Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Dhia Semakin Berani.


__ADS_3

Dari kejauhan, Tamara melihat Dirga turun dari dalam mobil kemudian berjalan dengan langkah panjang mendekat ke arahnya.


"Kenapa pergi duluan?"


"Yes, because i don't want to linger in my eyes on the office."(Ya, karena aku tidak ingin berlama-lama mengotori mataku didalam kantor.)kata Tamara tanpa memandang Dirga.


Dirga terkekeh pelan.


Mendengar itu, Tamara langsung menoleh dan menatap sinis."Do you love her?"(Kamu mencintainya?"


"I don't know."Dirga mengedikkan bahunya.


"Dimana, Pak Wibido? Dia sudah datang?"tanya Dirga seraya berjalan menuju ruangan yang khusus dibuat untuk tamu penting, disekitar gedung proyek hotel Wira CitraWisata.


"Dia ada didalam. Dia datang bersama anaknya."ujar Tamara seraya menyusul langkah Dirga yang berjalan cepat didepannya.


"Anaknya?."Dirga berhenti, seraya menoleh memandang Tamara.


"Yes, that's theme."(Ya, itu mereka.) Tamara menunjukan dagunya pada tiga orang pria yang sedang duduk, terlihat dari dinding kaca ruangan tersebut.


Dirga menoleh. Jarak mereka sudah cukup dekat, hingga ia bisa melihat orang-orang didalam ruangan itu dengan sangat jelas. Sorot matanya langsung tertuju pada pria muda yang duduk tepat disisi kanan Pak Wibido. Pria yang akhirnya bisa membangkitkan sebuah rasa yang sebelumnya hampir tak pernah ia rasakan. Cemburu.


Dirga kembali melangkah, dan langsung masuk menyapa Pak Wibido yang tersenyum ramah menyambutnya."Selamat pagi, Pak. Sudah lama sampai?"


"Selamat pagi. Tidak lama juga, paling baru habis tiga gelas kopi."seloroh Pak Wibido sambil tertawa renyah. Yang langsung disambut senyum lebar oleh Dirga.


"Oh, iya, perkenalkan ..."Pak Wibido menoleh pada pria muda yang duduk disebelahnya."Anak saya. Prawira Dhanuarta."


Pria yang kerap disapa Dhanu itu langsung mengulurkan tangannya. Yang akhirnya langsung disambut hangat oleh Dirga. Keduanya saling memandang, tersenyum, namun mengandung arti tersembunyi.


"Senang bertemu denganmu kembali."ujar Dirga ramah namun tetap terkesan dingin.


Dhanu tersenyum tipis, hampir tak terlihat.


"Kalian sudah saling kenal?"Gio yang sedari tadi berada disitu akhirnya membuka suara. Sementara Pak Wibido masih menatap tak percaya.


"Iya,"Dirga medudukkan diri pada sofa berwarna hitam minimalis didalam ruangan itu."Dhanu teman kuliah istri saya, Dhia."terangnya seraya memandang Pak Wibido."Beberapa kali sempat bertemu ketika saya menjemput Dhia."


"Oh begitu."Pak Wibido tertawa tak percaya."Itu, bagus. Kalian tidak akan merasa canggung lagi nanti."


"Kebetulan, Dhanu lah, yang akan meneruskan proyek ini nanti setelah wisudanya selesai. Saya sudah tua. Saatnya anak saya nanti yang akan menggantikan posisi saya."terang Pak Wibido.


Dirga manggut-manggut."Oh begitu. Selamat untukmu. Selamat bergabung didunia bisnis ini."ujarnya sambil tersenyum tipis pada Dhanu.


"Terimakasih."sahut Dhanu datar.


"Oh iya, untuk proyek ini, kalau memerlukan bantuan apapun, jangan segan-segan untuk menghubungi saya."


"Tentu saja, Pak. Peralatan dan material pembangunan saat ini masih mencukupi. Uang yang dikirim seminggu lalu juga masih cukup untuk menutupi kekurangan lainnya."


"Oh, gitu."Pak Wibido manggut-manggut."Kalau begitu, saya mau kelapangan. Mau lihat-lihat."


"Oke, biar saya antar."Dirga berdiri. Melangkah keluar. bersama Pak Wibido. Disusul oleh Gio dan Dhanu yang berjalan dibelakangnya. Sementara Tamara, gadis itu sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.


Lima belas menit sudah mereka berkeliling, melihat-lihat proses pembangunan dilapangan yang terlihat baru berjalan tiga puluh persen. Termasuk cepat jika dilihat dari waktu yang sudah berjalan sejak dimulainya proyek ini. Dua Minggu, ya, begitulah kurang lebih. Terlihat ratusan para pekerja kontruksi begitu handal. Jelas, karena mereka semua pekerja bersertifikat yang sengaja dipilih Dirga dalam menyiapkan proyek ini.


Dhanu, yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya bersuara."Apa tidak sebaiknya para pekerja dikurangi saja? Ini terlalu banyak dan tentunya bisa menghabiskan banyak biaya."ucapnya mengkritik Dirga.


Dirga berdesis. Cuaca panas tengah hari sudah cukup membuat kepalanya hampir pecah. Mendengar komentar Dhanu, pria yang menurutnya masih ingusan itu, justru mencoba untuk mengomentarinya dengan alasan yang tak masuk akal.


Gio yang berada disamping Dirga menyadari perubahan raut wajah bosnya, itu. Langsung saja ia menjawab membuka suara."Maaf, Pak Dhanu. Tapi untuk target waktu dalam dua bulan saya rasa pekerja sebanyak ini sangat membantu."


"Jika pekerja dikurangi, kami takut hasil siap tidak sesuai dengan jadwal kontrak yang sudah disepakati. Dan tentunya, kasihan juga dengan mereka. Mereka hanya manusia bisa, Pak. Bukan robot."Gio memungkasi.


Wibido terkekeh pelan."Maafkan anak saya, Pak Dirga jika komentarnya kurang berkenan. Maklum, dia masih pemula dalam dunia bisnis."


"It's okey."Dirga tersenyum tipis."Sepertinya kamu masih perlu banyak belajar."ujarnya menepuk bahu Dhanu, seraya tersenyum tipis."Tenang saja, aku bisa mengajarinya."


Pak Wibido tertawa renyah.


"Tapi nanti, harus lulus kuliah dulu."Bisik Dirga ditelinga Dhanu seraya menepuk-nepuk bahu pria itu kembali. Sementara Dhanu, ia melemparkan tatapan tidak suka pada Dirga.


Setelah kepergian Pak Wibido dan anaknya, Prawira Dhanuarta, Dirga melangkah masuk keruang peristirahatan. Membuka helm pengaman dan langsung menaruhnya di atas meja. Kemudian mengambil tisu untuk menyusut keringat yang sudah membanjiri pelipisnya. Disana, ia melihat Tamara sedang memainkan ponselnya dengan wajah tertekuk.


"Temani aku belanja."ujar Dirga tiba-tiba.


Mendengar kata belanja, sontak Tamara langsung menoleh dengan wajah berbinar. Ekspresi yang cukup kontras dengan wajahnya beberapa detik lalu."Serius?"


"Iya."sahut Dirga datar.


Tamara tersipu. Kenapa tiba-tiba dia mengajak ku belanja? Apa dia menyadari kekesalanku dari tadi? Pasti dia mau minta maaf. Hihihihi bathin Tamara seraya senyum-senyum sendiri.


"Buruan! Malah senyum-senyum."Dirga berbalik seraya melangkah keluar. Sementara Tamara, gadis itu langsung berdiri dan berlari kecil mengimbangi langkah Dirga.


Sembari mengemudikan mobil, sesekali Dirga melirik ke arah kaki jenjang nan putih milik Tamara. Rupanya Tamara menyadari itu, ia pun jadi salah tingkah.


"Kakak, ngapain lihat-lihat kaki, aku?"Tamara bertanya malu-malu.


"Enggak apa-apa."sahut Dirga datar."Sepatu kamu ukuran berapa?"


"37, kak."sahut Tamara santai. Tapi kontras dengan hatinya yang berteriak kegirangan. Oh, my God, oh my God ... pasti kak Dirga mau belikan aku sepatu. Uhhh, ya ampun, sweet banget, sih? bathinnya riang.


Dua puluh menit didalam perjalanan, mereka akhirnya sampai didepan sebuah toko sepatu. Dirga langsung menepikan mobilnya dan bergegas turun. Didalam, keduanya langsung disambut dengan keramah-tamahan dari para karyawan toko.


"Silahkan, dilihat-lihat, Mas. Kami memiliki koleksi sepatu dari merek ternama dan model kekinian."ucap salah seorang karyawan wanita berbaju merah dengan rambut digelung itu.


"Terima kasih. Saya lihat-lihat dulu."ujar Dirga sembari menyapukan pandangan pada model-model sendal dan sepatu wanita yang berjejer rapi. Terlihat cantik-cantik dan elegan. Beberapa saat, Dirga belum juga memutuskan pilihan. Ia justru dibuat bingung dengan bermacam model dan warna yang belum pernah ia pilih selama hidupnya.


Dirga berdecak."Coba kamu yang pilih. Ambil yang menurut kamu, sepatu yang paling cantik ditoko ini."


"Oke."sahut Tamara antusias. Netranya langsung mencari, dan terkunci pada sepatu hak tahu yang terkesan mewah dan elegan."Ini bagus banget, kak."Ia langsung mengambilnya.

__ADS_1


"Coba kamu pakai."


"Mbak, tolong pakaikan."titah Tamara dengan sombongnya. Seorang karyawan toko yang sedari tadi berdiri berjalan mendekat. Dan langsung memakaikan sepatu cantik itu dikaki putih Tamara.



"Oke, saya ambil itu."ujar Dirga ketika merasa sepatu itu benar-benar cantik. Selain tidak terlalu tinggi, tapi juga aman untuk dipakai.


"Mau langsung dipakai atau dilepas dulu, Mbak?"tanya karyawan wanita tersebut pada Tamara.


"Langsung dilepas."sahut Dirga cepat."Dan tolong, dikemas dengan rapi."


Tamara tersenyum ambigu."Iya, langsung dikemas."


"Baik."ujar karyawan wanita tersebut seraya mencopot sepatu tersebut dari kaki Tamara.


"Kamu pilih sendiri aja."Dirga mengeluarkan black card dari dalam saku jasnya lalu memberikannya pada Tamara."Besok kembalikan."


"Loh, kok ... "Tamara mengambil black card itu kebingungan. Belum lagi sempat ia bertanya, Dirga sudah pergi ke kasir untuk mengambil barang yang ia beli. Kemudian langsung keluar dari toko itu.


"Kak, kak Dirga!"seru Tamara, namun Dirga sudah berlalu."Kalau sepatu itu bukan untuk aku? Jadi untuk siapa?"tanyanya pada diri sendiri.


Tamara hening.


Untuk Dhia? Tamara langsung membulatkan mata. Jujur, ia tak terima karena Dirga memanfaatkannya demi wanita itu.


"Hiiisss, sialan!"umpatnya geram.


_________


Dhia berjalan memasuki sebuah butik ternama yang ada di Jakarta Selatan, tepatnya dijalan, Dharmawangsa. Senyumnya mengembang ketika netranya tertuju pada wanita berkulit putih yang sedang sedang berdiri didekat sebuah manekin berkebaya nude.


"Mama sudah lama?"


"Belum. Mama baru saja sampai."Rossa tersenyum."Ayo masuk keruang fitting, biar Mama temani."


Dhia mengangguk pelan. Ia melangkah bersama Rossa memasuki ruang fitting baju. Disana, terlihat dua orang wanita menyambut mereka dengan senyum ramah.


"Anaknya cantik banget, ibu. Pasti akan semakin cantik kalau pakai kebaya ini."ujar desainer, sekaligus pemilik butik tersebut. Namanya adalah Melinda.


Rossa dan Dhia tersenyum.


"Ini, kebayanya. Silahkan dipakai."Melinda menyodorkannya, dan Dhia pun, langsung mengambil, untuk mencobanya. Sebuah kebaya berwarna grey dan kain rok bercorak batik berwarna coklat yang didominasi warna hitam.



"Kamu cantik banget, sayang."Rossa menatap kagum."Kamu suka?"


"Suka, Ma."ujarnya lembut, saat desainer dan seorang karyawan butik tersebut menambahkan beberapa payet dilengan kebayanya.


"Selesai."ujar Melinda, dan tersenyum puas ketika melihat kebaya cantik itu membalut tubuh mungil Dhia."Semoga wisudanya kamu lancar, ya. Dan lulus dengan hasil yang memuaskan."


"Ma, aku nggak bisa lama-lama."ujar Dhia ketika mereka keluar dari ruang fitting baju."Ada janji sama Yuli, Amel, dan Dini."


"Biasa, Ma. Jum'at berbagi."Dhia tertawa renyah.


"Oh, gitu."Rossa manggut-manggut."Kamu sudah makan siang, kan?"


Dhia mengangguk cepat."Aku pergi dulu, ya, Ma. Mereka udah nungguin."kata Dhia seraya mengambil tangan Rossa dan menciumnya takzim.


"Hati-hati, nak."seru Rossa ketika Dhia sudah masuk kedalam taksi. Ia bergegas untuk segera pulang. Tapi saat diparkiran, langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria muda yang ia kenali keluar dari dalam mobil berwarna hitam metalik.


"Dirga, kamu kenapa disini? Mau jemput Dhia?."


Dirga sempat terkejut. Namun kemudian kembali tenang."Oh, I-iya, Ma. Mau jemput Dhia."


"Loh ... ini Dhia, gimana, sih?"Gumam Rossa."Dhia baru aja pergi. Katanya ada janji sama teman-temannya. Emang Dhia nggak ada bilang sama kamu?"


"Enggak, Ma."sahut Dirga."M-maksudku ... aku yang gak tahu, soalnya dari tadi handphone aku di silent, jadi nggak tahu kalau Dhia nelpon."


"Oh, gitu."


"Mama mau pulang?"tanya Dirga.


"Iya. Tapi ... ada yang Mama pingin omongin sedikit sama kamu."


Dirga mengernyit.


Rossa melihat ke kanan, dan ke kiri. Suasana disekitar toko butik itu cukup sepi. Dan akhirnya Rossa memberanikan diri kembali membuka suara."Duduk dulu."ajaknya.


Dirga mengikuti langkah mertuanya yang membawanya duduk pada sebuah kursi kayu yang tersedia didepan teras butik tersebut.


Rossa menelan ludah. Ia ragu untuk memulai.


"Mama mau bicara apa?"


"Mama, mau minta tolong sama kamu."ujar Rossa akhirnya.


"Minta tolong, apa, Ma?"


"Lupakan dendam itu."Rossa melihat air muka Dirga yang berubah kaku."Kamu jangan salah paham dengan Mama."


"Mama bicara seperti ini karena tidak ingin kamu celaka."sambung Rossa."Malik akan melakukan apapun terhadap orang-orang yang mencoba mengusiknya. Mama tahu, kematian Papamu sudah membuatmu hancur."


"Tapi Mama juga tidak ingin kamu kenapa-kenapa"sambung Rossa lagi, seraya menelan ludah."Jadi Mama mohon ... tolong buang dendam itu. Maka dia tidak akan mengusikmu."


Dirga tersenyum sinis seraya mengulang kembali ucapan Rossa."Buang dendam itu."bibirnya bergumam."Kenapa? Mama takut aku memasukkan suami tercinta Mama ke dalam penjara?"


Rossa bergeleng."Tidak, Dirga. Mama hanya takut dia berbuat nekat menyakitimu."


"Kalau begitu, aku akan balas untuk menyakitinya. Beres kan, Ma?"ujar Dirga tak menyerah.

__ADS_1


"Jangan, nak. Mama mohon."Rossa kembali bergeleng."Jika kamu melakukannya, maka bukan hanya kamu yang ada dalam bahaya. Tapi Dhia juga."


"Mama tidak mau itu terjadi."ujar Rossa dengan sorot mata penuh ketakutan.


Dirga melihat sorot mata itu. Sorot mata yang menyimpan ketakutan, rasa tertekan, dan kesedihan.


Ada apa ini? kenapa Mama juga takut Malik menyakiti Dhia? Apa benar dugaanku, bahwa Dhia bukan darah daging Malik Mahendra Hartawiawan?


Dirga ingin bertanya sesuatu. Tapi kembali urung. Karena sepertinya sudah dipastikan Rossa tidak akan menjawabnya. Karena kalau tidak, wanita paruh baya itu pasti sudah menjelaskan alasan yang sebenarnya. Tapi ini tidak, wanita itu seperti menyimpan sesuatu.


"Mama tenang saja. Aku dan Dhia akan baik-baik saja. Dan aku janji akan menjaganya."Dirga tersenyum tipis, seraya memandang wajah sendu wanita paruh baya itu.


Rossa menghela nafas pelan.


"Mama mau pulang? Biar ku antar."


"Tidak usah, nak. Mama bawa mobil sendiri."Rossa beranjak dari duduknya."Mama pulang dulu."ujarnya seraya menyambut uluran tangan Dirga yang hendak menyalaminya."Mama titip Dhia, sama kamu. Tolong jaga dia."


"Pasti, Ma."


Rossa langsung melangkah menuju parkiran. Masuk kedalam mobil yang akan mengantarnya kembali ke rumah.


Sementara Rossa sudah tak terlihat, Dirga berdiri. Ia masuk kedalam butik tempatnya berada saat ini. Dan kembali keluar dengan membawa sebuah paper bag ditangannya.


_____________


Sendrapati Penthouse


Dirga menyandarkan punggungnya dikursi kerja. Termenung mengingat kembali masa-masa saat dirinya ingin melamar Dhia. Kala itu, Malik dengan tanpa keberatan langsung bersedia menikahkan Dhia kepadanya. Tak ada pertentangan, apa lagi saat mengetahui jumlah nominal uang yang akan dia berikan. Malik bahkan sempat menebar senyum kepuasan.


"Balas dendam kepadanya, sekaligus nikahi anaknya."kali ini terngiang suara Daddy yang dulu memintanya untuk menikahi Dhia.


"What?!"Dirga memandang Daddy tak percaya. Sungguh, itu adalah hal konyol yang tak pernah ia fikirkan."Menikahi anaknya? What for, Dad?"


Daddy tersenyum."Tentu supaya kamu bisa dengan mudah menggali informasi tentang pembunuh Papamu itu. Tapi ingat, jangan menyakiti anaknya. Karena anaknya tidak bersalah."


Dirga terkesiap ketika tiba-tiba saja merasakan sentuhan lembut dikedua bahunya. Ia langsung menoleh dan mengangkat wajah, dibelakangnya sudah ada Dhia yang sedang berdiri tersenyum manis memandangnya.


"Pulang kerja biasanya langsung mandi. Kenapa malah termenung disini?"tanya Dhia lembut.


"Masih, capek."ujar Dirga datar.


"Kamu, capek, Mas? Aku pijat, ya?"tanpa menunggu persetujuan pria itu Dhia langsung memijati bahu Dirga yang masih dibalut kemeja berwarna hitam tersebut.


"Enggak usah."ujar Dirga seraya menepis tangan Dhia seraya ingin berdiri. Namun kembali terhempas duduk karena Dhia buru-buru mencegatnya dengan sekuat tenaga.


"Duduk yang anteng kenapa, sih, Mas ... Di pijatin istri itu harusnya bersyukur."ujar Dhia seraya memijati kembali punggung, dan bahu Dirga."Diluar sana, banyak suami-suami yang capek, belum tentu istrinya mau mijitin."


"Sok tahu, kamu."sahut Dirga ketus.


Dhia mencebikkan bibir. Dan tentu saat itu Dirga tak bisa melihatnya.


Beberapa saat hening. Dhia masih terus menggerakkan jemarinya. Tak terdengar lagi suara ketus, atau bantahan yang keluar dari bibir pria dingin itu. Karena sepertinya saat ini Dirga sedang menikmati sentuhan-sentuhan jemari Dhia.


"Enak, kan?"bisik Dhia tiba-tiba ditelinga Dirga hingga membuat pria itu terkesiap.


"Enak apanya, badanku jadi makin sakit semua."Dirga langsung berdiri. Menyadari kekonyolannya yang bahkan hampir tertidur ketika Dhia memijatinya.


"Masak?"Dhia tersenyum penuh arti.


Dirga tak menjawab.


"Ayo, Mas."ajak Dhia tiba-tiba.


"Ayo, ayo ... Ayo, kemana?"tanya Dirga kesal.


"Ke kamar."Dhia mengedip-kedipkan matanya genit.


"Kita lanjutkan ..."Dhia memutus kalimat seraya menyatu-nyatukan semua ujung jari dari kedua tangannya."Yang waktu di lift."pungkas Dhia seraya memajukan sedikit bibirnya.


Dirga memandang Dhia hampir tersenyum karena geli."Enggak usah, ngaco, kamu?!"ucapnya akhirnya.


"Kok, ngaco?!"Dhia berjalan mendekati Dirga."Kan, tadi pagi kamu duluan yang mulai. Kamu lupa, Mas?"


Dirga tak menjawab.


"Aku tau kok, Mas, kamu itu cinta sama aku. Jadi nggak usah ditutupi."Dhia menaik-turunkan alisnya genit sembari semakin mendekat diri pada Dirga.


"Makin berani kamu, sekarang, ya?"Dirga mengangkat alisnya.


Dhia tak menjawab. Jemarinya terangkat mengusap lembut dada bidang Dirga, lalu mendorong tubuh tegap itu hingga terduduk diatas meja kerja.


"D-dhia, kamu mau ngapain?"Dirga gugup. Ia tak percaya Dhia akan seberani ini kepadanya.


Dhia seperti tak peduli. Ia memejamkan mata seraya memajukan bibir, hingga semaju-majunya hendak mencium suaminya itu. Ingin membuat kesan seksi, namun yang ada malah terlihat gemas dimata Dirga. Alih-alih mendapat sambutan, Dirga justru mengulurkan sebelah tangannya, langsung mendorong bibir mungil Dhia yang semakin berani.


"Jangan gila, Dhia."


Dhia mengerucutkan bibir."Pelit! Cium aja nggak boleh."


"Sia-sia, dong, aku mijitin kamu sampai jariku pegal."


"Siapa yang suruh?"Dirga memasang wajah yang menurut Dhia menyebalkan. Langsung saja Dhia berbalik dan keluar dari ruang kerja.


Sabar, Dhia ... sabar .... kamu itu berharga.


Dirga sempat mendengar gerutuan Dhia ketika pintu belum tertutup. Ia langsung bergeleng-geleng seraya mengulum senyum.


Suasana didalam ruang kerja itu mendadak sepi.


Dirga menghela nafas panjang."Maaf, Dhia. Ini belum saatnya. Aku akan melakukannya, nanti. Jika sudah menemukan bukti bahwa kamu benar-benar bukanlah darah daging, Malik Mahendra Hartawiawan."gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2