
Megantara Group,
Sudah seminggu sejak insiden yang hampir mencelakai Dhia kala itu. Kejadian itu meninggalkan jejak kecurigaan bagi Dirga. Tentang kayu besar yang menimpahinya, seorang pengendara motor yang ingin menabraknya. Semua terjadi dalam waktu yang berdekatan. Sasaran utama adalah dirinya. Malik Mahendra Hartawiawan. Sepertinya pria tua itu sedang berusaha untuk melenyapkankannya.
"Bagaimana hasilnya?"tanya Dirga pada Gio yang baru saja masuk keruang kantornya. Sejak kejadian itu, ia meminta Gio untuk membantunya mengusut, dan mengumpulkan bukti tentang pria tua yang berusaha melenyapkannya itu.
"Cctv diluar, ataupun didalam kantor tidak memperlihatkan bukti-bukti apapun tentang kejadian itu."ujar Gio seraya menyandarkan punggungnya pada sofa besar didalam ruang kerja tersebut."Sepertinya orang itu bermain dengan sangat cantik."
"Kamu yakin?."Dirga memandang Gio tak percaya.
"Ya."Gio mengangguk cepat."Pagi hari sebelum kamu tertimpa kayu itu, cctv diluar gedung seperti sengaja dimatikan. Aku sudah melihatnya. Tapi tidak berhasil menemukan apa-apa."
"Lebih baik kamu hati-hati. Dia bisa saja melakukan hal-hal yang lebih berbahaya lagi, nanti."ujar Gio lagi.
Dirga menghela nafas panjang.
"Kamu yakin masih ingin meneruskan balas dendam itu?"Pertanyaan itu membuat Dirga langsung melemparkan tatapan tajam pada Gio.
"Dia berbahaya, Ga."Gio sepertinya tak perduli meski tatapan tajam itu masih menghujaninya."Lihat saja, kamu belum bertindak, tapi dia bahkan sudah bertindak lebih dulu."
"Kenapa? Kamu takut?."Dirga berdiri saraya memandang Gio ketus."Takut kalau sampai dia juga mencelakaimu?"
Gio hening.
"Kalau begitu, tidak perlu membantuku. Biar aku sendiri yang akan menghadapinya."sambung Dirga lagi."Aku tidak akan menyerah. Dan aku tidak akan membiarkan dia lebih lama lagi menghirup udara dengan bebas."ujarnya seraya memandang jauh gedung-gedung yang menjulang dari balik dinding kaca besar ruangannya.
"Morning!"seru Tamara yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu."Ada apa, nih? Pagi-pagi muka udah pada tegang. Lagi nungguin aku, ya?"Ia tertawa renyah memandang Dirga dan Gio bergantian.
"Ge'er banget, sih, lu."Gio berdiri.
Tamara langsung mencibir.
"Jam berapa ke proyek?."Gio memandang Dirga.
"Sebentar lagi."sahut Dirga datar.
"Oke, aku ambil berkas dulu."Gio bergegas keluar. Tapi saat hendak melangkah masuk kedalam ruangannya, ia melihat kemunculan Dhia dari lift yang terbuka.
"Dhia, kamu disini?"tanya Gio tak percaya. Pasalnya selama Dhia dan Dirga menikah, ia belum pernah melihat kehadiran Dhia didalam gedung ini.
Dhia tersenyum tipis."Iya, Gio. Mas Dirga ada? Aku mau nganter handphonenya. Soalnya tadi ketinggalan."
"Ada. Dia didalam."Gio menjawab ramah."Masuk aja. Cuma ada Tamara, kok, didalam."
Tamara?
Nama itu membuat Dhia hening.
Gio tertawa renyah."Jangan cemburu. Tamara cuma adik angkat. Dirga juga tidak tertarik padanya."
Dhia tersenyum kikuk. Karena tidak menyangka Gio bisa membaca isi hatinya.
"Kamu saja, yang kasih, ya. Soalnya aku juga buru-buru mau ke kampus."ujar Dhia seraya menyodorkan ponsel mahal tersebut pada Gio.
"Yang benar? Enggak pingin masuk?"Gio bertanya sedikit menggoda.
Dhia bergeleng.
"Oke."Gio mengambil ponsel itu dari tangan putih Dhia."Aku kasih sekarang."
"Terimakasih, Gio."
"Sama-sama."Gio langsung berbalik dan masuk keruang kerja Dirga.
"Handphone, kamu."Gio langsung menyodorkannya pada Dirga.
__ADS_1
"Kok, bisa?"
Gio berdecak."Masih muda, udah pikun aja, kamu. Bukannya tadi ketinggalan? Barusan Dhia yang antar."
"Dhia? Sekarang dia dimana?"
"Diluar. Mungkin udah balik."balas Gio datar.
Dirga bergegas keluar. Melihat itu, Gio hanya bergeleng. Sementara Tamara, gadis itu hanya berdengus dan menatap tidak suka.
Sesampainya diluar, netra Dirga menangkap sosok wanita yang ia kenali dari balik pintu lift yang perlahan hampir tertutup. Ia pun bergegas kembali membuka dan masuk kedalam.
"Dhia."
"Mas, kamu disini?"Dhia menatap tak percaya pada sosok pria berambut cepak yang sudah berdiri dihadapannya. Saat ini, mereka hanya berdua. Didalam sana.
"A-aku mau bilang terimakasih."Dirga tiba-tiba merasa gugup.
Dhia mengernyit.
"Terima kasih, kerena sudah repot-repot kemari untuk mengantarkan ponselku."
Dhia tersenyum manis."Makanya, Mas. Lain kali harus dilihat-lihat. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Apa lagi ponsel, itu penting untuk komunikasi kamu."
"Hemm."Dirga tersenyum tipis.
Senyum yang hampir sama sekali belum pernah terlihat di mata Dhia sejak dirinya menikah dengan pria itu. Senyum tulus yang dulu pernah menggetarkan sukmanya. Ia terus memandang wajah Dirga. Tentu karena itu momen yang tak ingin terlewatkan bagi Dhia.
"Kalau senyum kayak tadi kan, ganteng."ujar Dhia pelan."Jangan sering-sering pasang wajah ketus lagi, ya, didepan aku."
Dirga tertegun.
Bruuk!!
"Mas, ini kenapa?."
"Tenang, kamu tenang."Dirga langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Gio. Tak butuh waktu lama, karena Gio langsung menyambutnya.
"Hallo, Gio."
Iya, ada apa, Ga?
"Aku sekarang ada didalam lift sama Dhia. Dan kebetulan liftnya tiba-tiba rusak. Jadi aku minta tolong sama kamu, beritahu petugas untuk segera memperbaikinya."
Oke, gue kesana sekarang! Gio langsung memutus panggilan.
"Gimana, Mas?"Dhia masih panik. Ia berteriak ketika lagi-lagi lift terhempas dengan suara cukup keras seiring lampu yang mati mengurangi pencahayaan didalam sana. Tanpa sadar kedua tangannya refleks langsung memeluk tubuh tegap yang berdiri dihadapannya. Dhia ketakutan.
Dirga kembali tertegun. Pelukan Dhia membuat tubuhnya kaku sesaat. Tapi perlahan kedua tangannya terangkat membalas pelukan itu.
"Aku takut, Mas."lirih Dhia dengan pelukan yang semakin erat. Netranya masih sempat menyapukan pandangan pada ruang lift yang sempit, gelap, seakan membuat dadanya terasa sesak. Dhia benar-benar takut.
"Tenanglah. Kita akan baik-baik saja."Tanpa diminta, tangan kanan Dirga mengusap punggung Dhia dengan halus. Dan langsung berhenti ketika merasakan punggung Dhia berguncang menahan isak. Ia langsung mengurai pelukan. Menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
"Jangan takut."Dirga menyusut air mata dipipi putih gadis itu."Aku disini. Percayalah kita akan baik-baik saja. Tadi aku sudah suruh Gio untuk memberitahu petugas lift. Mungkin sebentar lagi akan selesai diperbaiki."
Dhia mengangguk pelan. Ia memandang Dirga ditengah pencahayaan yang terbatas. Namun jarak yang sangat dekat, netranya masih bisa melihat sorot mata pria itu yang begitu mengkhawatirkannya. Kala itu, Dirga juga memandangnya. Manik hitam keduanya pun akhirnya saling terkunci, tak teralihkan meski sesaat.
Dhia akhirnya menunduk. Beberapa saat saling memandang membuat dirinya gugup. Namun Dirga, pria itu tiba-tiba saja menyentuh dagu Dhia dan mengarahkan wajah gadis itu agar kembali memandangnya.
Dhia menelan ludah. Debaran jantungnya semakin cepat ketika Dirga semakin merapatkan wajahnya. Semakin dekat, hingga membuat Dhia perlahan memejamkan mata saat hembusan nafas Dirga menyapu lembut wajahnya. Seperti akan siap, Dhia pun membuka bibirnya. Ketika saat itu ia merasakan hidung mancung Dirga sudah menyentuh hidungnya.
Suara lift tiba-tiba terbuka, dan cahaya lampu yang mendadak terang membuat Dhia dan dan Dirga terkesiap. Keduanya langsung menoleh keluar. Disana, mata keduanya langsung tertumbuk pada dua orang petugas lift yang mengenakan baju berwarna biru tua. Keduanya tampak mengulum senyum. Serta beberapa karyawan yang sedang lewat, terlihat berhenti. Ada yang refleks ternganga. Ada juga yang saling berbisik, dan tersenyum geli.
Dan Gio, pria itu sempat terkejut dan langsung berbalik badan. Pura-pura tak melihat.
__ADS_1
Sementara Tamara posisinya berada beberapa meter dari pintu lift. Wanita itu sempat melihat Dirga hampir mencium Dhia. Detik itu, ia langsung melemparkan tatapan tidak suka pada Dhia. Dan memutuskan untuk pergi keluar meninggalkan tempat yang membuat hatinya mendadak panas.
Dhia menggigit bibir, menahan rasa malu yang sudah membakar seluruh wajahnya. Bagaimana tidak? Adegan tadi sudah bisa dipastikan menjadi tontonan banyak orang. Sementara Dirga, pria itu memasang wajah datar seraya merapikan jasnya yang tidak berantakan.
"Mari, aku antar ke lobby."ujar Dirga pada Dhia seraya berjalan. Sementara dua orang petugas lift dan beberapa karyawan yang sempat mampir, sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat itu.
"A-aku juga mau masuk."ujar Gio langsung berbalik tanpa melihat-lihat jalannya. Seperti salah tingkah, wajahnya akhirnya terantuk kaca bening pembatas dinding kantor. Dhia sontak mengulum senyum melihat itu. Sementara Gio buru-buru masuk seraya mengusap keningnya yang panas.
"Cepetan."ujar Dirga berhasil membuat Dhia teralihkan.
Dhia menelan ludah, ujung jemarinya tak henti-hentinya saling memilin. Seraya berjalan mengekori Dirga, ia berjalan menunduk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. Dan,
Braak!!
Dhia terperanjat ketika tubuh mungilnya menabrak tubuh tegap Dirga yang berhenti. Entah Dirga yang berhenti dengan tiba-tiba, atau karena Dhia yang tidak memperhatikan jalannya.
"Lihat-lihat, dong, kalau jalan."ujar Dirga seraya merapikan jasnya."Jadi kusut, kan, gara-gara kamu tabrak."
"M-maaf, Mas, nggak sengaja."Dhia spontan merapikan jas Dirga dengan kedua tangannya.
"Enggak perlu."Dirga berusaha menepis tangan berkulit putih itu ketika Dhia menyentuh bagian dadanya."Kamu sengaja mau cari kesempatan nyentuh-nyentuh, aku?"suara ketus pria itu kembali terdengar. Sebenarnya bukan karena risih, tapi Dirga tak ingin perasaan aneh yang kerap kali terjadi setiap kali Dhia menyentuhnya semakin membuatnya tak berdaya.
"Kamu itu maunya gimana, sih, Mas? Dibantuin ngerapihin malah akunya dimarah-marah."Dhia memasang wajah cemberut.
"Pakai bilang aku cari-cari kesempatan. Tadi waktu didalam lift, kamu yang cari-cari kesempatan mau nyium aku. Pura-pura lupa lagi."sambung Dhia pelan agar tak terdengar oleh beberapa para karyawan yang lewat.
"Dhia."Dirga memasang wajah geram.
"Kenapa? Mas malu kalau sampai ada yang dengar."Dhia tersenyum mengejek."Ya udah, nanti malam dilanjutin dirumah aja. Enggak ada yang lihat, dan enggak akan ada yang tahu."
Dhia berjinjit."Cuma kita berdua."bisiknya ditelinga Dirga, seraya menaik-turunkan alisnya.
Dirga yang mendengar itu sempat tak percaya. Dhia benar-benar berani. Bisikan Dhia berhasil membuatnya menelan ludah karena gugup.
"Udah, ah. Aku mau ke kampus."Dhia mengulurkan tangannya pada Dirga.
"Apa?."Dirga mengernyit.
"Salim, Mas. Biar orang-orang tahu, kalau kita sepasang suami-istri yang saling mencintai."Dhia masih mengulurkan tangan kanannya. Ia memperhatikan tangan kanan Dirga yang bergerak terangkat. Sontak ia langsung menyambut, dan menciumnya penuh cinta.
"Aku pergi dulu."Dhia tersenyum manis."Sampai ketemu dirumah, suamiku."ucapnya seraya pergi meninggalkan Dirga yang tertegun.
Dhia, Dhia ...
Lirih Dirga dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum memperhatikan punggung tangannya yang masih terasa hangat bekas sentuhan Dhia.
"Buset, dah, yang lagi jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kayak orang gila."celetuk Gio yang tiba-tiba nongol dari arah belakang.
Dirga tak menjawab. Pria itu hanya menatap malas pada Gio.
"Buruan ke proyek. Udah siang, nih."Gio melihat jam yang melekat dipergelangan tangannya.
"Tamara, mana?."
"Udah pergi dari tadi."
"Oke."Dirga langsung berjalan keluar meninggalkan Gio. Masuk kedalam mobil yang sudah ditunggui oleh supirnya, Doddy. Sementara Gio, pria itu masuk kedalam mobilnya, keduanya berangkat menuju proyek dengan menggunakan mobil masing-masing.
Pelukan Dhia, bibir ranum Dhia yang terbuka, suara Dhia yang terkesan manja kala itu, masih membekas jelas bermain diingatan Dirga. Perjalanannya menuju proyek hotel Wira CitraWisata, hanya dihabiskan dalam diam. Tersenyum tanpa sadar, hingga membuat Doddy sang supir kebingungan.
Pria yang berusia 35 tahunan itu hanya bisa diam, meski penasaran. Tak berani membuka suara, takut jika bossnya itu akan marah. Namun matanya tak henti-henti melirik ke arah kaca. Disana terlihat jelas Dirga masih tersenyum. Doddy langsung tergeragap ketika sorot matanya tertangkap oleh Dirga.
"Kenapa?"tanya Dirga ketus.
"E-enggak apa-apa, Pak."Doddy menghela nafas pelan. Seharusnya kan, saya yang tanya begitu.
__ADS_1