
Wiwik bernyanyi-nyanyi kecil didalam dapur. Didepannya sudah ada susu, jahe, telur, dan rempah-rempah. Sembari terus bernyanyi, ia memasukkan jahe yang sudah digeprek, 2 butir cengkih dan 2 butir kapulaga ke dalam air susu yang sudah mendidih.
"Hemm ... wangi." Ia mengendus aroma yang menguar dari dalam panci kecil itu, lalu tertawa cekikikan.
"Aduh ... aku nggak ngebayang, pas habis minum ini, pasti Mas Dirga bakalan terangsang."Wiwik memasang wajah geli, membayangkan apa yang akan terjadi."Panas ... membara, dan bergairah."
"Buk Rossa kok ada aja ya, akalnya. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin coba ngasi ide kayak begini." Wiwik terkekeh pelan ketika mengingat Rossa yang pagi tadi meneleponnya.
Gimana, Wik? mereka masih berantem? tanya Rossa kala itu.
"Kelihatannya sih, begitu, buk ... dari yang Wiwik lihat, Mbak Dhia sama Mas Dirga masih diem-dieman."
Terdengar suara wanita paruh baya itu menghela nafas berat. Ini sudah tiga hari, masa iya, mereka mau diem-dieman terus.
"Ya mau gimana lagi, Buk ... Wiwik juga pusing mikirinnya."
Saya punya ide ujar Rossa saat itu.
Ya, segelas minuman perangsang gairah menjadi ide brilian dari Rossa. Saat ini, Wiwik sedang membuatnya, menuangkan susu cair yang sudah mendidih kedalam gelas yang sudah berisi kuning telur ayam kampung. Separuh bubuk didalam botol kecil turut ia masukkan. Kemudian mengaduknya hingga tercampur, lalu mendinginkannya diatas meja.
Suara pintu Penthouse yang terbuka membuat Wiwik menoleh. Disana, ia melihat Doddy yang sudah masuk sembari memapah tubuh Dirga. Ia pun buru-buru berjalan menghampiri.
"Laah, ini Mas Dirga kenapa. Kok mukanya pucet banget?"
"Entar aja neng, saya jelasin. Mas Dirga saya antar ke kamar dulu."
"Ya udah, cepetan."
Doddy memapah tubuh Dirga berjalan menapaki anak tangga. Sementara Dhia yang saat itu kebetulan berjalan hendak turun, menjadi panik.
"Mas, kamu kenapa, Mas?"
Dirga tak menjawab, kepalanya saat ini benar-benar pusing.
"Pak Dirga alergi makanan, Mbak. Dari tadi muntah-muntah terus, sampai lemas begini."kata Doddy memberitahu ketika selesai membantu Dirga berbaring.
"Tapi udah dibawa ke Dokter kok, Mbak ... jadi Mbak Dhia nggak perlu khawatir."
"Makasih, ya, Dod ..."
"Iya, Mbak ... sama-sama. Kalau begitu saya turun dulu."
Dhia mengangguk.
Doddy buru-buru keluar menarik lengan Wiwik.
"Loh, loh ... aku mau kamu bawa kemana?"
"Kawin lari."celetuk Doddy asal.
"Kawin lari, lambemu iku!."ujar Wiwik sambil melepaskan tangannya.
"Etdaah, neng Wiwik ... galak amat."
"Buatin minum dong, aus, nih."sambung Doddy sok manja.
"Wuenak tenan, koe ... ambil dewek!"tolak Wiwik cepat."Memangnya kamu siapa? manja banget minta-minta dibuatin minum segala."
"Elah, neng Wiwik ... tega bener ama calon suami sendiri."
Wiwik melebarkan mata memasang wajah geram. Rasanya ia ingin sekali menelan Doddy saat itu juga."Doddy!!"
__ADS_1
Doddy pun langsung kabur dan turun kebawah.
Wiwik menekuk wajah."Ngeselin banget jadi orang!"
Ia ingin kembali masuk untuk melihat Dirga. Namun tiba-tiba ia teringat oleh sesuatu.
"Minuman."
Wiwik Buru-buru turun, takut jika minuman itu sudah bermuara ditenggorankan Doddy. Dan benar saja, sesampainya didapur, ia melihat Doddy sedang meneguk minuman perangsang gairah itu hingga kandas tak tersisa.
"Doddy!"teriak Wiwik hingga seisi dapur bergetar.
Doddy terperanjat dan langsung tersedak.
"Neng Wiwik, teriakannya ngagetin mulu dari tadi. Kenapa sih?"
"Kenapa-kenapa ....!"Wiwik berkacak pinggang.
"Eh, iya ... ngomong-ngomong susunya enak banget. Neng Wiwik tau aja kalau saya lagi lemes abis nolongin Pak Dirga. Disuruh ngambil minum sendiri ..."
"Eh, nggak taunya dikasih seprais didapur."
"Seprais-seprais, lambemu ... kamu tau nggak itu minuman apa?"
"Itu susu neng Wiwik. Warnanya putih ... memangnya apa lagi?."
"Masa iya, air bekas cucian beras."celetuk Doddy."Eh ... tapi kok, tiba-tiba badanku rasanya panas ya?"
Doddy meraba-raba dadanya yang tiba-tiba panas, bahkan semakin panas menjalar ke seluruh tubuh. Hingga ia berkali membuang nafas meniupkan kebawah dadanya.
Walaah, perasaanku kok jadi nggak enak ... apa minumannya udah bereaksi, ya?
"Loh, loh ... neng Wiwik mau kemana?"tanya Doddy ketika Wiwik cicing lari kedalam kamar dan langsung mengunci pintu.
"Gagal total ini ceritanya. Nanti kalau buk Rossa nanyak, Wiwik jawabnya gimana, ya?" Wiwik menelan ludah ngos-ngosan akibat melarikan diri dari Doddy.
Saat itu suara dering dan getar ponselnya diatas nakas membuatnya berjengit karena terkejut.
"Laaah ... Buk Rossa baru dirasanin langsung nelpon aja."
Wiwik mengambil ponselnya, dan menjawabnya dengan ragu.
Hallo, Wik ... assalamualaikum.
"W-waalaikumusalam, buk."
Gimana, udah jadi kamu buat minumannya?
"U-udah, buk ... tapi ...."
Tapi apa, Wik?
"Tapi minumannya udah diminum sama Doddy, buk."
Diminum sama Doddy? kok bisa?
"Iya, buk ... tadi itu Doddy nganterin Mas Dirga pulang, gara-gara Mas Dirga sakit karena alergi makanan."
"Terus Doddy tiba-tiba haus. Dia langsung minum kedapur ... Wiwik lupa nyimpen, buk. Eh .... nggak taunya waktu Wiwik kedapur, susunya udah abis diminum sama Doddy."cerocos Wiwik panjang lebar.
Jadi Dirga sekarang lagi sakit?
__ADS_1
"Iya, buk."
Keadaannya sudah bagaimana sekarang?
"Masih lemas, buk. Kata Doddy tadi dikantor muntah-muntah terus."
Satu jam berlalu, Dhia dan Wiwik dikejutkan dengan seruan bariton dari arah ruang tamu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."seru Wiwik saat merasa tak asing dengan suara itu. Wajahnya berbinar tatkala melihat wajah tampan Gio yang berdiri didepan pintu.
"Mas Gio ..."cicit Wiwik."Ya ampun Mas Gio ... tau aja kalau Wiwik lagi kangen."
"M-maaf, Wik ... saya cuma mau antar laptop Dirga yang ketinggalan."aku Gio datar.
"Oh, gitu."Wiwik menghela nafas kecewa."Ya udah, lah ... ndak apa-apa. Yang penting Wiwik bisa liat mukanya Mas Gio lagi."
"Mas Gio duduk dulu. Biar Wiwik buatin minuman spesial."
"Enggak usah, Wik ... saya buru-buru."
Wiwik berdecak."Udah, Mas ... ndak papa .... cuma minum sebentar ya nggak akan lama, kok."
"Ya udah, deh."Gio akhirnya pasrah.
Wiwik berjalan cepat kedapur. Coba aja kalau tadi yang minum susunya Mas Gio, bukannya Doddy ... pasti ....
Wiwik tak meneruskan kalimatnya. Ia terkekeh geli membayangkannya lebih dalam.
Dhia yang melihat Wiwik pun, hanya bisa bergeleng sambil terus mengulum senyum.
_________
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saat ini Dirga bersandar pada dinding tempat tidur, sembari menghadap laptop yang berada di pangkuannya, ia memeriksa pekerjaannya yang tadi siang sempat tertunda. Entah terlalu serius, ia bahkan tidak menoleh ketika pintu kamar terbuka.
Dhia meletakkan segelas minuman keatas nakas.
"Diminum dulu, Mas ... mumpung masih hangat."
Jari-jari Dirga berhenti bergerak diatas keyboard. Ia melihat kearah susu putih yang baru saja dibawa oleh Dhia. Sebuah aroma menusuk hidungnya.
"Minuman apa ini?"
"Susu yang sudah diracik. Itu bagus untuk menetralisir virus, atau alergi yang tadi masuk ke tubuh kamu. "
"Barusan aku juga minum ... enak, kok."
Dirga mengambilnya, dan langsung meminumnya dengan gerakan cepat. Lalu meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas nampan.
"Aku kedapur dulu."
Dhia mengambil gelas kosong itu, untuk mengembalikannya ke dapur.
Dirga kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Namun baru beberapa saat, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Rasa panas tak biasa, tiba-tiba saja menjalar mengaliri darahnya.
Kenapa begini?
Dirga berdiri, sambil berkali-kali membuang nafas mengatur sengatan panas yang semakin menjadi, kemudian dengan gerakan cepat membuka kaos hitam yang membalut tubuhnya.
Saat itu pula, Dhia kembali. Tatapannya langsung terkunci pada tubuh atletis yang terpampang menggoda didepannya. Gadis itu pun, merasakan hal yang sama. Ada rasa panas yang meronta, hingga membuatnya harus menelan ludah berkali-kali dengan nafas yang mulai tersengal.
__ADS_1
"Mas ... rasanya panas."suara Dhia tercekat."Aku nggak kuat."