
"Orangnya ada disini." Arhan melempar pandangan ke arah pintu masuk. Tersenyum ke arah pria tinggi yang berdiri didepan pintu.
Wiwik yang lebih dulu melihat ke arah pria itu, seketika terkejut dan langsung melempat memeluk Mala, hingga membuat wanita itu juga terkejut."Ya ampun, Mala ... ini beneran Mas Dirga atau arwahnya?." katanya, sambil memejamkan mata tak berani melihat.
"Ndak tahu, Wik." kata Mala turut terkejut dengan wajah mematung.
"Ya ampun, Mas Dirga! baru aja dikirimin doa udah gentayangan aja." Wiwik masih memejamkan mata masih dengan posisi memeluk Mala.
"Sek, sek! tapi kalau tak lihat-lihat itu kakinya napak dilantai, loh ... ya berarti itu beneran Mas ganteng."
"Bukan arwahnya."kata Mala lagi.
"Hah?.!" Wiwik penasaran dan kembali membuka mata.
Semua orang terkejut, dan tak percaya. Dhia bahkan sempat tertegun mematung. Berfikir bahwa pria yang berdiri didepannya itu adalah semu. Hadir karena ia terlalu merindu. Tapi tidak, Dhia akhirnya sadar bahwa itu adalah suaminya. Ketika pria itu sudah mendekat dan membentangkan kedua tangan dengan wajah tersenyum. Seolah memberi tahu, bahwa istrinya itu sedang tidak berhalusinasi.
"Mas!." lirih Dhia pelan.
Dengan netra yang kembali basah, ia berjalan perlahan, dan berhenti tepat didepan pria itu.
"Ini aku!." Dirga mengangguk masih dengan kedua tangan yang membentang.
Dhia langsung memeluk, membenamkan wajah di dada bidang suaminya itu. Ia tak berbicara, tapi tangisnya pecah sejadi-jadinya. Sarat akan luapan kerinduan dan ketakutan yang membelenggu jiwanya selama ini. Keduanya saling memeluk begitu erat. Semua mata yang berada didalam ruangan itu turut menangis terharu.
"Sebenarnya selama ini Dirga hanya berpura-pura sudah meninggal." kata Arhan membuka suara ditengah tangis haru semua orang. Mendengar itu, Dirga langsung membeliakkan mata pada sang Daddy.
"Tapi ini terpaksa ia lakukan untuk menjebak Malik dengan Gio." sambung Arhan lagi.
"Jadi, Mas selama ini sengaja pura-pura meninggal?." Dhia melebarkan mata tak percaya.
"Bukan begitu, sayang!." Dirga membantah cepat.
Bugh!!
Aaaa!!!
Teriak orang-orang yang ada disitu saat melihat Dhia melemparkan tinju diperut suaminya itu. Berhasil membuyarkan momen haru yang baru saja terjadi.
"Ya ampun cucuku!" Mbok Siah terkejut, begitupun Arhan dan yang lainnya.
"Ya ampun, sayang ... ternyata sebulan tanpa aku, kamu benar-benar sudah menjadi kuat." Dirga terbata, memegangi perutnya dengan mimik wajah meringis.
"Kamu jahat, Mas! selama sebulan, kamu udah buat aku menjadi janda!."
"Kamu udah bohongin semua orang!."
"Kamu udah tega biarin aku melahirkan anak kita sendirian! kamu jahat!." brondong Dhia sambil menangis.
Bugh!!
Merasa belum puas, Dhia kembali melampiaskan kekesalannya. Tapi kali ini bukan tinju, melainkan sepakan terjang pada bagian aset penting milik suaminya itu.
Sontak semua orang kembali berteriak. Begitu juga Doddy, yang langsung reflek menutupi aset miliknya karena merasa ngilu.
"Daddy!!." Dirga membungkuk, menutupi bagian masa depannya yang panas dan berdenyut akibat sepak terjang Dhia, sambil memanggil Arhan, meminta pertanggung jawaban.
"Itu .... masih aman, kan?." Arhan menunjuk kearah bagian yang ditutupi oleh Dirga, seraya mengulum senyum, dengan wajah tanpa dosa.
"Daddy!." Dirga menahan geram pada sang Daddy karena tak berusaha menolong, dan menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Ini sudah malam. Jadi sepertinya kami harus pulang dulu." Arhan melihat jam mahal yang melingkar dipergelangan tangannya."Ayo, sayang!." ia mengajak istri dan anaknya.
"Oh, iya!." Arhan menghentikan langkah, dan berbalik."Jangan lupa jelaskan semua dengan istrimu. Daddy takut, malam ini kamu tidak diizinkan masuk kedalam kamar."
Arhan tersenyum melanjutkan langkah. Sementara Dirga hanya bisa menghela nafas tak percaya.
Mbok Siah menjalankan kursi rodanya. Berniat menghampiri Dirga agar lebih dekat. Tapi Dirga yang saat itu melihat, langsung berjalan mendekat dan bersimpuh didepan wanita renta itu.
"Alhamdulillah ternyata kamu masih hidup dan sehat, nak."Mbok Siah mengusap lekuk rahang Dirga dengan haru. Tatapannya tersita dengan luka bekas jahitan yang cukup lebar di dahi pria itu."Terlepas apapun alasan yang ingin kamu jelaskan .... Mbok percaya, apa yang kamu lakukan adalah yang terbaik."
"Terima kasih, Mbok." Dirga tersenyum tipis.
"Terima kasih karena sudah berhasil memenjarakan Malik." Mbok Siah berkaca-kaca.
Setelah sekian lama, akhirnya kejahatan pria itu terungkap. Meski awalnya ia tak percaya bahwa Malik, suami mantan menantunya itulah, pelakunya. Ah, andaikan anak tercintanya itu tahu tentang berita ini ... pasti Kusuma Hadinata, merasa puas karena kesengsaraan-nya dulu sudah berhasil terbayarkan.
"Papamu pasti bangga sama kamu." kata Mbok Siah lagi.
Dirga tersenyum tipis.
"Dhia .... " kali ini Mbok Siah memandang cucunya itu dengan tatapan memperingatkan."Ndak boleh kayak tadi sama suamimu. Dosa, loh!."
"Kasihan ... balik-balik kok suaminya langsung ditendang. Nanti kalau itunya loyo, gimana? kamu juga yang rugi."
"Ngeselin, Mbok!!." Dhia mengusap sisa air matanya.
Mbok Siah tersenyum."Tapi kangen, kan?." tanya dengan nada suara menggoda.
Dhia memilih tak menjawab. Masih dengan wajah mewek ia melihat Dirga yang sudah kembali berdiri disisinya, dan langsung mencubit perut suaminya itu.
Dirga menahan jemari Dhia, seraya tersenyum membawa istrinya itu kedalam pelukannya.
"Udah, ini udah malam. Lebih baik kita pulang." kata Mbok Siah tersenyum haru melihat keduanya. Karena memang saat ini tinggal mereka bertiga yang ada di gedung itu, dan sisanya, hanya ada beberapa orang pengurus gedung yang terlihat berlalu lalang merapikan tempat. Sementara Wiwik dan Mala sudah lebih dulu pulang membawa baby Chakra, diantar oleh Doddy.
Sendrapati Penthouse
Dirga membuka pintu kamar. Menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan kamar utama itu. Kamar yang sudah sebulan lebih ia tinggalkan. Tak ada yang berbeda. Hanya saja aroma wangi-wangian khas bayi begitu terasa menguar di indera penciumannya. Sementara diatas ranjang, bayi mungil dengan pakaian jumper berwarna biru tua, tengah tertidur pulas, dikelilingi bantal guling kecil disisi kanan kirinya.
Dengan pelan-pelan Dirga mendudukkan diri ditepi ranjang. Mencium lembut pipi halus bayi itu. Menyalurkan kerinduan yang selama ini begitu berat ia tahan.
"Foto copy-nya kamu." kata Dhia diiringi kekehan pelan sambil memperhatikan wajah anaknya.
"Aku menang banyak." kata Dirga dengan nada suara setengah berbisik agar anaknya itu tidak terbangun.
Dhia bergeleng."Nanti besar pasti mirip aku, Mas."
Dirga tersenyum mengangguk. Lalu menarik pelan Dhia agar duduk disisinya. Tak banyak bicara, ia hanya mengungkapkan perasaannya dengan memeluk istrinya itu kembali. Membiarkan bulir bening jatuh begitu saja. Meluapkan segala rasa yang ingin ia ungkapkan.
Dhia pun, sama. Hari ini, menjadi hari hari yang tak pernah ia duga sebelumnya, setelah sebulan lalu mendengar kabar kecelakaan suaminya. Tapi keyakinannya selama ini berbuah manis. Tuhan mengembalikan Dirga kedalam pelukannya, saat ia telah mengikhlaskan segalanya.
"Aku fikir, aku tidak bisa melihatmu lagi, Mas." suara Dhia bergetar ditengah tangis."Aku fikir kamu nggak akan kembali lagi."
"Aku juga sempat berfikir begitu, sayang." kata Dirga sambil mengeratkan pelukannya. Terbayang kembali kecelakaan ngeri yang hampir merenggut nyawanya. Membuat air matanya tak berhenti luruh.
"Aaaaa!!." teriaknya kala itu, saat mobil yang ia kemudi diterjunkan oleh seseorang hingga terguling berkali-kali. Saat itu, ia hanya pasrah. Ketika tubuhnya terbentur dengan keras lalu terpental keluar hingga tak sadarkan diri.
Seminggu usai kecelakaan dan tak sadarkan diri, Dirga akhirnya membuka mata. Rasa sakit masih begitu terasa di seluruh tubuh. Perban-perban bahkan masih membalut kepala dan hampir di keseluruhan tubuh. Memorinya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Rangkaian demi rangkaian kejadian pelan tersusun diingatan.
"Akhirnya kamu sadar, nak."
__ADS_1
Suara seseorang yang cukup ia kenali terdengar disampingnya. Dirga tak bersuara. Tubuhnya seakan mati, tak berdaya. Tapi sorot matanya meminta harapan.
"Ini, Daddy." Arhan menggenggam jemarinya."Kamu harus bertahan. Demi istri dan anakmu."
"Mereka masih butuh kamu." Arhan menahan isaknya.
"Ya!." Arhan tersenyum getir."Anakmu sudah lahir." sambungnya lagi."Tapi kamu jangan khawatir ... mereka saat ini baik-baik saja. Daddy selalu menjaga mereka."
Dirga tetap tak bersuara. Tapi bulir bening yang mengalir dari ekor matanya seolah mengungkapkan rasa haru.
Dirga hampir pulih. Seluruh tubuhnya sudah bisa bergerak sempurna. Ini dua Minggu setelah pengobatan terbaik dari rumah sakit yang Arhan pilihkan. Waktu itu, ia ingin segera kembali pulang kerumah. Tak sabar untuk bertemu istri dan juga anaknya.
Tapi Arhan menahannya.
"Semua orang-orang menganggapmu sudah tiada. Except Daddy, and your wife."
"Ini saatnya menjalankan dendam, karena Malik pasti sedang lengah, berfikir bahwa kamu benar-benar sudah meninggal." katanya kala itu.
"Tapi, Daddy ....!"
"Jangan khawatir soal Dhia dan Chakra. Mereka baik-baik saja saat ini."
Dirga hening seperti sedang berfikir.
"Jika kamu kembali saat ini, Daddy tidak bisa menjamin kamu akan tetap baik-baik saja." kata Arhan lagi."Malik benar-benar gila, Dirga!."
"Daddy takut dia juga akan menyakiti Dhia dan Chakra, nantinya. Sebelum itu terjadi ... lakukan apa yang Daddy katakan."
Dirga masih hening.
"Bersabarlah ... ini hanya sementara. Setelah semua selesai .... kamu bisa kembali bersama keluargamu." pungkas Arhan.
"Saat mobil itu terjun, aku fikir aku tidak akan hidup lagi." Dirga mengurai pelukannya. Memandang wajah sembab Dhia, yang ia tahu, itu karena sebab dirinya.
"Tapi Daddy terus mencariku, saat polisi menyatakan diriku sudah meninggal." Dirga tersenyum tipis."Dia yakin aku masih hidup."
"Aku juga yakin kamu masih hidup, Mas." aku Dhia cepat.
"O, ya?." Dirga mengerutkan dahi."Tapi kenapa tadi ada pengajian?." tanyanya sambil menyentil ujung hidung Dhia.
Dhia menangkup kedua sisi wajah Dirga yang sudah dipenuhi berewok. Terlihat tak terawat, namun masih tetap memancarkan sisi ketampanannya."Habisnya kamu nggak pulang-pulang udah lama banget. Jadinya aku ragu sama keyakinanku." ucapnya dengan suara manja.
"Jadi waktu tadi pagi Mbok bilang harus ngadakan pengajian ... akhirnya aku setuju."
Dirga tersenyum sambil mengusap jejak air mata dipipi Dhia.
"Ini masih sakit?." tanya Dhia sambil menyentuh bekas jahitan di dahi Dirga.
Dirga menjawabnya dengan bergeleng seraya memandang manik hitam Dhia lekat-lekat."Terima kasih, sayang .... kamu sudah berhasil melahirkan anak kita ditengah situasi yang tidak baik-baik saja waktu itu."
"Dia penyemangat ku, Mas ...." Dhia melihat ke arah baby Chakra."Mungkin kalau nggak ada Chakra, aku nggak akan kuat sampai saat ini."
Sambungnya, sambil melihat kearah Dirga kembali. Tatapan keduanya kembali beradu. Seolah mengisyaratkan kerinduan yang belum habis, Dhia memajukan wajahnya, melabuhkan sekilas kecupan dibibir tebal suaminya itu.
"Aku kangen banget sama kamu, Mas."
"Aku juga, sayang." Dirga tersenyum. Tapi tiba-tiba meringis sambil menyentuh bagian aset penting miliknya."Auu!." lirihnya pelan.
"Kenapa, Mas?." Dhia melihat kebawah."Sakit, ya?."
__ADS_1
Dirga mengangguk lemah.
"Ya ampun ... ini pasti gara-gara tendanganku tadi." Dhia seketika panik.