
Gio tertunduk, sambil menekuk kedua lututnya. Kedua tangannya tertangkup didepan kening. Baju tahanan telah melekat ditubuhnya. Menambah jelas betapa keterpurukan sedang ia telan, akibat perbuatannya sendiri.
Tanpa sadar, bulir bening menitik dari sudut matanya. Mengingat kembali sang Papa yang saat ini sedang memerlukan kehadirannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Jeruji besi telah membatasi ruang geraknya saat ini.
Hongkong
"Gio ... apa yang sudah kamu lakukan?!"
Haris mengguncang kedua bahu Gio kala itu. Saat tahu anaknya sudah melakukan kesalahan yang teramat besar. Pria yang sudah memasuki usia kepala 6 itu, tampak pucat tak percaya dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh anaknya.
"Apa Papa mengajarkanmu, hal seperti itu, hah?!."
"Kenapa kamu membunuh Dirga?!." Haris terus menghujani Gio dengan pertanyaan. Sementara anaknya itu hanya diam dan terus tertunduk.
"Gio, tolong jawab pertanyaan Papa!." kata Haris dengan suara tinggi, memaksa anaknya untuk menjelaskan.
"Demi Papa." kata Gio pelan.
"T-tapi kenapa, Gio? apa hubungannya dengan Papa?!."
"Papa ingat kasus korupsi dan pembunuhan 21 tahun lalu?." tatapan Gio dingin.
Wajah Haris seketika pias.
"Papa ingat Handika Gumilang?."
Haris menelan ludah gugup."Tahu dari mana kamu soal masa lalu itu?."
"Malik Mahendra Hartawiawan." kata Gio, sambil melihat kedua bola mata yang kulitnya sudah dipenuhi kerutan itu.
"Dia mengancammu?."
Gio diam.
"Dirga adalah anak dari pria yang Papa bunuh." Gio berbicara lagi.
"Aku terpaksa membunuh Dirga, karena dia berusaha mengungkap kasus 21 tahun lalu, itu, Pa!."
"Aku melakukan ini demi, Papa!."
"Aku fikir setelah aku membunuhnya, kasus itu tidak akan pernah terkuak kembali." kata Gio dengan suara yang perlahan lemah."Tapi aku keliru." suaranya hampir tak terdengar.
Haris mematung.
"Kenapa, Pa? kenapa Papa dulu melakukan itu?." kali ini Gio yang bertanya. Netranya memerah, menahan tangis dan kekecewaan. Dan kini, Haris lah, yang dibuat tergugu.
"Papa seorang pengacara yang kejam. Selain berbohong demi uang, Papa juga sudah mau dibayar untuk membunuh orang!."
"Kenapa, Pa?!."
"Apa Papa tidak memikirkan masa depanku waktu itu?!."
"Maafkan, Papa, nak!." Haris menangis, dengan suara bergetar memandang anaknya yang terlihat lemah saat ini.
"Papa memang bodoh. Papa memang kejam." Haris tak bisa membendung air mata didepan anak satu-satunya itu."Papa menyesal ... gara-gara Papa kamu jadi seperti ini."
"Papa menyesal!." lirih Haris pelan sambil terus menangis.
"Itulah kenapa sejak kejadian kasus itu Papa memutuskan untuk berhenti menjadi pengacara, dan melarikan diri ke negeri ini. Papa dihantui rasa bersalah, nak!."
__ADS_1
"Maafkan, Papa!." kata Haris dengan suaranya yang serak dan lemah.
"Tapi kamu masih bisa pergi dari tempat ini." ujar Haris tiba-tiba memberi saran pada anaknya itu."Polisi pasti sedang mencarimu kemari. Pergilah, nak ... segala perbuatanmu, biarkan Papa yang menanggung."katanya lagi mendorong tubuh Gio agar pergi.
Tapi Gio tak bergerak selangkah pun.
"Papa sudah tua. Membusuk dipenjara tidak akan mengapa. Pergilah, nak!."
Gio menangis melihat pria renta yang berdiri dihadapannya.
"Pergi!!." kata Haris memaksa, sambil memegangi dada kirinya dengan wajah yang memucat.
"Papa kenapa?!."
"Jangan perdulikan, Papa! pergilah!."
"Tidak, Pa! aku tidak bisa pergi!"tolak Gio. Melihat wajah Haris yang semakin pucat, ia tak tega membiarkan pria itu tinggal seorang diri lagi.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak, nak ... kamu harus pergi." suara Haris semakin lemah. Bersamaan dengan itu, ketukan demi ketukan terdengar dari luar apartemen yang mereka tinggali saat ini. Gio melangkah ragu. Wajahnya pias, dengan tubuh menjadi panas dingin. Pelan ia membuka pintu apartemen itu dengan tangan yang gemetar.
Gio terisak. Bersandar pada dinding ruangan sempit itu, dengan tatapan kosong tak bersemangat. Seakan tak memiliki semangat hidup.
_____________
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Acara pengajian diselenggarakan disebuah gedung yang terletak tidak jauh dari, Sendrapati Penthouse. Tampak satu persatu orang-orang mulai berdatangan. Dari mulai karyawan-karyawan kantor, dan beberapa anak yatim yang sengaja diundang untuk mengikuti jalannya pengajian malam ini.
"Buk Rossa pasti nggak jadi datang." kata Mala berbisik pada Wiwik, ditengah orang-orang yang mulai berdatangan. Tampak Wiwik hanya diam, seperti melamun dengan tatapan sedih.
"Aku kok ndak percaya, ya ...? kok bisa-bisanya buk Rossa itu nikah sama laki-laki yang udah memfitnah suaminya sendiri." sambung Mala lagi dengan nada suara yang kesal."Pantesan aja Dhia benci banget."
"Kalau aku jadi Dhia, ya pasti aku juga benci. Yo, ndak, Wik?!." Mala baru tersadar ternyata sedari tadi ia berbicara sendiri. Karena seseorang yang sedari tadi diajaknya berbicara hanya diam melamun.
"Kamu itu kenapa, sih, Wik? dari semenjak berita Pak Malik ditangkap polisi, mukamu itu, loh ... jadi ndak bersemangat."
"Kenapa? kamu mau ikut Pak Malik ke penjara?."
"Enak aja." Wiwik menyahut kesal.
"Lah, terus kenapa? kamu kasihan sama cowok yang satunya lagi?."
Pertanyaan terakhir Mala kali ini berhasil membuat Wiwik menangis."Mas Gio ...!"
"Gio?." Mala mengulangi.
"Mas Gio tega banget! aku benci sama Mas Gio ... dia udah bunuh Mas Dirga. Aku nggak nyangka, Mala ...." Wiwik menangis sambil memeluk Mala."Laki-laki yang aku cintai ternyata pembunuh."
"Apa?!." Mala langsung melepas pelukan, dengan mata terbuka lebar. Terkejut mendengar pernyataan Wiwik.
"Jadi, laki-laki yang kamu bangga-bangga kan, itu, ternyata laki-laki yang ada di tv tadi sore?."
Wiwik mengangguk.
Mala menghela nafas panjang berat, sambil memandang Wiwik."Ganteng, sih ... tapi aku kok, ndak yakin dia mau sama kamu."
"Gimana-gimana pun, tetap Doddy yang lebih baik. Walaupun mukanya ngeselin ... tapi dia itu baik. Jelas-jelas cinta mati sama kamu."
"Udah ... mending kamu terima aja cintanya, Doddy." kata Mala, sambil melirik sekilas pada Doddy yang sedang berdiri didekat pintu masuk, sambil menyalami tamu.
__ADS_1
"Kamu itu, loh ... aku ini lagi sedih karena patah hati. Mbok yo, aku itu dihibur." kata Wiwik sedikit kesal."Malah ngebahas Doddy yang selalu bikin aku kesal."
Mala cekikikan pelan."Udah ndak usah sedih gitu mukanya. Bibirmu itu, loh ... lama-lama tak peratiin makin maju, kayak bibir teko." ucapnya, sambil menunjuk kearah teko air minum yang ada diatas meja.
"Sembarangan!." Wiwik tertawa lucu."Eh, tapi ... bukannya kasus kecelakaan Mas Dirga waktu itu, kata polisi karena kecelakaan tunggal?."
"Dan kasusnya udah dihentikan, juga, kan?." tanya Wiwik memastikan.
"Iyo, Yo?!."
"Terus kok tiba-tiba terkuak lagi ... sekaligus, sama kasus pembunuhan Papanya Mas Dirga 21 tahun lalu, loh ... ini kok, aneh, yo?."
"Ho'oh .... siapa yang buka kasus ini lagi, ya?!." timpal Mala bertanya-tanya kebingungan.
Beberapa menit kemudian, acara pengajian dimulai.
Sepanjang acara, Dhia terus menangis. Begitupun, Mbok Siah. Tatapan orang-orang memandangnya iba. Diusianya yang masih muda, dan baru saja dikaruniai keturunan, ia sudah harus kehilangan sang suami.
Saat ini, detik ini ... Dhia sudah mengikhlaskan kepergian Dirga. Menerima garis takdir yang sudah Allah tentukan, untuknya, dan anaknya.
Acara pengajian itu begitu khidmat. Ditutup dengan doa, dan pembagian bungkusan cemilan untuk para tetamu yang hadir.
"Dhia ... biar Chakra aku yang gendong." kata Tamara, ditengah para tamu-tamu yang mulai berpulangan."Kamu pasti lelah."
"Makasih, ya." Dhia memberikan baby Chakra pada Tamara, yang sejak tadi tertidur pulas di pangkuannya.
Tamara tersenyum.
"Maafkan Daddy ... karena pas acara pengajian dimulai, Daddy baru datang."
Dhia mengangguk pelan seraya tersenyum tipis."Tidak apa, Dad ..."
Aliya tersenyum."Sudah ditelpon dari tadi sore ... tapi kamu tahu sendiri Daddy kamu ini orangnya super sibuk. Selain mengurus perusahaannya yang di Singapura, dia juga harus mengurus perusahaan milik suamimu."
"Kalau Daddy mengizinkan ... aku bisa kok, mengurus perusahaan suamiku." kata Dhia menawarkan diri.
"Oh, tidak perlu!."
Dhia mengernyit.
"Maksud Daddy ... untuk saat ini, biar Daddy saja yang urus. Kamu fokus saja dulu untuk membesarkan Chakra." kata Arhan.
Dhia hening. Lalu memandang Arhan dengan netra berkaca-kaca. Sejurus kemudian ia menghamburkan pelukan, memeluk pria paruh baya itu sambil menangis."Terima kasih, Daddy ... terima kasih sudah mengungkap semua kejahatan Malik dan Gio."
"Ini adalah salah satu harapan besar Mas Dirga, untuk membuka kejahatan mereka, dan mengurung mereka kepenjara."
"Aku yakin ... Mas Dirga pasti bahagia saat ini. Dendamnya sudah terbalaskan." ucap Dhia sambil menangis tersedu-sedu.
Arhan yang tiba-tiba dipeluk, memang tadi sempat mematung. Tapi akhirnya, kedua tangannya menyambut pelukan Dhia. Ia pun, turut menangis haru.
"Malik dan Gio memang sudah seharusnya dikirim ke penjara, nak." kata Arhan sambil mengusap kepala Dhia."Mereka tidak bisa lagi dibiarkan menghirup udara dengan bebas." sambungnya lagi.
"Tapi ..." Arhan mengurai pelukan. Memandang wajah Dhia yang sudah sembab karena sejak tadi terus menangis.
"Tapi, apa, Dad?." tanya Dhia dengan tatapan cemas.
"Bukan Daddy yang sudah memasukkan Malik dan Gio ke penjara." aku Arhan.
"Lalu?." tanya Dhia dengan tanya menuntut jawaban.
__ADS_1
Tak hanya Dhia, semua orang yang tersisa di aula itu, turut menunggu jawaban dengan rasa penasaran yang besar.
"Orangnya ada disini." Arhan melempar pandangan ke arah pintu masuk. Tersenyum ke arah pria tinggi yang berdiri didepan pintu.