Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Percuma, Itu Tidak Akan Berhasil


__ADS_3

Dirga membuka mata, menghela nafas panjang seraya merenggangkan otot-ototnya agar lebih rileks. Tapi sejurus kemudian ia terkesiap, ketika melihat tubuh atletisnya sudah polos, dan hanya tertutupi oleh selimut tebal berwarna gelap.


Ia sontak menoleh untuk melihat Dhia, namun gadis itu ternyata sudah terbangun lebih dulu. Tanpa sengaja netra Dirga tertuju pada bercak darah berwarna segar yang sudah hampir mengering diatas seprai berwarna putih.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?"lirih Dirga pelan sambil menyugar rambutnya pelan. Mengingat kembali kejadian tadi malam, tentang rasa panas tak biasa yang membuat birahinya membuncah tak terkendali.


"Mas ... rasanya panas."suara Dhia tercekat."Aku nggak kuat."


Ujar Dhia kala itu, yang hendak masuk kedalam kamar mandi, berniat menyirami seluruh tubuhnya dengan air, agar rasa panas itu segera padam. Tapi disaat yang sama tiba-tiba Dirga menarik tangan gadis itu, hingga Dhia terhuyung ke depan menabrak dadanya yang sudah polos tak berbaju.


"Percuma ... itu tidak akan berhasil."kata Dirga pelan, sambil kedua tangannya memeluk pinggang dan punggung gadis itu, ia menatap sayu pada bola mata Dhia. Tatapan yang sama dengannya, sarat dengan tatapan penuh hasrat yang tak tertahan.


Tubuh Dhia bergetar, dadanya bergerak naik-turun seperti berusaha menahan gairah. Dirga tahu itu, sedetik kemudian pria itu langsung melemparkan penyatuan pada bibir Dhia yang terbuka.


Dhia langsung menyambutnya. Seperti tak sadar keduanya seolah kehausan. Bermain lembut namun menggebu, keduanya sama sekali seperti tak ingin melewatkan setiap inci kemanisan yang tertanam, sambil kedua tangan mereka bergerak naik turun, mengusap setiap lekuk tubuh yang menghantarkan kehangatan pada tubuh masing-masing.


Sementara tangan keduanya tak berhenti saling meremas, dan meraba, tanpa melepas pertautannya, Dirga menuntun tubuh mungil Dhia hingga berbaring diatas ranjang. Ia sempat melepas pertautan, berusaha meraup sedikit oksigen ditengah nafas mereka yang tersengal. Lalu memulai kembali diiringi dengan tangan yang bergerak terburu-buru, membuka satu persatu kancing piama gadis itu, lalu membuangnya ke sembarang arah.


Detik itu juga, gundukan padat yang terbalut bra brukat berwarna merah itu, seketika terekspos. Terlihat kontras dengan tubuh putih gadis itu. Dengan tidak sabaran Dirga membukanya.


Darah Dirga semakin berdesir, nafasnya kian memburu. Sebuah rasa yang selama ini terpendam menambah gejolak gairah semakin menjadi. Dhia seketika terkesiap, ketika salah satu daging padat miliknya dilumat dan diremas. Tubuhnya menggeliat, matanya terpejam, sambil menggigit bibir merasakan dan menikmati sesuatu yang menggelitik lembut ditubuhnya.


"Mas ..."


Lirih Dhia masih terpejam, kedua tangannya mencengkram bahu Dirga dengan dada yang terus bergerak naik-turun. Ada yang terasa terbuka dibagian bawah tubuhnya, ketika sesuatu yang keras dan berdiri menyentuh dibagian itu.


"Mas ...."


Dhia menggeliat, ludahnya tercekat, dan melihat Dirga dengan mata yang kini terbuka sayu.


Rintihan Dhia seolah membuat Dirga mengerti. Sama hal dengan dirinya, ia pun sudah tak tahan menahan gelora panas yang semakin meronta. Ia turun sedikit, untuk melepaskan celana yang masih menutupi separuh tubuh gadis itu. Sementara dirinya sudah lebih dulu menghempaskan seluruh pakaian yang sempat melekat ditubuhnya.


Dirga mencium lembut kembali bibir Dhia, dan beralih pada kedua benda padat yang kini sudah polos tak tertutupi. Dhia kembali terpejam menikmati.


"Aku akan melakukannya."


Lirih Dirga pelan, lalu kemudian memajukan benda miliknya yang sudah mengeras, ke arah milik Dhia yang sudah basah, seperti sudah siap untuk ia miliki.


"Aaaakh!"


Dhia memekik dengan mata terbelalak. Tubuhnya menegang seketika, saat merasakan sesuatu yang keras menerobos masuk pada bagian bawah tubuhnya. Bulir bening pun, menitik dari sudut matanya, sesuatu yang terkoyak itu memberikan rasa perih yang teramat sangat.


Berbeda dengan Dirga, hasrat pria itu semakin meronta tak terkendali. Rasa panas kian menguasainya, hingga tak menyadari Dhia yang sedang kesakitan.


Perlahan Dirga mengayuh. Sesekali gadis itu kembali memekik, namun selang kemudian tak lagi terdengar, berganti dengan ******* pelan saat dirasa mulai menikmati.


Dirga semakin mempercepat kayuhannya, ketika merasakan benda miliknya yang terjepit seperti akan melakukan pelepasan. Beberapa saat kemudian terdengar Dirga menggeram, tubuh keduanya sama-sama menegang, merasakan sesuatu yang menyembur hangat melebur didalam sana. Seiiring peluh yang bercucuran, keduanya terkulai diatas ranjang dengan nafas yang tersengal.


Malam itu menjadi malam penyatuan raga dua insan yang tak terduga. Lirih cinta berbisik diantara keduanya, semoga suatu hari nanti, hati dan dunia juga mengakuinya.


Pintu kamar mandi terbuka. Dirga langsung menoleh, ia melihat Dhia yang saat ini sedang berdiri memakai jubah mandi dan rambut yang tersampul handuk putih.


Gadis itu bertingkah kikuk.


"K-kamu ... baru bangun, Mas?"


Dirga tak menjawab. Ia langsung berdiri sambil melilitkan selimut tebal itu agar menutupi separuh tubuhnya yang polos.

__ADS_1


"Dhia ... aku, aku .... minta maaf. Tadi malam itu, aku ... benar-benar tidak terkendali."


"Kamu nggak perlu minta maaf, Mas ... bukannya itu memang seharusnya sudah lama terjadi?"


"Kamu suamiku, Mas ... kamu berhak melakukannya."Dhia tersenyum tipis.


Dirga hening sesaat.


"Aku pasti menyakitimu tadi malam. Aku minta maaf."


Suara Dirga terdengar berat.


Dhia bergeming, namun kemudian sudut bibirnya mengukir senyum tipis. Tak dipungkiri, rasa perih itu bahkan saat ini masih terasa. Tadi malam suaminya itu memang sedikit menggebu. Namun Dhia bisa mengerti akan hal itu. Meski sejujurnya, ia mengharapkan malam pertama yang romantis, penuh kesadaran dan kelembutan. Tapi segelas minuman yang mereka minum tadi malam, menjadi penyebab terjadinya kubangan gairah yang tak terduga di antara keduanya.


"Tidak apa, Mas ... aku mengerti."


Dirga balas tersenyum tipis.


Suasana hening kembali, hingga kecanggungan menyambangi keduanya.


"Aku, mandi dulu."kata Dirga akhirnya.


Dhia mengangguk pelan.


"Oh, iya ..."Dirga kembali berbalik saat sudah melangkah. Sontak, Dhia pun kembali menoleh dengan tatapan tanya.


"Seprainya berdarah."cicit Dirga pelan."Jangan lupa diganti, ya ..."


"Iya, Mas." Wajah Dhia langsung memerah karena malu.


"Mbak Dhia sama Mas Dirga betah banget didalam kamar."Wiwik tertawa cekikikan.


"Dari kemarin-kemarin sok jual mahal, sih. Udah kenak sekali, baru deh, nagih-nagih ... langsung lupa keluar dari dalem kamar."Wiwik kembali cekikikan.


"Coba kalau aku udah nikah sama Mas Gio."Wiwik senyum-senyum membayangkan malam pertamanya bersama Gio, namun anehnya, malam pertama yang ada didalam bayangannya itu, justru menampilkan wajah Doddy yang sedang tersenyum genit kepadanya. Sontak saja Wiwik tersentak.


"Kok Doddy sih, yang nongol?"Wiwik bergidik.


"Enggak didalam khayalan, nggak didunia nyata, dia aja yang nongol. Kesel aku!"Wiwik mengerucutkan bibirnya.


Suara langkah menuruni tangga membuat Wiwik menoleh."Eh, Mbak Dhia ... baru bangun, Mbak? Itu mukanya kok pucet banget, kenapa?"tanya Wiwik tanpa dosa.


Mbak Dhia kurang tidur, ya? terus ... Mas Dirga-nya mana?"


"Mas Dirga masih siap-siap mau berangkat ke kantor."


"Oh gitu ... Mbak Dhia mau sarapan sekarang? Wiwik udah buatin nasi goreng kesukaan Mbak Dhia, sama susunya juga."


Susu?


Rupanya kata susu membuat Dhia kembali teringat dengan kejadian tadi malam. Sebuah minuman yang sepertinya merupakan sumber dari percikan, yang berhasil mengobarkan rasa panas tak biasa didalam tubuh keduanya malam tadi.


"Wik ..." panggil Dhia datar.


"Iya, Mbak?"


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi aku minta kamu jawab jujur."

__ADS_1


"Minuman yang kamu buatin tadi malam itu, minuman apa?"tanya Dhia dengan tatapan menyelidik.


Wiwik sempat hening, tapi akhirnya bersuara.


"Mbak Dhia nanya apa, sih? kan jelas-jelas minumannya putih. Ya berarti susu. Masa iya, air tepung, Mbak?"


Dhia menghela nafas pelan."Iya, Wik ... aku tahu, itu susu. Maksud aku, itu susunya kamu kasih apa?"


Wiwik menelan ludah sembari berdiri tergugu."E ... anu, Mbak .... Wiwik akan ngomong. Tapi sebelumnya Wiwik minta tolong Mbak Dhia jangan marah, ya ...."


Dhia hening, dengan sabar menunggu Wiwik untuk segera menjelaskan.


"Itu minuman perangsang gairah, Mbak."kata Wiwik dengan suara pelan.


Sontak Dhia langsung melebarkan mata.


"T-tapi Wiwik disuruh Mbak, sama Buk Rossa."


Kali ini Dhia semakin tak percaya.


"Mama?"


"I-iya, Mbak. Mbak Dhia jangan marah, ya ... jangan kasih tahu Mas Dirga juga."


Dhia menghela nafas tak percaya.


Ya ampun ... Mama ada-ada aja, deh.


Saat ini, Dirga dan Dhia menyantap sarapan bersama. Keduanya hanya diam, meski sesekali saling melirik dari ekor mata masing-masing.


Itu menjadi tanya besar oleh Wiwik yang saat ini sedang berdiri didekat kompor sambil berpura-pura menge-lap sesuatu.


Ini sebenarnya tadi malam rencana Wiwik sama Buk Rossa sukses, nggak, sih? Kok Mbak Dhia sama Mas Dirga kayak masih berantem gitu. Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.


"Wik!"panggil Dirga dengan suara cukup keras, hingga membuat wanita itu terperanjat.


"I-iya, Mas."


"Sini kamu."


Dirga melemparkan tatapan tajam.


Wiwik mendekat sembari menelan ludah gugup.


"Sekarang kamu kemasin pakaian kamu, dan keluar dari Penthouse ini."


"Kamu saya pecat."pungkas Dirga tanpa melihat.


Wiwik terkejut. Wajahnya berubah pias.


Begitupun Dhia, wanita itu melihat Dirga tak percaya.


"Jangan kamu fikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan."sambung Dirga lagi.


"W-wiwik minta maaf, Mas Dirga."


Lirih Wiwik pelan.

__ADS_1


__ADS_2