh hampir setiap saat memenuhi rumah mewah yang ia tinggali. Namun kemewahan yang ia rasakan seakan tak ada arti. Keharmonisan sudah tercoreng.
Dhia yang baru saja membuka pintu kembali menutupnya. Ia urung masuk. Menunggu semuanya hening. Entah sampai berapa lama ia menunggu. Kerena suara teriakan dari pria paruh baya yang sampai saat ini ia hormati masih menggaung dari dalam sana. Netranya kembali berkaca. Ia berdiri dengan tubuh kaku ketakutan.
"Dhia masih kuliah, Mas. Tolong jangan renggut masa depannya."Terdengar Mama mengiba dengan suara yang terdengar menangis.
"Aku tidak mau tahu. Aku ingin uangku kembali. Aku sudah membesarkannya dengan susah payah. Saat inilah dia harus membalas semua kebaikanku."
Argh! teriak pria paruh baya itu.
Bugh!
"Mama!"Dhia akhirnya masuk. Tersentak setelah mendengar benturan dari dalam rumah. Ia melihat Mama sudah bersimpuh dibawah kursi. Dahi wanita paruh baya itu terlihat membiru.
"Papa! Apa yang papa lakukan?"Dhia menatap pria paruh baya itu dengan sorot penuh kekecewaan."Papa tega sekali. Apa Papa tidak pernah mencintai Mama?"
"Seorang suami harusnya menjaga istrinya. Bukan malah menyakitinya."
"Kurang ajar kamu"Pria itu mengangkat sebelah tangannya.
"Jangan, Mas!"Rossa dengan cepat mencegah dan melingkupi Dhia. Rahang pria itu mengeras. Seperti ingin menerkam Dhia saat itu juga.
Suara Dhia memang terdengar tinggi. Seperti dirinya sudah habis kesabaran. Hormat tak ada lagi baginya kali ini. Karena pria itu benar-benar sudah kelewat batas. Jelas tak ada kasih sayang yang tulus terpancar diwajahnya.
"Jelaskan padanya seperti apa yang aku katakan tadi."Pria paruh baya itu sedikit menurunkan suaranya."Ingat. Aku tidak mau ada penolakan."
Dhia membawa Mamanya masuk kedalam kamar. Ia mengompres dahi Rossa yang membiru. Memberinya antibiotik agar tak menyisakan rasa denyut. Dengan hati-hati tangannya menyentuh dahi putih itu. Dan berhenti ketika Rossa menyentuh dan meraihnya kedalam genggaman.
"Sudah, nak. Rasa sakitnya sudah hilang."Rossa melempar senyum tipis hampir tak terlihat. Ia mengusap punggung tangan Dhia dengan penuh sayang.
"Mama ingin mengatakan sesuatu?"Dhia membuka suara setelah beberapa saat hanya diam.
Kali ini Rossa yang bergeming.
__ADS_1
"Ma ..."
"Papa kamu."Rossa berbicara ragu. Ia menatap Dhia dengan hati terluka.
"Aku tau, Ma."
"Kamu sudah dengar semuanya?"Rossa menatap anak gadisnya itu tak percaya.
Dhia menggeleng pelan."Belum. Tapi aku dengar tadi Papa ingin Mama mengatakan sesuatu kepadaku. Apa itu, Ma?"
"Papamu kalah tender."
"Terus? Apa hubungannya denganku?"tanya Dhia tak mengerti.
"Papa kamu sudah jor-joran mengeluarkan uang untuk itu. Sekarang, kita sudah tidak punya apa-apa lagi, nak."
Dhia bergeming. Ia masih menunggu Mama menyelesaikan semua yang ingin disampaikan.
"Tadi siang ... Papa kamu bertemu dengan seorang pengusaha muda dikota ini. Ia mewarkan pinjaman kepada Papamu. Setengah dari uang perusahaan yang telah hangus akan ia pinjamkan untuk membantu perusahaan Papa kamu yang hampir bangkrut. Dan akan memberikan Papamu uang dengan cuma-cuma."
"Tapi dengan syarat ..."Rossa menggantung kalimatnya. Ada rasa cemas yang tak ingin menyakiti hati putri sulungnya itu.
"Syarat apa, Ma?"Dhia bertanya dengan hati berdebar.
"Kamu harus menikah dengan pengusaha muda itu."
Dhia lagi-lagi bungkam. Ia menelan salivanya yang tiba-tiba menjadi kelu. Hatinya hancur. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menjual anak kandungnya demi uang?
"Kamu tahu sendiri begaimana sifat Papamu, nak. Dia sangat ambisi. Baginya harta dan perusahaan adalah yang utama. Dia tidak akan tinggal diam."
Rossa membuang nafas dalam-dalam."Ya ... Mama mengerti. Tanpa uang dan kerja keras Papa kita tidak akan seperti ini. Hidup enak. Dan penuh kemewahan."
"Apa yang kita inginkan bisa kita dapatkan dengan mudah. Mama mengerti kenapa Papamu seperti ini. Memposisikan uang adalah segalanya."
"Tapi nggak dengan begini, Ma?!"
"Dhia ..."
"Papa tega." ujar Dhia sambil menangis.
"Papamu hatinya keras, nak. Mama sudah memberinya pengertian tapi dia tidak mau peduli. Mama juga nggak mau kamu harus menanggung semua ini."
"Tapi Mama tidak ada kuasa untuk melawannya."Suara Rossa bergetar. Dhia tau Mamanya juga sedang sakit hatinya.
"Dia sudah susah payah membesarkan kamu dan adikmu, Inka. Menyekolahkanmu tinggi-tinggi dan memenuhi segala keinginanmu. Mungkin ini lah saatnya kamu membalas semua kebaikannya, nak."
Dhia sontak menoleh. Ia menatap Mamanya tak percaya."Apa ada seorang ayah yang membesarkan anaknya dengan pamrih, Ma?"
"Ma ... aku anaknya."Dhia memukuli dadanya yang terasa sesak."Tapi kenapa Papa tega, Ma?"Suara Dhia tertahan. Netranya mengalirkan bulir bening tanpa diminta.
"Aku bingung ..." Dhia berdiri."Sebenarnya Papa itu ayah kandungku apa bukan sih, Ma?"
Rossa hening sesaat. Lalu kemudian kembali bersuara."Ini kenapa? Kenapa baju kamu robek?"
"E-enggak apa-apa, Ma. Ini tadi cuma robek karena tarsangkut paku."Aku Dhia berbohong. Tak ingin masalah yang baru saja menimpahinya beberapa saat lalu malah menjadi beban bagi Mamanya.
"Ma ..."
"Iya, nak?"
__ADS_1
"Kenapa Papa tega? Apa dia nggak sayang sama aku?"Dhia meraih tangan Mamanya.
Rossa terdiam. Wajahnya berubah pias.