
Sudah sholat subuh? terdengar suara Rossa dari balik ponsel yang sengaja ditempelkan Dhia disisi telinganya.
"Sudah, Ma. Ini baru selesai."ujar Dhia sembari meletakkan sajadah ditepi tempat tidur.
Mama minta maaf, karena tidak bisa menjenguk Dirga. Kamu tahu sendiri, nak ... adik kamu Inka juga belum sembuh kakinya.
"Iya, Ma. Nggak apa-apa. Mas Dirga juga sudah baik-baik saja. Hari ini juga sudah masuk kerja."
Syukurlah, nak. Rossa hening sesaat. Tapi sesaat kemudian ia kembali bersuara. Apa Dirga baik sama kamu?
Kali ini Dhia yang hening. Ia mengingat bahwa sampai saat ini Dirga belum juga memberinya tempat dihati. Tapi sejak kejadian kaki Dirga tertimpa kayu seminggu lalu, Dirga memang tidak lagi membentaknya. Meski masih terkesan dingin dan ketus. Dhia selalu menawarkan diri untuk membantu. Entah itu membantu pria itu berjalan, atau sekedar membuatkan hal-hal kecil lainnya. Walau terkadang di tolak, tapi akhirnya Dirga menurut. Begitu seterusnya selama beberapa hari ini.
Perlahan ada kemajuan. Dhia pun sudah berjanji untuk tetap bersabar. Ia percaya suaminya itu akan membuka hati untuknya. Meski tidak tahu kapan waktu yang dinanti itu tiba.
Dhi ...
"E-iya, Ma."
Mama tanya, dijawab dong.
"Mama tanya apa?"Dalihnya seolah tidak mendengar.
Dirga baik nggak, sama kamu?
"Baik, lah, Ma. Memangnya kenapa?"
Syukurlah, nak. Enggak apa-apa.
Suara hening sesaat.
Kapan mulai ujian Komprehensif? Rossa melempar pertanyaan lain.
"Besok, Ma. Doain ya, Ma. Supaya semuanya lancar. Dhia bisa menjawab ujian dengan hasil yang bagus."
Tentu, sayang ... Mama do'ain. Enggak terasa, ya ... sebentar lagi kamu sudah wisuda.
Dhia tersenyum."Iya, Ma."
Pukul tujuh pagi, Dhia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Ia turun kedapur untuk memulai sarapan. Disana ia tak menemukan suami ketusnya itu. Yang terlihat hanya bekas piring kotor yang saat ini sedang dibereskan oleh Wiwik.
"Pagi, Mbak Dhia yang cantik."Sapa Wiwik dengan begitu riangnya.
"Pagi, Wik. Mas Dirga mana? Sudah pergi?"
"Sudah, Mbak. Tadi berangkatnya buru-buru. Pas Wiwik tanya, 'Mas Dirga ... Kenapa buru-buru perginya'?"ujar Wiwik memperagakan cara dia bertanya sebelumnya pada Dirga.
"Katanya banyak kerjaan."sambungnya.
"Oh."
"Mbak Dhia mau sarapan? Mau sarapan apa? Ada roti, ada, nasi goreng ... ada mi goreng. Mau yang mana? Biar Wiwik buatkan."
Dhia tersenyum."Nggak usah Wik. Aku ngambil sendiri. Mending kamu ngerjain yang lain aja."
"Ya sudah, Mbak Dhia sarapan yang banyak. Biar montok kayak Wiwik."ujar Wiwik seraya berjalan meletakkan piring kotor ke dalam wastafel.
Dhia yang mendengar celotehan Wiwik hanya tersenyum sambil bergeleng.
"O-iya ... Mbak Dhia ingatkan rencana kita nanti malam?"Wiwik kembali menghampiri Dhia yang sedang makan.
"Ingat, Wik."sahut Dhia sekenanya.
"Kebetulan bahan-bahannya habis, nanti biar Wiwik aja yang belanja, Mbak."
"Iya, Wik ... makasih, ya. Kamu baik banget deh."
"Iya ... buat Mbak Dhia, apa sih, yang nggak."Wiwik cekikikan.
_________
Suara pintu yang terbuka tak mengalihkan pandangan Dirga dari laptop yang teronggok dihadapannya. Jemarinya terus bergerak menyesuaikan warna dan mengatur garis pada desain bangunan yang beberapa hari ini ia kerjakan. Meski libur akibat sesuatu yang tak terduga, bukan berarti dirinya harus berleha-leha untuk menjalankan tugas sebagai pengusaha kontruksi saat ini.
__ADS_1
"Wuih ... udah kerja aja. Udah sehat?"seru Gio yang baru saja masuk.
"Hemm ."Respon Dirga tanpa melihat.
"Lagi ngapain?"
"Membuat desain gedung hotel. Aku ingin memperlihatkannya pada Pak Wibido. Semoga dia tertarik dan mau berkerja sama dengan perusahaan kita."
Gio manggut-manggut."Aku ada kabar baru tentang orang itu."
"Ceritakan."
"Dari informasi yang aku dapatkan, dia saat ini sedang berada di Malaysia. Tapi ...."Gio menggantung kalimat.
"Tapi apa?"Dirga langsung menoleh meninggalkan pekerjaannya saat ini.
"Dia sepertinya depresi. Saat sini sedang menjalani perawatan khusus disana. Kalau menurutku, lebih baik biarkan dia sembuh dulu. Nanti setelah dia benar-benar pulih dan normal kembali, kita bisa menemuinya langsung ke Malaysia."
"Apa itu karena kasus korupsi yang melibatkannya dulu?"Dirga menelisik.
"Bisa jadi juga karena itu. Tapi dari informasi yang aku dapatkan, kondisinya semakin parah ketika dia baru saja keluar dari penjara."
"Dan itu sejak lima tahun lalu, ketika dia mengetahui bahwa istrinya sudah menikah lagi."
"Apa menurut kamu dia masih ada harapan untuk bisa sembuh?"
Gio menghela nafas panjang."Entahlah ... tapi lebih baik kamu berdoa saja."
Dirga hening. Saat ini, hanya pria itulah yang menjadi harapannya untuk bisa menjadi saksi. Sementara orang yang dulu menjadi pengacara dalam kasus itu, saat ini tidak pernah ia temukan keberadaannya. Entah dia masih hidup atau sudah mati.
"O-iya, ada yang mau aku tanyakan sama kamu."
"Tanyakan saja."
"Kenapa kamu dendam pada, Dhia? Apa dia ada hubungannya dengan kasus korupsi proyek Gedung putih dua puluh tahun lalu dan kematian Papamu?"
"Dan siapa pria laknat yang ingin sekali kamu hancurkan sebenarnya? Apa Dhia dan pria itu saling berhubungan?"
"Aku paling tidak suka orang yang banyak bertanya. Jadi lebih baik tutup mulutmu. Karena suatu saat kamu akan tahu sendiri."
Gio kemudian menghela nafas panjang, lalu berdecak-decak pelan."Padahal Dhia cantik, Ga. Wajahnya juga terlihat bahwa dia adalah wanita yang lembut. Sayang sekali dinikahi hanya untuk melampiaskan dendam."ucapnya seraya memandang langit-langit ruang kantor.
"Kalau dendam kamu sudah terbalas, berikan Dhia padaku. Aku akan menikahinya.Tapi ingat .... jangan dicolek-colek itu prempuan. Takutnya kamu khilaf lagi."cerocos Gio sampai akhirnya dia berhenti ketika mendapati Dirga memandangnya dengan sorot mata tajam menghujam.
"Ups ... Sorry, sorry, bro. Becanda, becanda ...."ujarnya sambil cengengesan."Aku keluar dulu, ya. Mules tiba-tiba."Gio nyengir seraya memegangi perutnya yang rata.
"Jam sebelas ada meeting. Awas kalau kamu nggak datang."seru Dirga dengan nada mengancam.
"Oke, aman!"sahut Gio sambil menutup pintu.
________
"Selamat siang, Pak Wibido."Sapa Dirga seraya mendudukkan diri diikuti dengan Gio yang juga sudah duduk disebelahnya. Ia kemudian meletakkan tas kerja miliknya, lalu mengambil laptop dari dalam sana.
Pak Wibido tersenyum."Selamat siang, Pak Dirga. Wah ... pengantin baru semakin gagah saja."godanya yang dibalas senyum tipis dan dengusan oleh Dirga.
"Selamat atas pernikahan kamu. Waktu itu saya tidak bisa hadir. Mendadak ada urusan ke luar kota."
"It's, oke, Pak."Dirga tersenyum.
"Oke, bagaimana? Rancangannya sudah siap?"tanya Wibido antusias.
""Sudah, Pak. Ini dia ..."Dirga menyodorkan rancangan desain hotel yang baru saja ia selesaikan. Pak Wibido terlihat terpukau melihatnya. Sudah bisa dipastikan pria paruh baya itu menyukainya.
"Ini bagus sekali, Pak Dirga. Saya yakin kamu memang bisa diandalkan."
"Terimakasih, Pak."Dirga tersenyum.
"Rancangan desain ini sangat bagus. Tapi kenapa kamu memilih menanam pohon-pohon dibelakang gedung ini. Apakah ini tidak menghalangi pemandangan disetiap sudut kota?"
"Tanah dibagian itu kebetulan sangat landai, Pak. Jika dibiarkan, dikhawatirkan akan merusak sisi bangunan jika terus menerus terkena kikisan air hujan."Ujar Dirga seraya menunjuk bagian desain yang dipertanyakan oleh Pak Wibido."Apa lagi dikota ini sering sekali terjadi banjir."
__ADS_1
"Jadi, saya lebih memilih untuk meratakannya, dan membuatnya menjadi sebuah taman. Selain itu, pohon-pohon ini juga bisa mengurangi terjadinya abrasi agar tidak bisa meruntuhkan bangunan."Sambung Dirga lagi.
"Karena kebetulan Bapak memilih tempat disekitar kota, taman dan pohon-pohon ini menurut saya bisa menarik minat pengunjung. Bukan hanya melulu melihat keramaian kota, tapi mereka bisa melihat pemandangan hijau yang membuat mereka seperti berada disebuah pedesaan."Dirga memungkasi.
Pak Wibido tersenyum manggut-manggut."Rasanya saya tidak perlu meragukan kamu lagi. Ide-ide kamu memang bagus, Pak Dirga."
"Terima kasih, Pak."
"Oke ... hari ini saya memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan anda."
"Kalau masih ada yang kurang cocok. Bapak bisa langsung menghubungi saya, Pak."ujar Gio yang sedari tadi duduk mendengarkan.
"Tentu, tentu ..."sahut Wibido sambil tertawa renyah."Oke, sepertinya ini sudah cukup. Saya mau permisi dulu. Masih ada pekerjaan yang belum selesai."ujarnya seraya menyalami Dirga dan Gio.
Kebetulan mereka sedang berada disebuah restoran. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Dirga dan Gio pun memesan dua porsi makanan. Disaat tengah menikmati makan siang, seorang pria paruh baya dengan bentuk perut yang terlihat buncit, masuk kedalam restoran tersebut dan menyapa mereka. Pria paruh baya itu adalah Malik Mahendra Hartawiawan.
"Hei, Dirga ... kamu disini. Boleh Papa bergabung?"
Dirga memasang senyum tipis."Silahkan, Pa."
"Bagaimana urusan kantor, aman?"tanya pria paruh baya itu.
Sementara Gio masih asik menyantap makanan. Tanpa memperdulikan anak menantu yang sedang berbicara dihadapannya. Rupanya sedari tadi pria itu sudah menahan lapar. Perutnya terus bernyanyi meminta diisi. Namun berhubung bertemu klien penting, ia terpaksa menungga sampai rapat selesai.
"Aman, Pa."Sahut Dirga sekenanya.
"Papa dengar kamu bekerja sama dengan perusahaan Wira Citrawisata. Apa itu benar?"
"Dari mana Papa tahu?"Dirga menyipitkan mata.
Malik tertawa renyah."Tentu saja Papa tahu. Papa kenal dekat dengan Pak Wibido. Papa tahu dari dia."
Dirga menatap tidak suka. Rasanya ia ingin sekali menghajar batang hidung pria yang sedang tertawa dihadapannya saat ini. Namun tentu itu tidak mungkin. Karena saat ini, rencananya baru saja dimulai.
Gio menyadari raut wajah itu. Hatinya kian bertanya-tanya. Pria tua ini Papa, Dhia ... apa itu artinya? bathin Gio. Matanya tiba-tiba terbuka lebar. Sepertinya ia sudah mengerti sesuatu. Ia sempat mengumpat dalam hati karena menyadari otaknya yang lambat.
"Maaf, Pak ... saya permisi dulu. Mau ke toilet sebentar."ujar Gio seraya nyengir.
"O, iya ... silahkan."Malik tersenyum pada Gio.
"Kamu silahkan lanjut makan. Papa ada urusan sebentar."ujar Malik seraya beranjak dan menepuk bahu Dirga.
Papa? Dirga berdesis.
__________
Wiwik yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun karena merasakan bagian salahsatu organnya terasa sesak dan ingin segera dikeluarkan. Ia pun buru-buru berlari menuju kamar mandi. Setelah dirasa lebih lega, ia pun keluar. Betapa terkejutnya dia karena melihat jam yang menempel rapih didinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Lah ... aku ketiduran lama banget. Ini Mas Dirga udah pulang belum, ya?"Wiwik buru-buru berjalan berniat untuk membuka pintu ruang kerja, namun tanpa sengaja netranya tertuju pada Dhia yang sedang tertidur diatas sofa ruang tamu. Sementara disisinya terdapat sponge cake yang berbentuk cantik diatas meja.
"Kalau cake-nya aja belum dimakan, itu artinya Mas Dirga belum pulang, dong dari kantor."Wiwik menghela nafas panjang."Kasihan Mbak Dhia ... udah capek-capek buat cake cantik penuh cinta, eh .... Mas Dirga nya malah nggak pulang-pulang."
"Lagian Mas Dirga ini kemana, sih? Udah hampir tengah malam, loh."Wiwik kembali menghela nafas."Mending cake-nya tak simpen dulu, nanti direbungi semut kan, sayang."Wiwik akhirnya membawa cake tersebut ke dapur dan memasukkannya kedalam kulkas. Ia kemudian berbalik dan berniat untuk membangunkan Dhia, tapi suara pintu yang terbuka membuat kakinya berhenti.
Dirga yang baru saja masuk berniat langsung menaruh tas ke ruang kerja, namun sosok gadis yang tengah tertidur pulas mengenakan piyama berwarna maroon itu, menghentikan langkahnya.
Ngapain dia tidur disini, kayak nggak punya kamar aja. bathin Dirga.
Pria itu sepertinya tak ingin peduli. Ia malah langsung melanjutkan langkah untuk menyimpan tas kerjanya dan kembali keluar. Tapi saat hendak melangkah menuju kamar, sosok Dhia yang sedang tertidur kembali menyita perhatiannya.
Angkat, enggak, angkat, enggak. begitu bathinnya menimbang-nimbang.
Dirga berdecak."Angkat ajalah."ucapnya kemudian melangkah menghampiri Dhia.
"Nyusahin aja kamu."Gerutunya seraya meraih tubuh gadis itu dan membawanya menuju kamar milik Dhia.
Sesampainya didalam kamar, Dirga pun langsung membaringkan tubuh mungil gadis itu, namun disaat yang sama, kedua tangan Dhia tiba-tiba saja memeluk Dirga dengan begitu erat, hingga pria itu hilang keseimbangan dan terjerembab menimpahi tubuhnya.
Dirga terkesiap, wajah Dhia begitu dekat didepannya. Netranya menyusuri setiap lekuk wajah gadis itu. Bulu mata halus yang berderet rapi, hidung bangir, serta bibir ranum berwarna merah muda seolah sudah menghipnotisnya. Tanpa sadar ia semakin dekat, matanya terpejam seperti ingin memberi jejak. Namun rupanya dendam dan bayangan masa lalu kembali hadir tanpa diminta. Dan detik itu juga berhasil mengembalikan kesadarannya dan memutuskan rasa yang sempat hanyut.
__ADS_1
Dirga buru-buru pergi. Masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu dengan sangat kuat. Arrggh! teriaknya seraya menyugar rambutnya kasar.
"Dasar bodoh!"umpatnya pada diri sendiri.