Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Maafkan Aku, Tolong Kembalilah


__ADS_3

"Karena Malik Mahendra Hartawiawan bukan Papa kandungmu."kata Dirga akhirnya. Ia tak punya jawaban lain yang masuk akal. Jika ia berkelit, mungkin Dhia tak akan pernah mempercayainya lagi.


Dhia berdiri tergugu. Netranya semakin menatap Dirga tak percaya.


"Kamu benar-benar ingin anak yang aku kandung ini, kan, Mas?." bulir bening dipipi Dhia kembali menitik.


"Oke! aku akan memberikannya padamu setelah dia lahir nanti."kata Dhia akhirnya, sambil menyusut air mata.


"Tapi aku minta maaf ... aku nggak bisa ikut denganmu. Aku nggak bisa percaya lagi sama kamu, Mas."


Dirga mengusap wajahnya kasar. Sepertinya Dhia sudah salah paham dengan pernyataannya. Ia gegas menahan tubuh Dhia, ketika wanita itu ingin keluar.


"Aku tidak bohong, Dhia. Malik Bukan Papa kandungmu."


"Apa buktinya, Mas?."


Pertanyaan singkat Dhia membuat Dirga bergeming. Sebenarnya, ia memiliki bukti tentang keberadaan papa kandung Dhia. Hanya saja, untuk saat ini ia masih menyimpan rapat tentang keberadaan pria itu. Tak ada yang tahu, selain dia. Misinya belum selesai untuk mengantarkan Malik pada jeruji besi. Bertahun-tahun ia mencari keberadaan pria yang menjadi kunci tentang kebiadaban Malik. Kali ini, ia tak ingin semua rencananya gagal.


"Kamu nggak bisa ngasih bukti lagi, Mas." ujar Dhia dengan sorot mata kecewa.


"Kamu pembohong, Mas! kamu pembohong!"Dhia kembali menangis, sembari kedua tangannya memukuli dada bidang Dirga.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu, nanti." Dirga berusaha menahan kedua tangan Dhia."Tapi untuk sekarang kamu harus percaya padaku ... kamu harus ikut denganku, Dhia."


"Tempat ini tidak aman untukmu. Malik sedang berencana untuk menyakitimu."


Plak!!


Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Dirga. Pria itu terdiam. Wajahnya berubah dingin, sorot matanya tak lagi menyala menyiratkan harapan.


Dhia bisa merasakan itu.


"Aku rasa kamu masih perlu waktu untuk menilai perlakuan Malik kepadamu selama ini."suara pria itu terdengar dingin ditelinga Dhia."Percuma aku mengatakan kebenarannya ... karena aku yakin, kamu tidak akan percaya."ucap Dirga, lalu keluar dari dalam kamar.


Sementara Dhia, masih berdiri tergugu, sambil memandang tangan kanannya yang gemetar. Tangan yang baru saja ia gunakan menampar wajah suaminya.


"Apa yang dikatakan suamimu itu benar, ndok."


Dhia menoleh kearah pintu, ia melihat Mbok Siah masuk kedalam kamar, sambil menjalankan kursi roda dengan tenaganya yang terbatas.


Tak ada yang menyadari, bahwa Mbok Siah sempat mendengar percakapan sepasang suami istri itu, ketika tadi Mala mengantarkannya pulang dari jalan-jalan mencari angin sore.


"M-maksud, Mbok?"


Dhia melangkah pelan, menghampiri Mbok Siah.


Mbok Siah tiba-tiba menangis. Dan itu membuat Dhia semakin tak mengerti.


"Apa yang dikatakan suami kamu itu benar, nduk ... Malik bukan Papa kandungmu." ulang Mbok Siah lagi, sambil menyusut air mata dengan tangannya yang keriput.


"D-dari mana mbok tahu?." suara Dhia tercekat, ia bersimpuh dihadapan Mbok Siah. Bola matanya menelisik, menuntut jawaban.


"Karena Papa kandungmu yang sebenarnya ...." Mbok Siah menjeda kalimat sesaat. Ia menelan ludah seraya meremas kain dasternya."Dia adalah anak, Mbok, nduk. Kusuma Hadinata, adalah Papa kandungmu yang sesungguhnya."kalimat itu akhirnya meluncur dari bibir Mbok Siah. Sebuah kalimat yang sejak lama ia simpan. Menjadi rahasia besar, yang berhasil menguburnya didalam desa terpencil ini.


"Kamu itu cucu kandung, Mbok, nduk." suara Mbok Siah bergetar."Bukan orang lain, seperti yang dikatakan Mamamu."


Dhia terpaku. Tapi air mata tanpa permisi kembali luruh dipipinya. Kenyataan yang baru ia ketahui selama ini. Seperti rahasia yang memang sengaja ditutupi darinya. Kenapa Mama berbohong? ada apa sebenarnya?


Pertanyaan itu ingin sekali ia ketahui jawabnya. Tapi Dhia masih harus bersabar, menanti Mbok Siah kembali melanjutkan kalimat.


Mbok Siah menyusut air mata. Lalu menarik nafas dalam-dalam, dan membuangkannya secara perlahan."Mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya, nduk."Mbok Siah menurunkan pandangan, meletakkan kedua tangannya pada bahu Dhia."Mbok nggak mau pernikahan kamu hancur karena kesalahpahaman ini."


Wanita renta itu menatap kedepan, kejadian dua puluh tahun silam kembali ia selami. Ia tak lupa akan kejadian itu. Bagaimana mungkin ia bisa lupa? sampai saat ini bahkan ia masih terus menangis ketika mengingatnya. Kejadian pilu yang sekaligus menghancurkan kebahagiaannya. Dipisahkan dari anak satu-satunya, dan cucunya.


Dua puluh tahun lalu, Jakarta.


Asiah Handini. Wanita yang saat itu masih berusia kepala lima. Ia harus menerima kenyataan pahit, ketika anaknya di vonis penjara selama 15 tahun, akibat kasus korupsi proyek gedung putih kala itu.


Tak hanya itu, rupanya selang beberapa bulan, ia harus kembali menelan pil pahit, ketika menantunya Rossa Nawang Ayu, memutuskan menggugat cerai anaknya, Kusuma Hadinata yang sedang mendekam dipenjara, dan memilih untuk menikah dengan orang lain. Pengusaha kontruksi, yang ia ketahui adalah Malik Mahendra Hartawiawan, rekan bisnis anaknya sendiri.


Bukan itu sebenarnya yang menyakitkan bagi Siah. Melainkan dia harus terpisah dari cucunya yang baru saja dilahirkan oleh Rossa.


"Kita sudah kehilangan semua harta kita, Ma ... semua aset-aset sudah disita. Kita sudah tidak punya uang sepeserpun." kata Rossa memandang Mama Siah yang menangis."Aku tidak tahu bagiamana caranya mendapatkan uang untuk membesarkan Dhia."

__ADS_1


"Ini adalah jalan satu-satunya, Ma." Rossa turut menangis terisak."Maafkan aku, Ma."


"Baiklah, kalau sudah itu yang menjadi keputusan kamu." ujar Mama Siah dengan hati hancur."Tapi Mama mohon, setelah kamu menikah ... jangan lupakan Mama."


"Mama ingin terus melihat cucu Mama." Mama Siah memandang bayi mungil yang sedang tertidur didalam gendongan Rossa."Mama pasti akan sangat merindukannya, nak."


Rossa mengangguk lemah."Aku pergi dulu, Ma."


Rossa menarik koper, dan masuk kedalam sebuah taksi. Meninggalkan Mama Siah yang menangis terisak seorang diri, didalam rumah sederhana yang baru beberapa bulan mereka tinggali sejak aset-aset kekayaan mereka disita.


Selang beberapa bulan, Rossa memang kembali. Ia datang dengan mobil mewah, dan pakaian yang terlihat mahal.


"Dhia mana? kenapa kamu tidak membawanya kemari?."Mama Siah menatap Rossa dengan nyala mata kecewa dan sedih."Mama kangen sama dia, nak."


Rossa bergeming.


"Pasti dia lagi lucu-lucunya sekarang. Mama pingin sekal ...."


"Lupakan soal, Dhia, Ma." Rossa memotong kalimat Mama Siah.


Wanita paruh baya itu memandang Rossa heran."Tapi kenapa, nak?."


Rossa tak menjawab. Ia membuka tas brandednya, mengambil sebuah amplop tebal dan langsung meletakkannya ditangan Mama Siah.


"Apa ini?."


"Itu uang untuk Mama." sahut Rossa cepat."Aku minta Mama pergi dari kota ini. Dan lupakan status Mama yang pernah menjadi mertua dan juga nenek dari anakku, Dhia."


"Anggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya."


Tubuh Mama Siah mematung. Ia masih tak percaya dengan kalimat yang baru diucapkan mantan menantunya itu. Air matanya seketika meluncur bebas. Hatinya sakit.


"Tapi kenapa, nak?." suara Mama Siah terdengar bergetar.


Rossa sepertinya tak ingin menjawab. Ia hanya mengambil sebuah kertas kecil berwarna putih dari dalam sakunya, dan memberikannya pada Mama Siah.


"Aku sudah membelikan rumah untuk Mama. Ini alamatnya."kata Rossa tanpa rasa beban."Aku ingin Mama secepatnya segera pindah ke sana."


"Tapi ....."


Sepuluh tahun kemudian di Desa pinggir, Jawa Tengah


Mama Siah kini sudah memasuki usia 60 tahun. Wanita renta itu tetap tinggal seorang diri. Selama ini, kehidupannya terbantu oleh tetangga, dan seseorang yang diam-diam terus mengirimkan uang kepadanya.


Usianya yang sudah renta, membuatnya kerap didera sakit. Namun kali ini sakitnya parah, tak seperti biasa. Rupanya, kabar sakitnya itu sampai oleh Rossa.


Rossa mungkin sudah keterlaluan pada Mama Siah. Tapi ternyata ia masih punya hati ketika wanita renta itu, memohon untuk sekali saja melihat Dhia, cucunya. Sebagai permintaan yang pertama sekaligus terakhir.


"Nenek ini, siapa, Ma?." tanya Dhia kala itu yang sudah berumur sepuluh tahun. Gadis kecil ini merasa heran ketika kehadirannya disambut pelukan erat dan air mata oleh wanita tua itu.


"Panggil dia Mbok Siah, nak." sahut Rossa cepat."Dia tetangga Mama dulu, waktu masih tinggal dikampung ini."sambungnya lagi, membuat hati wanita renta itu seketika tercubit sakit.


Batin wanita renta itu menjerit menangis. Namun ia sebisa keras menahan agar air matanya tak kembali menetes.


Kala itu, benar-benar menjadi pertemuan pertamanya dan terakhir dengan cucunya, Dhia. Rossa tak lagi datang. Hingga tahun demi tahun terus berganti.


Tapi siapa sangka, tanpa disuruh dan diminta, saat ini Dhia hadir dihadapannya. Mengobati kerinduan dan kesepian yang selama ini mengurung Mbok Siah. Lengkap dengan calon cicitnya, yang beberapa bulan lagi akan lahir. Tuhan punya rencana baik, buah dari keikhlasan dan ketabahan hatinya sejak dulu.


"Maafin Mbok, nduk ... mbok baru bisa mengatakannya Sekarang." Mbok Siah memeluk Dhia sambil menangis. Sementara Dhia juga turut sama, menangis membalas pelukan hangat Mbok Siah. Ia tak menyangka, Rossa sudah memperlakukan Mbok Siah dengan begitu tega.


Mbok Siah mengurai pelukan, menyusut air mata, seraya menatap manik hitam Dhia."Mbok minta tolong ... kamu jangan benci sama Mama kamu, ya. Percaya sama, Mbok .... Mamamu dulu melakukan itu pasti karena demi masa depanmu."


"Agar hidupmu terjamin tidak kekurangan."


Dhia sepertinya tak ingin menjawab hal itu. Ia kini justru mempertanyakan hal lain."Sekarang Mbok tahu, Papa dimana?."


Mbok Siah bergeleng pelan."Lima tahun lalu, tepat Papamu akan bebas ... Mbok datang untuk menjemputnya. Tapi sampai di Jakarta, Mbok ndak ada lihat Papamu."


"Papamu dimana ... sampai saat ini Mbok ndak tahu." sambung Mbok Siah dengan suaranya yang lemah. Netranya kembali berkaca-kaca, mengingat anaknya saat ini. Entah anaknya itu masih hidup, atau sudah tiada. Ia tak tahu.


"Papamu itu orang baik .... dia difitnah." sambung Mbok Siah lagi, kali ini air matanya kembali menetes."Bukan cuma Papamu, tapi sahabatnya juga. Almarhum mertuamu, Handika Gumilang"


Air mata Mbok Siah kembali mengucur deras mengingat sahabat anaknya itu.

__ADS_1


"Almarhum mertuaku?." ulang Dhia tak percaya.


"J-jadi ... Papa, sama Papanya Mas Dirga itu, mereka ...."suara Dhia tercekat, ia seperti tak sanggup melanjutkan kalimat.


"Mereka korban dari pelaku yang sama."sahut Mbok Siah pelan.


Netra Dhia kembali berkaca. Sorot matanya terpancar kebencian yang mendalam. Beberapa saat ia diam, hingga akhirnya ia kembali bersuara.


"Apa Mbok tahu siapa yang sudah memfitnah mereka?."


Mbok Siah bergeleng lemah."Orang itu licik dan pandai menghilangkan jejak. Sampai saat ini tidak ada yang tahu."


Dhia menatap Mbok Siah pilu. Ia kembali memeluk tubuh wanita renta itu. Aku tahu, Mbok .... aku tahu siapa orangnya. Aku janji ... aku akan pastikan orang itu membayar kembali semua perbuatannya! Kata Dhia dalam hati.


"Sekarang ... sudah percaya sama suamimu, kan?." Mbok Siah mengurai pelukan, tersenyum tipis, seraya mengusap pipi Dhia yang basah."Dia serius pingin kamu benar-benar kembali ke Jakarta."


"Dendamnya udah hilang sama kamu."Mbok Siah mengusap pelan bahu Dhia."Katanya ... sekarang dendamnya udah berubah jadi cinta."


"Mbok, iih ...." Dhia memasang wajah malu.


Mbok Siah terkekeh pelan melihat wajah cucunya itu.


"Memangnya Mas Dirga udah cerita apa aja sama, Mbok?."


"Banyak."


"Soal?." Dhia mengangkat kedua alisnya.


"Ya perasaannya ke kamu."


Dhia kembali tersenyum malu-malu.


"Oh iya ... ada satu lagi yang pingin Mbok kasih tahu."ucap Mbok Siah ketika mengingat sesuatu.


"Soal apa, Mbok?." wajah Dhia kembali serius.


"Ini soal kamu dan Dirga."


Dhia mengerutkan dahi, sambil dengan sabar menanti Mbok Siah melanjutkan kalimat, demi kalimat, yang membuatnya penasaran.


"Papamu dan Papanya Dirga itu dulu sangat dekat. Mereka dulu sudah seperti kakak adik, yang ndak bisa dipisahkan." ucap Mbok Siah mulai kembali bercerita."Asal kamu tahu ... sebenarnya dulu, waktu kamu masih didalam perut .... waktu Papamu tahu jenis kelaminmu itu perempuan ... Papamu itu sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan Dirga."


"Waktu itu kalau ndak salah, Dirga itu umurnya masih 7, apa 8 tahun gitu .... kalau Mbok ndak salah."sambung Mbok Siah mengingat-ingat.


"Masa, sih, Mbok?." Dhia tersenyum tak percaya.


"Loh, ya, iyo .... ngapain juga Mbok bohong." aku Mbok Siah jujur."Lah, sekarang .... siapa yang nyangka, coba? kalian itu udah nikah beneran."


"Mbok yakin, kalau kalian itu sebenarnya memang sudah ditakdirkan Allah untuk berjodoh."


Dhia tersenyum haru.


"Jadi ndak usah marah-marah lagi sama suamimu."sambung Mbok Siah."Sekarang kamu telpon, dia ... suruh dia pulang. Kamu harus minta maaf."


Dhia mengangguk pelan.


"Mbok tahu tadi kamu sudah nampar dia."Mbok Siah memandang Dhia. Ia tahu cucunya itu menyesal.


Dhia berjalan mondar-mandir seraya berkali-kali melihat jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sesekali duduk, dan berdiri kembali. Selalu begitu berulang-ulang, demi menunggu Dirga yang tak kunjung kembali. Entahlah, sejak sore, Dhia terus berusaha menghubungi ponsel suaminya itu, namun tak terhubung. Dhia kini dikungkung rasa cemas, ia takut Dirga kecewa, dan meninggalkannya.


"Masih belum bisa ditelpon, nduk?."tanya Mbok Siah yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan cucunya dari dalam kamar yang terbuka.


Dhia bergeleng lemah."Blum, Mbok."


Mbok Siah hening sejenak.


"Kalau sudah ngantuk, tidur saja. Percaya sama, Mbok ... sebentar lagi suamimu pasti pulang."


Dhia kembali bergeleng."Enggak, Mbok ... aku mau menunggu Mas Dirga." ia masuk kedalam kamar, menghampiri Mbok Siah."Lebih baik Mbok yang tidur ... ini udah malam. Mbok harus istirahat. Jangan sampai sakit."


Mbok Siah mengangguk pelan. Ia membaringkan diri diatas ranjang. Dibantu oleh Dhia, sembari memakaikan selimut tebal pada tubuh wanita renta itu. Dan kembali keluar, sambil menutup pintu kamar tersebut.


Dhia duduk diatas kursi, seraya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Jemarinya sedari tadi terus saling memilin karena gelisah yang semakin menjadi.

__ADS_1


Maafin aku, Mas ... tolong kembalilah ... bathin Dhia dengan bulir bening yang sudah menggenang di pelupuk mata.


__ADS_2